Think of any word. Search it on Google images. Write something by the 11th image.

Aku memikirkan banyak kata: cinta, benci, rindu, jujur, pendidikan, novel, hujan, dan sedih. Namun, karena yang paling awal kupikirkan adalah cinta, lantas aku mengetik Love dalam pencarian Google.

Hasilnya gambar ini:


Mari bercerita.

Kita menyukai banyak hal yang sama. 

Saat kau mengatakan menyukai A, ntah kenapa aku menyukai hal itu juga.

Saat aku bilang suka B, kau juga terlihat antusias.

Maka aku merasa ada banyak persamaan di antara kita. 

Setidaknya, aku berpikir seperti itu.

Kau suka jalan-jalan. Aku suka pantai. Dan kita sama-sama menyukai senja.

Kita akhirnya memutuskan untuk pergi ke suatu pantai. Menikmati pemandangan senja di sana.

Hingga saatnya senja datang, matahari pelan-pelan turun dari singgasananya. 

“Ayo kita berfoto!” Ajakku padamu.

“Kita cuma berdua di sini, nggak ada orang lain. Kau saja, sini biar aku yang ambil.”

Terdengar masuk akal juga alasanmu. 

“Yah, padahal aku mau sok romantis gitu, sini deh pinjem jam tanganmu.”

“Untuk apa?”

Aku melepas jam tangannya lalu mengenakannya di pergelangan tangan kananku, “Supaya bisa seperti ini.”

Aku mengangkat kedua tanganku tinggi, kusatukan keduanya hingga membentuk hati.

“Kasi arahan dong, supaya hasilnya bagus. Aku mau cahaya mataharinya seolah berpendar dari hati ini.”

“Oke, satu, dua tiga.” 

Dia mengambil satu gambar. Aku menghampirinya.

“Belum pas nih, coba lagi ya. Aku cuma mau tangan dan mataharinya aja.”

Kami mengambil beberapa gambar.

“Kenapa sih harus pake jamku segala?” Tanyamu saat perjalanan pulang.

“Nggak apa-apa. Oh ya, coba lihat gambar ini, bagus nggak? Kelihatan nggak tangan cewek dua-duanya?”

“Hm, kalo cuma dilihat sekilas, nggak kelihatan sih. Kayak tangan cowok dan cewek karena satu pake jam tangan dan satu lagi gelang cewek.”

“Oh gitu ya, padahal aku pengen foto sama kamu lho!”

Kau hanya tersenyum.

Aku terdiam. Aku mendesah pelan. Selalu seperti ini namun aku terus saja berpikir yang tidak-tidak.

Aku masih berharap kita punya banyak persamaan. Aku ingin meyakini itu.

Padahal, terbentang jutaan perbedaan yang tak ingin kuhitung. 

Kenyataan bahwa mungkin hanya aku yang merasakan semua.

Kita seperti dua orang yang secara tak sengaja bertemu di halte bus, lantas saling bertegur sapa dan sama-sama sepakat berbincang lebih mengasyikkan dari pada menunggu dalam hening. 

Bus demi bus berlalu. Sepertinya bus yang kita tunggu masih enggan mendekat.

Kita mulai tak peduli dan memilih berbicara banyak hal, mulai dari iklim yang berubah-ubah, jalanan yang berlubang, debu yang semakin banyak walau tiap hari turun hujan. Kita juga membicarakan tentang pendidikan di Indonesia, novel yang dibaca, hobi yang digemari hingga cita-cita di masa depan. 

Hanya saja, kita (lebih tepatnya aku)  tidak pernah membicarakan bus apa yang sedang ditunggu. 

Dalam hati, aku hanya berdoa semoga saja kita memiliki tujuan yang sama hingga percakapan ini bisa berlanjut lebih lama. Mungkin kita bisa berkenalan.

Suara bus yang baru tiba mengacaukan doaku, kita sama-sama melihat ke arah bus yang datang lalu kau berkata, “Well, sangat menyenangkan menunggu di sini denganmu. Senang bertemu denganmu.”

Dan kau melangkah masuk pada bus itu. 

Aku hanya terdiam, berusaha menganalisa kata-kata yang keluar dari bibirmu.

“Well, sangat menyenangkan menunggu di sini denganmu. Senang bertemu denganmu.”

Kau merasa senang ada teman yang bisa diajak bicara sembari menunggu. Kau senang bertemu denganku. Namun, kau sama sekali tak menginginkan apapun. Kau bahkan tak bertanya namaku maupun asalku. Kau bahkan tak mengatakan, semoga kita bertemu lagi. 

Kau hanya menganggapku sama dengan ratusan orang yang kau temui dalam hidupmu. 

Kau senang aku ada, namun tak apa-apa jika aku tak ada.

Sepanjang perjalanan pulang, aku mengingat khayalan busku. Aku menghela nafas pelan. Aku tahu kau tak sepayah itu. Mungkin aku memang berarti bagimu, walau tak terlalu mempengaruhimu. 

Kau mengajakku makan malam sebelum pulang.”Makan dulu yuk, laper nih. Ntar kalo sampe rumah bisa langsung istirahat.”

Setelah menikmati makan malam, kau pun mengantarku pulang ke rumah. 

“Seru ya hari ini. Makasi ya.” Ucapku berbasa-basi sambil turun dari boncenganmu.

“Ya, lain kali kita jalan-jalan lagi.”

Aku yang sudah ingin melangkah pergi tiba-tiba berhenti.

“Iya, lain kali jalan-jalan lagi.” Aku tersenyum.

“Iya, tapi maunya lain kali ajak temen-temen yang lain, biar rame dan makin seru.”

“Eh, yaaa.. siplah. Gampang itu. Hati-hati di jalan ya.” 

“Iya, makasih ya.”

Dan aku masuk ke kamar, menatap cermin. Bingung harus berekspresi seperti apa.

Iklan