Jumat, 19 Februari 2016

Sore ini mendung namun nyatanya hal itu tak mempengaruhi kegiatan di sekret Persma Kreatif Unimed. Seperti agenda yang sudah disiarkan kemarin, redaksi mengadakan kegiatan diskusi mengenai editing.

Erlita Gunja Siregar selaku moderator memberikanku kesempatan sebagai pembicara pertama. Gugup, bingung, itu sudah jelas.

Akupun memutuskan untuk membahas satu bagian kecil mengenai penulisan kata, khususnya kata ganti. Kenapa hanya kata ganti saja?

Ada dua alasan utama:
(1) topik berfokus pada satu masalah saja;
(2) kata ganti umumnya dipakai dalam penulisan sehari-hari.

Aku memulai kegiatan dengan memperkenalkan diri. Lalu melemparkan pertanyaan: Kira-kira apa yang terlintas dipikiran kita ketika mendengarkan kata Editing?

Ada yang menjawab proses penyuntingan, mengubah tulisan menjadi lebih indah, dan memperbaiki tulisan.

Kemudian aku ingat akan tulisan seorang editor (yang kebetulan lupa namanya karena hanya dibaca sekilas) bahwa editing yang merupakan tugas editor adalah mengubah sampah menjadi emas. Dia mengatakan bahwa ternyata banyak penulis dan jurnalis -yang ntah dengan alasan apa- melempar tulisan mentah sehingga membuat editor sakit kepala saat membacanya.

Bisa dibayangkan makna kalimat tersebut kan? Mengubah sampah menjadi emas.

Kemudian, aku memberikan 3 poin sesuai dengan EYD:
(1) kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya;
(2) kata ganti -ku, -mu dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya;
(3) kata ganti -ku, -mu, -nya dirangkaikan dengan tanda hubung (-) apabila digabung dengan bentuk singkatan.

Jadi, kalau disuruh memilih yang benar antara ku cinta dan kucinta, tentu jawabanya kucinta. Contoh poin (1 dan 2) lainnya: kubaca, kuambil, kuajak, kuterima, kuabaikan; cintamu, katamu, bujukmu, rayumu; padanya, bukunya, sayangnya, sukanya, anehnya. Contoh poin (3) seperti ATM-ku, SMA-ku, KTP-nya, SMK-mu.

Setelah diberi materi, kamipun membedah rubrik sastra di salah satu majalah Kreatif. Hasilnya, hanya satu kata ku- yang kurang tepat. Lumayan juga yah.

Diskusi dilanjutkan oleh Elsa Fany. Elsa menggunakan pendekatan yang berbeda. Kalau aku kasih teori dulu, diskusi lalu praktek sedangkan Elsa mengajak peserta untuk memikirkan, mencari kesalahan umum yang sering dilakukan tanpa disadari. Diskusipun memanas.

Pada kesempatan pertama, Elsa melemparkan pertanyaan tentang penggunaan titik dalam kalimat. “Blablabla blablabla.” Atau, “Blablablabla blablabla”.
Titik lalu tanda petik atau tanda petik lalu titik.
Beberapa pesertapun berkomentar. Lantas Elsa menganalogikannya dengan contoh lain, “Biasanya tanda tanya (?) atau tanda seru (!) letaknya sebelum atau sesudah titik?”
Dengan bulat mereka menjawab, “Sebelum!”
Nah, kalau begitu sama dong penggunaan titik pada tanda petik. Titik dulu baru tanda petik.
Tanda petik juga dalam kutipan langsung juga dijelaskan. Sebagai contoh:
Pak Robi berkata, “Akulah Arjuna!”
Huruf P pada kata pak menggunakan kapital karena diawal kalimat.
Huruf R pada kata Robi menggunakan kapital karena nama orang.
Huruf A pada kata akulah karena berada diawal tanda petik.
Huruf a pada Arjuna menggunakan kapital karena nama orang.

Kemudian, diskusi berlanjut pada masalah kata bodo dan bodoh. Elsa menjelaskan secara fiksi keduanya benar. Namun, untuk tulisan non-fiksi kata bodo tidak tepat penggunaannya. Kata bodo pun baiknya hanya digunakan pada kalimat percakapan saja. Umumnya dimiringkan, namun apabila editor tidak memiringkan kata seperti itu maka editor harus menjaga konsistensi pada kata-kata sejenis sampai akhir tulisan.

Materi berlanjut pada pemakaian tanda kurung (). Pada materi ini beragam argumen dikeluarkan. Mana yang benar: Sekolah Menengah Atas (SMA) atau SMA (Sekolah Menengah Atas). Setelah diperdebatkan ternyata keduanya benar. Haha. Tergantung konteks pemakaiannya.
Contoh:
Anak itu merupakan pelajar SMA (Sekolah Menengah Atas).
Situasinya mungkin saja masih ada yang tidak tahu apa itu SMA sehingga perlu diterangkan.

Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan dua pilihan yang umum dipilih oleh pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) ketika ditanyai paska kelulusan. Pelajar A berkata akan memilih SMA karena ingin menekuni bidang eksakta. Pelajar B memutuskan lanjut ke SMK karena ingin cepat kerja. Sedangkan pelajar C merasa cukup dengan pendidikan SMP-nya.
Bahh, panjang contohnya. Namun bisa dilihat konteks di atas tanda () untuk memudahkan penyebutan SMA SMK dan SMP di kalimat setelahnya.

Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil pada kesempatan tadi sore. Semua aktif memberikan pendapat, masukan, ide, tips dan lainnya. Aku sendiri sibuk membuka-buka halaman buku EYD-ku untuk mendukung argumen. Haha. Ternyata oh ternyata, kalau sedang editing memang harus selalu lihat kamus, karena terkadang kita merasa benar namun nyatanya tidak.

Satu hal yang sedikit aku sesalkan, tidak banyak yang mencatat materi yang diberikan.

Tadi, sebelum pulang, aku men-challange semua kru dan ckb yang hadir untuk membuat tulisan tentang pengalaman hari ini. Nah, hutangku sudah terbayar yaaaaaa. Btw, butuh 2 jam untuk menulis ini.
Tulisan ini sebelumnya di post di fbku Nurwahidah Ramadhani Waruwu.

Foto di bawah ini merupakan daftar hadir peserta.

image

Iklan