Ketika beli sarapan pagi ini, aku melihat dua anak SD lewat. Seketika aku ingat akan murid-muridku saat PPL dulu, mereka memang kelas tujuh alias SMP, namun tingkah dan pola pikirnya masih benar-benar seperti anak SD.
Kejadian tadi menginspirasiku untuk menulis cerita tentang pengalamanku saat PPL tersebut.

Setiap calon guru pasti pernah mengalami pengalaman pertama mengajar. Mungkin privat, les, bimbel, atau pada saat PPL.

Sejujurnya aku punya passion untuk jadi guru sejak kecil. Ntah kenapa, kalau ditanya mau jadi apa, aku jawabnya presiden, arsitek, psikolog guru. Mungkin karena aku suka ngatur ngajarin orang, aku suka didengarkan dan suka berbagi sesuatu yang aku tahu.
Oke, langsung saja ya, aku cerita. Cerita ini berdasarkan pengalamanku pribadi, tanya jawab dengan siswa, obrolan bareng teman dan juga surat-surat dari muridku.

Miss adalah guru terbaik yang pernah ada di kehidupan saya.

Miss, saya sayang kali sama miss, kayak saya sayang sama orang tua saya.

Miss sabar kali menghadapi kami.
Miss karena miss kami jadi pintar bahasa Inggris.

Miss, karena miss saya bisa menggunakan kamus.

Itulah sedikit dari isi surat yang muridku berikan di akhir pertemuan. Kalian mungkin menganggap lebay, bahkan ada yang bilang, “Ahh, bohongnya itu.” Tapi kalau ditanya padaku, aku percaya. Karena dulu, ketika masih jadi pelajar, aku nggak mau nulis hal manis seperti itu kalau aku nggak benar-benar punya kesan seperti itu pada si guru. Dan kalau kalian baca sendiri isi suratnya, cara mereka merangkai kata dan interaksi kami saat itu. Mungkin kalian juga percaya.

Memangnya apa sih yang hebat dari kalimat-kalimat itu? Jawabnya nggak ada. Teman-teman PPL yang lain juga menerima ucapan seperti itu. Kalimat di atas aku tulis bukan untuk melebaykan citraku. Aku mah apa atuh. Baru sekali ngajar. Udah dibilang guru terbaik? Ya masih jauhlah.

Perlu diingat bahwa standar terbaik yang mereka katakan berbeda dengan standar orang dewasa, jangankan kalian, aku aja merinding kalau dibilang terbaik. Karena jujurnya, aku belum melakukan apa-apa saat itu. Cuma masuk kelas, nyapa, mengenal siswa, ngasi materi, ngejelasin materi, ngasih soal, memeriksanya lalu kelas bubar. Gitu doang tiap hari. Sesekali nyanyi dan ganti strategi. Hahaha.

Kalau tadi dari penilaian siswa, gimana dong dengan guru pamongku?

Haha, dari obrolan satu arah yang kadang terjadi antara kami, beliau memandangku sebagai seorang mahasiswa (calon guru) yang masih amatir sekali terutama mengenai penguasaan kelas (yang nggak juga membaik sampai akhir PPL).

Beda kan?

Tahu bedanya dimana?

Menurutku, apa yang murid katakan adalah proses pembelajaran kami di kelas. Dan yang dikatakan pamongku itu berdasarkan hasil akhirnya.

Wah, panjang juga pembukaannya yak. Masih tahan baca nggak? Sayang sih kalau nggak, soalnya ada beberapa hal yang ingin aku bagikan pada kalian tentang hal sederhana yang perlu kita perhatikan sebagai guru.

Yuk cus!

Kala itu, esseeeh pada bulan Agustus hingga November 2015, aku dan 17 teman melakukan program pengalaman lapangan (PPL) demi mengisi nilai di kartu hasil studi (KHS) semester 7. Kami ditempatkan di sebuah SMPN 1 daerah Langkat. Kota itu adalah salah satu kota yang dilalui kalau mau ke Aceh. Dan kalau menempuh kendaraan dari kota asalku Berandan, sekitar 45 menit ke sana.

Karena aku punya ingatan yang kabur tentang masa belajar SMP, ekspektasiku sih, ya nggak jauh bedalah sama anak SMP di Berandan (tepatnya lagi, saat aku dulu di SMP).

