Senin pagi (19 September 2016), mas Boy mengumumkan tantangan menulis tentang ‘Rencana lima tahun ke depan’ di grup chat Blogger’s Challenges . Aku tertawa girang.

‘Hahaha, jangankan lima tahun mas, bahkan sepuluh tahun pun udah pernah kupikirkan.’ Aku teringat postinganku sebulan lalu di akun blogspotku (baca di sini).

Upss, aku bukannya bermaksud sombong atau terlalu ambisius ya! Sama sekali tidak.

Sejak kecil aku memang sering berimajinasi. Aku suka memikirkan banyak hal yang belum tentu dipikirkan orang lain. Aku punya kecenderungan mengembangkan suatu ide terutama setelah membaca satu kisah. Aku juga suka mengkonsep sesuatu.

Sejak mulai berkuliah, aku mulai mengurangi kebiasaan tersebut. Hidupku lebih banyak dipenuhi manusia ketimbang khayalan. Sampai pada suatu hari, aku dihadapkan pada satu situasi:

Dosen: Do you have planning for ten years later?

Aku: Yes, I do.

Dosen: Would you like to tell me about it?

Aku: Yes, of course. I have two main ideas. The first one is, I want to challenge myself to be a guide for practicing my speaking. I wanna teach in some schools and institutions. I wanna be a translator. If I could do that, I wanna try to get scholarship.

Dosen: To study abroad?

Aku: Yes, but if I couldn’t study abroad, at least I have to learn in Java.

Dosen: Just it?

Aku: No. The second is, I wanna be a teacher, a good English teacher in my hometown.

Dosen: Where is your hometown?

Aku: Berandan.

Dosen: Oh, okay.

Yaps, itu adalah momen wawancara untuk speaking skill pada tes IELTS-like di jurusanku sebulan lalu.

Sejujurnya aku sangat tidak puas dengan jawabanku itu. Terlalu singkat.

Semua orang kalo ditanya mengenai rencana masa depannya (dalam hal akademik) khususnya mahasiswa naïf (termasuk aku) pasti menjawab: kerja, pengen jadi dosen, pengen ambil S2 di luar negeri. Ya kan? Higher education is for better life.

Apa yang membuatku memikirkan rencana hidup?

Semakin tinggi mimpi yang kamu punya, semakin besar pencapaian yang akan kamu dapat. –Michael Phelps

Ketika aku baca novel karya Habiburrahman berjudul Ayat-ayat Cinta saat SMA dulu, tokoh Fahri adalah seorang pekerja keras. Ia menceritakan pada isterinya bahwa sejak kecil ia punya satu kebiasaan baik, yaitu menuliskan semua keinginan dan cita-citanya yang ia namakan sebagai peta hidup. Tak hanya sekedar menuliskannya saja, ia bahkan membaginya dalam dua poin penting, program jangka pendek dan program jangka panjang. Hal itu sangat memotivasi dirinya terutama saat ia dalam keadaan terpuruk. Ahmad Fuadi dalam novel trilogy Negeri 5 Menara pun tak jemu-jemu menekankan pada usaha menuliskan harapan agar menjadi acuan dalam berkarya. Semakin tinggi tujuanmu, semakin besar usahamu untuk menggapainya. Mungkin bacaan seperti itu secara tak langsung mempengaruhi pola pikirku hingga aku sering berpikir jauh ke depan. Selain itu, aku juga pernah mengikuti beberapa organisasi yang menuntut anggotanya untuk mengkonsep kegiatan jangka pendek dan jangka panjang, tujuan hingga prosedur pelaksanaanya.

Kenapa harus memiliki rencana hidup dan menuliskannya?

Asalkan kamu percaya, semua bisa terjadi. –Christopher Reeve

Semua mimpimu akan terwujud asalkan kamu punya keberanian untuk mengejarnya. –Walt Disney

Kamu pernah menuliskan mimpimu di dalam buku harian, lantas beberapa tahun setelahnya, ketika dibaca ulang, kamu terkejut bahwa banyak yang tercapai (dan ada juga yang tidak karena kurang diusahakan)? Aku mengalaminya secara pribadi. Itu seperti sugesti. Apa yang ditulis lalu jadi kenyataan. Saat membacanya aku jadi berpikir, kenapa aku nggak menuliskan sebanyak-banyaknya harapan?

