11 November 2016

Something you always think “what if..” about…

“What if”dalam bahasa Indonesia bisa diartikan “seandainya saja…” “jikalau”. 

Kalo boleh jujur, makna seandainya itu berkaitan erat dengan penyesalan. Ya kan?

Ketika hati menggumam, “seandainya”, itu biasanya merujuk pada ketidakpuasan di masa lalu. Ada sesuatu yang kurang. Ada yang perlu ditambahkan atau diperbaiki. Maka, nggak heran, kata seandainya sering diidentikkan dengan ketidaksyukuran. 

But, yah, setelah kupikir-pikir, banyak sekali kata seandainya muncul dalam benakku (khususnya setelah mulai berkuliah). 

Penyesalan selalu datang terlambat ya kan? Kalo datang di awal namanya bukan penyesalan. 

So, karena tantangan ini, mau nggak mau aku akan beberkan beberapa what if yang merayapi hatiku saat ini.

SEANDAINYA AKU BELAJAR KERAS

Seandainya aku disiplin belajar saat masih kecil. Setidaknya, aku nggak bakal sepayah ini, wkwkwk. Aku ingin mencintai kegiatan belajar. Yang justru ketika kecil sampai SMA (bahkan kuliah) masih sering malas-malasan. Dampaknya baru terasa sekarang, ketika aku punya ambisi tinggi tapi minim ilmu dan pengalaman. Wkwkkwkwk. Karena kebiasaan belajarku yang nggak baik, aku jadinya kurang gigih. Kalo ada sesuatu yang nggak kupahami, kalo nggak dipaksa aku nggak belajar untuk memahaminya, haha. 

SEANDAINYA AKU FOKUS BELAJAR BAHASA

Yaps.. menjadi guru memang passion seja kecil, tapi yah, aku nggak tahu kalo jadi guru juga harus punya spesifikasi masing-masing. Naif sekali! Pas SMA aku baru tahu harus pilih jurusan apa -,- dan karena aku lemah di eksak (padahal SMA aku jurusan IPA), aku juga udah ketinggalan banyak di IPS, dan aku suka bahasa Indonesia, aku memutuskan untuk ambil jurusan pendidikan bahasa Inggris. Sungguh nggak koheren. Kalo aja aku tahu aku punya ketertarikan, minat dan mungkin bakat di bidang bahasa, kenapa aku nggak fokus ke bahasa sejak kecil? Sekarang, saat kuliah, aku memang bisa mengikuti pelajarannya, namun aku tertatih broo! Banyak sekali pembelajaran bahasa dan kependidikan yang kurang kupahami, lalallalaaa.. sedih sekali adek, bang. 

SEANDAINYA AKU IKUT KURSUS KETERAMPILAN

Kalau sudah dewasa, baru terasa.. bahwa hidup ini tidak begitu ramah pada kita. Wkwkkwkwk. Untuk hidup mandiri kita perlu berpikir kreatif dan punya banyak keterampilan.. Dulu aku pernah ditawari kursus menjahit, tapi akunya ogah karena kupikir nggak terlalu penting, haha.. Ternyata, jahit baju sekarang mahal breeee! Udah mahal kadang modelnya nggak memuaskan. Coba bisa jahit sendiri, wkwkkwkwk.Selain itu, untuk memikat lelaki dan ibu mertua, aku juga butuh keterampilan memasak. Aku juga perlu keahlian yang berkaitan dengan seni untuk menghias rumah, kamar dsb. Tapi, apalah adek bang. Adek hanya bisa menghias hatimu dan menjahit cinta kita agar tak robek.#mulaingawur

Yah, banyak sih contoh seandainya.. tapi Hera udah manggil aku untuk makan, jadi, sampe sini dulu eaaa.. bye..

Iklan