Hari Selasa, merupakan hari pertama aku mengunjungi kelas. Saat itu, aku hanya ikut pamong saja untuk dikenalkan.

Faktanya: murid jarang sekali mau mendengarkan penjelasan guru. Apapun itu. Terbukti, mereka tidak tahu aku berasal dari mana dan akan berapa lama mengajar di situ.

Kira-kira beginilah keadaan saat itu.
G: Hari ini kita kedatangan ibu guru dari Unimed. Ibu ini akan mengajarkan bahasa Inggris pada kalian selama 3 bulan. Jadi, kalau kalian nggak tahu sesuatu bisa nanya sama ibu ini. (Sedihnya, sampai akhir PPL pamongku nggak juga tahu namaku, ahh, payah bilanglah. Haha)
Tahu apa yang mereka tangkap dari penjelasan tadi? 99% NGGAK ADA. Kalaupun ada, itu pada bagian kalau kalian nggak tahu sesuatu bisa nanya sama aku. Karena, setelah itu hampir semua hal ditanyakan padaku, mulai dari arti kalimat sampai jawabannya. Haha. Atau karena mereka merasa bisa menanyaiku lebih mudah ketimbang guru di situ.

Bisa dibayangkan dong ya, penjelasan pakai bahasa Indonesia aja mereka nggak nangkap banyak hal, apalagi bahasa Inggris bre! Inilah fakta pendidikan Indonesia. Nggak usah jauh-jauh ke Papua, Nias atau daerah SM3T lainnya. Daerah yang jaraknya nggak sampai memakan waktu 2 jam dari ibu kota provinsi Sumatera Utara aja udah begini realitanya. (Fyi, di Medan pun masih banyak juga sih).

Tahu apa yang kulakukan saat itu? Senyum! Senyum tanpa sadar! Karena melihat tingkah polah mereka.

Saat pamongku berjalan menuju kelas, murid-murid langsung belarian masuk ke kelas. Duduk manis mendengarkan bapak itu bicara. Tanpa tahu apa isi dari pembicaraannya.

Kemudian pelajaran berlanjut. Kebetulan sulit menemukan kursi yang kosong karena jumlahnya pas dengan jumlah siswa. Ada beberapa yang kosong namun ternyata si anak cabut belum masuk ke kelas. Dari depan aku bisa melihat mereka berlarian di antara lorong meja. Ada yang ganggu temannya. Pokoknya, semrawutlah. Padahal itu ada guru lho. Saat itu juga, mereka disuruh mengerjakan buku cetak dan beberapa anak membayar uang kamus. Wkwkkwkwk.

Jelas aku senyum nggak jelas. Wong ada gurunya aja begitu tingkah mereka apalagi cuma gueeehhhh. Abis dah.

Fakta selanjutnya: Kalau siswa diam, natap aja saat kita baru jumpa, artinya mereka sedang menilai, ini kejam nggak ya? Atau bisa main-main.

Sialnya, pilihannya cuma dua. Pikiran mereka cuma memutuskan dua hal. Kalau kita tegas-tegas, suara besar, nada tinggi, bentak-bentak artinya kejam. Kalau senyum, nggak bentak mengomentari murid yang ribut, kita dianggap bisa diajak main-main.

Dan karena aku nggak suka marah, justru banyak senyum karena geli liat tingkah mereka, aku agak disepelekan. Mereka nganggap aku miss yang baik, mereka bisa nggak ngerjain tugas, keluar kelas, nggak belajar.

Nggak enaknya: mereka yang cowok nggak mau belajar dan nggak ngerjain tugas.

Enaknya: setidaknya mereka hanya ilfeel ke bahasa Inggris, bukan benci gurunya juga. Mereka juga sadar bahwa aku benar-benar mau ngajar kalau mereka mau belajar, hanya mereka nggak betah belajar karena mereka udah mikir bahasa Inggris itu payah.

Kemudian, karena cara ngajar guru di situ hanya mengandalkan buku teks, akupun melakukan hal yang sama. Saat itu mereka masih belajar tentang Introduce myself. Bukunya banyak berisi tentang conversation sederhana kemudian pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pertanyaan tersebut.
Masalah dalam pembelajaran itu? Banyak syekaleeeee.

