Tadi malam, pukul 21.25 WIB aku baru pulang dari kosan Shely. Di perjalanan aku baru ingat Nadya mau umumin tantangan #Blogger’sChallenges selanjutnya. Sampe di kos aku buru-buru aktifkan data dan buka direct message di instagram.

Nadya: Tema ini aku ambil karena kayaknya tema-tema yang sebelumnya selalu menyinggung hal serius dalam kehidupan. Jadi, aku pengen ada sesuatu yang kaunggap me-refresh lah, hehe. Jadi temanya adalaaaaaah… Cinta pertama. Aku menspesifikkannya jadi cinta pertama ke lawan jenis.

Pffftttt! Kalo boleh pake reaksi mas Arif, “What the…………….?!”

Omaigat, omaigat. Apa ndak dibuat ni? Wkwkwkkwk.

Bahas tentang cinta aja udah somplak apalagi cinta pertama. Aduh, susaaah ini.

Cinta pertama itu apa sih? Aku langsung ingat lirik lagunya Mikha Tambayong yang cinta pertama itu.

Ku tak tau, mengapa aku malu..

Di setiap aku tau dia di dekatku..

Aku susah, bila dia tak ada..

Tak ingin jauh ku darinya..

Ada rasa, yang tak biasa, yang mulai kurasa..

Yang entah mengapa..

Mungkinkah ini pertanda, aku jatuh cinta..

Cintaku yang pertama..

Kalo dari lirik di atas, cinta pertama itu seperti perasaan aneh yang baru pertama kali dirasakan. Dia yang kita sukai dari dekat. Diam-diam.

Pfftt! Masih gelap.

Aku lalu ingat film Cinta Pertama yang dimainkan oleh Ben Joshua dan Bunga Citra Lestari. Itu lho, yang soundtract-nya lagu Sunny. Alya suka banget sama Sunny saat SMA, cinta diam-diam juga. Mereka pisah saat kuliah dan hilang kontak.

Apaan sih, masih gelap juga nih.

Kenapa topiknya cinta pertama. Kan jomblo jadi sedih.

*

Ngomongin cinta emang nggak ada habisnya, tapi bagiku saat ini, cinta itu..ummm.. nggak begitu penting. Hhahaha. Ini mungkin akibat kelamaan jomblo. Tapi serius, jomblo itu banyak bagusnya sih, nggak nambahin dosa.

Cinta itu pentingnya nanti, pas menjalin hubungan serius untuk nikah. Yaps, cinta itu salah satu aspek yang cukup penting dalam membangun pernikahan.

Eits, kok jadi bahas nikah ya? #efekskripsi #efekumur20an

Sebenarnya aku mau memproklamirkan Song Joong-ki oppa sebagai cinta pertamaku. Itu lho, kapten Yoo Sie Jin (big boss) di drama korea Descendant of The Sun.

Serius, pertama kali ngeliat dia, um, sepertinya di drama korea Nice Guy, aku langsung meleleh gitu. Mukanya imuuut banget, ekspresinya lucu. Tiap liat dia senyum bawaannya pengen bawa pulang, sensasi liat senyumnya kayak ada kupu-kupu di perut gityuu.

Oppa, saranghae (aku mencintaimu)! Gatchi itgo shipuhyo (aku ingin bersama denganmu) Bogoshipeoyo (kangen kamu)! Tapiii, kata Dwita aku harus kembali ke dunia nyata, haha. Nggak jadi deh.

Kalo dibongkar mengenai pengalaman cinta, saat ini ada dua laki-laki yang terlintas di dalam pikiran. Yang satu muncul di awal SMP, yang satu lagi saat kelas 2 SMA.

Yang di SMP ini disebut pacar pertama, yang satunya lagi pacar kesekian, hahaha (ketauan yang banyak pacar). Aduh, kalo calon suami baca, gimana nih (Maafkan daku mas, aku pernah khilaf). Wkwkwkk.

