Setelah lelah menjadi walikota, akupun kembali pada kehidupan nyataku. Hahahaha.

Bersemedi di rumah, memikirkan skripsi, mengerjakan agenda harian, daftar penilaian, dsb untuk kelengkapan perangkat pembelajaran mamak.

Sekarang #Blogger’sChallenges memasuki tantangan kedelapan. Mas Boy mengumumkan topik kedelapan.

Ceritakan alasanmu menulis. Apapun tentang menulis –Mas Boy

Aku menghela nafas lega. Terima kasih mas Boy. Baby, I love you, love you, love you so much #nyanyi ala Cherrybelle.

Umm, bukan artinya aku anggap enteng atau gimana. Namun tema kali ini me-refresh otak yang sudah menggila karena tiga topik terakhir (cinta pertama, 20 hal menyebalkan dan andai aku walikota Medan).

Btw, nggak ada topik yang mudah di #Blogger’sChallenges. Semua topik sangat menantang untuk ditulis.

Nah, kembali pada cerita menulis ya. Aku dan menulis punya hubungan yang cukup intim selama ini. Bisa dikatakan aku kecanduan akan dirinya. Ah, bisa kubayangkan hidupku akan jadi sangat sunyi bila tak menyapanya. Baiklah, di tulisan ini akan kuceritakan mengenai kebersamaan kami selama ini.


Menulis Dari Masa Ke Masa
Masa TK-SD
Dulu, ketika aku masih kecil, aku sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk menulis dan diawasi mamakku. Tepatnya, meniru tulisan yang dicontohkan di buku tulis. Ayah dan mamakku punya tulisan tangan yang cantik. Ayah sering nulis untuk ijazah, mamak, umm, nulis di papan tulis, wkwkkwkwk.

Setiap selesai menulis, aku sering dipuji karena jarang melakukan kesalahan eja dan cukup rapi untuk anak seusiaku. Pujiannya cukup sederhana, “Bagus, bagus, ini tulis lagi.”

Sehingga saat masuk TK, aku sudah jago nulis. Hahaha. Kata mamakku, ketika TK aku lasak sekali, tiap dikasih tugas nulis, aku paling cepat selesai, saat tulisanku diperiksa guru, aku akan inspeksi ke meja teman-teman lalu mengomentari tulisan mereka, “Ini jelek,” “Ini salah,” “Bukan seperti itu, tapi kayak gini lho!” Bahkan, guru TK-ku pernah cerita sama mamakku tentang ceriwisnya aku. Saat itu sang guru menuliskan sesuatu (sepertinya huruf tsa dalam bahasa Arab) di papan tulis lalu aku protes, “Bu, itu titiknya harusnya ada tiga, bukan dua.”

Ketika membaca buku Brown yang berjudul Teaching by Principles, An Interactive Approach to Language Pedagogy  (halaman 344) mengenai level pertama dalam menulis –meniru (imitative or writing down), yaitu belajar menulis ulang huruf-huruf, kata-kata dan kalimat-kalimat sederhana—aku tersenyum, mungkin saat itulah aku memulai petualanganku dalam menulis.

Setelah aku bisa menulis dengan baik (meniru ataupun didiktekan), aku mulai minta dibelikan buku diari. Alasannya sederhana, karena mamakku suka menulis di buku agenda mengenai poin-poin ketika ia membaca buku. Aku juga mau seperti itu, nulis di satu buku yang cantik dan berbeda dari buku tulis biasa. Tapi, seperti anak-anak lainnya (yang setelah dapat lalu bosan), ketika sudah dibelikan, aku justru nggak begitu rajin menulis di situ, hahaha.

Masa SMP
Aku meyakini diriku cukup ekstrover ketika aku TK dan SD. Namun, semuanya berubah saat aku masuk SMP. Aku merasa kehilangan sahabat. Memang beberapa di antaranya masih satu sekolah denganku, namun mereka sudah punya teman masing-masing. Larangan untuk main bersama anak-anak di lingkungan rumahku juga semakin keras. Sepulang sekolah, aku salat, makan lalu disuruh tidur siang. Dilarang nonton TV. Mamak sering sakit. Aku juga merasakan ‘cinta’ lalu patah hati. Ahh, aku jadi merasa sunyi dan sepi. Akibatnya aku mulai menarik diri. Pergi ke perpustakaan sekolah saat jam istirahat untuk membaca majalah dan novel-novel. Di rumah aku juga membaca buku-buku yang ada.

Setelah membaca beberapa cerita, lantas aku mulai mengandai, ‘bagaimana jika aku penulisnya,’ ‘gimana kalo tokohnya melakukan hal yang lain,’ ‘bagaimana jikaa..’ ‘seandainya saja’ dsb. Lantas, aku membeli buku tulis tebal berisi 100 lembar lalu mulai menulis kisah yang kuinginkan. Saat itu aku menyebutnya novel (padahal novel yang sebenarnya tak sesederhana itu) hahaha.

