Tunjukkan kepadaku buku-buku yang dia suka, maka aku akan mengenalnya jauh lebih baik daripada melalui teman-temannya. –Dawn Adams


Konnichiwa, my besties (especially ABC’s)!

Hari ini kita akan belajar bahasa Jepang dan bahasa Inggris.

Kita belajar bahasa Jepang karena Indonesia pernah dijajah oleh negara tersebut (1942-1945) dan aku suka anime! Lalu, aku campur bahasa Inggris karena aku kuliah jurusan itu, haha!

Konnichiwa itu artinya selamat siang. My besties itu artinya sahabat-sahabatku. Especially itu terutama, teristimewa. Dan ABC itu singkatan dari Anak Blogger’s Challenges (yang pastinya harus mampir dan baca postingan ini, hahahaha).

Artinya, selamat siang semuanyaaaaa!

Oke, salah fokus.

Um, posting-an kali ini merupakan bagian dari #Blogger’sChallenges topik kesembilan yaitu ceritakan tentang penulis favoritmu! Aku sendiri sih yang ngajuinnya, haha. Alasannya? Banyak banget.

#BC ini kan kegiatan nulis opini sederhana, tujuannya supaya ABC bisa konsisten dalam menuangkan ide, pikiran dsb, nah, jadi topik yang aku kasih berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Aku punya 3 alasan utama ketika mengajukannya:

Pertama, kalo di dunia kesehatan ada istilah we are what we eat, maka di dunia tulis-menulis ada istilah we are what we read. Artinya, I just wanna know you better, know you better, know you better now (nyanyi ala Taylor Swift).

Kedua, aku ingin kita menghargai penulis-penulis yang sudah kita baca karyanya. Terkadang, kita banyak baca buku, terkesan dengan isinya, namun nggak ingat judul buku dan penulisnya. Ketahuilah bahwa dilupakan itu adalah hal yang menyakitkan, guys!

Ketiga, aku ingin meracuni kalian supaya baca karya penulis favoritku, hahahaha. Biar kita bisa diskusi gityuuu, mana tahu cocok, bisa jadian, ya kan? Upss, becanda ya! Dan aku juga pengen melihat, apa kalian bisa membuatku kepo? #sok


MENGAPA AKU SUKA MEMBACA BUKU?

Bicara tentang buku, pastilah bicara tentang kegemaran dalam membaca. Seperti yang sudah kuceritakan dalam postingan sebelumnya (Aku dan Menulis) aku berteman dengan buku sejak kecil.

Ada banyak alasannya, nih ya aku beberkan sedikit:

  1. Membaca Adalah Perintah Dari Allah

Iqra’ bismi rabbikal-ladzii khalaq : Bacalah  dengan nama Tuhanmu yang menciptakan . Q.S Al-‘Alaq ayat 1)

Yaa, ayat Al-qur’an pertama yang diturunkan adalah Iqra’  yang artinya bacalah. Begitu tingginya derajat membaca sesuatu (yang bermanfaat) bagi manusia (khususnya muslim). Saat mendengar cerita wahyu pertama ini turun ketika masih kecil, aku merinding, rasa-rasanya aku ingin membaca sebanyak-banyaknya.

  1. Membaca Adalah Kebahagiaanku

Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan. –Goenawan Mohamad

I have always imagined that Paradise will be a kind of library. –Jorge Luis Borges

Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya. –Ali bin Abi Thalib

Membaca merupakan kebiasaanku sejak kecil dan aku bersyukur karenanya. Saat ini, membaca, memiliki dan berada di dekat buku merupakan salah satu sumber kebahagiaanku. Momen saat menginjakkan kaki di perpustakaan, toko buku dan di mana pun tempat yang penuh buku, aku merasakan kesenangan yang tak bisa dijelaskan.

