Aduh, menyebalkan sekali tantangan #Blogger’sChallenges kali ini!

Sebelumnya aku peringatkan pada kalian semua, tulisan ini bakal panjaaaaang banget. Kalian harus siapin cemilan dan minuman supaya nggak bosan. Haha. Dan juga, kalian tidak boleh meniru apapun yang tertulis di postingan ini (khususnya untuk hal yang tidak baik)! Kalo di TV, ini rating-nya BO (Bimbingan Orang Tua).

Tantangan keenam dilemparkan oleh Dwita alaysss. Saat dia mengumumkannya, aku sedang berbaring di sampingnya (Hayooo, kami ngapain??).

Kebetulan Rabu malam (28 September 2016), aku nginap di rumah Dwita karena ujan deras dan daerah Pancing banjir. Awalnya dia ngajak aku karokean di MMTC sekitar jam 5 sore, trus pas keluar gedung selepas magrib, ehh udah banjir aja.

Setelah mandi dan makan, kami pun masuk kamar dan bergosip ria.

Aku: Eh, hari ini deadline kan? Kek mana ni Nadya sama Lusty belum ngasih link.

Dwita: Iya, kek mana tu ya. Apa besok ngumumin topik selanjutnya?

Aku: Nggaklah. Pokoknya malam ini harus update tantangan baru, supaya besok kita udah bisa mikir tentang itu. Ini kan giliranmu Wik, cepat ko pikirkan.

Dwita: Iya sih. Udah kupikirkan lho. Ah, aku umumkanlah. Sambil kuketik, kubacakan ya. Hahhahaha.

Dia tertawa girang, perasaanku jadi nggak enak.

Dwita: Ecek-eceknya kukasi kata pembuka dulu la ya. Gaesss, karena vote-nya sesuai giliran, abis Nadya balik ke aku. Jadi sekarang bagian aku ya yang ngasi topik yaw.. dan topiknya adalaaaaaaaah… 30 fakta yang menyebalkan dari diri kamu.

Padahal aku udah memejamkan mata karena ngantuk, tapi pas dengar ucapannya, aku langsung melek lagi.

Aku: Nggak ada otak ko Wii.. eek koo..  Ihh, benci kali aku liat kaulaaaaah.

Dwita: Hahahha, mampooos ko. Senang kali aku liat ekspresimu.

Kalian tau apa reaksiku mendengar tawanya? Aku menepuk-nepuk mukanya  pake bantal berulang kali tanpa ampun. Bahkan aku langsung memikirkan skenario untuk membekap hidungnya. Hahaha! Sumpah kesal kali. Untung aku ingat kalo aku lagi numpang di rumahnya, haha.

Kamipun pukul-pukulan lalu sama-sama diam.

Aku: Ya Allah Wiii, tiga puluh lho! Yang menyebalkan pulak itu! Kek manalah nyarinyaaaaa. Iss, masih mending kalo 30 fakta tentang diri kita.

Dwita: Karena lima, tujuh, sepuluh dan dua puluh itu udah mainstream.  Kalo fakta tentang diri juga udah mainstream.

Aku: Tapi ini menyebalkan lho. Ntah apa gunanya. Kalo aku kemarin kan tujuh kebiasaan baik supaya kita menemukan dan menghargai diri kita sendiri!

Dwita: Eh, aku bikin klarifikasilah (diapun membuka instragram-nya lagi). Tujuannya adalah sejauh mana orang lain atau diri kita mengintrospeksi diri sih, hehe. Dalam hal ini gada maksud untuk mencari kejelekan ya wee. Karena mengingat aku kesulitan introspeksi diri sih selama ini hehe. Selamat menulis teman (dia membaca apa yang dituliskannya).

Aku: Aisssh, kek mana ini.. Macam mas Arif lah aku nih, gagal aku (Fyi, mas Arif mengaku hampir gagal di dua tantangan terakhir). Gagal aku di challenge ini. Apa yang mau kutuliskan.

Dwita: Eh, ralatlah dua puluh fakta aja (ucapnya keras-keras sambil mengetikkannya di hp).

*

Oke, menurut kalian mungkin aku lebay?

Bukannya aku sok menyenangkan atau selalu melakukan hal baik sehingga nggak setuju dengan tantangan ini. Bukan gitu.

Emang tujuannya bagus, untuk introspeksi diri, tapi yaa, aku masih berat hati menerimanya.