Berdasarkan hasil riset di Google (seriusan ya, aku sampe bongkar 5 halaman lho), aku melihat pacar pertama ini sebagai cinta monyet. Dan yang di SMA itulah yang mungkin cinta pertama.

Kenapa?

Aku kutip poin-poin yang disampaikan di akun allwomenstalk aja ya..

  1. Experience feelings for the first time

Umm, aku merasa yakin sih kalo aku cinta sama dia sejak awal jadian, wkwkwk. Sebenarnya sejak awal jumpa aku udah ngerasa ada something aja sama dia. Saat bersamanya (dulu), aku ngerasa nyaman yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

  1. Memories will last forever

Yaps, kenangan bersamanya (yang tak seberapa itu) tetap aja menghantuiku walaupun nggak seperti dulu kali lah. Kalo lagi di luar rumah dan keujanan atau pas turun hujan, ingat dia. Kalo dengar lagu-lagu tertentu, ingat dia lagi. Kalo sedang sadar bahwa aku jomblo, ingat dia juga. Kalo lagi pengen diperhatiin, ingat dia. Kalo..kalo..kaloo.. (nangis di pojok kamar kos).

  1. There is nothing like first love

Umm, kalo poin yang ini sih aku nggak yakin ya. Aku selalu bilang, “Yaa, bukannya nggak ada yang seperti dia, hanya aja belum ketemu yang lebiiiiiiiih dari dia.”

  1. It sets the criterion

Yak setuju! Aku mikir seperti itu. Bukan maksudnya mau laki-laki yang seperti dia, sama sekali nggak gitu. Aku cuma berpikir, untuk selanjutnya yaa maunya lebih baik dari dia.

  1. You will always be interested about him

Hahahhahaa, bener banget. Akunya masih kepo gitu sama kehidupannya. Nggak stalking lagi sih, cuma sesekali kalo kami chattingan aku selalu nanya kabarnya, ada cerita seru nggak, ya gitu deh. Small talk gitu. Terakhir komunikasi, dia udah punya cewek baru, sialan, haha.

  1. First break up

Hmm, kami pernah sih hampir putus, tapi akunya nggak terima. Soalnya (menurutku) hubungan kami lagi baik-baik aja, ehh, cuma gara-gara kami beda kampus dan jurusan. Apaan sih, selama itu juga kami LDR-an. Eh, setelah dijalani, ternyata kami emang udah beda pola pikir. Pas hampir putus dan putus beneran itu rasanyaaaaa.. nyesss..

  1. First love never dies

Pfftt, kayaknya nggak gitu amat sih. Perasaan itu juga punya waktu kadaluarsa, haha. Pas perasaan itu menipis, jangan ditebelin lagi. Move on lah, laki-laki bukan cuma dia. #inimaksudnyaapa? #nggaksenangsamastatementfirstloveneverdie #nggakterima

Oke itu tujuh poin kenapa aku memilih dia sebagai cinta pertama. Kenapa aku pilih dia padahal dia udah bahagia sama orang lain???? Kenapa? Kenapa dikasih topik ini, kenapa Nad?

Selanjutnya aku bakal ceritain kisah pertama kali kami jumpa (haha, udah kadung ditulis, yaudah panjangin aja). Sengaja sih ditulis di bagian bawah, supaya yang baca udah suntuk luan, haha.

*

Pada suatu hari di tahun 2011, aku pergi ke dinas pendidikan Langkat untuk mengikuti olimpiade di Medan. Aku menjadi satu-satunya perwakilan sekolah yang lolos di tingkat kabupaten untuk mata pelajaran Biologi. Itu adalah saat kedua kalinya aku di bawa ke Medan sebagai salah satu perwakilan dari kabupatenku.

Berbekal pengalaman tahun lalu, aku bertekad, “Tahun ini aku harus dapat teman sebanyak-banyaknya.” Lucu kan? Bukannya bertekad menang di Medan, ehh, malah niat nyari kawan. Itu semua akibat tahun pertama aku dibego-begoin abang seniorku.