  1. Membaca Adalah Caraku Belajar

Seseorang hanya belajar dalam dua cara yaitu membaca dan bergaul dengan orang cerdik, pandai nan bijaksana. –Will Roger

Selama sekolah (SD-SMA/12 tahun) aku jarang sekali belajar (dalam artian mengerjakan soal-soal). Namun, jika belajar adalah suatu proses terencana untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan di mana terjadi perubahan tingkah laku sehingga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi, aku banyak belajar lewat buku-buku yang kubaca. Aku berusaha memahami kehidupan, pikiran manusia, dan hikmah di balik suatu kejadian lewat buku.

Jika kita menemukan seorang pria cerdas, kita harus bertanya kepadanya buku apa yang dia baca –Josh Jameson

  1. Membaca Adalah Petualangan

Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas. –Mohammad Hatta

Membaca karya seorang penulis bagi saya bukan sekedar memperoleh ide dari apa yang dikatakannya, melainkan pergi bersamanya dan berjalan-jalan ditemani olehnya. –Andre Gide

Hingga saat ini aku jarang bepergian jauh karena ketika masih kecil aku nggak dikasi sering-sering keluar rumah. Efeknya, aku agak takut berpetualang. Namun, dengan membaca buku aku bisa pergi ke Jawa, Amerika, Jepang, Kanada, Qatar, Eropa dsb.

  1. Membaca Untuk Bekal Menulis

Menjadi penulis itu tak cukup sekadar menjelma kutubuku, tetapi jadilah predator buku!

Menjadi penulis itu harus serakah, serakah dalam membaca! – Helvy Tiana Rosa

Rasa-rasanya tak ada penulis yang tak pernah atau tak suka membaca. Menulis itu diawali dengan membaca. Semakin banyak membaca, semakin besar kemungkinan tulisan kita menjadi lebih bermakna.

Nah, itulah beberapa alasanku suka membaca. Intinya, jika harus dijelaskan dalam satu kalimat mengenai kesukaanku ini, aku akan mengatakan, I love books for a thousand years.


18 PENULIS FAVORITKU

Setelah bercerita mengenai beberapa alasanku, tibalah saatnya aku menceritakan tentang penulis-penulis favoritku.

Mungkin kalian terkejut atau heran karena ada 18 penulis yang akan kuceritakan. Sebelumnya aku minta maaf pada ABC, karena aku sudah pernah nulis tentang penulis favoritku di blogspot wawhacuza. Nah, di situ aku nulis 11 penulis, jadi supaya nggak ngerasa curang, aku tambah lagi 7 penulis baru (karena challenge-nya  5-10 penulis), hahahaha.

Oh ya, ini ditulis secara acak ya, bukan berurut dari paling favorit sampe kurang favorit.


  1. Ahmad Fuadi (Indonesia)

Man Jadda Wajada –Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Man Shabara Zhafira –Siapa yang bersabar akan beruntung.

Man Saara Ala Darbi Washala –Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan.

Aku mengenalnya 4 tahun yang lalu saat mulai kuliah di Medan. Sebelum membaca karyanya aku udah jumpa dengannya di acara Meet and Greet di Hotel Santika. Sosoknya sederhana. Aku jadi penasaran dengan novel triloginya yang sangat terkenal dengan label menginspirasi.

Suatu hari aku ke Gramedia bareng Hera di akhir perkuliahan semester satu, nah, karena masih ada uang aku beli novelnya. Dan subhanallah, keren bingitttssss. Ketiga novelnya udah kubaca yaitu Negeri 5 Menara (2009), Ranah 3 Warna (2011) dan Rantau 1 Muara (2013). Novel itu bercerita tentang perjalanan hidup Alif yang sejak kecil ingin mengikuti jejak B. J. Habibie, namun apalah daya, emaknya ingin dia sekolah agama. Ia terpaksa pergi ke pesantren Gontor dan perjalanan menakjubkan pun dimulai.

Gaya penulisannya jurnalisme sastrawi. Pokoknya kalo di-rating dapet bintang 5. Nggak nyesal beli bukunya. Selain punya 3 novelnya itu, aku juga beli versi Inggrisnya The Land of Five Towers, ntar pas punya anak, aku mau dongengin dia pake buku itu, hahaha.

Karya lainnya yang ingin kubaca: Beasiswa 5 Benua (2014).