Dan saat kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya. –Paulo Coelho

Kapan sih rencana hidup itu jadi begitu penting?

Umm, sesungguhnya rencana hidup itu selalu penting. Tapi, banyak orang yang berpikir, “Ahh, udahlah, hidup ini dijalani bukan terlalu dipikirkan. Biar aja ngalir seperti air.” Pemikiran seperti itu nggak salah kok, toh banyak orang yang tidak punya rencana muluk-muluk namun bisa sukses. Nah, setiap orang pasti punya prinsipnya masing-masing. Namun, di sini aku bakal kasih beberapa fakta. Akan selalu ada momen dimana kamu bakal dihadapkan dengan pertanyaan mengenai rencana hidupmu, seperti:

  1. Saat orang berbasa-basi menanyakan cita-citamu
  2. Saat kamu mencoba mengikuti organisasi
  3. Saat kamu melamar pekerjaan (terutama di perusahaan)
  4. Saat kamu mendaftar beasiswa
  5. Saat kamu ditanya calon mertua (#ngawur)

Rencana hidupku?

Untuk saat ini aku punya beberapa keinginan dan dengan senang hati akan kujabarkan (btw, umurku 21, jadi 5 tahun ke depan artinya sampe usia 26). Hhaha.

Akademik

Wisuda S1

Ya, saat ini aku sedang mengerjakan skripsi, doakan cepat selesai ya.

Lanjut S2 dengan beasiswa

Aku ingin kuliah minimal di Jawa, supaya ngerasain suasana yang beda aja.

Keluarga

Aku ingin membahagiakan orang tuaku. Ketika usia siap menikah, aku ingin menemukan seorang laki-laki yang menyayangiku, yang bersedia menjadi suami, imam, sahabat bagiku dan ayah yang baik untuk anak-anakku.

Tempat tinggal

Medan

Ingin ngerasain kerja di Medan itu gimana.

Jawa

Aku pengen ngerasain hidup di Jawa, tapi di daerah yang cukup tenang dan tentram namun akses kesehatan dan pendidikannya baik.

Berandan

Ini kampung halamanku. Aku juga suka suasananya karena udah terbiasa.

Karier

Guru

Sejak kecil aku memang ingin jadi guru. Mungkin karena aku berasal dari keluarga guru (kakek, nenek, ayah, mamak). Guru di sini artinya yang ngajar pendidikan formal ya. Aku ingin ngerasain ngajar bahasa Inggris tingkat TK, SD, SMA.

Tutor

Nah, ini lebih ke kegiatan pendidikan non-formal ya, seperti les dan klub bahasa Inggris.

Penulis dan blogger

Yaps, sejak SMP aku sudah mulai suka menulis dan berharap suatu hari nanti aku bisa jadi penulis yang menuliskan buku-buku berkualitas terutama di bidang pendidikan dan bahasa Inggris. Untuk jadi blogger, saat ini aku berusaha mendisiplinkan diri untuk menulis sesuatu yang bisa bermanfaat bagi pembaca blogku.

Editor

Aku ini suka sekali mengkritik sesuatu, haha. Aku ingin jadi editor supaya tulisanku berkembang lebih baik lagi. Pengalamanku di pers kampus juga sudah membuka mataku tentang betapa menantangnya pekerjaan satu ini.

Penerjemah

Setiap kali baca buku berbahasa Inggris, aku selalu berpikir, “kapan ya aku bisa nerjemahin buku-buku ini dengan baik?” atau saat baca buku terjemahan dengan kualitas bagus, “aduh, pengen banget sehebat penerjemah ini.”

Pembicara

Aku juga ingin menjadi pembicara pada berbagai kegiatan seminar dan pelatihan-pelatihan pendidikan dan kepenulisan.

Peneliti di bidang bahasa dan pendidikan

Jadi peneliti itu seru. Proses belajar dan mendapatkan ilmunya sungguh terasa. Penelitian akan membantuku dalam karier apapun.

Guide

Pengen jalan-jalan biaya gratis tapi digaji dan bisa latihan bahasa Inggris.

