Language Assessment, Principle and Classroom Practices karya H. Douglas Brown merupakan salah satu buku pedoman yang wajib dimiliki mahasiswa pendidikan bahasa Inggris yang mengambil mata kuliah Language Testing. Buku ini saya miliki sejak semester 5, namun baru sekarang saya benar-benar membacanya.

Guru haruslah memiliki kemampuan dalam membuat tes dan menilainya secara baik. Dalam pembukaan bab pertama, Brown mengajak pembaca untuk berpikir dan merasakan bagaimana sebuah tes mempengaruhi kondisi mental seseorang.

Ketika mendengar kata tes dalam konteks pembelajaran, yang muncul dalam pikiran bukanlah sesuatu hal yang menyenangkan. Tes memicu antisipasi dari seseorang, biasanya berupa kecemasan, keraguan bahkan ketakutan.

Brown jokes “We live by tests and sometimes (metaphorically) die by them.”

Sebagai contoh, beliau memberikan 6 soal pilihan berganda mengenai vocabulary yang harus dijawab dalam waktu 3 menit. Jika kita berhasil menyelesaikan 3 dari 6 pertanyaan tersebut, maka kemampuan kita mencapai rata-rata. (Namun pemberian soal ini hanya untuk memicu sensasi sebuah tes saja).

Sebelum beranjak pada definisi tes, Brown kembali mengutarakan pertanyaan. Pertanyaan yang menurut saya pribadi, jarang sekali guru memperhatikannya.

Can tests be possitive experience?

Can they build a person’s confidence and become learning experience?

Can they bring out the best in students?

Brown dengan tegas menjawab yes! Dan lewat bukunya, Brown bercerita.

What is a test?

Brown claims that A test is a method of measuring a person’s ability, knowledge, or performace in a given domain.

Sederhana, bukan?
Mari kita kupas bersama-sama makna dari definisi tersebut.

First, test is a method.

Second, a test must measure.

Third, a test measures an individual’s ability, knowledge, or performance.

Fourth, a test measures a given domain.

Let’s get back to the first poin.

Test is a method.
Sebuah tes harus memenuhi syarat, yaitu metode yang digunakan bersifat explicit (jelas) dan structured (terstruktur).

Sebuah tes pilihan berganda harus memiliki satu jawaban yang benar.

Sebuah tes isian atau uraian memiliki rubrik penilaian.

Sebuah tes wawancara/lisan haruslah memiliki pertanyaan-pertanyaan dan sebuah daftar penilaian berisikan respon-respon apa saja yang diharapkan oleh pelaksana tes. Jadi, sembari memberi pertanyaan, si penanya langsung melihat rubrik penilaian yang berisi kategori dan skor nilai.

A test must measure.
Sebuah tes harus diukur atau mempunyai ukuran. Beberapa tes mengukur kemampuan umum peserta namun beberapa tes menguji kemampuan spesifik seseorang.

If an instrument does not specify a form of reporting measurement -a means for offering the test-taker some kind of result- then that technique cannot appropriately by defined as a test. Kalau instrumen penilaiannya nggak jelas, maka itu nggak bisa dikatakan sebagai tes. 

A test measures an individual’s ability knowledge, or performance.
Pembuat tes harus mengetahui siapa sasaran/target dari tes yang dibuat. Apa saja pengalaman target? Apa yang telah dipelajarinya? Apakah sesuatu dengan bidangnya?
Sebuah tes bahasa umumnya menilai kemampuan seseorang dalam hal berbicara, menulis, menyimak atau membaca. Sebuah test reading comprehension, memiliki sebuah tes bacaan yang memiliki poin-poin pertanyaan (yang mewakili kemampuan membaca seseorang tersebut). Sehingga kita dapat mengetahui kemampuannya dalam membaca tes secara umum. Intinya, tes harus mengukur kemampuan seseorang terhadap sesuatu (yang umumnya sudah ia pelajari).

The last, a test measures a given domain.
Tes mengukur bidang yang telah dipelajari.
Tes untuk siswa SMA tentu berbeda dengan tes yang diberikan pada mahasiswa. Begitu pula, tes yang diperuntukkan bagi mahasiswa matematika tentu tidak sama dengan tes mahasiswa sejarah.

Brown menutup penjelasannya dengan statement:

A well-constructed test is an instrument that provides an accurate measure of the test taker’s ability within a particular domain. The definition sounds fairly simple, but in fact, constructing a good test is a complex task involving both science and art.

Diterjemahkan secara sederhana oleh Nurwahidah Ramadhani Waruwu.

Terimakasih sudah membaca 😊

Jangan lupa untuk like, comment, bookmark dan share ya.. 

Iklan