  1. Pramoedya Ananta Toer (Indonesia)

Menulislah sedari SD, apapun yang ditulis sedari SD pasti jadi. –Pramoedya A. Toer

Ahh, ini opa kesayanganku. Sejak SMA aku suka baca buku jadul zaman pujangga baru dan balai pustaka, namun aku baru kenal opa Pram saat kuliah. Banyak orang yang bilang dia itu komunis, Lekra, PKI, tapi aku nggak peduli. Itu cuma ucapan dari anti-Pram. Faktanya, dia pernah di penjara bertahun-tahun tanpa diadili namun tetap menjunjung tinggi hukum Indonesia dan selama itu dia tetap menulis. Ia suka sekali membaca dan mengkliping tulisan-tulisan hingga adiknya, Koesalah Toer, mengatakan koleksi klipingnya setara dengan H. B. Jassin. Ia adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang karyanya selalu jadi nominasi dalam Nobel Sastra. Dia terkenal dengan tetralogi pulau Buru. Aku sendiri hanya punya 3 karyanya hingga saat ini yaitu Bumi Manusia (1975) Anak Semua Bangsa (1975) Rumah Kaca (1988). Namun yang sudah selesai kubaca hanya Bumi Manusia, haha. Tahulah ya perlu konsentrasi tinggi untuk membaca karya berat seperti ini.

Karya lainnya yang ingin kubaca: semuaaaaa. Tapi aku bakal fokus membaca dua buku di atas ditambah Jejak  Langkah karena itu tetraloginya .


  1. Dr. Aidh Al-Qarni (Arab Saudi)

Jangan mudah marah, sebab marah hanya akan merusak keadaan jiwa, merubah perilaku, memperburuk pergaulan, merusak cinta dan memutuskan silaturahmi. – Dr. Aidh Al-Qarni

Beliau terkenal lewat judul bukunya La Tahzan (Jangan Bersedih). Mamakku punya buku tersebut dan aku pernah membacanya walau belum selesai juga sampe sekarang, haha. Aku menyukainya karena tulisannya mampu membuatku menangis hanya dengan membaca lembar pertamanya yang berjudul Yaa Allah. Aku merinding, merasa tertampar dan terharu di waktu bersamaan.


  1. Paulo Coelho (Brazil)

…Bila kau memiliki harta yang sangat bernilai di dalam dirimu, dan mencoba untuk memberitahu orang lain tentang hal itu , jarang ada yang percaya.

Membuat keputusan hanyalah permulaan. Bila seseorang membuat keputusan, sebenarnya dia menyelam ke dalam arus kuat yang akan membawanya ke tempat-tempat yang tak pernah diimpikan saat pertama kali membuat keputusan.

–Paulo Coelho

Pertama kali baca resensi bukunya saat blogwalking, aku jadi kepo dan iseng cari tahu tentang novelnya yang berjudul The Alchemist/ Sang Alkemis (1988) di Google. Ternyata, novel itu bisa di-download dalam versi bahasa Indonesia dalam format PDF. What a beautiful life! Nggak apalah, nggak bisa beli hardcopy, baca softcopy pun jadi.

Tulisannya sangat sederhana namun sarat makna. Tokoh utamanya adalah seorang bocah yang sedang tidur di sebuah gereja tua yang terbengkalai bersama kawanan dombanya. Atapnya sudah lama runtuh dan pohon sikamor tumbuh di sekitar situ. Ia bermimpi akan mendapat harta karun apabila pergi ke Piramida di Mesir. Awal membacanya sangat bosan, namun aku terus memaksa diri untuk membacanya. Lama kelamaan jadi asyik dan ending-nya nggak tertebak.  Aku sampe loncat-loncat ketika mengetahui letak harta karun dan alasannya bermimpi saat itu. Novel ini berisi tentang impian, optimisme dan kebahagiaan. Tulisan Coelho bergenre spiritual. Karya-karyanya banyak juga yang udah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan itu bikin bapeeeer akut, hiks.