“Bagi saya menulis novel itu memahat kenangan, menyulut inspirasi sambil melakukan pembalasan atas kepedihan dengan cara yang paling indah.”
― Helvy Tiana Rosa

Ada kepuasan tersendiri saat aku mulai menulis.Aku bisa menuliskan apapun, menjadi siapapun dan menentukan jalan cerita.  Umumnya cerita yang kutulis adalah kisah cinta berdasarkan cerita-cerita teman bercampur imajinasiku. Kala aku tidak mau belajar ataupun saat jam istirahat, aku menulis dan menulis. Aku semakin autis (tenggelam dalam duniaku sendiri). Aku menikmatinya. Seingatku, aku menghabiskan 12 buku tulis (yang artinya ada 12 novel) namun yang selesai sekitar 9 saja.

Masa SMA
Saat masuk SMA, aku berusaha membuka diri lagi. Langkah awalnya, aku ikut seleksi OSIS untuk bagian mading dan beberapa organisasi seperti Rohis, Sendratasik hingga Voli, haha. Walaupun aku sudah ikut banyak kegiatan, aku tetap suka menulis. Aku tak lagi menulis di buku tulis ataupun diari. Aku menulis di status dan catatan facebook, hahahahahahha. Dikit, dikit, status. Yah, masa SMA adalah masa paling alay dan memalukan. Dimana beranda penuh dengan tulisan alay dan menggelikan. Aku sendiri selalu update status, menceritakan perasaanku pada dunia. Aku mulai menulis cerita-cerita pendek (lelah menulis novel) dan puisi-puisi singkat.

Oh ya, aku juga menulis untuk mading sekolah (karena aku pengurusnya dan nggak ada tulisan lain, wkwkwk). Hampir semua orang yang mengenalku di sekolah, menganggapku sebagai penulis. Aku sendiri, hingga saat ini belum pernah (dengan penuh kepercayaan diri) mengklaim diriku sebagai penulis. Bagiku, penulis adalah orang yang sudah menerbitkan bukunya sendiri.  Rasanya, menulis itu ibarat profesi, yang sangat-sangat prestisius.

Masa Kuliah – sekarang
Karena aku mulai merasa menulis  di catatan facebook tidak menyenangkan lagi, aku tertarik untuk membuat blog. Akupun membuat blog pertamaku, wawhacuza.blogspot.co.id dengan bantuan mas Boy di tahun pertama kuliah. Aku ingin mengarsipkan cerpen-cerpenku di sana.

Ada kegalauan mengenai isu penjiplakan (yang sudah sangat lumrah di internet) namun aku berpikir, mana yang lebih penting antara ketakutan tulisan akan dijiplak, atau keinginan memublikasikannya? Sederhananya, simpan atau publikasikan? Jika aku menyimpannya, aku merasa tulisan ini tak berharga. Jika aku memublikasikannya, ada kemungkinan orang akan membaca dan mengomentarinya, sehingga aku bisa memperbaiki karyaku.

Oh ya, aku juga ikut dua organisasi yang berkaitan dengan dunia tulis menulis. Kreatif dan FLP. Di Kreatif aku belajar tentang dunia jurnalistik dan di FLP aku belajar untuk mencoba memublikasikan tulisan ke media (walau saat ini masih blog pribadi).

Tahun kedua perkuliahan, aku membuat akun tumblr dearlangit.tumblr.com dengan tujuan menuliskan catatan harianku sebagai mahasiswa.

Tahun ketiga, aku punya keinginan untuk membuat blog yang isinya lebih bermanfaat, hahahaha. Aku pun iseng coba-coba buat akun wordpress (tanpa tahu wordpress itu seperti apa) dearlangit.wordpress.com. di akun ini, aku ingin menulis mengenai buku-buku, catatan pelajaran terutama hal yang berkaitan dengan bahasa Inggris, namun apalah daya, aku tak bisa menahan diri untuk mem-posting tulisan #Blogger’sChallenges di sini karena berpikir ini formatnya opini dan sharing ilmu.


Tanya-Jawab Mengenai Aku dan Menulis
Aku ini emang sok hits sendiri, merasa ada yang nanyain. Wkwkwkwkkw. Yah, mumpung udah nulis tentang menulis, aku akan ceritakan saja semua unek-unek ini.

Pertanyaan: Di bagian masa SMP diceritakan bahwa ada 12 novel namun 9 yang selesai, benernya itu?
Jawaban: Yah, sepertinya benar jumlahnya segitu. Haha. Jadi, ketika SMA, aku mengumpulkan semua buku tulis itu (novel) dan memberinya nomor sesuai dengan urutan penulisannya dan seingatku memang ada 12, namun nggak semuanya selesai. Dulu, semuanya ada, tapi ada yang hilang atau dipinjam. Aku ingat beberapa nama tokoh cewek yang jadi pemeran utamanya di masing-masing novel yaitu Kenny, Dira, Arin, Tami.