Sebelumnya aku pernah melempar topik tujuh kebiasaan baikmu. Hal itu didasarkan pada alasan yang sangat kuat. Hampir semua temanku memandang buruk pada dirinya sendiri (termasuk aku, haha). Maksudnya, jarang ada yang merasa dirinya melakukan hal baik. Kita sering berpikir yang dilakukan itu buruk, buruk dan buruk. Ironisnya, sudah tau itu buruk, tapi tetap memercayai dan tidak berusaha melihat kelebihannya sendiri. Sedihkan, udah hidup di dunia ini lebih dari dua puluh tahun namun nggak merasakan kebaikan yang ada pada diri sendiri? Selain itu, jika seseorang memikirkan kelebihannya, otomatis dia juga menyadari kekurangannya sendiri (secara diam-diam dan akhirnya berusaha untuk mengurangi intensitas kebiasaan buruknya).

Namun, tantangan adalah tantangan. Dan itu harus diselesaikan. Sejak diumumkan, aku mulai nge-chat teman-temanku. Haha. Pokoknya harus tanya-tanya orang karena ini berkaitan dengan tindakanku yang berefek tidak baik terhadap perasaan orang lain.

Apa sih fakta itu?

Fakta menurut aplikasi KBBI Yufid adalah hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan, sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi.

Jadi, fakta itu adalah sesuatu yang berdasarkan kenyataan, bukan khayalan, karangan dan bualan semata.

Menyebalkan itu seperti apa?

 Menyebalkan berasal dari kata sebal yang diberi imbuhan awal me- dan akhiran –kan. Sebal merupakan bentuk perasaan sedangkan menyebalkan merujuk pada suatu tindakan yang membuat hati atau perasaan seseorang menjadi dongkol, marah, gemas, benci, tidak senang, sakit hati dan hal negatif lainnya.

Menurutku pribadi, perasaan sebal itu bersifat temporer (sementara). Artinya, suatu tindakan mengundang perasaan sebal saat itu saja. Orang yang sesekali bertindak menyebalkan belum tentu membuat orang lain membencinya seketika itu juga. Perasaan sebal itu ditandai oleh adanya gejolak di dalam hati, atau rasa pening di area kepala sehingga kita rasanya sungguh tak tahan. Aku sendiri mendefinisikan rasa kesal itu saat aku ingin menampar, menggigit, menonjok, mencium dan memaki seseorang.

Melakukan hal yang menyebalkan adalah wajar. Itu manusiawi. Kita pasti pernah merasa sebal pada orang lain atau membuat orang merasa kesal. Walaupun sifatnya sementara, namun jika terus diulangi, akan membuat orang malas berhubungan dengan kita. Tak jarang, orang yang berperilaku menyebalkan dihindari masyarakat bahkan temannya sendiri.

20 hal menyebalkan yang pernah kulakukan

Dari sekian banyak orang yang kuinterogasi, mereka sulit menemukannya, hahahaha. Empat hal yang kutemukan dari mereka, selebihnya aku introspeksi diri sendiri, aku berpikir dan mengingat-ingat momen yang mungkin ketika aku melakukannya, orang merasa sebal saat itu.

Baiklah, aku akan membeberkannya, namun tak hanya memberi tau faktanya, aku juga akan menjelaskan kasusnya dan solusinya.

  1. Meletakkan barang kesannya sembarangan

Ini berdasarkan cerita Dwita. Dia ingat suatu waktu di masa lalu, aku mengeluarkan isi tasku dan meletakkannya di sekitarku namun aku kembali mengerjakan tugas kuliah tanpa memedulikannya. Saat itu dia berpikir, “Iss, anak ini, nanti terpijak barang-barangnya.”

Haha, aku tertawa. Benar juga. Aku memang gitu kalo lagi ngerjain sesuatu. Misalnya aku mengerjakan tugas, maka buku-buku, kamus, kotak pensil, botol air minum, dsb kuhamparkan di depanku. Istilahnya: berserak dan makan tempat. Kuakui, aku memang cukup berantakan dalam menaruh barang, namun aku akan ingat posisi dari masing-masing barang tersebut. Walau berantakan, aku bukan orang yang teledor (menaruh sesuatu sembarangan dan sering melupakannya). Jika di kampus atau di rumah orang lain, aku selalu memasukkan barang-barang ke dalam tas jika sudah tak menggunakannya lagi.

