Tantangan keempat #Blogger’sChallenges kali ini berasal dariku. Hahaha. Ada puluhan ide yang terlintas dipikiranku, namun akhirnya aku memilih satu hal yang terbilang susah-susah gampang.

Ceritakan 7 kebiasaanmu yang baik.

Beberapa hari yang lalu di ruang diskusi perpustakaan digital Unimed.

Aku: Wak, ntar lagi giliran aku ngasih tantangan di #Blogger’sChallenges, banyak sih idenya tapi kayaknya aku pilih lima kebiasaan baik.

Hera: Kenapa lima? Tujuh aja. Langit punya tujuh lapis. Tujuh aja.

Aku: Ya sih, aku awalnya emang pengen tujuh, tapi banyak kali, aku pun belum tau kebiasaan baikku apa aja.

Awalnya emang pengen tujuh, lalu diskon jadi lima, pas dengar komentar Hera, aku berpikir, ‘Ah iya, kalo lima itu cari aman, tujuh ajalah.’

Menilai diri sendiri itu susah, ya kan?

Dalam beberapa kesempatan, aku pernah mendapat pertanyaan, seperti “Coba ceritakan tentangmu?”, “Deskripsikan dirimu dengan 5 kata?”, “Apa kelebihanmu?”

Aku lalu terdiam, “Ummm.. ummm..” dalam hati gelisah, apa yang bisa dijelaskan ya. Alhasil aku asal jawab aja. Haha. Untuk itulah aku menantang teman-teman #bc untuk menuliskan hal ini.

*

Apa itu kebiasaan?

Dalam bahasa Indonesia, kebiasaan berasal dari kata ‘biasa’ dengan penambahan imbuhan awal ke- dan akhiran –an.

Ke.bi.a.sa.an (kata benda) sesuatu yang biasa dikerjakan.

Ke.bi.a.sa.an (antropologi) pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seseorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama.

Menurutku kebiasaan itu adalah segala sesuatu (pikiran, tindakan dan kegiatan) yang dilakukan berulang kali hingga kita menjadi terbiasa. Karena sudah terbiasa, kita sering tak menyadarinya lagi (ketika melakukannya). Ia membentuk sifat dan karakter kita.

Sayangnya, ada dua jenis kebiasaan yang tak terpisahkan dari diri kita. Kebiasaan baik dan buruk.

Bagi beberapa orang, berpikiran negatif merupakan kebiasaan, yang sejalan dengan berlalunya waktu akan berubah menjadi sebuah kecanduan. Seperti penyakit, seperti kecanduan alkohol, berlebihan makan, atau kecanduan obat terlarang. Banyak orang yang menderita akibat penyakit ini karena berpikiran negatif merusak tiga hal berikut: jiwa, tubuh dan perasaan. –Peter McWilliams

Hingga kamu membentuk kebiasaan untuk mencari kebaikan daripada keburukan yang ada di orang lain, anda tidak akan sukses atau bahagia –Napolen Hill

Kebiasaan buruk memberi energi negatif bagi kita karena ia akan menggerogoti jiwa, tubuh dan perasaan kita dan membuat kita merasa tidak bahagia dan sulit sukses. Sebaliknya, kebiasaan baik akan memberi energi positif untuk membangun jiwa tubuh dan perasaan kita menuju bahagia dan kesuksesan.

Kenapa kebiasaan perlu dinilai dan dievaluasi?

  1. Orang melihat kita tak hanya dari penampilan dan ucapan, namun kebiasaan.

Kebiasaan seseorang lebih meyakinkan daripada argumentasi yang dia kemukakan. –George Santayana

  1. Kebiasaan menunjukkan sifat asli kita.

Sifat kita, pada dasarnya, pembentukan dari setiap kebiasaan kita. Karena kebiasaan itu tetap, kebiasaan sering kali menjadi pola yang secara tidak sadar kita lakukan. Kebiasaan tersebut secara terus-menerus, setiap harinya, menunjukkan sifat kita. –Stephen Covey

  1. Kebiasaan akan menjadi karakter.

Jaga kebiasaan anda karena akan menjadi karakter. –Laozi

  1. Kebiasaan buruk sulit dihilangkan.

Banyak orang yang mempertahankan kebiasaan-kebiasaan yang melemahkan dirinya sendiri, cuma karena sudah jadi kebiasaan. –Rangga Umara

  1. Untuk mengubahnya, kita perlu memahaminya terlebih dahulu.

Bagaimana kebiasaan akan kita ubah kalau kebiasaan itu sendiri tak kita sadari? –Sujiwo Tejo

  1. Kebiasaan baik harus diketahui dan dipelihara.

Kebiasaan merupakan pengulangan yang berpola. Buang yang negatif yang pasti merugikan! Ulangi pola yang positif -Andrie Wongso

7 Kebiasaan Baikku

Setelah melakukan perenungan yang lumayan panjang dan menanyai beberapa teman, akupun menemukan tujuh hal ini.