Pertanyaan: Wah, sayang sekali, padahal itu penting untuk rekam jejak karyamu, ya kan, kenapa bisa seceroboh itu sih?
Jawaban: Iya, aku juga nyesal. Terlalu banyak buku tulis selama aku sekolah 12 tahun itu, jadi semuanya tercampur dan yaah, nggak tau dimana. Mungkin kalo dibongkar ketemu sih beberapa, tapi debunya, ampun. Nyesal tapi nggak begitu nyesek sih, soalnya banyak juga yang dulu idenya itu nggak original, di antara semuanya, aku paling suka sama Tami, cerita yang kurasa layak di-remark dan kuposting di blogspot.

Pertanyaan: Nggak original? Maksudnya plagiat gitu?
Jawaban: Bukan plagiat. Um, susah jelasinnya. Sebenarnya menurutku nggak ada ide original di masa kini kalo berkaitan sama tulisan ya. Kita pasti terinspirasi dari orang lain, ntah itu lagu, film, cerita, buku, bahkan gosip. Nah, pas novel itu dibaca teman SMP-ku, mereka kadang komentar, “Ih, ini mirip film Dealova,” karena ada tokoh utama yang kubuat mati. Hahahhaa. Akunya jadi down, padahal aku nggak nonton Dealova dari awal sampe akhir (karena dilarang sering-sering nonton TV). Yah, pokoknya, aku ngerasa novel SMP itu emang alay dan nggak begitu layak untuk dipublikasikan.

Pertanyaan: Apa bagian paling sulit dari menulis?
Jawaban: Banyak banget yang sulit kalo untuk tulisan serius. Ada banyak ide, tapi nentukan alurnya (kerangka tulisan) supaya make sense dan anti-mainstream itu susah banget. Belum lagi pemilihan diksi. Tapi sesulit-sulitnya menulis, lebih sulit buat nentukan judulnya. Tuh, si Tami sampe sekarang nggak punya judul (ntah karena ceritanya nggak unik, atau akunya yang bego).

Pertanyaan: Apa sih modal untuk nulis itu?
Jawaban: Modal utamanya tangan dan otak. Tangan untuk nulis atau ngetik, otak untuk  berpikir dan ngedit.

Pertanyaan: Kenapa nulis itu dikatakan sulit?
Jawaban: Tergantung nulis apa. Kalo nulis status di BBM atau FB, caption di Instagram atau kicauan di Twitter rasanya nggak susah. Tapi kalo nulis opini, esai, makalah, skripsi, hihihihi… Nulis itu susah karena mind-set kita yang mengatakan itu susah. Susah itu karena nggak mau dicoba. Susah itu karena rasa malas. Susah itu karena kita kurang berusaha.

Pertanyaan: Jadi, kalo nulis cenderung fiksi atau non-fiksi?
Jawaban: Hahaha. Fiksi. Aku ini lagi usaha move on untuk bisa nulis non-fiksi. Doakan ya! Umm, kalo diurutkan dari kisah di atas, aku punya sejarah menulis itu mulai dari nulis diari (SD), novel (SMP), cerita pendek, puisi (SMA), blog, cerita mini, berita, feature, opini, resensi (Kuliah)

Pertanyaan: Genre tulisan?
Jawaban: Menye-menye. Wkwkwkwkkw. Kalo diklasifikasikan berdasarkan kategori di toko buku, sepertinya aku masih di level teenlit (berdasarkan komentar beberapa teman), hiks. Ada juga yang bilang mirip tulisan Tere Liye yang romantis (tapi nggak di bagian risetnya, haha). Katanya saat menulis, kita dipengaruhi bacaan yang sedang dibaca. Tapi aku udah baca tulisan Sir Arthur Conan Doyle, Dan Brown, Ahmad Fuadi, Andrea Hirata, Pramoedya Ananta Toer, John Grisham, dsb, tetep juga menye-menye. Need a help!

Pertanyaan: Ada karya yang udah diterbitkan?
Jawaban: Ada, tapi nggak banyak. Kalian bisa baca laman karyaku yang lain di blog ini.

Pertanyaan: Nah, kalo ditanya apa tujuanmu dalam menulis?
Jawaban: Hmm, tujuanku.. tujuanku dalam menulis terus berkembang, dulu, aku menulis untuk meluapkan perasaanku, mengurangi depresi, lalu aku mulai menulis untuk menuangkan ide-ideku dan menyimpan kenangan. Sekarang, aku berusaha untuk menulis sesuatu yang bisa bermanfaat tak hanya untukku tapi untuk pembacaku juga.


Yah, sepertinya itu dulu yang bisa kuceritakan tentang aku dan menulis untuk saat ini.
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like, comment and follow blog aku ya, haha.

rating

Iklan