Solusi: Aku harus menyadari bahwa di tempat umum manapun, aku harus meletakkan barangku hanya di wilayah kekuasaanku saja, jangan sampai mengganggu orang lain lagi. Kalo kebetulan aku melakukannya, kalian bisa kasi tau aku langsung saat itu juga, tapi jangan dibentak-bentak akunya ya!

  1. Kalo ngomong itu sering pedas, juga to the point

“Kadang-kadang kalo bicara bisa langsung to the point. Tapi kalo lagi baik, ngomongnya bisa lembut. Benernya tu kak?” Hafni, adek juniorku di Kreatif menjawabnya setelah kupaksa mikir ketika kami chatting-an via line.

Iya, bener tu dek. Ini sebenarnya efek karena sering dengerin ucapan orang yang pedas-pedas pada diriku. Jadi, aku merasa melontarkan kata-kata pedas itu biasa, haha. Makna pedas di sini sebenarnya merupakan fakta-fakta yang nggak mau diakui orang lain.

Pernah suatu saat ketika sahabatku curhat tentang kegalauannya, bukannya membesarkan hatinya, aku justru bilang, “Udahlah, ngapain ditangisin sih. Dia aja nggak mikirin kau. Lagian kalian itu udah berakhir, dia bahkan nggak peduli samamu lagi. Bagus ko mikirin orang lain yang peduli samamu.”

Aku ngerasa kalo mulutku ini kadang kelantaman, apalagi kalo nggak cocok pikiran orang samaku, wkwkwk. Tapi seiring berjalannya waktu aku mulai belajar menjaga perasaan orang (walaupun dia nggak menjaga perasaanku).

Solusi: Aku harus jaga omongan. Mulai menerapkan pepatah yang mengatakan diam itu emas. Jika kalian merasa nggak suka dengan ucapanku, kalian bisa ajak aku ngomong secara personal.

  1. Suka mengkritik

Ini berkaitan juga dengan poin di atas. Tiap ada sesuatu, otakku sering meresponnya lalu mulutku langsung menyatakannya. Aku susah diam kalo udah berpikir. Apapun dikritik. Tapi aku mengkritik  sesuatu karena sudah ada pengetahuan sebelumnya untuk dibandingkan ya! Kalo aku nggak ngerti apa-apa, aku diem kok.

Ada pengalaman lucu ketika aku mengkritik hingga Hera dan Nisa geleng kepala. Suatu hari kami nonton di bioskop. Film itu diadaptasi dari cerpen. Aku udah pernah baca cerita itu, jadi ekspektasiku lumayan tinggi. Ternyata, oh ternyata, filmnya sungguh (kacau, nggak jelas) bikin ketawa! Sepanjang menonton aku nggak bisa nahan mulutku untuk mengkritik setiap adegan.

“Ihh, ngeri kalilah mulut si Wawa ini.”

“Tu lah, kalo nonton film Indonesia jangan ajak aku, capek kelen nanti dengar ocehanku.” Ucapku ketika selesai nonton.

Kalo kata senior di Kreatif, aku ini punya bakat jadi konseptor, tapi kalo eksekutor, pfftt.

Solusi: Mulai menuliskan kritikan itu daripada membuat orang mendengarkannya. Sepertinya aku harus belajar keras tentang resensi dan kritik sastra, wkwkwk. Tak hanya itu, selain mengkritik aku juga harus memikirkan solusi konkret terhadap hal yang kukritik. Seandainya mulutku kambuh lantamnya, dan ternyata yang kuucapin itu salah, kalian bilang aja saat itu jadi aku nggak ngerasa benar sendiri.

  1. Kalo udah konsentrasi terhadap sesuatu, aku nggak peduli yang lain

Dulu aku sering berantam sama adekku karena aku nggak dengerin ceritanya. Pasalnya, aku sedang membaca buku. Jadi, awalnya aku merespon tapi lama kelamaan suaranya nggak kedengaran lagi (kukira dia udah selesai ngomong, haha). Setelah dia ngomong panjang lebar tiba-tiba dia memukulku pake bantal.

“Iss, nggak didengarkannya! Benci kali lah!”

Selain itu, aku juga pernah disindir sama Shely, “Si Wawa ini, kalo kita papasan sama dia,ditengoknya pun mata kita, tapi dia nggak sadar itu.”

Hera pun pernah protes ketika aku asyik nonton drama Korea, aku nggak dengerin apa yang dibilangnya padahal menurutnya aku udah merespon ucapannya, haha.