Karya lainnya yang ingin dibaca: semua! Terutama The Pilgrimage/Ziarah (1988) perjalanan Coelho ke Santiago. Brida (1990) menceritakan tentang cinta dan pengorbanan. Maktub (1994). By the River Piedra I Sat Down and Wept/Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis (1994) tentang kegalauan akan cinta. Veronika Decide to Die (1998) merupakan pengalamannya ketika dimasukkan ke rumah sakit jiwa. The Devil and Miss Prym/Iblis dan Miss Prym (2000) tentang konsep kebaikan dan kejahatan. Eleven Minutes/Sebelas Menit (2003) berkisah tentang gadis lugu yang ditipu dan menjadi pelacur. The Zahir (2005) menemukan kembali isteri yang hilang. The Witch of Portobello/Sang Penyihir dari Portobello (2006) tentang cinta, hasrat dan kebahagiaan. The Winner Stands Alone/Pemenang Berdiri Sendiri (2008) bercerita tentang uang, kekuasaan dan ketenaran. The Aleph (2010) perjalanan 6 negara. Adultery/Selingkuh (2014) menceritakan tentang wanita yang nampaknya bahagia namun merasa kehidupannya monoton.


  1. John Grisham (Amerika Serikat)

“Ada yang sudah membaca makalah sanggahan Rosenberg melawan suara mayoritas dalam kasus Nash vs. New Jersey? -Tom Callahan dalam The Pelican Brief.

Aku suka novel profesi dan Grisham ini penulis keren dengan latar belakang dunia hukum. Aku kenal dia dari blogwalking gitu, download karyanya eh, versi bahasa Inggris, jadinya belum sempat dibaca. Suatu hari aku ke bazaar Gramedia, setelah mengamati semua buku itu satu per satu tiba-tiba aku ketemu The Pelican Brief harganya Rp. 20.000 (senangnya dalam hatiiii) . Aku langsung beli dong karena setahuku harga novelnya di atas Rp. 100.000, hiks. Aku pun berpetualang menyusuri misteri pembunuhan dua orang mahkamah agung Amerika Serikat di tahun 1980-an. Novelnya bergenre aksi dengan latar belakang permasalahan hukum yang kental. Salah satu momen yang kusukai dalam novel ini adalah cara Grisham melukiskan suasana kelas di mana Darby Shaw menunjukkan kemampuan analisisnya terhadap kasus-kasus hukum saat ditanya dosen sekaligus pacarnya Tom Callahan.

Karya yang ingin dibaca: semua! Di Goodread karyanya lebih dari 100. Aduuh, penasaran banget! A Time To Kill/Saat Untuk Membunuh (1989). The Firm/Biro Hukum (1991). The Client/Klien (1993). The Chamber/Kamar Gas (1994). The Rainmaker/Sang Pembaw Mukjizat (1995). The Runaway Jury/Juri Pilihan (1997). The Partner/Sang Partner (1997). The Street Lawyer (1998). The Testament/Surat Wasiat (1999). The Brethern/Majelis (2000). The Summon/Panggilan (2002). The King of Torts/Ganti Rugi (2003). The Last Juror/Juri Terakhir (2004). The Broker/Sang Broker (2005). Sycamore Row/Di Bawah Pohon Sikamor (2015).


  1. Tere Liye (Indonesia)

Ketika satu kota dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanya level rendah, perampokan mabuk-mabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan jelas tidak memiiki visi misi, tinggal digertak, beres. Bayangkan ketika kota dipenuhi orang yang terlalu kaya, dan terus rakus menelan sumber daya di sekitarnya. Mereka sistematis, bisa membayar siapa saja untuk menjadi kepanjangan tangan, tidak takut dengan apapun. Sungguh tidak ada yang bisa menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka. –Negeri Para Pedebah

Tere Liye adalah novelis yang karyanya paling banyak kubaca. 11 novel.  Banyak kan? Baca tapi minjem sih, haha.

