Wow. Judulnya udah kayak artikel online yang semi ilmiah itu. Haha.

Sebelumnya aku mau berterima kasih pada mas Arif yang sudah mengajukan tantangan menulis tentang krisis kepercayaan pada orang lain di #Blogger’sChallenges (apa itu Blogger’s Challenges? Yuk, baca).

Mas, dikau membuatku berpikir keras, but, I like it.

Hari ini deadline #Blogger’sChallenges kedua. Mas Boy dan Isun udah posting cerita aja. Aku depresi berat, haha, tadi malam begadang ngerjain tulisan yang berkaitan dengan krisis kepercayaan sambil nge-print perangkat pembelajaran mamak. Pas tidur pun nggak nyenyak, mikir apa yaa yang mau dituliskan, wkwkkwk. Tadi malam, aku nulis postingan awal I Trust You (tentang bagaimana aku memandang ‘percaya’), pagi ini, selepas subuh kok kepikiran untuk nulis postingan lainnya. Umm. Yok, dibaca, lumayan lho!

*

Vasundra (tokoh dalam film India, Thapki) pernah berkata, “Dibutuhkan waktu yang lama, bahkan bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan. Namun untuk menghancurkannya, hanya butuh satu kesalahan/kesalahpahaman saja.”

Makna ‘kesalahan’ berasal dari sesuatu dari diri kita, sedangkan ‘kesalahpahaman’ berasal dari diri kita dan orang lain.

Yaps, kepercayaan itu nggak mudah didapatkan. Bagiku pribadi (setelah merenung dan membaca berbagai referensi yang ternyata nggak banyak dijumpai di internet), kepercayaan itu adalah saat dimana aku:

  1. Menaruh harapan pada seseorang.
  2. Menjadikan seseorang sebagai tempat bersandar.
  3. Merasakan kenyamanan dengan seseorang.
  4. Menerima orang lain.
  5. Bersedia dekat dengan orang lain.

Setiap orang pasti pernah percaya pada orang lain. Namun, pada saat tertentu, kita merasakan suatu kecemasan, kekhawatiran bahkan ketakutan untuk memercayai orang lain. Di situ lah krisis kepercayaan dimulai.

Apa sih krisis kepercayaan itu ?

Krisis kepercayaan terbentuk dari dua kata krisis dan kepercayaan. Aku akan mengutip pengertiannya dari aplikasi Yufid KBBI, yaitu:

Kri.sis

  1. Keadaan berbahaya, parah sekali.
  2. Keadaan yang genting, kemelut.
  3. Keadaan suram.

Ke.per.ca.ya.an

  1. Anggapan atau keyakinan bahwa sesuatu yang dipercayai itu benar atau nyata.
  2. Sesuatu yang dipercayai.
  3. Harapan dan keyakinan (akan kejujuran, kebaikan, dsb).
  4. Orang yang dipercaya (diserahi sesuatu, dsb)

Artinya, krisis kepercayaan adalah suatu keadaan suram yang membuat kepercayaan itu memudar bahkan menghilang seutuhnya. Kepercayaan memberikan rasa aman, bahagia, dan energi positif sehingga ketika kita mengalami krisis kepercayaan, umumnya kita akan merasa khawatir, cemas dan berbagai emosi negatif lainnya.

Kenapa kita bisa mengalami krisis kepercayaan?

Jawaban sederhananya adalah hadirnya rasa kecewa di hati. Rasa kecewa muncul saat harapan tak sesuai kenyataan.

Apa yang membuat kita merasakan krisis kepercayaan?

Seperti yang dijelaskan di atas, kepercayaan itu sulit diraih. Kata mas Boy, kepercayaan itu mahal harganya. Yaps, itu benar.

Namun, membuat seseorang tidak percaya pada kita sangatlah gampang. Lakukan saja empat hal berikut:

  1. Berbohong

Ya, sering aja berbohong. Hari ini bohong, besok bohong, besok, besok dan besoknya lagi bohong. Lama-lama siapa sih yang bakal percaya sama kamu?

Coba deh kamu nonton drama Korea berjudul The Mask. Sumpah, drama itu mengemas kisah kebohongan yang complicated, sampe penonton bingung, mana yang benar mana yang salah. Mi Yeon bahkan berkata, “Kita seperti bermain permainan kebohongan, siapa yang akan menang? Orang yang sangat hebat dalam berbohong (Min Suk) atau orang yang tidak pandai berbohong (Ji Sook)?”

