8 November 2016

Hari ini hari kedelapan dalam proyek 30 Days of Writing Challenge. Aku harus Share Something You Struggle With. 

Hahaha. 

Nggak ada yang lebih kuperjuangkan saat ini selain abang itu. Ups, maksudnya skripsi. 

Yaya.. kamu nggak perlu nanya aku semester berapa (karena itu sangat menyakitkan). Wkwkkwk.

Sebenarnya aku lagi nggak mau heboh-hebohin masalah skripsi ini. Tapi apalah daya, tantangan ini mengharuskan aku untuk menceritakannya. 

Aku ngerasa lucu dengan diriku sendiri.

Jadi, sejak Januari lalu, aku awalnya ngajuin Error Analysis dalam tulisan descriptive siswa SMA. Sederhananya, aku bakal minta siswa nulis teks descriptive terus aku analisis di rumah. EA ini fokusnya lebih ke grammar. Tujuannya supaya siswa tahu di mana letak kesalahan tulisannya agar dia introspeksi diri dan guru tahu konsep grammar mana yang masih sulit dipahami siswa ketika menulis teks lengkap sehingga guru bisa membahasnya di kelas lebih detail. 

Judul ini lahir dari kegelisahanku sendiri sebagai pelajar. Ketika sekolah dan kuliah, guru/dosen sering nyuruh buat tulisan bahkan makalah. Namun, mereka nggak pernah mengoreksinya (setidaknya aku nggak tahu dia mengoreksi atau tidak). Ketika tugas dikumpul, maka tugas itu akan menghilang dan dilupakan begitu saja. Karena nggak ada koreksi, aku jadinya nggak tahu salahku di mana dan mungkin aja mengulang kesalahan yang sama. Aku juga lama-lama ngerasa makin sepele. Yang penting dikerjain. Masalah nilai, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Haha. 

Rupanya, di jurusan, judulku ditolak. Redaksi katanya sih diperbaiki karena judulku dicoret separuh dan digantikan dengan sesuatu yang mirip namun tak sama. Wkwkkw. Apakah itu?

Assessment! 

So, Error Analysis diganti Assessment. Haha. Tulisan descriptive siswanya dipertahankan. Jadi, judul baruku berkaitan dengan assessment terhadap tulisan descriptive siswa.

Miripkan? Hahahha. Tapi jauuuh bangetssss.. bahkan aku bisa bilang penelitian assessment terhadap tulisan siswa itu hampir nggak ada di Indonesia! Kalo di luar negeri lebih ke peer-assessment, self-assessment, portofolio assessment, dsb. 

Ada satu skripsi dari mahasiswa Bali tentang assessing student’s writing. Namun, penelitianku juga nggak seperti itu prosedurnya.

Penelitianku lebih ke bagaimana menilai penilaian yang dipakai guru untuk menilai tulisan siswa. 

Aku, mahasiswa S1 menilai penilaian guru? 

Nggak hanya itu, referensiku juga nggak banyak.

Aku juga belum nemu buku yang bener-bener bahas assessment dari sudut pandang genre. Biasanya cuma materi descriptive text doang. Assessment itu agak unik.

Selain itu, assessment di writing itu lebih ke alternative assessment ketimbang traditional assessment. Isu validitas dan reliabilitasnya masih diperdebatkan. 

Kalo di luar negeri, banyak sekali institusi/lembaga profit san non-profit yang berkecimpung di bidang pendidikan termasuk penilaiannya. Namun, sekali lagi, di Indonesia sendiri aku belum nemu something like that. 

Di Indonesia, pemberian materi aja masih jadi masalah. Evaluasi hanya sekedar di lembar kertas doang. Itupun jarang divalidasi. 

Aku nggak ngertilah menjelaskannya gimana. Akunya aja yang payah. 

Ahh.. pokoknya aku galaaaaaaauuuuu.. 

Aku sejujurnya suka sama assessment ini, tapi kok masih abu-abu aja yaaa. Aku ngerti, tapi nggak ngerti. Yang paling parah, I have no words to put it on proposal!

Setelah menggalau, menghabiskan bulan demi bulan tanpa arah. Aku dihadapkan pada realita, aku nggak bisa ke mana-mana dengan judul ini. Untuk saat ini. Dengan keadaan seperti ini.

Aku harus ganti judul. Bye bye assessment! See you.

Beberapa teman ngasih saran untuk ganti judul: classroom interaction, item analysis dan lexical density + grammatical intricacy. 

Aku sih tertarik ke classroom interaction.. tapi penelitiannya belum banyak gambaran. Item analysis itu pake konsep language testing (assessment kemarin juga sodaraan sama language testing) aku agak trauma gitu, hahaha. Lexical density + grammatical intricacy lah yang prosedurnya jelas. Aku juga nggak perlu ke sekolah. Cukup analysis buku aja. 

Jadi, aku memutuskan untuk ganti judul! Lexical density and grammatical intricacy, come to me, beibeeeeh. I have to love you.. more and more. Help me to get sarjana degree!

Hahahha. 

Hidup ini emang lucu ya.

Pas pertama kali denger lexical density itu beberapa bulan yang lalu, aku penasaran tapi banyak takutnya (karena olah angka). Eh, ternyata, aku jatuh padanya juga.

Ini seperti cinta lama bersemi kembali.

Awalnya jumpa aku udah tertarik sama dia. Tapi ditepis-tepis. Aku nggak mau memikirkannya. Eh, ternyata, aku malah harus sering-sering bersamanya. Yaaaa, aku sih percaya, cinta bisa hadir karena terbiasa. Wkwkkwkwkwkkwk.

Apaan sih, Wa!

Yaaayayaya.. intinya, aku harus cepat skripsi.. aku harus kejar sempro Desember ini supaya ada harapan wisuda di bulan Mei. Aku harus move on! MOVE ON! 

Sumpah postingan ini gaje banget. Tapi gapapalah ya. 

Don’t think too much, Wa! Just do it! 

Untuk teman-teman yang baca, tolong doanya ya. Kalo punya referensi tentang judul skripsi itu, tolong kabari ya. Hahhahahhahahahhaha.. 

Yaa Allah, bantu hambamu yang lemah ini yaa Allah.. 

Iklan