Pertama kali baca itu Hafalan Salat Delisa (2005), ketika membacanya aku ngedumel, ihh lebay banget sih, tapi air mata netes terus, hahaha.  Kemudian aku baca Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (2010), masih nggak suka juga karena terlalu lebay dan menye-menye, tapi nyesek juga, haha. Aku sempat nggak mau baca tulisannya lagi hingga aku berhadapan dengan novel Negeri Para Bedebah (2012). Novel aksi yang membuatku berpikir, “Sumpah, ini orang Indonesia bisa nulis kayak gini juga?” Aku jatuh cinta pake banget, sampe rela beli Negeri Di Ujung Tanduk (2013). Baru lah aku kembali membuka hati pada karyanya seperti Rembulan Tenggelam di Wajahmu (2009), Ayahku (Bukan) Pembohong (2011), Sunset Bersama Rosie (2011), Bumi (2014), Bulan (2015), Pulang (2015).  Tulisan Tere Liye itu romantis tapi nggak kacang-kacang. Romantis + logis!

Aku udah pernah jumpa dia sebelum kenal karyanya, haha. Waktu itu aku jadi salah satu panitia kegiatan FLP yang mengundang dia. Gayanya? Bah, beda kali lah sama karya-karyanya. Nggak nyangka dia senyantai dan agak nyebelin gitu, haha. Tapi itu nggak mempengaruhi aku dalam membaca karyanya.

Karya yang ingin dibaca: semua! Terutama serial Anak-anak Mamak: Burlian (2009), Pukat (2010), Eliana (2011), Amelia (2013). Kau dan Sepucuk Angpao Merah (2012). Rindu (2014)


  1. Daniel Goleman (Amerika Serikat)

Dunia ini penuh dengan benda yang menyimpan “harga” tersembunyi. Kita tidak bisa melihat sebesar apa harga sampingan yang harus kita bayar untuk barang-barang yang kita beli dan pakai sehari-hari –efeknya terhadap planet bumi, terhadap konsumen, dan terhadap buruh yang bekerja untuk memenuhi kenyamanan dan kebutuhan kita. –Ecological Intelligence

Aku kenal Daniel Goleman lewat teorinya Emotional Intelligence. Karena aku suka Psikologi, aku jadi aware sama namanya. Walaupun suka, aku belum pernah baca bukunya, aku hanya baca artikel-artikel tentangnya hingga suatu hari di bulan April 2015, aku ke Gramedia, lihat bazaar buku murah dan nemu buku Ecological Intelligence versi bahasa Indonesia dengan harga hanya Rp. 10.000. Gilaaaaaaaak! Aku langsung beli. Buku berkualitas dengan harga murah itu namanya berkah. Hahahaha.

Tiap kali lihat bukunya yang mahal-mahal di Gramedia, aku hanya bisa mengelus dada. Harganya? Ratusan ribu! Yaa Allah, kapan harganya turun kayak EI di atas, haha.

Karya yang ingin dibaca: semua! Tapi yang ada versi terjemahannya itu sepertinya Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Social Intelligence: The New Science of Human Relationship. Focus: The Hidden Driver of Excellence. Working with Emotional Intelligence.


  1. H. Douglas Brown (Amerika Serikat)

So, you’ve decided to be a language teacher! Welcome to a profession that will guarantee you more than your fair share of challenges, growth, joy and fulfillment. -Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy, Second Edition.

Gimana rasanya kalo baca buku teks yang ditulis oleh seorang profesor tapi kata sambutannya senyantai itu?

Aku sangat tergila-gila dengan profesor ini. Oh my God!

Aku kenalan dengannya saat mata kuliah Language Testing. Dosenku mengharuskan kami punya buku panduan dan buku Brown salah satunya. Di antara tiga pengarang, Weir, Heaton dan Brown, cuma bukunya yang bisa kucerna, karena bahasanya lebih sederhana. Bicara tentang Testing and Assessment itu, aduhai banget. Dan ternyata skripsiku tentang assessment. Aku suka dia, ahh, payah bilanglah. Buku-bukunya seperti Language Assessment: principles and Classroom Practices, Principles of language learning and teaching, dan Teaching By Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy bisa diunduh di Google dan aku punya ketiganya, hahahahah. Aku merasa bahwa setiap guru dan calon guru harus baca bukunya. Aku sendiri sedang berusahaaaaaaaa membacanya.