  1. Ingkar Janji

Jambu..

janji-janjimu, janji busuk-busuk..

Busuk-busuknya, janji-janjimu janji palsu..

Takkan kupercaya akan semua janjimu..

Lirik lagu Jambu-Matta band

Ada banyak alasan kenapa seseorang tidak dapat menepati janjinya. Mungkin niatnya iya, namun ada halangan. Namun, kalo udah keseringan dan emang janjinya hanya janji palsu, apa masih bisa dipercaya? Efeknya?

Hati membeku mengingatkan..

Kata janji manismu..

Lirik lagu Janji Manismu-Terry

  1. Tidak bisa diandalkan

Hm, kasus ini sering terjadi di organisasi. Selain itu juga terjadi dalam pertemanan, kita percaya padanya, berusaha selalu membantu, tapi ketika kita butuh dirinya, dia menghilang. Ia menghindar karena enggan. Umm, sakitnya tuh di hati.

  1. Berkhianat

Kata pengkhianatan ini lebih merujuk pada hubungan yang lebih serius ya, umumnya tentang cinta atau pekerjaan. Misalnya, kita dideketin, dimanjain, dikasih harapan bahkan kepastian, sampe akhirnya kita betul-betul sayang, eh, dianya juga in relationship dengan orang lain. Atau di tempat kerja, ada dokumen penting namun dibocorkan.

Nah, itu dia empat hal yang jika sering pernah kamu lakukan, berpotensi menghilangkan kepercayaan orang lain. Kalo kamu maunya dipercaya, ya hindari aja ke empat hal itu.

Apa saja yang sulit dipercayakan pada orang lain?

Banyak hal yang bisa dijadikan contoh dan bukti suatu kepercayaan. Namun, menurutku ada empat hal yang terasa sulit dipercayakan seseorang pada orang lain (berdasarkan pengalaman pribadi dan observasi kecil), yaitu:

  1. Uang

Haha, uang berada ditingkat paling atas. Yaps, kalo bicara masalah uang, tentunya itu adalah hal yang sangat krusial. Nggak bisa main-main, wkwkkwk. Uang memang sering menimbulkan masalah serius. Untuk itu, wajar saja orang berpikir panjang untuk memercayakan uangnya pada orang lain, apalagi jika jumlahnya besar.

  1. Tanggung Jawab

Pemberian tanggung jawab pada seseorang itu benar-benar harus dipertimbangkan secara matang, terutama jika amanah itu berkaitan dengan kepentingan banyak orang. Kita perlu mengetahui value seseorang, pikirannya, prinsip , kemampuan dan cara kerjanya, agar kita tidak salah memilih orang yang dipercaya.

  1. Rahasia

Yaps, rahasia merupakan harta atau aib seseorang. Rahasia bisa berupa kelemahan, kekurangan, masalah keluarga, dsb. Tidak mudah menceritakan rahasia kita pada orang lain jika tidak kenal dan tidak akrab. Perlu banyak pembuktian hingga seseorang bisa menceritakan rahasia pada sahabatnya.

  1. Hal yang benar-benar dia sukai

Setiap orang memiliki sesuatu yang benar-benar dia sukai seperti buku, laptop, catatan, kamera, baju, kendaraan dsb. Hal itu tentu tidak mudah untuk dipercayakan pada orang lain.

Jika satu dari empat hal itu telah dipercayakan padamu, maka kamu harus berpikir ulang untuk merusak kepercayaannya, karena dia ternyata sangat percaya padamu.

Solusi Mengatasi Krisis Kepercayaan

Tak ada gading yang tak retak.

Tak ada manusia yang sempurna.

Seperti pepatah di atas, memang benar, kita sebagai manusia tidak luput dari kesalahan. Ketika kita kehilangan kepercayaan dari orang lain rasanya sakit, begitu juga ketika kepercayaan kita tidak dihargai.

Ada kalanya kita mengabaikannya karena menurut kita itu tidak terlalu masalah. Namun, jika kita benar-benar merasa terpuruk setelah mengecewakan orang lain, kita bisa memperbaiki diri. Ada beberapa solusi yang dapat kutawarkan dalam tulisan ini (konteksnya ketika kita yang menghilangkan kepercayaan orang lain):

  1. Introspeksi diri

Ya, kita harus menyelidiki terlebih dahulu asal muasal masalahnya. Apa sih yang kita lakukan (kebiasaan) sehingga membuat orang lain kecewa? Jika kita mencoba membuka pikiran, mengingat kembali kejadian mungkin kita akan menemukan akar permasalahannya.