Kalian juga nggak perlu khawatir kalo bergosip di sampingku, belum tentu aku mendengarkan cerita kalian, bahkan kalo kalian nyeritain aku!

Nah, ini merupakan masalah yang sangat serius bagiku. Aku juga nggak ngerti kenapa ketika aku konsentrasi pada sesuatu, yang lainnya sama sekali nggak dipedulikan. Huft. Aku sering iri sama orang yang multitasking. Jika kupaksapun, hal itu hanya bertahan selama lima menit, setelah itu, byeeee.

Solusi: Kalo kalian ingin menyampaikan sesuatu, pastikan aku menatap mata kalian, mendengarkan dan merespon ucapan kalian dengan benar. Seandainya aku lagi melakukan sesuatu yang lain saat kalian bicara, sentak sikit tubuhku supaya konsentrasi itu buyar. Jika aku menjawab hanya, umm, oo, eehh, yaa, tanpa embel-embel lain, kalian perlu waspada, mungkin aku butuh aqua #iklanaqua

  1. Suka motong pembicaraan

Pernah nggak ketika kalian ngomong lantas kupotong? Haha, maafkan daku ya, aku khilaf! Karena otakku ini lumayan aktif menanggapi bahasa (kata atau kalimat), jadinya ketika orang ngomong aku bisa teringat sesuatu yang rasanya harus dibilang (kalo nggak bakal lupa lagi). Tapi, aku cepat sadar sih kalo aku udah melakukan kesalahan, jadi aku pasang muka sok imut lantas memintanya melanjutkan ucapannya lagi.

Solusi: Kalo hal yang kukatakan nggak begitu penting, pelototi aja. Haha.

  1. Nggak tau malu

Payah juga jelasinnya. Tapi beberapa orang pernah bilang kelakuanku kadang bikin malu. Malu-maluin. Shely bahkan pernah bilang, “dia bukan teman aku, bukan,” sambil tutup muka.

Solusi: Kasih tau aku, kalian malunya di bagian apa, dan aku harusnya bagaimana.

  1. Ngaret

Aku sebenarnya nggak ngaret sih, aku hanya menyesuaikan diri dengan orang lain. Kalo situasinya bener-bener nggak familiar, aku bakal datang lebih cepat, tapi kalo ternyata orang lain terlihat mau ngaret, aku juga ikutan datang lama. Namun, aku berusaha untuk nggak telat jika janji berdua sama seseorang yang kutau hanya menungguku. Contohnya seperti saat aku janjian sama Hera, aku akan menyesuaikan waktu supaya aku yang duluan sampe, karena aku tau dia orangnya on time dan nggak suka nunggu. Jika aku telat, biasanya aku konfirmasi dulu tentang kendalanya.

Solusi: Mengenai janjian, aku orangnya perlu konfirmasi serius. Kalian harus bilang, itu harus on time, in time atau out time, haha.

  1. Suka menghilang

Ini berkaitan dengan keberadaanku di Medan, ya. Aku sering bepergian. Aku pergi ke sana, aku pergi ke sini, aku pergi ke mana-mana sendiri seperti jomblo, syalalala (nangis dipojokan kamar). Aku ini sebenarnya anak rumahan yang baik nan polos, namun hidup di Medan tak semudah itu bre! Wkwkkwk. Sejak nggak punya pacar, aku lupa kalo aku sering pergi menjalang ke mana-mana, karena nggak ada yang smsin, “Kamu di mana sayang? Lagi apa? Udah makan kan?”

Menghilang di sini artinya banyak. Bagi orang-orang di kos, aku kelihatan hanya di pagi dan malam hari aja.

“Eh kak, apa kabar? Baru balik ya?”

Aku melongo, “Sehat dek, kakak udah di kos lho seminggu ini.”

Terus dia salah tingkah.

Bagi sahabatku, seperti Hera dan Shely, keberadaanku tak diketahui sebelum aku mengumumkannya.

Aku dan Hera sering chat begini:

“Wak ko dimana? Besok ngampus?”

“Aku di Berandan ni wak, Nggak bisa ngampuslah.”

“Ohh, kukira ko di kos. Okelah.”

Shely sering miscall dan sms aku yang isinya begini:

“Waaaa, dimana? Makan yok!”

