siluetsholat
Sumber gambar klik sini

Oleh: dearlangit


Aku menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur. Lelah. Aku ingin langsung tidur, namun tiba-tiba aku ingat kejadian sore tadi.


Azan Magrib berkumandang. Semua orang berseru riang.

“Ayoo,siapa pimpin doa? Cepat!”

“Kaulah.”

“Kaulah, cepat sikit.”

“Laki-laki lah!”

Allahumma laka sumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birohmatika yaa Ar-hamarrohimiin.

“Ahh, Alhamdulillah.

Desahan lega terdengar dari beberapa orang. Tangan mulai menjelajah mencari makanan yang disukai, lalu mulut melahapnya.

Setelah minum teh hangat dan menyantap kue, aku pun berdiri.

“Mau kemana Rin?” Siska menatapku dengan kening mengkerut.

“Mau ambil wudu.”

“Kirain mau pulang. Aku ikutlah.”

Kami pun berjalan menuju kamar mandi. Aku melihat Adib berdiri di depan pintu kamar mandi, menunggu.

“Hai Dib! Udah di sini aja ya?” Siska menyapanya.

“Iyaa, kalian mau ambil wudu juga? Aku duluan ya?” Ucapnya saat pintu kamar mandi terbuka dari dalam.

“Ya iyalah, kan kamu luan ngantri.”

“Oke,” Adib hendak menutup pintu ketika aku memikirkan sesuatu, aku pun mencegahnya.

“Eh Dib, ntar tungguin kita ya, biar salat berjamaah.”

Adib menahan tangannya untuk menutup pintu, “Um, oke.”


Seeeerrr..  ada desir aneh di dadaku ketika mengingatnya bersedia menjadi imam saat salat magrib tadi. Sebelumnya, dia juga berinisiatif untuk memimpin doa berbuka puasa ketika semua orang ribut suruh-suruhan.

Apa aku menyukai Adib? Umm, aku tak yakin.

Adib adalah salah satu sahabat laki-lakiku saat SMA. Di kelas, kami –sekitar 15 orang– cukup kompak. Selepas SMA, kami berjanji untuk terus bertemu minimal setahun sekali, yaitu di bulan Ramadhan. Adib adalah laki-laki yang sopan, namanya sungguh cocok dengan kepribadiannya. Aku mulai terbayang sosoknya ketika masa SMA dulu. Tenang, pendiam namun pintar. Dia termasuk laki-laki yang bisa diandalkan dalam kelompok kami. Kami tidak punya keluhan terhadapnya.

Aku kembali menelusuri perasaanku saat ini. Debaran aneh ini sudah beberapa kali terjadi ketika aku berinteraksi dengan Adib. Rasanya, untuk beberapa detik, hatiku terkena sengatan listrik dan telingaku berdenging sejenak. Aneh bukan? Hanya karena mendengar namanya  atau mengingatnya saja, sudah berefek seperti itu padaku.

Apakah aku menyukai Adib?

Pertanyaan itu menggema di seluruh hatiku. Apa iya? Ah, aku menggeleng. Aku benar-benar tak yakin. Kami jarang berkomunikasi sejak lulus SMA. Aku hanya berjumpa dengannya saat reunian. Itu saja.

Aku menghidupkan lampu kamar, lalu meraih buku catatan di meja yang terletak di sebelah tempat tidur.

Hati ini bergetar hebat.

Hanya karena mendengar namamu.

Hanya karena mengingat tentangmu.

Apa aku menyukaimu?

Ah, aku tak tahu.

Tanganku berhenti sejenak.

Yang kutahu, aku merasakannya setiap kau bersedia menjadi imam dalam salat.

Aku tertegun. Menulis memang mampu merunut permasalahan. Ketika menuliskannya, aku teringat akan fakta itu. Ya, aku selalu merasakan debaran seperti ini setiap ada lelaki yang ketika ditawari menjadi imam salat langsung bersedia tanpa menolak terlebih dahulu. Adib selalu begitu. Dan aku lebih menghormatinya karena hal itu.

Mungkin kalian heran kenapa aku bisa merasakan hal seperti itu. Namun ketahuilah, aku jarang menyaksikan teman laki-lakiku melaksanakan salat. Ada yang salat namun lebih suka ke mesid. Ada juga yang lebih suka salat sendiri (enggan menjadi imam). Dan ada juga yang memang jarang salat.

Yang kutahu, aku merasakannya setiap kau bersedia menjadi imam dalam salat kami.

Ya, sesederhana itu. Aku kembali membaca baris terakhir tulisanku sebelum mematikan lampu. Hatiku sudah tenang. Aku ingin tidur.

 

 

 

Iklan