  1. Meminta maaf

Meminta maaf itu sebaiknya dilakukan tak hanya sekedar di mulut saja. Kita harus benar-benar memahami letak permasalahannya (merasa bersalah dan menyesali) sehingga permintaan maaf itu benar berasal dari hati yang tulus. Kuncinya: kita harus berani meminta maaf terlebih dahulu.

  1. Memberi klarifikasi

Tak hanya meminta maaf, jika kepercayaan itu hilang akibat kesalahpahaman, tentunya kita perlu menjelaskan keadaan sebenarnya sehingga sahabat kita bisa mengerti keseluruhan cerita.

  1. Bertekad tidak mengulanginya lagi dan tunjukkan perubahan.

Forgiven not forgotten.

Memang benar, sesuatu itu mungkin bisa dimaafkan namun sulit dilupakan. Selain merasakan penyesalan di dalam hati, kita harus memberikan buktinya dengan perubahan menjadi orang yang lebih baik. Ketika kita tahu apa yang dilakukan menyakiti orang lain, maka kita akan berusaha untuk tidak melakukannya lagi (mengurangi sedikit demi sedikit).

  1. Membuat kesepakatan.

Terkadang kesalahpahaman terjadi karena nilai (value) yang berbeda, sehingga ada baiknya kita mendiskusikan makna sesuatu hal padanya agar kita saling memahami satu sama lain.

Nih aku ceritakan satu kasus ya (poin rahasia).

Nana dan Kiran bersahabat sejak mereka menjadi teman semeja. Suatu hari, Kiran bercerita bahwa dia sangat takut jika belajar bahasa Inggris karena dulu dia pernah dihina gurunya. Mereka saling bertukar kisah. Beberapa hari kemudian, Kiran tampak berubah, dia terlihat malas berbicara dengan Nana.

Introspeksi diri: Nana berusaha berbicara padanya namun Kiran terkesan cuek. Nana merasa kesal. Ia pun tak lagi berusaha berbicara dengan Kiran. Di rumah, Nana kepikiran masalahnya. Ia merindukan sahabatnya itu. Lantas dia mulai berpikir, kenapa Kiran berubah seperti itu. Dia sedikit mendapat gambaran, namun masih abu-abu.

Meminta maaf: Esoknya, Nana menghampiri Kiran dan meminta maaf. Kiran pun memaafkannya. Pelan-pelan Nana mengorek informasi mengenai masalah mereka. Ternyata, Kiran menganggap Nana membocorkan rahasianya. Temannya mengatakan bahwa Kiran itu bodoh dalam bahasa Inggris (padahal dia hanya merasa sangat takut jika belajar bahasa Inggris karena dulu dia pernah dihina gurunya).

Memberi klarifikasi: Nana terkejut mendengarnya. Seingatnya dia hanya mengatakan bahwa Kiran kurang suka bahasa Inggris sama seperti dirinya yang juga nggak menyukai bahasa Inggris karena gurunya nggak asik. Ia pun menjelaskan kronologi ceritanya.

Bertekad tidak mengulanginya lagi dan tunjukkan perubahan: Nana menyadari kesalahannya dan berusaha untuk tidak menceritakan apapun lagi pada temannya yang lain jika berkaitan dengan masalah pribadi Kiran.

Membuat kesepakatan: Nana baru menyadari bahwa Kiran adalah seseorang yang jarang bercerita dan ia hanya mau bercerita pada orang yang ia percaya saja. Berbeda dengan dirinya yang cukup blak-blakan dan mudah mengatakan pikiran dan pendapatnya. Mereka berdua lalu mendefiniskan kembali hubungan seperti apa yang cocok dengan mereka berdua. Hal apa saja yang bisa diceritakan dan hal yang sama sekali tidak bisa ditolerir.

Yaps, sekian pemaparanku mengenai krisis kepercayaan. Untuk mengetahui dampak dari hilangnya kepercayaan, kalian bisa baca postingan mas Boy (di sini), dan kemungkinan yang terjadi jika kita kehilangan kepercayaan di tulisan Isun (di sini).

*

Ah, baru terasa laparnya. Akhirnya aku bisa sarapan dengan tenang.

Iklan