“Aku di Berandan, hehe. Ko makan aja di sana, aku makan di sini, kita sama-sama makan ya :* #LDR”

“-_____-”

Sejujurnya, aku ini mudah sekali dilacak. Kalo nggak di Medan, ya di Berandan. Kalo di Medan, biasanya aku cuma nongkrong di kosku, kos Shely, kampus, Kreatif, rumah Hera atau Eli di Marelan, rumah wak di Helvet. Kalo di Berandan aku cuma di rumah doang, bersemedi.

Solusi: Kalo kalian kangen, pengen ngajak jalan, kencan, dsb, kalian bisa sms aku, tapi yang paling aman, booking aku minimal sehari sebelum hari H.  Selain itu, aku juga sering sok ngabarin gitu, kalo aku mau balik ke Berandan di grup chat, haha.

  1. Sulit dihubungi

Umm, hahaha. Ini lumayan menyebalkan ya. Maksudnya susah dihubungi ini adalah, aku jarang buka media sosial. Fyi, BBMku udah kuhapus aplikasinya, sekarang aku pake Line (nurwahidahramadhani) dan Instagram (dearlangit/nurwahidahramadhani) aja. Sebenarnya aku buka sih, tapi minimal sehari sekali terutama saat aktif kuliah dulu (karena ngampus dari pagi sampe sore). Zaman sekarang kan kalo komunikasi lebih sering via media sosial, jadinya aku sering lama baca pesan kalian.

Kalo mau komunikasi sama aku, paling bagus ketemuan langsung, kalo nggak smslah. Kalo pesan kalian terkirim pasti aku baca dan aku balas (jika penting dan ada pulsa).

“Alaaah Waa, ko disms lama balas, ditelpon sering nggak ngangkat!”

Hihi, mianheo. Aku tau itu salah namun itu nggak disengaja, serius! Aku punya alasan kok. Pertama, ntah kenapa, sinyal internetan jelek aja di areaku berkeliaran (BBM sering pending, itu juga alasan aku menghapusnya). Kedua, jika aku lagi nggak di rumah, aku sering letak hp di tas karena nggak suka kena radiasinya, jadi kalo udah di luar, jangan harap aku pegang hp kecuali suntuk, wkwkk. Ketiga, walaupun nada telepon dan smsku itu satu lagu full dan maximal volume, aku sering nggak dengar karena keautisanku (poin keempat).  Keempat, karena aku jomblo, aku merasa nggak ada yang rutin menghubungiku, hikss.

Solusi: Kalo perlu sesuatu jangan ngabarin mendadak. Aku berusaha menguranginya dengan pegang hp sesering mungkin. Aku juga membuat nada sms dan telepon yang meriah bahkan pake getar segala.

  1. Suka interogasi

Gimana perasaanmu pas jumpa seseorang yang baru dikenal lantas dia nanya banyak hal ke kamu? Misalnya, asal dari mana? Lagi ngapain? Kuliah jurusan apa? Apa aja yang dipelajari? Apa cita-citamu? Hobi? Suka nuliskah? Suka baca? Udah baca apa aja? Siapa penulis favorit? Buku favorit?

Sebel? Iya.

Kebanyakan orang sih sebel ya digituin, tapi lucunya aku suka nanyain seperti itu. Hahahaha.

Aku ini suka sekali nyari informasi sejenis itu. Mungkin karena aku pengen jadi penulis sehingga merasa harus mengetahui karakter orang sebanyak-banyaknya. Gimana cara mengetahuinya? Selain dengan membaca buku, aku harus bertanya langsung pada banyak orang! Kalo aku cuma berimajinasi, yaa tokohnya serupa semua, ya kan. Aku tertarik dengan pikiran seseorang, bagaimana dia memilih kata dalam bercerita, ekspresinya dsb. Tapi aku nggak tertarik pada masalah seseorang yang terlalu menye-menye. Aku juga nggak begitu suka dengerin gosip nggak jelas.

Mungkin juga karena aku sempat ikut pers kampus ya, saat itu aku dipaksa meliput, membuat pertanyaan sekreatif mungkin supaya narasumber terpancing untuk bicara (dan sayangnya aku nggak begitu handal dalam menyusun TOR bahkan saat mewawancarai jika kondisinya formal, wkwkwk).

Misalnya saja, seorang teman mengambil mata kuliah dengan dosen favorit. Aku pasti kepo banget dia belajarnya apa aja. Tapi, banyak orang yang ngeresponnya cuma begini doang, “yaa gitu deh, enak, lumayan.”

