Um.. ini bisa dikatakan catatan ketika aku membaca bab pertama dari buku The Geography of Bliss karya Eric Weiner.

TGOB diterbitkan di New York di tahun 2008 oleh Twelve. Di Indonesia sendiri, buku ini memiliki judul yang sangat panjang yaitu The Geography of Bliss: Kisah Seorang Penggerutu Yang Berkeliling Dunia Mencari Negara Paling Membahagiakan. 

Wow! Sesak nafas deh kalo bacanya dalam satu tarikan nafas.

Di Indonesia, hak penerjemahan dan penerbitannya diklaim oleh Penerbit Qanita yang merupakan bagian dari PT Mizan Pustaka.

Cetakan pertama edisi baru terbit bulan Februari 2014 dan aku membelinya 3 bulan kemudian (Minggu, 31 Mei 2014) dengan harga Rp. 59.000 di Gramedia Gajah Mada Medan.

Aku masih ingat hari itu. Aku pergi ke toko buku hanya untuk menemani kak Midah yang baru memenangkan voucher senilai Rp. 100.000. Dia pengen beli Inferno-nya Dan Brown.

Saat menyusuri rak, aku menemukan buku ini dan merasa tertarik dengan cover-nya. Btw, saat itu aku sedang suka membaca catatan perjalanan berbentuk feature.

Aku mencari buku sampel (buku yang tidak memakai plastik) untuk diteliti. Aku membaca sinopsis di halaman belakang, lalu membaca testimoni dari pembaca di luar negeri, ulasan mengenai penulis serta daftar isinya.

Buku ini membahas sepuluh negara yaitu Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia, Moldova, Thailand, Britania Raya, India dan Amerika.

Daftar negara yang menurutku antimainstream untuk diceritakan dalam sebuah buku. 10 in 1. Harus dibeli. Hahaha.

Sejujurnya, aku belum selesai membacanya (sejak tahun 2014). Um, untuk itu, aku memutuskan untuk mencatat hal-hal penting yang Eric sampaikan.

Belanda -Kebahagiaan Adalah Angka merupakan bab pertama di buku ini.

Belanda sendiri merupakan satu dari sekian negara di Eropa yang sangat berkesan di hati orang Indonesia karena sejarah kita.

Di Belanda, Eric tinggal di kota Rotterdam.Ada dua tujuan utama ia ke negara itu. Pertama, ia dalam perjalanan perburuan kebahagiaan. Kedua, ia ingin menemui bapak riset kebahagiaan yaitu profesor  Ruut Veenhoven. Veenhoven mengelola sesuatu yang disebut Database Kebahagiaan Dunia (World Database of Happiness).

Aku merasa seperti sedang duduk di sampingnya, mengamati keadaan kafe yang tenang dan antik. Setiap orang merokok dan diapun ikut menyalakan rokok. Menikmati waktu dalam keheningan yang nyaman. Menurutnya, orang Eropa suka nongkrong di kafe berjam-jam.

Tapi itulah inti sesungguhnya kafe Eropa: benar-benar terlalu banyak membuang waktu tanpa rasa bersalah. Tak heran sebagian besar filsuf besar dunia berasal dari Eropa (halaman 23).

Ada tiga fakta mengenai Belanda: narkoba, prostitusi dan bersepeda.

Di Belanda, ketiga aktivitas ini semuanya legal (halaman 45).

Mengenai narkoba, aku memang pernah membaca beberapa artikel. Selain itu, dosen Ethics-ku juga pernah bilang, “Narkoba mudah sekali dijumpai di kafe-kafe. Tapi mereka memberi batasan penggunaan dalam sehari.” Beliau juga menceritakan bahwa prostitusi menjamur di daerah sana. Wisata seks merupakan hal wajar di sana.

Mengenai bersepeda, aku bisa membuktikannya sendiri. Ketika kecil aku masih sering bermain sepeda. Orang-orang tua dulu akrab sekali dengan sepeda.  Dan memang sepeda sudah jadi alat transportasi sejak masa kolonial Belanda.

Esok harinya, kami ke World Database of Happines (WDH) menjumpai Veenhoven. Mereka berbicara cukup banyak dan aku kurang memahaminya. Yang kutau, ketika Eric mengakses data lewat komputer WDH kami menemukan beberapa fakta mengejutkan dari hasil penelitian mereka:

Mereka yang extrover lebih bahagia daripada introver

Mereka yang optimistis lebih bahagia daripada yang pesimistis

Mereka yang menikah lebih bahagia daripada yang bujangan

Mereka yang mempunyai anak tidak lebih bahagia daripada pasangan yang tidak memiliki anak

Ah, banyak deh, tapi aku nggak mau membeberkan semuanya, hehe.

Hingga akhir bab, aku masih tak mengerti makna kebahagiaan adalah angka yang Eric sematkan untuk Belanda. Hanya satu kejadian yang mengacu pada hal tersebut, yaitu saat dirinya pamit pada Veenhoven.

“Pasti menyenangkan bekerja di bidang penelitian kebahagiaan?”

Veenhoven kelihatan bingung, “Apa maksud Anda?”

“Baiklah, Anda pasti mempunyai keyakinan yang mantap pada kapasitas manusia untuk kebahagiaan.”

“Tidak, tidak juga.”

“Tapi Anda telah meneliti kebahagiaan dan menganalisisnya selama hidup Anda?”

“Ya, tapi tidak penting bagi saya apakah orang bahagia atau tidak, selama sebagian orang lebih bahagia daripada sebagian yang lainnya. Saya masih dapat mengolah angka.

Eric bingung, akupun tak kalah bingung. Kami memutuskan untuk pergi ke negara selanjutnya, Swiss.

Foto tahun 2014, nongkrong di Pizza Hut setelah beli buku ini.

Judul buku: The Geography of Bliss, Kisah Seorang Penggerutu yang Berkeliling Dunia Mencari Negara Paling Membahagiakan

Penulis: Eric Weiner

Penerjemah: M. Rudi Atmoko

Penyunting naskah: Indradya SP

Proofreader: Ocllivia D.P

Desainer sampul: Annisa Luthfiasari

Penerbit: Qanita

 

Iklan