Oleh dearlangit


Ada beberapa kata yang membuat kita tertegun ketika mendengarnya. Ntah karena ia punya makna yang baik atau buruk. Mungkin juga kata-kata itu membawa kenangan, ntah itu manis atau pahit.

Ada tiga kata yang kubenci. Tentu kalian bisa menebaknya dengan mudah, ya kan? 3 kata itu kujadikan judul dalam cerita ini. Kopi, hujan dan pelangi.

Ah, aku malas sekali menyebutkannya atau sekedar mengingatnya. Aku melihat jam tanganku, hampir setengah jam aku duduk di sudut kafe ini. Menunggu kedatangan seseorang. Seseorang yang tak kukenal. Aku menatap pintu masuk yang terbuat dari kaca, di luar mulai hujan. Ini tidak baik.

Kalian mungkin bertanya kenapa aku duduk di sini dan terus menggerutu dalam hati? Kalian pasti tertawa jika kuberitahu, tapi baiklah, karena aku sedang tidak punya kerjaan, aku akan bercerita sedikit.

Seperti yang kalian tahu bahwa aku sedang menunggu seseorang. Seseorang yang tak kukenal namun harus kutemui. Kenapa aku harus menemuinya? Huh, itu karena teman dekatku.

Beberapa hari lalu, aku bertemu teman dekatku saat kuliah. Ada 4 orang. Ternyata mereka membawa pasangan, ntah itu pacar atau isteri. Awalnya percakapan kami normal, namun lama kelamaan mereka mulai usil mengorek cerita hidupku, bertanya kapan aku akan menikah, di mana kekasihku dan sebagainya.

Aku jengah namun malas berbohong. Kukatakan aku belum punya seseorang yang istimewa. Mereka langsung terdiam. Hanya sebentar saja, lalu mulut mereka kembali usil.

“Gimana kalo kami kenalin sama seseorang. Anaknya baguslah. Kami udah diskusiin ini beberapa hari lalu di grup Line.”

“Nggak.” Jawabku cepat.

“Maulah, mana tahu cocok. Dia penulis juga.”

“Nggak.”

Sepanjang dua jam kemudian mereka terus merecokiku.

“Cuma ketemuan aja kok, kenalan, kalo nggak cocok kita nggak maksa.”

“Iyaa, anaknya asyik kok, cocoklah sama kepribadianmu.”

“Nggak.”

“Pokoknya harus, bentar ya, kuhubungi dia,” Ali mengambil handphone-nya lalu menelepon seseorang.

“Nggak!!”

Hallo, eh apa kabar? Sabtu sore sibuk nggak? Ini aku mau bilang sesuatu, aku punya temen, dia ngajak kamu kenalan. Bisa nggak? Anaknya baik kok, nggak bakal macem-macemlah dianya. Iya, jumpa di kafe itu aja ya, ok ok. Sip. Bye.”

Ali mengetik sesuatu di layar handphone-nya lalu aku merasakan getar di sakuku. Aku melihat pesan dari Ali.

Kafe Rose, jam 5 sore, pake baju biru, ini no hp-nya 0853xxxxxxxx

“Kan udah aku bilang nggak mau,” Aku mendengus kesal membacanya.

Mereka tahu sekali kelemahanku. Aku tidak bisa menolak mereka ataupun mengabaikan janji. Ali sengaja menelepon wanita itu saat itu juga dengan mengatakan bahwa aku yang mengajaknya ketemu Sabtu sore. Dia tahu aku nggak mungkin membuatnya malu, karena dia salah satu sahabat baikku.

“Udahlah, coba aja. Kita juga cariin yang terbaik kok.”

Gantungan di pintu masuk kafe berbunyi pelan namun aku bisa mendengarnya, karena  suasana di kafe itu cukup sunyi. Seorang wanita meletakkan payung berwarna biru di dekat pintu masuk lalu melihat seisi kafe, tatapan kami bertemu lalu dia tersenyum dan menghampiriku.