Lantas aku masih berusaha ngajuin beberapa pertanyaan, namun kalo nggak dipedulikan juga, yaudahlah, adek bisa bilang apa, hiksss.

Kalo aku pribadi sih seneng aja kalo ditanyain hal seperti itu (asalkan si penanya nggak hanya sekedar basa-basi aja). Tapi, orang mah beda-beda ya kan.

Solusi: Kalo sekali dua kali dia emang enggan merespon, aku berhenti nanya dari pada akunya yang sebel, hhaha.

  1. Suka godain gombalin orang

Kalo Simon, Arif C, Arif B, Shely, Silmi, Hera, Nisa dan sahabatku yang lain udah taulah maksudnya poin ini ya.

“Ih, kalo si Wawa, ampunlah. Aku biasa godain cewek tapi nggak pernah aku digodain sampe merinding gini.” Aku ingat kali ucapan Simon saat itu.

Aku lupa kejadiannya gimana, tapi ya itu tadi. Aku sok ngegombal gitu sampe Simon merinding. Arif C, komting kelasku pun sering ngerasa males kalo udah kejebak denganku. Bahkan ketika kami nggak sengaja tatapan, dia langsung menghela nafas dan bilang, “Udahlah Waaa.” Padahal aku nggak niat bilang satu katapun. Wkwkkwk.

Aku nggak tau awal mulanya kenapa aku bisa punya kemampuan ini. Model gombalanku nggak seperti yang di TV gitu, “Bapak kamu polisi ya? Iya, kenapa? Karena kamu udah borgol hati aku.” Preeeeettt.

Gombalanku itu spontan dan tak terdefinisikan. Itu adalah pikiran nakal nyeleneh yang muncul akibat kata-kata yang diucapkan lawan bicara.  Pokoknya dia muncul tiba-tiba aja. Aku aja geli dengernya (sayang aku selalu lupa nyatatnya, kalo nggak lumayan juga itu, hahaha).

Aku sih menganggapnya sebagai upaya mendekatkan diri aja, biar agak ada lucunya gitu.

Solusi: Hm, menahan diri dan mencatat ide gila itu. Aku juga harus melihat target gombalan, wkwkwk.

  1. Sok mentel dan sok imut

Cantik, manis, imut, lucu, gemesin.

Di antara lima kata di atas, aku sok mengklaim diriku sebagai cewek imut. Wkkwkwk. Kalo kata Shely, “Iuhh, mentel kali ko Wa, kutunjang nanti.”

Dulu aku merasa diriku ini kalem dan pendiam. Tapi kok orang sering bilang aku mentel ya, wkwkwkwkk. Setelah kurenungi, ternyata bener juga. Aku ini sok mentel, sok imut, sok akrab sama orang, hhahaha, hiksss. Ini ada kaitannya dengan kemampuan ngegodain orang (poin kesebelas). Jadi, supaya akrab sama orang lain, aku sok kementelan gitu lah.

Dulu, aku ini dianggap sombong dan arogan. Karena tatapanku kalo lagi serius itu cukup tajam. Seseorang pernah bilang, “Ada apa sih Wa liatin aku gitu kali, aku ada salah ya?”

Aku juga dulu nggak mau ngajak ngomong orang lain, aku lebih suka diam atau mengerjakan sesuatu dari pada bergaul dengan orang baru jadi kesannya seperti nggak bisa diajak berkawan. Kesan itu bahkan masih melekat saat aku PPL kemarin.

“Pas pertama liat Wawa, kami kira Wa itu nggak mau berbaur. Kami sampe bilang gini sama ketua, eh, kasi taulah dia, nanti dia nggak cocok pula. Pokoknya kami nggak berani dekatlah.”

Jadi, demi menghilangkan kesan itu, aku pun berusaha memperbaiki diri. Hasilnya? Kok jadi over mentel ya. Hahahahaha.

Solusi: Kurangi porsi mentel terutama pada mereka yang sudah protes. Kalian kalo nggak suka, bilang aja, aku ngerti kok.

  1. Nggak ingat nama orang lain

Suatu hari, aku nyamperin kawan-kawanku di depan mading jurusan. Aku mendengar cerita mereka dan menanggapinya dengan seru. Saat itu, aku berbicara dengan seseorang. Aku kenal dia, kami sering ngobrol juga, pernah satu kelas, dan aku tau namanya. Aku bahkan masih ingat cerita anekdotnya. Tapi ntah kenapa saat itu aku benar-benar lupa namanya.

