Hai pembaca blogku yang setia!

Ecieee, yang merasa blognya ada yang baca, wkwkwk.

#Blogger’s Challenges sekarang memasuki topik ketiga belas dan Dwita kembali ngasih topik untuk yang ketiga kalinya, haha. Topik kali ini mengenai fobia.

Fobia adalah rasa takut yang berlebihan terhadap sesuatu. Rasa takut itu sebenarnya sangat wajar dirasakan manusia, namun jika kadarnya berlebihan maka akan mengganggu kehidupan seseorang. Aku sejujurnya tidak merasa fobia akan sesuatu –maksudnya tidak begitu memikirkannya—namun tantangan dari Dwita ini membuatku harus merenung dan hasilnya adalaaaaah.. jreeng jreeeeng..

Sepertinya aku punya beberapa fobia, hahahahahhahaha.

Agustinus Sipayung dalam buku Hati-hati Mengatakan Anda Tidak Sakit Jiwa (2010) mengatakan bahwa salah satu cara untuk mengobati penyakit jiwa –fobia salah satunya– adalah dengan mengetahui akar permasalahannya, kejadian yang menjadi pemicu awal lahirnya rasa takut tersebut sehingga kita bisa mencari solusinya. Untuk itu, aku memutuskan untuk menuliskan kasus-kasus (kemungkinan) fobia yang kualami.

  1. Hemophobia (Takut Darah)

Suatu hari aku pulang ke rumah lalu mendapati mamakku sedang tergolek –nampak lemah– dengan darah yang terus menetes dari jarinya. Kudengar bahwa jarinya tergores cukup dalam saat memotong bahan makanan. Aku saat itu biasa saja, hanya takut sedikit. Namun, ntah bagaimana, aku lama-lama menyadari kalo aku takut dengan darah. Ketakutanku akan darah ini pernah sangat menyusahkanku saat SMA. Beberapa temanku yang tahu aku takut darah lalu menunjukkan gambar-gambar darah segar dari luka korban kecelakaan padaku yang membuatku sangat histeris dan menangis ketakutan. Aku takut sekali melihat darah yang keluar dari tubuh makhluk hidup, sepertinya aku merepresentasikan bahwa darah itu menunjukkan bahwa seseorang terluka amat sangat. Kesakitan. Dan aku nggak suka melihat orang sakit. Namun, jika melihat kantung penuh darah atau sesuatu berwarna merah pekat, aku biasa saja. Aku hanya nggak bisa ditakut-takuti atau dikejutkan dengan hal-hal berbau darah.

  1. Aichmophobia (Takut Benda Tajam)

Ini berkaitan dengan hemophobia di atas. Aku takut benda tajam seperti pisau, pecahan kaca, gunting yang diarahkan padaku. Aku suka memakai gunting dan lumayan terampil, namun aku takut menggunakan pisau. Haha. Teman-teman dekatku tahu hal itu. Jika aku harus menggunakan pisau, aku akan bekerja dengan pelan dan hati-hati sekali. Aku juga takut dengan pecahan kaca karena saat kecil aku pernah kena pecahan kaca. Lukanya memang tidak parah namun aku merasa tidak aman. Waktu itu ada piring kaca yang pecah dan sudah dibersihkan. Beberapa saat kemudian aku melewati tempat bekas pecahan tadi lalu tiba-tiba kakiku merasakan sakit dan berdarah. Jadi, jika ada kaca pecah, aku diam saja lalu menyingkir dari tempat tersebut.

  1. Athazagoraphobia (Takut Diabaikan atau Dilupakan)

Saat SMP, aku merasa kehilangan orang-orang yang kuanggap sahabat. Mereka ada di dekatku namun kami tidak akrab lagi. Saat itu aku sedih sekali. Aku merasa tidak dihargai, tidak penting dan mudah dilupakan padahal aku sudah bersikap baik dan ramah. Aku punya banyak teman namun mereka tidak menganggapku sebagai teman. Aku berusaha keras untuk tidak memikirkan hal itu namun sampai saat ini, perasaan sedih itu masih sering datang terutama saat aku tidak mendapat informasi penting. Hera pernah melihatku down karena hal ini.

  1. Eremophobia (Takut Ditinggal Sendiri)

Ketika pertama kali datang ke Medan, aku cukup mandiri. Pergi ke mana-mana sendiri. Hera sampe pernah bilang, “Kok ada anak yang sanggup ke mana-mana sendiri kayak kau.” Aku hanya tersenyum. Sejujurnya aku takut sendirian namun aku lebih takut jika orang meninggalkanku. Misalnya saja, aku dan beberapa teman pergi ke suatu tempat bersama-sama, lantas karena satu hal mereka pergi tanpa pamit atau meninggalkanku saat aku tidak siap, perasaan takut itu tiba-tiba saja datang.

  1. Astrapophobia (Takut Petir, Kilat, Guntur)

Saat masih kecil, aku tidak bisa tidur kalo hujan deras di sertai petir, kilat dan guntur. Aku ketakutan hingga mamak perlu masuk ke kamarku lalu memelukku sampai aku tertidur. Tapi sekarang aku biasa-biasa saja, hehe. Aku hanya nggak bisa berada di luar ruangan saat petir, kilat dan guntur terjadi. Bahkan jika aku sedang di luar dan melihat kilat, aku langsung mencari tempat aman di dalam ruangan.

  1. Latrophobia (Takut Dokter)

Ketika kecil aku beberapa kali nginap di rumah sakit karena mamakku dirawat di sana. Aku melihat dokter-dokter itu cuek sekali. Ucapannya kayak orang nggak berperasaan, haaha. Namun bukan itu alasan aku takut dokter. Aku takut dokter karena jika menemuinya, aku jadi berpikir benar-benar  sakit parah. Ahahaha. Lucu ya? Iya, aku juga ngerasa lucu, tapi masih takut aja jumpa mereka.

Yak, itulah kisahku dan fobia. Mungkin bagi kalian yang nggak merasakan ketakutan itu, cerita di atas lucu. Namun percayalah, nggak ada orang yang mau dihantui perasaan takut seperti ini. Dan aku berusaha untuk mengendalikannya sebaik mungkin. Lewat tulisan ini aku berpesan pada kalian, jangan mengolok-olok orang yang memiliki fobia namun cobalah untuk membantu mereka pelan-pelan agar terbebas dari penyakit ini.

Iklan