Karya lain yang ingin dikoleksi: Readings on Second Language Acquisition, Breaking the Language Barrier, Creating Your Own Pathway to Success.


  1. Dan Brown ((Amerika Serikat)

Penulis luar negeri yang paling banyak kubaca karyanya adalah Dan Brown. Dia itu jago banget bikin penasaran. Novelnya yang udah kubaca Digital Fortress (1997), Angel and Demons (2000), Deception Point (2001), The Da Vinci Code (2003). Semuanya dalam bentuk PDF. Hal yang kusukai dari tulisannya adalah pelukisan aksinya, teka-teki dan juga penceritaan sejarah yang wooooow.

Karya lain yang ingin kubaca: The Lost Symbol (2009) dan Inferno (2013)


 

  1. Andrea Hirata (Indonesia)

Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu –Edensor

Aku kurang antusias dengan film Laskar Pelangi padahal nggak pernah nonton dari awal sampe akhir, haha. Ketika mata kuliah Translation, kami disuruh baca novel Andrea Hirata berjudul Edensor (2007). Gaya penulisan Andrea Hirata itu unik. Yang paling aku sukai adalah caranya membungkus kehidupan masyarakat melayu dengan humor-humor segar.

Karya yang ingin kubaca: semua sih tapi yang paling pengen yaitu Ayah (2015)


  1. Habiburrahman El-Shirazy (Indonesia)

Tidak ada yang bisa mengusir syahwat atau kecintaan pada kesenangan duniawi selain rasa takut kepada Allah yang menggetarkan hati, atau rasa rindu kepada Allah yang membuat hati merana. –Ketika Cinta Bertasbih

Aku membaca bukunya pertama kali saat SMA. Judulnya Ayat-ayat Cinta. Aku senang sekali bisa jalan-jalan ke Kairo bersama Fahri, berjumpa Aisyah dan Maria. Lalu aku terkejut akan fitnah yang dilancarkan oleh Noura hingga Fahri harus mendekam di penjara dan disiksa sedemikian rupa. Membaca karyanya sungguh menambah pengetahuan tentang islam. Lalu aku membaca Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2. Semuanya dipinjamkan oleh murid mamakku.  Jujur saja, saat itu aku rasanya baru pertama kali baca novel Indonesia dengan latar belakang luar negeri yang bercerita tentang Islam, aku jadi sangat terkesan dengan tulisan-tulisan kang Abik.

Karya yang ingin kubaca: Ayat-ayat Cinta 2.


  1. Sir Arthur Conan Doyle (Inggris)

John, I don’t have friend, I have one. –Sherlock Holmes

Aku tergila-gila pada Sherlock Holmes gara-gara nonton serial BBC-nya yang dimainkan oleh Benedict Cumberbatch. Padahal ketika aku baca tulisan asli karya Doyle, beda bangetssss. Tapi tetap aja aku suka dengan cara Doyle bercerita lewat sudut pandang John Watson. Apalagi tulisan aslinya masih jadul banget jadi romantis-romantis British gitu. Haha.  Sampe sekarang aku belum selesai baca tulisan-tulisannya. Aku bacanya dari aplikasi Sherlock Holmes yang ku-download di Play Store. Lucunya, sampe sekarang kalo lihat seri Sherlock Holmes di rak toko buku, rasanya masih kepengen beli. Tapi kata Hera sayaang, dan aku juga mikirnya sayang kalo dibeli. Hahaha.


  1. Jane Austen (Inggris)

In vain I have struggled. It will not do. My feelings will not be repressed. You must allow me to tell you how ardently I admire and love you –Mr. Darcy