Nih, aku ceritain ya situasinya gimana.

Pertama: Guru pamongku membacakan sebuah percakapan, mereka pura-pura diam mendengarkan.

Kedua: Beliau menerjemahkan arti per kalimat.

Ketiga: Beliau minta salah satu siswa mengulangi pengucapan tadi tanpa atau jarang dikoreksi pelafalannya.

Keempat: Beliau menganggap murid sudah mengerti lantas membacakan soal.

Kelima: Setelah membacakan soal, beliau mengartikan soal.

Keenam: Beliau menanyakan jawabannya sesuai teks namun kalau siswa nggak jawab, beliau jawab sendiri.

Ketujuh: Beliau menyelesaikan penjelasan lalu menanyakan batas waktu pengerjaan pada siswa, setelah tawar menawar terjadi, siswa minta satu jam, beliau bilang 30 menit.

Kedelapan: Biar mereka diam dan ada kerjaan, seluruh percakapan tadi ditulis ulang di buku latihan berserta soal dan jawaban.

Kesembilan: beliau duduk sebentar, lalu kasi kode ke aku bahwa beliau mau keluar, lantas aku ngurus melanjutkan kelas.

So, apa yang terjadi?

Pertama: Satu orang mendatangiku, menanyakan ulang arti kalimat pertama. Setelah kujelaskan, dia duduk.

Kedua: Seorang yang lain datang lagi, menanyakan kalimat pertama juga. Lalu aku jelaskan.

Ketiga: Yang lain datang lagi, nanya hal yang sama. Aku menghela nafas lalu menjelaskan padanya.

Keempat: Temannya yang lain datang lagi, nanya arti kalimat percakapan yang sama. Lagi! Aku mulai jengah.

Kelima: Begitu lagi.

Keenam: Lagi.

Ketujuh: Lagiii.

Kedelapan: Si perempuan pertama yang nanya pertama kali kembali ke depan, nanya arti kalimat kedua.

Kesembilan: UDAH, GITU-GITU AJA HIDUP INI. HAHAHA.

Kesepuluh: Suasana kelas sudah sangat panas. Beberapa laki-laki hilang dari kelas.

Kesebelas: Yang ada di kelas lari-lari.

Keduabelas: Yang perempuan mengerubungiku.

Ketigabelas: Aku ambil spidol. Menyuruh mereka duduk. Lantas mengetuk-ngetuk papan tulis supaya mereka memperhatikan.

Keempatbelas: Setelah susah payah dan nyaris teriak, merekapun duduk lalu aku jelaskan, “karena banyak yang nanya, jadi saya tulis aja artinya di papan tulis ya. Kalian tulis juga di buku lain artinya biar ngerti. Lalu kalian kerjakan sendiri jawabannya.”

Kelimabelas: Akupun dengan lelah menulis semua arti dari percakapan tersebut.

Keenam belas: Setelah selesai aku menulis, mereka lantas nanya, “Ditulis miss?” “Ditulis di buku catatan atau latihan?”

ASTAGFIRULLAH.

Fakta: murid jarang mengerti instruksi.

Apa yang aku lakukan saat itu?
Aku menghela nafas, lalu berkata, iyaa, semuanya ditulis supaya kalian ngerti artinya. Kalian tulisnya di buku latihan juga karena itu berkaitan sama soalnya.
Kemudian, 20 menit kemudian. Ada seorang anak cowok nanya, “Miss, itu apa di papan tulis? Soal? Tugas juga ya? Ditulis Miss? Ditulis dimana?”

Omaigaaaaaatt.

Akupun berkata, “Siapa namanya, sayang? Lain kali kalau miss menjelaskan didengar ya.” Lalu, aku mengambil spidol. Menuliskannya besar-besar di papan tulis: SILAKAN DITULIS ARTI PERCAKAPAN INI DI BUKU LATIHAN. KEMUDIAN KERJAKAN SOALNYA.

Waaah.. itu masih minggu pertama di kelas. Fakta lagi: kejadian di kelas A terjadi lagi di kelas B, C, D, E, F. Gitu-gitu aja. Haha.

Haha. Punya pengalaman sama? Atau lebih parah? Atau dulu pernah melakukan hal seperti tadi? Kalau cerita ini dibaca, komen juga dong yaaa.

See you.

Iklan