  1. Salat lima waktu

Dalam Islam, salat merupakan tiang agama. Salat begitu penting sehingga ia berada di urutan kedua dalam rukun islam, setelah syahadat (mengakui dan meyakini keesaan Allah dan Muhammad sebagai rasul-Nya).

Sejak sebelum TK aku sudah dibiasakan untuk ikut salat berjamaah bersama orang tua. Melihat gerakan dan mendengar bacaan mereka. Ketika SD, aku diancam akan dipukul kalo nggak mau salat.

Bila seseorang banyak melatih dan mengulang, terpaksa ataupun sukarela, dia pasti akan menguasai keahlian itu. Inilah namanya pembentukan kebiasaan alias habits. –Felix Siauw

Mengerjakan salat lima waktu itu nggak mudah, ada kalanya aku merasa sangat malas. Namun, insyaallah saat menuliskan ini aku sudah membiasakan diri untuk salat lima waktu. Salah satu hal yang sangat mengesankan dari dampak melakukan salat adalah ketika aku baru pertama kali tinggal di kos 4 tahun lalu. Tepat pukul 5 pagi aku terbangun tanpa alarm. Hal itu membuatku memahami bahwa akibat pembiasaan di rumah, tubuhku terbiasa untuk bangun pagi.

  1. Minum air putih dan membawa botol air minum

Di antara semua jenis minuman, aku hanya suka minum air putih dan jus buah. Minuman lain yang seperti soft drink, sirup, aku kurang suka. Aku memandangnya dari segi manfaat bagi tubuh. Air putih merupakan kebutuhan tubuh, ia bermanfaat untuk menghindari dehidrasi (yang dalam jumlah besar dapat mengakibatkan kematian sel tubuh). Saking pentingnya, sejak kecil aku diharuskan membawa botol air minum berukuran besar. Hal ini jadi kebiasaanku hingga saat SMA, aku bahkan ingat untuk  membawa botol berisi air minum ketimbang buku pelajaran dan uang jajan.

  1. Membaca buku

Di rumahku, ada banyak buku yang bisa dibaca. Mungkin karena kami keluarga guru. Atokku pernah berkata pada mamakku, “Kita nggak punya banyak harta, tapi buku-buku inilah yang bisa diwariskan.”

Sejak aku dilarang terlalu aktif main di luar, aku hanya berteman dengan buku. Awalnya aku membaca buku-buku pelajaran, lalu buku-buku kisah dan hikmah, sejarah-sejarah dsb. Dulu, membaca bisa dikatakan sebagai pelampiasan rasa bosan, apalagi aku juga nggak boleh sering nonton TV, haha. Setelah itu, aku mulai terbiasa membaca apapun (asalkan nggak berkaitan dengan angka dan rumus). Dan saat ini, aku merasa bersyukur karena suka membaca.

Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca, sebuah kebahagiaan. –Goenawan Mohamad

  1. Menulis diari

Kebiasaan menulis sangat diperhatikan oleh mamakku. Ketika kecil, aku akan menghabiskan waktu di samping mamak beberapa jam sehari sambil meniru tulisannya dengan rapi. Menurut banyak orang, tulisan tanganku lumayan cantik, haha. Selain itu, mamakku sering menulis hal-hal penting di buku agenda, akupun sok ikut-ikutan, minta dibeliin buku cantik supaya bisa nulis juga. Hal ini makin menjadi-jadi ketika aku baca cerpen-cerpen pisican di majalah koleksi perpustakaan SMP. Dulu kan, hampir setiap cerita remaja mencantumkan diari sebagai cara si tokoh meluapkan isi hatinya.

Menulis diari itu sangat penting, terutama bagi calon penulis. Semua orang hebat umumnya suka menuliskan kisah-kisah hidupnya untuk diambil manfaat kala dibaca ulang. Dalam buku Perempuan Tegar dari Sibolangit, Ny.Likas menceritakan kebiasaan menulis Jenderal Jamin Ginting. Saking pentingnya, saat perang, Jamin Ginting akan menyelamatkan buku hariannya terlebih dahulu. Selain itu, penulis favoritku, Pramoedya Ananta Toer, selalu dan selalu menuliskan apapun yang terjadi dalam hidupnya, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Menulis cerita harian juga penting untuk terapi seperti yang dilakukan B.J Habibie untuk menghindarkannya dari depresi berkepanjangan selepas meninggalnya sang isteri.

