Kemarin siang, Kamis, 1 Desember 2016, aku ngajak Hera makan dimsum ke Center Point. Keinginan makan dimsum ini sudah kutahan lebih dari sebulan. Bisa dikatakan, dimsum Nelayan adalah salah satu referensi makanan kesukaanku. Aku menahannya cukup lama, namun karena aku ngerasa cukup stres dan down (dan di dompet masih ada uang), aku pun chat Hera supaya kami cus ke sana. 

Awalnya, aku mengusulkan pukul sebelas siang, namun karena melihat jemuran kosong, aku memutuskan untuk mencuci baju dan menunda pergi hingga habis Zuhur. Sebelum Zuhur tiba, di daerah kosku hujan rintik-rintik lalu cerah kembali. Karena takut terlalu lama, akupun mengajak Hera gerak. Rencananya kami akan bertemu di halte sebuah sekolah. Aku naik angkot terlebih dahulu. Baru berjalan kaki beberapa puluh meter tiba-tiba hujan deras turun. Aku kelimpungan, segera mencari tempat berteduh. 

Sebenarnya aku lumayan suka hujan. Tapi kalo mau pergi ke suatu tempat untuk beberapa jam, apalagi mall dengan pendingin ruangan di segala sudut, basah kuyup, tentu tidak menyenangkan. Jadilah aku berteduh di sebuah kedai yang sedang tutup. 

Kupandangi hujan, kubuka Line, chatting-an di grup #Blogger’s Challenges, nge-chat dan sms Hera menjelaskan bahwa di sini tiba-tiba hujan dan aku nggak bisa menembusnya karena payungku sebelumnya tinggal di kosan adek. 

Payung. Huftt. 

Selama ini, jika hujan, sebagai pejalan kaki dan penumpang angkot sejati, aku selalu membawa payung ke mana-mana, baik itu musim hujan atau musim kemarau (karena musim sudah tidak jelas statusnya). Ketika berkunjung ke kos adekku, aku lupa membawanya lagi. Menyesal.. dan lebih menyesal lagi tiap hujan turun.

Aku berpikir untuk membeli payung baru namun karena pajak Aksara kebakaran, aku belum pernah menjelajahi tempat-tempat seperti itu lagi. Saat melihat payung di Indomaret, harganya cukup mahal. Aku juga pernah bertanya pada Barli, temanku yang keluarganya membuka usaha fotokopi, kebetulan aku melihat payung di jual di situ, namun saat ditanya, dia lupa harganya dan nggak berusaha mengingatnya (kayak nggak niat jualan). Dan akhirnya, alasan utamaku menunda untuk membelinya adalah karena aku sudah punya (hanya saja tertinggal di kos adek) dan aku mikir banget ngeluarin uang untuk beli itu lagi. Hahahhahahaha.

Kutatap rintik hujan yang semakin rapat. Suara hujan mengenai atap terdengar jelas dalam keheningan di pinggir jalan itu. Aku berdiri, sesekali menggoyangkan kakiku yang pegal karena terlalu lama berdiri. 

Hmm, aku lalu berpikir banyak hal. 

Kenapa aku nggak beli payung dan justru mau makan dimsum? 

Harga payung yang biasa (cukup kuat dan awet) kubeli sekitar 30-35 ribu di pajak Aksara dulu. Aku pernah beli beberapa kali selama 4 tahun ini. Harga di Indomaret di atas 50 ribu dengan kualitas nggak lebih baik dari yang 30 ribu itu. 

Awalnya, aku nggak mau beli payung karena takut persediaan uangku habis, mengingat sudah tengah ke akhir bulan. Namun, saat pulkam kemarin, aku diberi uang tambahan yang lumayan. Nah, kenapa aku nggak membelinya setelah aku sudah punya uang lagi?

Kenapa aku nggak menahan diri, menahan hasrat, menahan perut demi suatu kebutuhan jangka panjang? 