“Luan ya Wa.” Ucapnya sebelum pergi,

“Yoo, hati-hati yaaa!”

Lantas aku mendekati Simon, “Beb, itu tadi namanya siapa ya?”

Simon memasang wajah bingung, “Namanya Tiiiiiiiit”

‘Ohh, iyaaa Tiiiiitt.”

“Kenapa nanya beb?”

“Haaa? Nggak apa-apa. Aku lupa beb. Sttt, tapi jangan bilang-bilang dia ya.”

Tau apa reaksi Simon? Dia ketawa hebat sambil geleng kepala, “Aduh beb, tadi tuh kalian ngobrolnya nyambung kali tapi ko nggak tau siapa dia??”

“Bukaan, bukan gitu. Aku nggak ingat aja namanya. Aku kenal kok, kan kita sering ngobrol juganya.”

Aku nggak tau aku ini kenapa, tapi sejak kecil aku emang agak susah mengingat nama dan wajah seseorang. Jadi, kalo aku udah lama nggak jumpa seseorang, aku ngerasa asing dan agak canggung. Kadang aku ingat nama, tapi nggak ingat orangnya. Kadang ingat orangnya tapi nggak ingat wajahnya. Nggak hanya itu, aku juga susah ingat jalan dan tempat. Aku ingat sesuatu tapi lupa yang lainnya. Itulah alasanku suka memanggil nama seseorang berulang kali biar ingat. Itu juga alasanku untuk mencatat hal-hal penting di buku atau blog.

Aku sendiri sedih kalo aku nggak bisa ingat seseorang. Dan aku begitu senang kalo jumpa seseorang apalagi jika dia memanggil namaku dengan baik. Aku berprinsip seperti ini, “Aku harus tau nama seseorang, apalagi kalo dia juga tau aku.”

Solusi: Aku berusaha untuk mencari tau namanya lewat orang lain dan jangan sampe dia tau kalo aku lupa namanya. Kalo ada yang menyapaku, aku akan berusaha ramah.

  1. Nggak bisa jualan

Ini sih kasusnya di Kreatif. Aku adalah salah satu kru yang paling susah jual majalah. Sebenarnya itu ada alasannya, karena aku nggak kuat mental untuk ditolak. Jadi gini yaa, selama di Kreatif aku ini selalu jadi tim redaksi. Kerjaanku ngedit tulisan dan ngurus tata letaknya. Kalo tulisan jelek atau kurang, aku juga salah satu orang yang harus putar otak dan ditekan oleh atasan (walaupun aku sering bandel juga). Jadinya, ketika majalah itu cetak, rasanya itu hasil keringat dan darah sendiri. Selalu nangis dan depresi lho ngerjainnya. Setelah selesai cetak, majalah dijual oleh kru (masing-masing kru dapat jatah jual 20). Harganya Rp.4000.

Pas aku nawarin ke orang-orang, mereka nggak tertarik. Okelah, alasannya karena nggak minat baca. Namun, banyak juga orang yang jelas-jelas nggak beli namun menghina isinya. Ngatain mahal lah, bagus beli gorengan, ongkos angkot, nggak berwarnalah, jeleklah, isinya nggak bermutulah.

Tau nggak rasanya gimana? Sakitnya itu, sakiiiiit banget lho. Kayak jari kebeset pisau. Sakiit. Lukanya dalam. Kering pun lukanya, tiap liat pisau itu rasanya trauma. Ngerjainnya depresi, jualnya lebih stres lagi.

Aku tau memang di majalah kami masih banyak kali kesalahannya, bahkan hal yang terkesan sepele seperti huruf kapital, huruf miring dsb. Tapi pernah mikir nggak, satu halaman majalah itu setara tiga halaman word. Majalah kami punya lebih dari 3o halaman full tulisan, berapa halaman yang harus diedit dan di-layout oleh mahasiswa (yang nggak digaji dan nggak punya keahlian khusus). Ahh, sudahlah. Intinya aku susah jualan majalah sehingga pimpinan usaha (pimus) jadi sedih.

Solusi: Aku akhirnya bayarin semua majalah yang nggak laku dan setor uangnya sama pimpinan usaha.