Nah, berbagai kisah seperti itu membuatku membulatkan tekad untuk tetap menulis walau hanya sekedar catatan harian. Kalian bisa baca catatan harianku di akun blogspot wawhacuza.blogspot.co.id

  1. Selalu bahagia

Kebahagiaan adalah sebuah kebiasaan, peliharalah itu. –Elbert Hubbard

Kata Hera aku selalu kelihatan ceria walaupun lagi sedih. Biasanya aku menunjukkan sikap itu pada teman-teman dekatku. Aku sendiri memandang diriku selalu bahagia. Seperti kata Elbert Hubbard di atas, perasaan bahagia di hati itu harus selalu dipelihara. Walaupun dalam hidup ini banyak ditemui kekecewaan, namun aku nggak mau berlarut-larut. Aku nggak mau memikirkan hal yang menyakitkan karena itu hanya akan menyesakkan hati dan memenuhinya dengan kebencian.

Jadikanlah kebahagiaan sebagai kebiasaan anda. Janganlah anda biasakan diri anda hidup dalam keluhan dan rasa takut gagal. –Mario Teguh

  1. Jaga perasaan orang dan mudah meminta maaf jika salah

Suatu hari aku bertanya pada mamakku, “Mak, apa sih kelebihan Wahidah?”

Mamak terdiam cukup lama, “Hm, mamak nggak tau itu baik atau nggak, tapi kalo misalnya Wahidah ngomong sesuatu yang menyakiti mamak, Wahidah cepat nyesal dan minta maaf.”

Aku tertawa mengingatnya. Benar juga sih. Aku ini ngomongnya suka blak-blakan dan lumayan pedas, namun ketika mengucapkannya, otakku langsung memberi semacam sinyal bahwa itu salah, maka aku akan cepat-cepat minta maaf sebelum hal itu mengendap di hati mamak. Hal ini membuatku belajar bagaimana menjaga ucapan dengan orang lain. Aku nggak mau nyakitin orang lain, apalagi orang yang kusayang dan menyayangiku. Walaupun aku agak pelupa, tapi aku berusaha mengingat apa yang disukai dan nggak disukai orang sekelilingku. Kadang saat orang membuat hatiku sakit, aku ingin sekali membalasnya, namun aku kembali berpikir, “Aku nggak suka digituin, aku nggak boleh gitukan orang.”

Melihat bahwa kita akan terus membuat kesalahan seumur hidup kita, maka mengatakan kamu menyesal rasanya tidak buruk untuk dijadikan kebiasaan –Stephen Covey

  1. Setia, peduli, perhatian

“Ko itu setia wak,” ucap Hera saat kami sedang nge-date berdua, “Peduli dan perhatian juga.”

“Umm, setia? iya lah yaa.. selama ini selalu aku yang dicampakkan.”

“Ih, bukan itu. Tapi setia kawan. Ko tu, the only one.”

Bisa dikatakan aku lumayan setia. Sejak dulu aku punya prinsip bahwa aku lebih suka menunggu dari pada ditunggu (kalo janjian hanya berdua dengan teman). Aku nggak suka meninggalkan orang lain. Dan aku suka membantu orang lain apalagi jika dia sudah memintanya padaku. Aku juga melakukannya dengan tulus. Bisa dikatakan aku setia dalam hubungan pertemanan ataupun hubungan spesial dengan seseorang.

Dalam hal kepedulian dan perhatian, aku memandangnya seperti ini, “tidak dipedulikan ataupun tidak diperhatikan itu menyakitkan.” Sehingga aku berusaha untuk peduli dan perhatian terutama dengan orang-orang kusayangi, dan yang menghargai serta menyayangiku.

Terkadang aku menunjukkan dua hal itu dengan cara yang menurut beberapa orang lumayan mentel dan disgusting, tapi percayalah, itu hanya cara agar kami sama-sama tidak canggung.

Yaps, itulah 7 kebiasaan yang menurutku lumayan bagus untuk dituliskan. Nah, gimana dengan kebiasaan baikmu? Bisa dong di-share di kolom komentar di bawah. Hihi.

Menuliskan tujuh kebiasaan ini pastilah mengundang reaksi pro dan kontra karena belum tentu apa yang baik menurut kita juga baik menurut orang lain. Untuk itu diperlukan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Terima kasih sudah membaca dan jangan segan berkomentar ya.

Oh ya, aku mau ngucapin selamat bergabung di #Blogger’sChallenges untuk Nadya Ardhani. Semangat menulis!

Iklan