Tadi malam, aku dan teman makan malam bersama. Sambil menunggu makanan datang kami pun saling bertukar cerita tentang kejadian sehari-hari. Nah, percakapan itu menginspirasiku untuk menulis celoteh ini.

Beberapa semester lalu, aku pernah mempelajari tentang Introduction to Sociolinguistics. Di kelas kami membahas tentang teori-teori kenapa suatu hal terjadi (terutama kajian bahasa) ketika kita berkomunikasi dalam masyarakat.

Kita secara sadar atau tidak, melakukan atau tidak melakukan sesuatu di masyarakat karena sebab atau pemahaman diri terhadap lingkungan.

Salah satu materi yang paling kuingat adalah code-switching atau alih bahasa.

Mungkin di rumah kita menggunakan bahasa daerah, lalu ketika di sekolah, kita menggunakan bahasa Indonesia, dan ketika pelajaran bahasa Inggris, kita kembali mengalihkannya pada bahasa Inggris.

Pengalihan bahasa ini secara sadar atau tidak, benar-benar kita lakukan, ya kan?

Pengalihan bahasa juga berbicara tentang seberapa formal kita berbicara dalam suatu keadaan.

Bagaimana bahasa yang kita gunakan pada dosen, teman, kenalan atau orang yang tidak di kenal? Semua dibahas dalam ITSL tersebut.

Sebelum belajar ITSL, beberapa tahun yang lalu, saat kelas 1 SMA aku belajar tentang Sosiologi.

Bagaimana perilaku atau sikap kita dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Bagaimana kita bisa begitu terpengaruh dengan sikap yang orang lain tunjukkan.

Bagaimana proses kita bisa melakukan sesuatu.

Dalam melakukan suatu hal, kita tentu melibatkan otak.

Otak menerima informasi lalu dalam sepersekian detik otak memberikan beberapa pilihan logis untuk dipilih.

Kita, sebagai suatu individu yang utuh, membuat suatu keputusan.

Dan blam.. kita melakukannya.

Apa yang kita pilih mempengaruhi diri kita di kemudian hari.

Pilihan-pilihan yang sama cenderung membuat suatu sikap atau prilaku yang menjadi kebiasaan.

Kembali pada judul postingan ini.

Apa yang kita lakukan ketika bertemu dengan temannya teman?

Situasinya seperti ini: Kamu dan A sedang berjalan bersama menuju ruang kelas. Di tengah jalan, kalian bertemu dengan teman A. A dan temannya saling menyapa, lalu berbicara (yang kemungkinan agak lama). Apa yang kamu lakukan?
A. Memberi jarak pada mereka namun menunggu A tanpa melakukan apa-apa.
B. Berjalan langsung ke kelas begitu saja dengan pikiran, ahh, nggak perlu dikasih tahulah, A kan tahu tujuan mereka.
C. Memberitahu A bahwa kita pergi dahulu.
D. Mengikuti percakapan mereka dan apabila bisa diikuti maka kamu akan ikut sekedarnya atau memberi kode pada A agar kalian diperkenalkan.

Setiap orang mungkin saja pernah mengalaminya dan melakukan berbagai variasi ketika hal itu terjadi dengan beragam alasan pula.

Pilihan A: mungkin saja terjadi jika kita tidak memiliki hal yang mendesak dan dalam hati kita merasa harus jalan berdua dengannya hingga kelas. Semisal, di kelas kita juga tidak punya teman akrab atau tidak tahu mau melakukan apa-apa sehingga rasanya kita tidak bisa sendiri saat itu. Mungkin menunggu lebih baik.

Pilihan B: kita merasa tidak perlu menunggu A, lagi pula menjadi sosok yang tidak dikenal akan sangat membosankan. Lebih baik kita melakukan sesuatu di tempat lain.

Pilihan C: kita merasa tidak harus menunggu A, namun karena kesopanan, kita pun berpamitan terlebih dahulu pada A dengan mengucapkan hal sederhana seperti, “Eh, aku ke kelas duluan ya.” Lalu melempar senyum pada teman A dan bergegas pergi.

Pilihan D: Mungkin kita merasa tertarik dengan teman A, atau kita berpendapat bahwa teman bisa didapatkan dimana saja, dari pada bengong nggak jelas mending ikut percakapan. Selain itu, kita juga memilih D karena merasa ingin mengetahui/mempelajari respon seseorang.

Kita mungkin pernah bereaksi pada masing-masing pilihan.

Namun, apabila kita melakukan satu atau dua pilihan saja dalam setiap kesempatan yang ada, secara tidak sadar, keputusan yang kita lakukan menunjukkan sikap atau kepribadian kita terhadapan orang baru.

Apakah kita mudah menerima seseorang?

Atau kita menutup diri?

Bahkan, apakah kita tidak merasa perlu berteman dengan orang baru?

Semua itu tergantung kita.

We are decision maker.

Apa yang kita pilih saat ini, lalu kita ulangi berulang kali, maka hal itu kemungkinan besar akan menjadi sesuatu yang sering dikatakan, automatically without thinking atau sederhananya adalah bagian kepribadian sehari-hari kita.

Aku sendiri tidak akan mengatakan bahwa A itu pasti orang introvert atau D itu benar-benar ekstrovert.

Aku juga tidak menilai bahwa orang yang selalu berubah respon berdasarkan mood artinya seorang yang moody.

Karena aku bukanlah seorang sosiolog, psikolog atau sejenisnya.

Aku juga belum melakukan riset untuk memastikan hal tersebut.

Tujuanku menulis tulisan ini adalah berbagi pengamatan yang sering terjadi di lingkungan kita.

Mungkin dengan membaca ini, kita bisa jujur menilai diri, ah ya, ternyata aku kok seperti ini, aku pengennya seperti itu.

Lantas, ketika bertemu temannya teman, kita akan melakukan perbedaan reaksi. Atau justru kita bangga dengan prinsip yang selama ini kita lakukan.

Saya sendiri, cenderung melakukan C dan D.

Nah, bagaimana dengan kamu? Silakan isi kolom komentar.

Iklan