Aku lalu mengingat beberapa benda yang rasanya sudah kubutuhkan untuk dibeli seperti kaos kaki baru, dkk. 

Kenapa aku lebih memilih keinginanku ketimbang kebutuhanku? 

Kenapaaa? 

Aku lalu mengenang masa lalu. 

Sejak dulu, walaupun aku anak tunggal, tidak semua yang kuinginkan bisa langsung kudapatkan. Banyak hal yang perlu kuutarakan sebulan sebelum mendapatkannya.  Beda halnya dengan kebutuhan. Kebutuhan sehari-hari biasanya cepat terpenuhi karena orang tuaku memang mengalokasikan sejumlah uang untuk itu. Misalnya buku pelajaran, kaos kaki, buku tulis dsb. 

Buku pelajaran, baju sekolah dsb adalah kebutuhan, jadi aku mudah memintanya dan jika agak lama, aku bisa mengingatkan mereka berulang-ulang. 

Buku bacaan ringan seperti novel dan non fiksi lainnya, baju pergi-pergi adalah keinginan, yang perlu waktu lama agar bisa terpenuhi. 

Sehingga, tiap ditanyakan, “Wahidah mau apa?” 

Aku hampir nggak pernah ingat apa yang kubutuhkan, namun justru aku menjawab keinginanku. 

Pengen apel. Pengen baju. Pengen novel. Pengen martabak mesir. Pengen Mamime. Pengen dimsum lagi. Pengen pancake durian. Pengen.. Pengen.. Pengen.. 

Ada yang salah dengan pola pikirku!  Aku termenung sambil menatapi air yang membentuk genangan di beberapa sudut jalan. 

Lantas, aku tersadar, aku berpikir seperti itu karena pemilihan kata yang dijadikan kalimat pertanyaan oleh orang-orang. 

“Wahidah mau apa?”

“Wahidah pengen apa?”

Itu semua memang tertuju pada keinginan. Sesuatu yang hanya sekali-sekali saja bisa terpenuhi. 

Umm.. aku lalu tertawa, kenapa aku suka sekali menganalisis penggunaan kata? Wkwkkwkwk.

Lalu, aku teringat saat ulang tahun dan diberikan handuk oleh mamak dan selimut oleh 3G (teman PPL-ku). Aku sih senang-senang saja dikasi apapun, hahaha. Dan saat aku memakainya, aku baru menyadari bahwa dua benda itu sangat kubutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Aku juga diberikan novel dan boneka. Dua hal itu adalah hal yang kuinginkan dan kusukai. Dan saat menerimanya, aku senang sekali. 

Intinya, mendapat keinginan dan kebutuhan itu sama-sama menyenangkan (karena konteksnya diberi oleh orang lain).

Namun, manakah yang menjadi prioritas jika aku harus membeli dengan uangku sendiri?

Apa solusi dari masalahku ini? 

Sepertinya, aku harus mulai mengganti penggunaan kata keinginan menjadi kebutuhan saat dihadapkan dengan konteks pertanyaan, baik itu dari orang lain maupun diri sendiri. 

Kebutuhan terlebih dahulu.

Tahan keinginanmu, Wa. 

Agak sulit memang, tapi aku perlu berusaha lebih keras menahan diri, haha. 

Aku kan perlu persiapan untuk jadi ibu rumah tangga. Aku harus belajar dari sekarang, agar nantinya terbiasa memilih prioritas dalam membeli sesuatu. Hazzzeeekk.

Okelah, setelah berpanjang-panjang mengenang dan merenung. Aku ambil satu kesimpulan. Inti dari posting-an ini adalaaaaaaaaaaaaaahhh..

Aku butuh payung secepatnya. Hahahhaa. 

Utamakan kebutuhan daripada keinginanmu. Namun, jika kebutuhanmu sama dengan keinginanmu? What a good thing! 

Iklan