image

Oke, hari ini aku bakal bicara sedikit tentang masalah lingkungan. Upss, kalau kalian lihat foto, jangan sampai salah fokus ke Kuma yak. Tapi lihatlah sebuah buku hijau yang tegak di tengahnya. Buku itu berjudul Ecological Intelligence a.k.a Kecerdasan Ekologis karya Daniel Goleman.

Tahu Daniel Goleman? Pernah dengar nggak namanya walaupun sekilas? Kalau tahu, ya bagus, kalau nggak, yuk dibaca sedikit tentang pemikiran beliau.

Beliau adalah pengarang buku Emotional Intelligence yang teorinya begitu cetar membahana mengimbangi (mungkin juga mengalahkan) teori Alfred Binet tentang IQ. Kalau dulu orang hanya menilai kemampuan seseorang dari IQ-nya, maka Daniel berhasil memposisikan dan membuktikan bahwa EQ juga sangat berperan penting terhadap kesuksesan seseorang. Banyak orang yang pintar secara akademik namun kecerdasannya itu tidak mengantarkannya pada kesuksesan. Sedangkan orang dengan IQ biasa-biasa saja justru lebih tangguh menghadapi kehidupan. Dan yaa, kuncinya adalah kecerdasan emosional (selain itu ada juga SQ= Spiritual Quotient). Nah, kali ini beliau menjelaskan kecerdasan lain, yaitu kecerdasan ekologis.

Buku ini dirilis oleh Daniel di tahun 2009 dan untuk Indonesia sendiri diterjemahkan lalu diterbitkan pada tahun 2010 oleh penerbit Gramedia.

Pada tulisan kali ini aku hanya bercerita tentang pandangan yang beliau utarakan di bab 1 yang berjudul Harga Tersembunyi Benda yang Kita Miliki.

Sekitar awal tahun 1990 (lebih dari dua dasawarsa yang lalu), Daniel memulai perjalanannya menelusuri masalah lingkungan. Beliau tidak tahu apa-apa tentang lingkungan, namun ia pernah menuliskan bahwa kita, manusia, menipu diri sendiri atas apa yang kita lakukan (tanpa berpikir panjang terutama resiko terhadap alam) bahwa apapun keputusan yang kita ambil tidak memberi dampak yang besar pada alam. Beliau memiliki rasa ingin tahu seluk beluk produk dan dampaknya terhadap alam.

Namun sejatinya dunia ini penuh dengan benda yang menyimpan “harga” tersembunyi. (halaman 1)

Apa efek dari barang-barang yang kita konsumsi pada planet bumi, pada kesehatan kita atau pada buruh yang bekerja di pabrik tersebut?

Daniel membuka kisahnya dengan cerita suatu ketika ia membeli mainan untuk cucunya yang masih berusia 18 bulan saat itu. Sebuah mobil balap berwarna cerah yang harganya terbilang murah. Sebelum beliau memberikannya pada sang cucu, beliau membaca tulisan yang berkaitan dengan kadar timbal yang tersembunyi pada berbagai mainan anak-anak. Bahwa timbal pada campuran cat memberi efek mengkilap pada benda. (Ingatkan orang tua untuk tidak membeli mainan seperti itu). Timbal yang masuk dalam tubuh akan sangat berbahaya. Hal ini tentu membuat ngeri, bahwa anak-anak mempunyai kebiasaan memasukkan apapun ke dalam mulutnya. Daniel tidak langsung menjudge bahwa mainan itu bercampur timbal, namun ia memilih untuk tidak memberikannya pada sang cucu karena khawatir sang cucu akan menyicipi rasa mainan tersebut.

Kalau sekedar mainan bayi saja mengandung zat kimia yang berbahaya, bagaimana dengan pakaian yang kita beli? Elektronik yang kita gunakan? Plastik pembungkus yang selalu kita pakai? Dan sejuta benda di dunia ini?

Apakah kita sering memikirkan hal-hal sederhana seperti itu, lantas mencari informasi yang bisa menjawabnya? Kebanyakan dari kita acuh tak acuh padahal hal ini berkaitan erat dengan kesehatan kita sebagai konsumen dan dampak yang lebih besar lagi, yaitu pada alam tempat kita hidup.

Daniel mencoba membuka pikiran kita bahwa hal sederhana seperti itu tidaklah sesederhana yang dipikirkan. Ada penjelasan-penjelasan rumit pada setiap produk yang kita pakai dan dampaknya pada alam tempat kita bernaung. Kita tidak bisa terus menerus menutup mata akan kenyataan itu.

Lewat bukunya, Daniel akan mengupas fakta-fakta mengenai produk yang kita beli. Membuka mata kita akan rahasia yang selama ini disembunyikan karena alasan keuntungan beberapa pihak saja.

Tertarik?
Yaa, saya pun tertarik. Doakan saya untuk lanjut membaca bab selanjutnya dan menceritakannya kepada kalian.

Btw, buku ini aku beli di tahun 2015 saat bazar buku Gramedia dengan harga Rp. 10.000. Betapa bahagianya menemukan buku bermutu (yang dalam proses pembuatannya memerlukan sekitar 20 tahun riset) dengan harga murah.

See you, guys!

Iklan