Di kantor dinas, kamipun disuruh masuk ke satu ruangan untuk mendengarkan arahan. Saat itulah aku bertemu dengannya. Hasseeeeekk..

Kalo nggak salah, kami duduk sebelahan, jadi waktu itu kami basa-basi dikitlah, nanya nama, asal sekolah dan mewakili mata pelajaran apa. Saat dia memberi tahu namanya, aku nggak begitu dengar, tapi dia nunjuk ke nomor urut pertama di kertas peserta olimpiade, juara satu Matematika. Hahahaha.

“Matematika? W-o-w bangetsss, peringkat pertama lagi,” itulah yang kupikirkan saat itu.

Akupun memperkenalkan diriku dan menunjukkan namaku di kertas tersebut. Lalu kami fokus mendengarkan arahan.

Kamipun berangkat dari Stabat dengan bus dinas. Di dalam bus, aku punya inisiatif untuk minta kontak teman-teman yang lain. Jadi, aku buat tulisan di belakang kertas soal-soal Biologiku berisikan kata pengantar ngajak mereka kenalan dengan cara mengisi nama, mata pelajaran, facebook dan email.

Setelah semua mengisi kertas tersebut, akupun meng-add akun facebook mereka satu per satu selama perjalanan. Kamipun di antar ke lokasi yang berbeda-beda. Saat itu aku bersama Rizki dan Tyo diantar ke sebuah mess daerah Helvetia.

Aku nggak perlu nyeritain betapa lucunya kami bertiga saat nginap olimpiade itu ya. Di saat semua anak serius belajar di malam hari, kami justru gosipin sekolah, guru, kepala sekolah dsb. Sampe guru pembimbing dari sekolah lain melototin kami.

Besoknya, setelah selesai olimpiade, kami dijemput lagi oleh bus dinas, tapi busnya datang hampir magrib. Mamak udah nyuruh aku nginap aja di rumah wak di Helvet, besok paginya bakal diantar ke Pinang Baris. Tapi emang dasar pikiran cetek dan sok solidaritas, aku kekeuh mau pulang. Aku mikirnya “Ahh, ada juga kok anak yang tinggal di Pangkalan Susu, jadi ntar kami bisa bareng naik angkot.”

Yaa, karena bus dinas hanya ngantar sampe Stabat aja sedangkan jarak Stabat ke Berandan masih satu setengah jam lagi.

Ketika bus melaju, akupun mencari anak dari Pangkalan Susu tapi ternyata dia nggak ikut pulang sama kami. Hahahahahahahhaha. Bencana dimulai.

Aku bingung sendiri. Saat itu ke Medan aja jarang, jangankan ke Medan, naik angkot sekitar Berandan aja nggak pernah sendiri. Naik angkot dimana ntar? Nyampe Berandan nggak? Udah malam lagi. Rizki dan Tyo juga jadi bingung, pasalnya karena aku cewek dan tujuan rumahku yang paling jauh dari anak olim lainnya. Saat itulah Rizki nanya-nanya ke beberapa anak yang lain.

“Eh, S, rumahmu di Tanjung Pura kan?” Tanya Rizki

“Iyaa.”

“Oh baguslah. Nanti kau kawanin dia ya naik angkot. Dia nggak pernah naik angkot sendiri.” Ucap Rizki padanya.

“Iyaa, aku yang penting naik angkot aja sih, kalo udah di timtak (nama angkot daerahku), amannya.” Aku menimpali.

“Oh yaa, tapi aku disuruh nginap sama orang tuaku di rumah sodara, di Stabat.”

Aku dan Rizki menarik nafas berat, yaah, nggak jadi deh. “Udahlah, nggak apa-apa, yang oenting kalian tau tempat nunggu timtak kan? Nanti tungguin aku dulu ya.” Akunya sok tegar.

Beberapa menit sebelum sampe di Stabat, ntah bagaimana Rizki dan S kembali berbicara.

“Waa, dia jadi pulang ke tanjung, ntar naik angkotnya sama dia ya.” Ucap Rizki padaku lalu ia kembali bicara padanya, “S, tolong yaa..”

