Hai guys!

Posting-an kali ini merupakan bagian dari #Blogger’s Challenges topik kelima belas. Wow! Syudah lima belaaaaas. Tantangan kali ini berasal dari mas Arif. Untuk pertama kali mas Arif ngasih tantangan yang agak nyantai, yaitu 3 genre film favorit beserta alasannya .
Hmm, tantangan ini nggak sulit tapi juga nggak gampang. Aku perlu membuka folder-folder hardisk-ku untuk melihat genre film yang kutonton. Untungnya, aku sudah merapikan file-fileku, jadinya aku gampang membuat tulisan ini.

Oke, sebelum aku ceritakan genre film favoritku, aku akan bercerita sedikit tentang kegiatan menonton bagiku.

Sebenarnya, aku tidak begitu gemar menonton. Hal ini dikarenakan sejak SMP aku sudah dilarang dibatasi nonton TV jadi dunia tanpa TV itu biasa aja, haha.  Beberapa tahun yang lalu, aku mendapat supply film yang banyak dari Jovi, dan aku selalu meng-copy-nya. Namun, folder film jarang kubuka bahkan bagi beberapa orang aku ini dianggap penimbun film, wkwkwk.

Banyak sekali alasanku untuk nggak nonton seperti tugas kuliah yang banyak, menghabiskan waktu, lebih baik membaca buku, sibuk organisasi, kasihan pada laptop, dsb. Namun, pada suatu hari aku keracunan. Keracunan nonton drama Korea. Kalian bisa bayangkan drama Korea itu episode-nya cukup banyak (umumnya 12 episode) tapi ceritanya tetap seru kali, nggak bisa kalo nggak ditonton. Penasaran. Sejak saat itu, aku mulai suka nonton film.


  1. Psikologi

Aku suka nonton film psikologi karena aku kepo terhadap hal-hal berbau psikologi. Lewat film bergenre ini aku bisa mengetahui banyak hal. Contohnya, film Perfume, The Story of Murderer (2006), dan Stonehearst Asylum (2014).

Perfume, the Story of Murderer berkisah tentang seorang laki-laki yang punya kemampuan mencium aroma, ia melakukan pembunuhan pada beberapa perawan cantik untuk membuat suatu parfum yang melenakan dari aroma gadis yang dibunuhnya itu. Lewat film ini aku bisa membayangkan cara membuat parfum secara konvensional dan kehidupan masyarakat Perancis pada abad 18 yang sangat kumuh. Dari awal sampai akhir ceritanya sangat menarik karena gambar dan aktingnya sangat bagus.

Sedangkan Stonehearst Asylum berkisah tentang seorang dokter muda yang datang ke Stonehearst Asylum—rumah sakit jiwa— di mana orang-orang sakit jiwa yang menguasai rumah sakit itu. Menonton film ini aku serasa dibodohi. Semua tampak nyata, namun ketika ending-nya, aku terperangah dan sangat terkejut. Ada satu rahasia yang teka-tekinya ternyata selalu dibeberkan di setiap scene!

Selain dua cerita itu, Korea juga menyuguhkan banyak drama bertema psikologi seperti Kill Me Heal Me, Dr. Frost (2014), Hello monster/I remember you (2015) dsb.


  1. Aksi

Aku suka film aksi karena kisahnya selalu seru. Kalian pasti setuju kalo film seperti  X-Men, The Hunger Games, Brick (2005), V For Vendetta (2006), Abduction (2011), Kingsman The Secret Service (2015) dsb itu keren, ya kan? Sepanjang menonton kita terpesona dengan alur yang cepat, penggunaan senjata, aktor yang lincah, dan dibuat penasaran dengan scene selanjutnya. Tak hanya film barat yang punya genre aksi, Korea juga banyak, seperti City Hunter (2011), 3 Days (2014), dsb.


  1. Drama

Drama di sini maksudnya film yang berkisah tentang kehidupan sehari-hari di mana cinta, persahabatan, penderitaan, kesedihan, kebahagiaan dan hal umum lainnya di angkat menjadi sebuah film yang mengasyikkan dan sering berakhir mengharukan. Selain itu, genre drama yang kusukai lebih mengarah pada kehidupan seseorang khususnya di masa lalu, ntah itu mengenai tokoh besar dunia atau berdasarkan karya klasik penulis dunia misalnya Pride and Prejudice (2005), August Rush (2007),  500 Days of Summer (2009), Letters to Juliet (2010), Ruby Sparks (2012), The Great Gatsby (2013), The Giver (2014), The Theory of Everything (2014) dsb. Kalau untuk drama Korea, mungkin  Princess Hours (2006), Secret (2013), Oh My Venus (2015) bisa diklasifikasikan ke genre ini.


Selain 3 genre di atas, aku juga sangat menyukai fantasi seperti Harry Potter, fiksi ilmiah seperti Now You See Me, Project Almanac, detektif seperti serial BBC Sherlock Holmes, animasi seperti Kungfu Panda, Hotel Transylvania, serta anime Jepang. Sejujurnya aku suka semua jenis film kecuali horor atau jenis film yang bikin jantung mau copot. Walaupun aku takut akan darah-darah selama film itu bermakna dan nggak terlalu sadis, aku masih bisa menontonnya (dengan catatan harus sama orang lain, nggak bisa sendirian). Jadi, kalo kalian mau ngajak aku nonton –baik di laptop maupun di bioskop— aku mah oke aja kalo gratis. Asalkan nggak nonton film Indonesia di bioskop, karena rasanya sayaang –buang-buang duit dan aku biasanya selalu berkomentar sepanjang film.

Nah, tantangan sudah kuselesaikan. Mungkin abis ini mas Arif mau ngajak aku nonton kali ya, hahaha.

Btw, apa genre film kesukaanmu dan alasannya?


Karena terkadang, menyukai sesuatu tak membutuhkan banyak alasan. -Wawa

Iklan