Proyek

  1. Blogger’s Challenges

Yaps, aku berharap aku dan teman-temanku di #bc ini bisa terus menulis di blog dan saling memberi tantangan. Blogger’s challenges ini seperti memberi asupan makanan pada otak.

  1. One week one book

Um, membaca satu buku satu minggu dan membuat resensinya.

  1. Nana’s stories

Setelah kehilangan semangat untuk menulis, akhirnya aku punya ide (cerita fiksi, teenlit) tentang kisah pelajar SMA yang bego ketemu guru bahasa Inggris kece sehingga dia termotivasi belajar. Penasaran? Yuk baca di sini.

  1. Arin’s life

Arin, seorang pelajar yang memiliki wawasan luas akan menceritakan kisah klub pecinta buku dan sastra (KPBS) di sekolahnya. Pengen tau? Nih bocorannya.

  1. Self-assessment of habits in life

Berhubung skripsi tentang assessment, semoga ini bisa terwujud. Formatnya non-fiksi. Perlu riset yang wow.

  1. Assessment in writing

Yaps, insyaallah, skripsiku akan kukembangkan jadi buku.

  1. Diary of skripsweet

Cerita tentang pengalaman ngerjain skripsi.

  1. Klub pecinta buku dan sastra

Ini tindak lanjut dari one week one book sih. Klub ini sifatnya fleksibel, bisa di sekolah dengan siswa sebagai targetnya, atau teman-teman di luar sekolah.

  1. English club

Kegiatan ini tertuju untuk murid-muridku nanti.

  1. Perpustakaan dan rental buku

Yaps, aku pengen banget punya perpustakaan sendiri.

Bisa disederhanakan?

Ya, bisa. Aku mengklasifikasikannya menjadi 3 rencana utama.

Wow, 3 rencana utama? Kedengaran konyol ya?

Umm, 3 rencana ini aku buat sesuai dengan tingkat harapannya.

Rencana pertama penuh dengan harapan yang sangat tinggi terutama di bidang akademik. Bisa dibilang keinginan muluk-muluk. Untuk mencapainya aku harus sangat bekerja keras dan usaha yang tak terbayangkan.

Rencana kedua penuh dengan pekerjaan-pekerjaan seru. Artinya, aku merasa sebenarnya punya modalnya namun harus sangat gigih mengejarnya.

Rencana ketiga merupakan rencana paling tau diri dan paling realistis. Rencana dimana hampir semuanya dapat dibayangkan. Sederhana, jadi ibu rumah tangga dan guru.

Usia Rencana 1 Rencana 2 Rencana 3
22 Wisuda S1, penulis, blogger Wisuda S1, penulis, blogger, guide Wisuda S1, penulis, blogger
23 Lanjut kuliah S2 Editor, penerjemah, ngerjain buku Jadi guru, mulai KPBS dan EC, ngerjain buku
24 Nikah, penelitian, wisuda S2 Nikah, nerbitkan buku, biayain orang tua naik haji Nikah, jadi tutor, nerbitkan buku
25 Punya anak pertama, ngerjain buku Punya anak pertama, ngerjain buku Punya anak pertama, ngerjain buku
26 Pembicara, jadi dosen, buka lembaga pendidikan non-formal. Pembicara, buka perpustakaan pribadi Pembicara, ngajar les

Yak, begitulah ceritaku mengenai rencana hidupku.

Kenapa disebut 3 rencana utama?

Hehe, karena masih banyak rencana kecil lainnya. Tapi ketiga rencana inilah yang mengisi relung hatiku saat ini.

Gimana kalo nggak kesampean?

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Sejak dulu aku selalu berpikir seperti ini, “Jika aku berhasil, itu karena Allah memberikannya padaku. Jika aku belum berhasil, itu karena aku kurang berusaha.”

Apapun yang terjadi nantinya, itu semua sudah ketentuannya dari Allah. Aku akan selalu berusaha untuk bersyukur. Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya. Menuliskannya hanyalah satu dari berpuluh cara untuk meraihnya. Semoga bisa terwujud semua. Aamiin.

Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jika tak bisa, puncak gunung pun jadi. Dan jika itu terlalu sulit, puncak gedung pun tak mengapa. -Wawa

Iklan