“Oh ya, kok jadi pulang ke rumah?”

“Nggak apa-apa.”

Bus pun berhenti saat gerimis datang. Kami turun dari bus, lari-lari menyebrangi jalan lalu berteduh di dekat halte. Tak lama dia menyetop sebuah bus, KPUB, lalu kami duduk bersampingan.

Kami sama-sama diam.

“Kok diam aja?” tanyanya padaku.

“Um, memangnya harus ngomong apa?” Haha, sumpah, itu dialog dramaku pas SMP lho!

“Nggak ada sih.”

Hening lagi. Ntah beberapa menit kemudian kami sama-sama bicara. Mungkin karena nggak enak juga diam-diaman kan, suasananya awkward kali lah. Ntah bagaimana kami bahas cita-cita.

“Oh ya, nanti pengennya kuliah apa?”

“Hmm, belum tau sih, tapi kayaknya pengen jadi guru.” Jawabku, “Tapi nggak mau biologi lah. Kalo kamu?”

“Hm, pengennya sih jadi guru besar Matematika gitu.”

“Wah, kerenlah. Aku nggak mau biologi, aku juga nggak mau kedokteran.”

“Iya kan? Aku juga nggak berminat kedokteran.”

“Iyaa, kalo orang-orang ditanya pasti jawabnya mau jadi dokter.”

“Iyaa, ntah kenapa lah kalo ditanya cita-cita pasti jawabannya dokter.”

Nggak lama percakapan kami terputus karena kami harus tukar bus, mesin bus kami saat itu rusak. Setelah aku naik ke bus, aku duduk di depan jadinya kami nggak bisa ngobrol lagi. Ketika dia turun, dia menepuk pundakku sambil berkata, “Aku luan ya.”

Setengah jam kemudian aku sampe di Berandan. Kecapean. Tidur. Aku pikir cerita kami selesai sampe di situ, ternyata oh ternyata..

Paginya, aku buka facebook, ada satu pesan. Dari dia.

Kira-kira isinya seperti ini.

Hai, ini aku teman olimpiademu kemarin. Kamu sampe rumah dengan selamat kan? Oh ya, ini nomorku, 0853xxxxxxxx. Disimpan ya.

Hahahhahaa, ternyata kami sudah berteman di facebook. Thanks to otakku yang suntuk pas di bus sehingga minta akun facebook teman-teman olimpiade.

*

Yayayyaa, udah, ceritanya sampe situ aja. Nggak usah dipanjanginlah, ntar jadi novel. Pas putus sih aku sempat mikir gini, “Padahal kalo kami langgeng sampe nikah, kan seru pas nyeritain sama anak-anak, dulu mami dan papi ketemunya di momen olimpiade gitu.”

Jadi, kesimpulannya adalah cinta pertama itu adalah pilihan. Kita memilihnya untuk masuk lebih jauh ke hidup kita atau sekedar say hi aja lalu lenyap. Aku sendiri memilih dia sebagai cinta pertama karena beberapa alasan, salah satunya karena aku masih mengingat dia dan kenangannya. Wkwkwkw. Eits, tapi itu bukan artinya aku nggak bisa move on ya!

Hal yang cukup sulit dilupakan dari mantan itu adalah kenangannya, hahaha. Ya kan?

Terkadang aku merindukan saat-saat dimana aku disayangi, dirindukan, diperhatikan dan dibutuhkan.

Terkadang aku rindu saat bisa merasakan bahagianya mencintai dan dicintai.

-Wawa

*

Well, menurut kalian gimana? Dari pemaparanku di atas, itu cinta pertama nggak?

Okeee, aku nggak bakal berani promosiin tulisan ini di akun media sosialku, takut dibaca orang bersangkutan. Cukup anak #Blogger’sChallenges dan pembaca yang nggak sengaja nyasar di blog-ku.

Oh ya, yang baca harus komeeeeeeen.. gimana sih cinta pertama kalian, sensasi, perasaan dll??

 

 

 

Iklan