“Hai, temannya Ali kan?”

“Ya.”

“Udah lama?”

“Setengah jam.”

“Oh, maaf banget ya, tadi acaranya ngaret banget jadi keluarnya agak lama, hujan lagi, untung aku bawa payung.”

Ucapannya terhenti karena pelayan menghampiri kami.

“Kopinya satu ya. Kamu mau pesan sesuatu?” tanyanya padaku.

“Nggak.”

“Oh, itu dulu mbak, makasi ya.” Wanita itu tersenyum pada pelayan lalu melihatku, “Jadi kamu penulis juga?”

“Cuma hobi.”

“Kamu ini pelit ya?”

“Apa?” Aku langsung merubah posisi dudukku, agak terkejut.

Apa aku pelit? Sepertinya aku bukan orang yang suka hitung-hitungan, teman-temanku juga nggak pernah mengeluh tentang hal ini.

“Omongannya, pelit!” Dia tertawa kecil, “Aku bercanda! Jadi, biar kutebak, bukan kamu yang ngajak aku ketemu, tapi Ali yang paksa ya?”

“Ya begitulah.” Aku angkat bahu.

Dia kembali tertawa. Aroma kopi tercium di dekatku. Pesanannya datang.

“Kamu suka kopi?” aku bertanya saat ia selesai meneguk kopinya.

“Ya begitulah,” dia tersenyum sedikit, “Kamu nggak suka kopi?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Hm.. karena kopi itu pahit.”

“Bukan karena kenangan?”

Sialan!

“Oke oke, kayaknya kamu nggak suka ya dibahas tentang itu. So, gimana, kamu suka aku nggak?”

“Apa?”

Wanita ini sepertinya agak gila.

“Ali bilang dia punya temen yang pengen dikenalin sama aku, katanya, mungkin kita cocok. Dia itu temen kerjaku, kayaknya dia kasihan lihat aku yang belum punya pacar. Jadi aku tanya, kamu suka nggak sama aku? Aku lihat kamu orangnya to the point, makanya aku langsung tanyakan ini.”

Biasanya aku emang selalu ngomong pedas tanpa diminta, namun ketika ditanya seperti ini, aku justru bingung harus jawab apa.

“Kenapa kamu nanya kayak gitu?”

“Haha. Aku juga nggak tahu kenapa, biasanya kalo aku ketemu sama cowok yang dijodoh-jodohin sama aku, akunya malu-malu gitu, tapi pas lihat kamu, liat reaksi kamu, tiba-tiba aku kayak gini. Yang aku lihat, kamu males banget ketemu sama aku, diajak ngobrol juga jawabnya singkat, kamu juga kelihatannya belum move-on dari masa lalu. Seharusnya saat aku tanya tadi, kamu bisa langsung jawab nggak minat, ya kan?”

Sial. Sial. Siapa sih wanita ini?

“Ya, kamu benar, aku nggak minat.”

“Haha, oke, aku ngerti. Nggak perlu dipaksain juga, yang penting kita udah ketemu.” Dia melihat jendela kaca, “Aduh, udah sore gini, mau pulang tapi masih hujan.”

“Kamu nggak suka hujan?”

“Suka, tapi lagi nggak mau main hujan.”

Suka kopi dan hujan. Sepertinya pilihanku sudah tepat untuk mengatakan tidak padanya.

“Kamu nggak suka hujan ya?”

“Kok tahu?”

“Tahu aja, pertanyaan kamu kan tadi, kamu nggak suka hujan? Artinya kamu mau memastikan aku nggak suka hujan. Kalo kamu suka, kamu bakal nanyanya gini, kamu suka hujan juga?”

“Oh gitu ya?”

“Ya nggaklah, aku ngarang aja kok, haha.”

Wanita aneh.

“Hujannya udah reda nih, balik yuk.”