  1. Susah ngerti becandaan

Kalo temen-temen ngomongnya serius, aku sering nggak ngerti obrolan itu becanda, haha. Karena aku mudah percaya ucapan orang lain. Kecuali sepanjang percakapan itu isinya becanda, aku baru ngerti.

Solusi: Aku sering nanya, “Ini beneran kan? Serius?” haha.

  1. Nggak ngerti fashion

“Hmm, ini bagus Wa?”

“Nggak tau.”

“Kalo yang ini gimana?”
“Haa?”

“Ini sama yang ini bagusan mana?”

“Haaa?’’

Yaps, aku emang nggak ngerti apa yang lagi hits, merek-merek barang dsb. Kalo temen minta temenin belanja, aku bisa, tapi aku nggak bisa diharap untuk ngasi pendapat dalam memilih barang. Aduuh, kek mana ini kalo punya suami nanti, hahha.

Solusi: Sering nanya-nanya dan nyari tau info terbaru tentang sesuatu yang sedang hits.

  1. Suka hidupin musik keras-keras

Aku kurang suka dengerin lagu pake headset. Sukanya pake speaker, wkwkwk. Jadi, kalo dengerin musik rasanya kurang afdol kalo nggak volume maksimal. Untungnya, koleksi laguku nggak begitu aneh dan di kosan, lorong kamarku sering nggak berpenghuni, jadinya nggak begitu ganggu.

Solusi: Mengurangi volume suara musiknya.

  1. Nggak suka berbagi

Dulu, ketika masih kecil aku nggak suka berbagi dengan orang lain. Aku nggak suka kalo adikku pake barang-barangku. Aku mau berantem gara-gara itu, haha. Yah, pokoknya, sesuatu yang kusukai, aku susah ngelepasinnya. Tapi sekarang udah nggak seperti itu. Aku udah membiasakan diri memberi sesuatu pada orang lain.

Solusi: Harus sadar bahwa orang yang paling baik adalah orang yang bermanfaat bagi sesamanya.

  1. Kalo ngomong, nadanya tinggi

Di antara keluargaku, suaraku yang paling tinggi. Macam orang ngajak berantem, haha. Mamak sering kali terkejut dengarnya. Aku sendiri sadar itu nggak baik, tapi emang susah kali ngontrolnya. Kadang nada suaraku jadi tinggi karena aku marah, terlalu semangat, atau saat defensif.

Solusi: Atur nada suara, hhaha.

  1. Sering nunda sesuatu

Ini percampuran rasa malas dan lupa. Sering terjadinya di rumah sih. Misalnya aku lagi ngerjain sesuatu, lalu mamak minta angkatin piring kotor ke belakang, aku jawabnya “Nanti ya mak, sekalian Wahidah ke kamar mandi ya.”

Rupanya, aku lupaaaa.. wkwkwk. Dan mamakku hanya menghela nafas. Sesekali aku kena semprot juga sih (Fyi, mamakku jarang merepet). Kalo beliau udah palak, diangkatnya piring itu, baru aku buru-buru berdiri dan ngambil itu dari tangannya.

Solusi: Jangan ditunda-tunda kerjaan itu Wa, apalagi yang disuruh orang tua.

Aaaaaaaaahhhh, akhirnya selesai juga. Kalian tau ini berapa halaman di Microsoft Word? 10! Yaaaa, sepuluh halaman, haha. Niat kali ngerjainnya ya.

Huffft, lelah syekalii adek, bang. Tiga hari nyelesaikannya.

Yak, sekianlah 20 hal menyebalkan yang pernah kulakukan. Yang pernah yaa! Bukan kebiasaan dan nggak mau dibiasakan.

Aku nggak tau apa efek dari nulis ini emang bener-bener bisa introspeksi diriku sehingga aku semakin sadar untuk nggak bertingkah menyebalkan.

Tapi aku sungguh nggak berharap orang-orang yang membacanya jadi melabeliku dengan 20 hal di atas.

Aku tau aku sering buat salah, tapi aku nggak bener-bener menyengajanya. Aku juga selalu berusaha memperbaiki diri, menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Mungkin beberapa pembaca berpikir aku ini sok baik atau nggak jadi diri sendiri.

Tapi, aku hanya berusaha untuk jadi pribadi yang lebih baik.

 

Mula-mula mengidentifikasi apa ya baik. Pura-pura baik. Lalu jadi baik.Dan terbiasa berbuat baik.

-Wawa

 

Terimakasih sudah membaca! Jangan segan berkomentar ya.

Iklan