Sama seperti Sir Arthur Conan Doyle, aku mengenal Jane Austen karena filmnya terlebih dahulu. Kak Midah meracuniku dengan film berjudul Pride and Prejudice yang diangkat dari novel karya Jane Austen di tahun 1813. Aku suka dengan dialog-dialog mereka, Mr. Darcy seorang tuan tanah yang sangat kaya di masa itu dan terkesan sangat arogan membuat Elizabeth ilfeel. Sentuhan klasik ala British yang seksi banget bikin aku klepek-klepek sepanjang nonton filmnya. Diceritakan bahwa Elizabeth itu memiliki prasangka buruk terhadap apapun yang dilakukan Mr. Darcy karena kesannya yang dingin itu. Sedangkan Mr. Darcy jatuh cinta pada Elizabeth namun gengsi, hahaha. Hingga hubungan mereka memburuk karena kesalahpahaman yang bertumpuk namun Mr. Darcy tetap tabah menghadapi hujatan Elizabeth. Aku suka saat mereka berdansa dan saling mendebat. Ketika nonton filmnya aku langsung berpikir, “Filmnya aja keren apalagi bahasa di novelnya, pasti menggambarkan kehidupan Inggris kala itu.” Tiap main ke Gramedia, aku selalu lihat novel itu nangkring cantik di rak buku, hikss, sedih adek bang. Mau beli, tapi kok banyak kali buku lain yang mau dibeli juga, apalagi harganya di atas Rp. 60.000. Wwkwkkwk. Aku udah download PDF novelnya sih, versi bahasa Inggris dan yaaah, tahulah ya bahasa Inggris tahun 1813 itu gimanaaa. Cari yang terjemahannya belum ada di Google, sabar dululah, adek. Ntar kalo banyak waktu mungkin aku bakal baca versi bahasa Inggrisnya. Selain itu, aku juga pengen baca Sense and Sensibility (1811), Mansfield Park (1814), Emma (1815), Northanger Abbey (1818) dan Persuasion (1818).


  1. Harper Lee (Amerika Serikat)

….Aku baru sadar kalau aku belum pernah gemar membaca. Bukankah orang tak pernah gemar bernafas? –Scout Finch

Aku sedang baca novel To Kill A Mocking Bird-nya Harper Lee di aplikasi iJak lhooooo! Scout, tokoh aku dalam cerita itu, adalah anak SD yang otaknya kritis banget. Ayahnya Atticus Finch adalah seorang pengacara yang bijaksana. Scout sudah bisa baca tanpa diajari dan hal itu membuat gurunya gusar. Ia hanya sering mendengarkan dan menemani ayahnya ketika membaca di malam hari. Selain itu, tulisan tangannya pun sudah bagus akibat hukuman Calpurnia, si koki masak, yang selalu menyuruhnya meniru tulisan agar dirinya tidak membuat kerusuhan di rumah. Aku merasakan suasana yang sangat nyata, rasanya aku berdiri di Maycomb County menyaksikan semuanya. To Kill A Mocking Bird ini adalah satu-satunya karya Harper Lee namun buku ini masuk daftar Buku Wajib Dibaca Sebelum Mati (Read Before You Die).

Karya lain yang ingin dibaca: Go Set A Watchman (2015) walaupun novelnya jauh dari ekspektasi, namun aku ingin tahu gimana sih karya Harper Lee yang terakhir ini yang penerbitannya cukup kontroversial.


  1. Sungging Raga (Indonesia)

Sungging Raga merupakan pemilik blog surgakata.wordpress.com. Aku mendengar namanya pertama kali saat diskusi dengan anggota FLP yang baru saja pulang dari Jawa. Diam-diam aku mencarinya di Google dan mulai membaca cerpen-cerpennya. Aku suka gaya bahasanya yang surealis. Aku selalu menunggu update-an dari blognya. Ah, pokoknya dia kece bangetlah, hahaa. Namun, sebagai fan-nya aku belum mengoleksi satu pun bukunya karena setahuku itu dijual online, nanti deh pas ada kelebihan uang, aku order. Ada juga yang dijual di toko buku tapi belum kelihatan. Hahahaha. Kapan-kapan. Untuk saat ini aku harus puas dengan isi blognya.

Karya yang ingin kubaca dan miliki: Simbiosa Alina (2014), Sarelgaz dan Cerita-cerita Lainnya (2014), Reruntuhan Musim Dingin: Cerita-cerita Pilihan (2016).