“Oh, oke.”

Kami membayar tagihan minuman lalu berjalan ke luar. Aku melirik sosoknya yang berdiri di sampingku sambil memegang payungnya yang basah.

“Naik apa?”

“Angkot. Oh itu dia, aku duluan ya.” Dia mulai berjalan menjauhiku.

“Tunggu, nama kamu siapa?” aku sedikit berteriak, kulihat dia membalikkan badan, “Pelangi!”

Sial! Sial! Dia sudah hilang dari pandanganku. Dia suka kopi dan hujan. Lalu, namanya Pelangi.

Ali sialan!

Aku mengumpat sepanjang jalan. Aku benci kopi karena kopi itu minuman kesukaannya. Dulu aku menyukai kopi namun ia sangat buruk. Candu dan pahit. Aku sebelumnya juga suka hujan, namun aku bertemu dan berpisah dengannya saat hujan. Hujan itu dingin, sepi dan aku mengigil, nyaris beku. Dan aku sangat membenci pelangi, karena dia pernah berkata, “Perbedaan di antara kita itu indah, seperti pelangi. Kisah kita akan penuh warna-warni.” Namun dia tidak pernah mengatakan fakta bahwa pelangi hanya datang sekejap, selepas hujan lalu hilang tak berbekas. Ia datang sebentar lalu pergi begitu saja. Menyebabkan kehilangan yang amat menyakitkan.

Hujan kembali turun, aku benci sekali, namun tak punya daya untuk mencari tempat berteduh. Aku kuyup. Sesampainya di rumah, aku mandi lalu pergi ke dapur, mencari sisa kopi lalu menemukan satu sachet kopi instan. Aku menyeduhnya tanpa melihat tanggal kadaluasa. Aku menyesapnya, menghirup aromanya dalam-dalam.

Setelahnya, aku meringkuk di dalam selimut. Mencoba mencari kehangatan dan kenyamanan. Namun hatiku gelisah. 5 jam berlalu, aku tak tahan. Kuraih handphone-ku, menelepon seseorang.

“Halo, ini siapa?” Suara serak terdengar agak pelan.

“Ini aku.”

“Siapa?”

“Ini aku, laki-laki di kafe tadi.”

“Oh.. Haa? Alvan?”

“Ya, kamu kok tahu?”

“Kamu pikir aku mau ketemu sama orang yang bahkan namanya nggak kuketahui?” Dia tertawa pelan, “Ada apa nelepon malam-malam gini, ganggu orang tidur aja. Katanya nggak minat.”

“Maaf ya.”

“Maaf untuk apa?”

“Maaf karena nyakitin perasaan kamu.”

“Tumben? Emang kamu sadar udah nyakitin perasaan aku.”

“Iya.”

“Memangnya apa yang udah kamu lakukan?”

“Aku…. Akuu..” rasanya lidahku kelu, “Aku menghina kamu, nggak menunjukkan rasa hormat padamu walaupun aku tahu kamu udah berusaha bersikap baik ke aku tadi.”

“Yaudah, aku maafin. Udah ya, aku ngantuk, mau tidur.”

“Tunggu. Aku nggak bisa tidur, tadi aku minum kopi.”

“Cih, minum kopi.”

“Aku juga main hujan.”

“Oh, mau move-on?”

“Iya.”

“Semoga berhasil ya, good night.”

Klik, telepon ditutup.

Aku mendesah pelan. Sebuah pesan masuk di handphone-ku.

Maaf ya aku matikan teleponmu. Aku capek banget, nggak enak badan juga.

Untuk masalah move-on tadi, aku cuma bilang, you never know, if you never try to forgive your past….

Ali memang ada benarnya, mungkin aku memang cocok dengan Pelangi. Aku nggak boleh terus membenci dan menyalahkan sesuatu saat semua sudah berjalan dengan baik. Mungkin aku bisa mulai membuka hati.

Iklan