4 November 2016

Writing challenge hari ini mengenai Write About Someone Who Inspires You.

Jika ditanya mengenai sosok menginspirasi, jawaban pastinya adalah Nabi Muhammad (tidak ada manusia yang lebih sempurna akhlak dan perilakunya selain beliau). Lalu mamakku (sosok yang amat kucintai dalam hidup ini. 

Namun kali ini aku ingin menceritakan sosok yang berbeda dari dua konteks di atas. Aku ingin cerita mengenai seorang laki-laki imut yang membuatku kagum lewat kisahnya.

Andri Rizki Putra merupakan penulis buku Orang Jujur Tidak Sekolah. Buku yang sangat menginspirasi bagiku. 

Awalnya aku sama sekali tidak mengenalnya maupun judul bukunya.

Buku bersampul warna kuning dengan judul yang sangat mencolok itu mampu menarik perhatianku dari jauh saat aku melihat-lihat rak buku bagian  motivasi dan psikologi di Gramedia. 

Ntah kenapa, aku memutuskan untuk membelinya padahal saat itu aku nggak berencana untuk beli buku. 

Saat pulang aku buka plastik pembungkus buku itu lantas membaca halaman awal. 

Biasanya aku hanya tahan membaca beberapa halaman saja, namun gaya penceritaan bang Andri (dalam bukunya ia menyebut dirinya Rizki) bener-bener keren hingga aku terus membaca kisahnya. Halaman demi halaman.

Keren di sini bukan karena diksinya yang unik namun lebih kepada cara bertuturnya yang lugas, sederhana namun ngena. 

Ketika membaca bukunya, aku seolah menyaksikan perkembangan dirinya dari masa ke masa. 

Dia adalah sosok yang anti-mainstream!

Andri merupakan orang Medan. Sejak kecil ia diasuh neneknya karena kedua orang tuanya sudah bercerai. Ibunya bekerja di Jakarta. Bisa dikatakan, masa kecilnya ia tidak merasakan kasih sayang dari keluarga (ayah dan ibu). Ia tumbuh menjadi seorang anak yang nakal dan liar. Suka mengganggu anak lain, berpetuangan bahkan sempat mengalami kecelakaan parah. Akhirnya keluarga di Medan tidak sanggup mengurusnya sehingga dia dibawa oleh ibunya ke Jawa.

Saat pertama kali tinggal bersama ibunya, dia merasa sangat kaku dan canggung, seperti orang lain. Bayangkan betapa hampanya jiwa seorang anak kecil hingga tidak merasa akrab dengan orang tuanya sendiri! Lantas, dia masih juga nakal dan membuat masalah.

Hingga suatu hari ia merasa kasihan dengan ibunya yang bekerja sangat keras, akhirnya ia mulai serius belajar. Tidak ada yang menyangka bahwa dirinya cerdas. Perlahan ia mulai menunjukkan prestasi di sekolah. Namun, permasalahan tidak berhenti sampai di situ. 

Karena kesulitan keuangan, ia sering nunggak uang sekolah. Tak jarang ia harus ujian di luar kelas beralas lantai dingin. Ketika ia protes, ia justru dihina karena ketidakmampuannya dalam membayar biaya sekolah. Ia juga tidak pernah berkesempatan mengambil raport (biayanya tagihan akan diminta saat mengambil raport) padahal ia termasuk juara kelas.

Saat menjalani UN SMP, ia melihat praktek kecurangan (kunci jawaban disebarkan ke siswa) dan saat ia ingin melapor, justru ia disuruh bungkam. Ia terkejut dan kecewa. 

Ia lulus dengan nilai yang baik namun lebih rendah dibandingkan teman-temannya yang mendapat kunci jawaban. Ia pun melanjutkan ke jenjang SMA. Namun, hatinya sudah kecewa.. ia pun memutuskan untuk berhenti sekolah!

Aku tak bisa membayangkan betapa nekat dirinya! 

Ia memang berhenti sekolah namun ia tidak pernah berhenti belajar. Ia mencari informasi sana-sini hingga mengetahui bahwa ada ujian kesetaraan untuk tingkat SMA. Ia pun giat belajar. Ia tentukan targetnya, meminjam buku-buku teman, abang kelas dan tetangga. Mempelajari bab demi bab. Memahami konsep-konsep yang ada. Sering juga ia meminta ibunya untuk menanyakan pertanyaan padanya yang harus ia jawab dengan benar. 

Ia pun ikut ujian kesetaraan dan lulus dengan nilai memuaskan. Lalu, ia mencoba masuk perguruan tinggi melalui seleksi masuk dan lulus! Ia resmi terdaftar sebagai mahasiswa hukum UI. 

Perjalanannya semakin jauh. Dengan keterbatasan biaya, ia tetap berjuang mengikuti kegiatan kampus yang seabrek (ia aktif berorganisasi dan berdiskusi dengan dosen serta melakukan penelitian). Tak hanya itu, pada akhir masa studinya, ia mampu menjadi lulusan terbaik di fakultasnya! 

Pengalamannya dalam menempuh pendidikan membuatnya merasa ingin membantu orang lain yang mengalami kesulitan yang sama dengannya. Dengan modal nekat ia mulai membuka mesjidschooling (homeschooling berbasis mesjid). Ia mengajar orang-orang yang ingin belajar/putus sekolah. Ia memberi motivasi bahwa ada ujian kesetaraan bagi mereka yang masih menginginkan pendidikan (namun terhalang usia dan faktor lainnya). Ia mencari orang-orang yang bisa membantunya dalam kegiatan tersebut. Mempresentasikan kegiatannya pada para donatur dsb. Ia pun akhirnya mendirikan yayasan pemimpin anak bangsa (YPAB) yang memiliki ruang belajar khusus.

Ia benar-benar merusak sistem!

Dalam hidup ini kita cenderung beralasan jika tidak mampu mencapai sesuatu. Andri punya semua alasan untuk hidup menjadi seorang pecundang. Sejak kecil ia broken home (namun hubungannya dengan ibunya sangat baik), bisa dikatakan ia miskin (tidak punya rumah, listrik sering nunggak, uang sekolah sulit dibayar), ia juga terkenal liar dan nakal, lantas putus sekolah. 

Namun ia berbeda! Ia menolak semua bibit buruk itu dengan berusaha gigih! 

Ia benar-benar sosok yang cerdas.

Konseptor dan eksekutor yang baik!

Membaca tulisannya (yang merupakan kisah hidupnya) membuatku merasa sangat malu!

Bisa-bisanya aku yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga lengkap, mendapatkan fasilitas terbaik untuk merasakan pendidikan, sekolah di tempat bagus, tidak pernah didiskriminasi karena finansial namun hidup salam zona nyaman dan aman. Mengikuti arus. Tidak berbuat apa-apa. 

Aku memang punya impian yang besar untuk pendidikan Indonesia namun hingga saat ini belum berani melakukan apapun. 

Lewat bukunya, aku merasa teramat dekat dengan sosok Andri. Aku merasa kenapa dia bisa sedangkan aku tidak! Perbedaan kami yang paling mencolok adalah pada bagian DIA melakukan sesuatu, sedangkan AKU diam saja. 

Ahhh.. abaaang… aku ingin bersikap sepertimu.. aku ingin memandang dari sudut pandangmu.. aku ingin memiliki keberanian seperti keberanianmu.. 

Iklan