  1. Leo Tolstoy (Rusia)

Aku mengenalnya lewat Anna Karenina, itupun ketika melihat teman memegang novel terjemahannya. Aku sering dengar bahwa Tolstoy salah satu sastrawan dunia.  Aku rasa ide ceritanya tentang perselingkuhan pada abad 19 itu adalah hal yang sangat tabu. Aku sangat penasaran dengan gaya penceritaannya yang sangat mendetail mengenai suasana kehidupan di Rusia pada masa itu.


  1. Andri Rizki Putra (Indonesia)

….meraih pendidikan tidak hanya melalui sekolah –Andri Rizki Putra

Setahun lalu aku menemukan sebuah buku berjudul Orang Jujur Tidak Sekolah. Aku terpaku memandang buku dengan cover yang berwarna kuning itu. Andri Rizki Putra? Siapa itu? Aku pun membuka halaman sampel dan merasa tertampar membaca tulisannya.

Dia adalah orang Medan! Keturunan Cina-Batak. Broken home. Bandel.  Miskin. Nggak melanjutkan SMA karena muak dengan kecurangan  yang terjadi ketika Ujian Nasional. Cerdas. Ikut ujian kesetaraan paket C. Lulus seleksi masuk fakultas hukum UI. Lulusan terbaik saat wisuda. Pendiri Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB).

Tulisannya liar, lugas dan menginspirasi. Dia menepis semua anggapan dan penilaian buruk dengan dengan sikap optimis. Membaca tulisannya membuatku merasa sangat malu. Bagaimana dia berjuang dari nol, menghapus segala stigma negatif masyarakat. Aku sebagai calon guru rasanya nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan semangatnya untuk membuat perubahan-perubahan nyata khususnya dalam bidang pendidikan. Abang, I love you!


  1. Ika Natassa (Indonesia)

Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think before you get one. And one you get one, it sticks to you hard and deep. –Ika Natassa

Novel Divortiare adalah satu-satunya karya Ika Natassa yang pernah kubaca hingga saat ini, namun tiap ingat novel ini baperku naik sampe overdosis!

Aku kenal Ika dari Hera, karena penasaran dengan spoiler yang Hera ceritakan, aku pun meminjam buku itu padanya. Dan efeknya sungguh sial!

Warning di cover bukunya emang bener banget. May cause prolonged delusion, hyper-romanticsm, temporary insanity, selective memory loss, spontaneous crying, uncontrollable giggles, changes appetite, irresistible urge to write quotes, compulsive buying, unexplainable peace of mind.

Kenapa baper? Umm, karena ini cerita tentang hidup Alexandra setelah bercerai dari suaminya Beno si dokter bedah jantung. Jadi, saat baca tulisannya perasaanku campur aduk, tiba-tiba ingat kenangan, ketawa sendiri, nangis sampe banjir bandang, bergalau ria, terus ketawa lagi, pokoknya mendadak gila deh! Aku suka tulisannya yang kebanyakan kalimat bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Lucunya, pas selesai baca, mendadak aku ngerasa kemampuan bahasa Inggrisku meningkat. Wkwkkw. Tapi setelah agak lama, balik bego lagi. Haha. Sebenarnya Divortiare ini punya kelanjutan Twivortiare, tapi karena bentuknya twit-twit di twitter gitu akunya agak malas.

Karya yang ingin kubaca: Antologi Rasa, Critical Eleven, Underground dan The Architecure of Love.


Walaupun kelihatannya aku freak banget sama semua penulis di atas, namun aku nggak serta merta menelan bulat-bulat semua hal yang mereka sampaikan. Apalagi beberapa di antaranya sangat sensasional dan kontroversial. Sederhananya, aku menikmati karya mereka, menghargai pemikiran dan menyukai cara mereka mengemas kisah-kisah kehidupan.

Setelah menuliskan semuanya, aku baru sadar bahwa aspek yang paling kusukai dari sebuah bacaan adalah unsur budaya dan gaya penulisan yang khas!

Oke, kalian pasti capek membacanya karena aku pun sangat lelah menulisnya, hahaa. Terima kasih banyak sudah membaca. Don’t forget to share, like, comment and follow this blog ya!

Iklan