Orang Indonesia pasti tahulah kepanjangan dari singkatan EYD. Yups, Ejaan Yang Disempurnakan.
Banyak orang Indonesia, termasuk saya, yang sering khilaf bahkan sengaja melanggar kaidah EYD tersebut.

Sebenarnya sih nggak masalah, asal konteksnya sehari-hari. Karena ada juga teori yang menjelaskan bahwa bahasa non baku diakui dalam bahasa Indonesia, namun konteks penggunaannya adalah konteks kehidupan sehari-hari.

Lucu aja sih, misalnya, ketika di pasar, kita sedang tawar menawar lantas nanyanya begini: Bu, berapakah harga cabai satu kilogram?

Bayangkan wajah si ibu penjual tersebut? Mungkin dia ngerasa janggal mendengarnya.

Kita bisa bilang seperti biasa: Cabenya berapa bu sekilo?

Atau ketika presentasi di kelas, di depan dosen kita bicara begini: Woi, diam kelen dulu, dengarkan aku. Aku mau ngomong ini!

Suasana akan hening seketika. Rahang dosen pun jatuh. Teman sekelas langsung ngekeh.

Kita bisa menggantinya dengan ungkapan yang lebih formal seperti: Teman-teman, dimohonkan perhatiannya. Saya akan mulai presentasi hari ini.

Nah, dalam ketrampilan menulis, kemampuan seseorang dalam memahami EYD dan mempraktikkannnya benar-benar terlihat. EYD sangat penting dalam menulis sesuatu yang berkaitan dengan akademik. Untuk itu, berhubung saya punya buku tentang itu, akan sangat asyik kalau saya menuangkannya dalam postingan (sebenarnya untuk isi entry juga sih).

Seperti motto blog ini, Let’s Learn Together! Ayuk, kita belajar.

Ini nih buku sumber yang dipakai.

image

Judul buku: Aturan Terbaru EYD untuk Pelajar, Mahasiswa dan Umum.
Penulis: Tim CSG
Tahun: 2012
Cetakan: Pertama
Penerbit: Cakrawala
Harga: Rp. 25.000 (tahun 2013)

Iklan