Hm.. topik hari ini: discuss your first love. 

Kenapa harus cinta pertama lagi yang dibicarain? 

Dia itu masa lalu, bre! Dia udah bahagia sekarang, terus kenapa aku harus ingat dia lagi? Dia aja mungkin udah nggak ingat aku lagi (#sensi).

Tapi ya, aku harus membicarakan tentangnya lagi. Sebelumnya aku pernah nulis tentang pertemuan kami di posting-an #Blogger’sChallenges kelima yang judulnya Talk about my first love (yang semoga nggak dia baca). Kemarin itu, aku nulisnya dengan mood yang bagus, haha.. tapi kalo sekarang aku udah nggak mood bahas cinta.

Cinta itu ilusi, hihihi.

(Kalo lagi jomblo ngomongnya emang gitu, wkwkkw).

Jadi, menurutku, cinta pertama itu membuatku merasa dicintai, disayangi, dihargai dan dibutuhkan. Dan ketika aku kehilangannya, rasanya sakiiit sekaliiii.. tapi walaupun sakit, hidupku tetap berjalan lancar. Aku tetap makan 3x sehari, tetap ngerjain tugas, tetap tidur cepat dan selalu nyenyak, dan tetap bisa tertawa. 

Aku hanya kehilangan cinta dari seseorang yang pernah kucintai.

Dia yang mengucapkan selamat pagi padaku.

Dia yang hanya menungguku.

Dia yang merindukanku sebagaimana aku merindukannya.

Memberi semangat tiap aku kelelahan. 

Dan, kehilangan cinta itu membuat hatiku merasa hampa.

Sesuatu yang hilang memang lebih dirindukan.

Namun, saat memilikinya dulu, aku sudah melakukan yang terbaik.

Selalu berusaha ada untuknya. 

Kalo aku kesal, aku nggak akan marahin dia, ngambek dikit aja.

Aku nggak mau membuatnya nggak nyaman denganku.

Aku tekan semua ego ‘perempuan’ yang biasa dilakukan cewek sepertiku. 

Aku menerima apa yang bisa dia lakukan dan yang tidak dia lakukan.

Mempertahankannya. 

Namun, sebaik apapun aku berusaha, ketika cintanya hilang.. maka semua tak bersisa lagi. 

Aku hanya heran, bagaimana sebuah perasaan tulus bernama cinta bisa hilang begitu saja di hatinya?

Bagaimana bisa, semua rencana-rencana indah yang pernah kami bagi bersama, runtuh begitu saja?

Bagaimana bisa, harapan yang telah kami negosiasikan tak berkesan lagi di hatinya?

Yah, aku tidak bisa memaksakan perasaan seseorang..

Saat aku berkata, “ini salahku yang tak bisa membuatmu tetap mencintaiku.”

Dia menjawab, “bukan, ini sepenuhnya salahku yang tak bisa mempertahankan cinta ini padamu. Aku yang tidak bisa mengembalikan perasaanku.”

Dan kami memutuskan untuk jadi sahabat saja.

Namun memang, setelah putus, sebenarnya kami nggak punya alasan untuk saling menyapa lagi. 

Tapi, hubungan kami tetap baik. Sesekali kami chatting-an, cerita tentang perkuliahan yang melelahkan atau kabar masing-masing.

Intinya, cinta pertama itu akan jadi kenangan (dengan segala suka dan dukanya). Dan semua hal punya masanya masing-masing, ketika dia pergi, relakanlah. 

Relakan, agar ia digantikan dengan yang lebih baik.

(Ini posting-annya nggak jelas banget deh). 

Aku hanya berharap, nantinya, aku memiliki cinta sejati, seorang laki-laki yang benar-benar menyayangiku, memperlakukanku dengan baik dan dia yang akan menjadi suamiku kelak. 

Iklan