Rabu, 14 September 2016.

Ada lima buah rambutan disusun rapi di atas meja. Aku melihatnya setelah kembali dari kamar mandi. Hari itu aku mengunjungi temanku yang sedang sakit bersama teman-teman dekatku.

“Wah, ada rambutan. Ini boleh dimakankan?” tanyaku sambil mengambil satu rambutan yang berwarna merah segar.

“Wa, yang ini aja.” A, temanku, menunjuk satu buah rambutan yang berada di tengah (urutan ketiga).

“Oh, iya ya.” Aku mengembalikan buah rambutan tadi dan mengambil rambutan yang ditunjuk olehnya.

Sebelum memakannya, aku memutar buah tersebut dan mengamatinya. Ternyata di bagian bawah terdapat warna hitam yang menyebar. Setengah busuk.

“Ihh, busuk ini.”

“Hahaha, bodoh kali ko Wa!” A dan B tertawa melihat reaksiku.

Aku tertawa sambil memukul lengan A, “Ih, kalian ini suka kali kayak gitu.”

Akupun mengambil buah rambutan yang pertama kuambil tadi.

“Itulah kelemahanmu Wa. Ko terlalu percaya sama orang. Ko gampang dipengaruhi.” Kata A padaku dengan nada setengah serius.

Aku terdiam di tengah tawa mereka.

“Aku nggak mudah dipengaruhi kok, aku cuma menghargai ucapan orang lain.”

*

Tantangan kedua: krisis kepercayaan. Tepatnya, krisis kepercayaan pada orang lain. Tema itu diajukan mas Arif pada kegiatan #Blogger’sChallenges.

Salah satu perasaan menyenangkan dari kegiatan #bc ini adalah saat pengumuman tantangan selanjutnya. Penasaran, debar antusias membuatku tak sabar menunggunya.

Ketika membacanya di direct message instagram (fyi, kami berempat komunikasi di instagram), aku merasa blank. Kosong. Sepertinya aku tidak pernah mengalami krisis kepercayaan. Lantas apa yang harus kutuliskan?

Aku berpikir keras, kira-kira apa yang akan kuceritakan ya. Umm..

Saat itulah kejadian di atas terjadi. Teman akrabku mengatakan aku adalah orang yang mudah percaya pada orang lain.

Apa yang salah dengan memercayai orang lain?

Di postingan ini, aku akan berbicara mengenai makna “percaya” bagi diriku sendiri.

Aku percaya karena aku menghargai orang lain. Setidaknya, aku berusaha memercayai orang-orang yang ada di hidupku. Sederhananya, aku percaya pada orang lain karena aku juga ingin dipercaya.

Kepercayaan adalah sesuatu yang sangat sakral namun sering tidak disadari. Kepercayaan hadir dalam setiap lini kehidupan kita. Tepatnya, saat kita berinteraksi dengan sesama manusia. Itu bisa dilihat dari hal-hal sederhana seperti saat kita berbicara, meminjamkan, memberi, meminta atau memilih sesuatu. Umumnya kita menyadari adanya kepercayaan itu setelah mengalami kekecewaan. Ketika kita merasa kecewa, kita secara otomatis belajar bahwa sesuatu/seseorang itu tidak bisa dipercaya lagi (artinya, kita pernah percaya). Dan rasa sakit akibat kekecewaan itu biasanya disebabkan oleh orang yang kita sayangi.

“Itulah kelemahanmu Wa. Ko terlalu percaya sama orang. Ko gampang dipengaruhi.” Kata-kata itu kembali terngiang di telingaku. Mengendap di hatiku.

Bukan artinya aku kecewa pada temanku itu. Sama sekali tidak. Hanya saja, kata-katanya membuatku mengingat sesuatu yang tak ingin kuingat. Rasa sakit yang muncul ketika aku mengingat kepercayaanku tak berarti apa-apa bagi orang lain. Aku bahkan tak ingat persis kejadiannya seperti apa, namun sakitnya masih terasa jika tiba-tiba terlintas di kepala.

Those sentences like a trigger for me. It recalls some (bad) memories.

Ternyata aku pernah merasakan krisis kepercayaan. Masa-masa saat kepercayaan itu hilang adalah masa yang sulit. Masa yang ingin dilupakan. Forgiven but not forgotten.

Bagiku, kepercayaan itu ibarat sebuah gelas kaca yang indah dan mewah. Saat ia terlepas dari pegangan tangan (jatuh dan pecah), pecahannya bisa membuat kita terluka. Kita harus mengumpulkannya dengan hati-hati agar serpihannya tidak menyebar kemana-mana. Setelah itu kita tidak bisa mempertahankannya lagi. Kita hanya bisa memandanginya sejenak, menyesali kecerobohan, lantas membuangnya ke tong sampah.

Aku benci pecahan kaca. Untuk itu, aku akan menjaga gelas kacaku sebaik-baiknya, agar ia tidak lepas dari genggaman.

Aku tidak suka perasaan terluka ketika kepercayaan itu hancur. Aku memilih untuk percaya pada ucapan orang lain. Aku menghargai pikiran mereka.

Mungkin kalian merasa aku ini lucu?

Bisa jadi.

Seandainya saja, dalam kasus rambutan tadi, aku berhenti memercayai teman-temanku (karena mereka terlalu sering mengerjaiku), lantas apapun yang mereka katakan tak lagi kupercaya, bagaimana perasaan mereka? Bagaimana hubungan kami nantinya? Aku tahu mereka hanya bercanda, ya, aku percaya mereka sekedar bercanda saja.

Aku memang mudah percaya pada orang lain. Aku tidak mau meragukan mereka. Dalam konteks yang lebih luas, jika aku ingin tahu sesuatu, aku akan bertanya pada orangnya secara langsung dalam suasana yang cukup serius dan aku percaya pada penjelasannya.

Namun, itu kulakukan hanya jika berkaitan dengan diriku saja, untuk keputusan besar (dan profesional) yang melibatkan orang lain, aku akan tetap mencari tahu dari berbagai sudut pandang dan berusaha objektif.

Percaya adalah bentuk penghargaan yang bisa diberikan selain rasa kasih dan sayang. –Wawa

*

Kalian bisa baca tulisan lengkapku mengenai Krisis Kepercayaan yang ditulis lebih objektif di sini.

 

 

 

 

 

Iklan