Kurindu disayangi, sepenuh hati..

Sedalam cintaku, setulus hatiku..

Kuingin memiliki, kekasih hati..

Tanpa air mata, tanpa kesalahan..

Bukan cinta yang melukai diriku..

Dan meninggalkan diriku, lagi..

Eaaaaaaakkk.. siapa yang tahu ini lirik lagu apa dan siapa penyanyinya?? 

Yak, ini sepenggal lirik dari lagu Kesepian yang dinyanyikan oleh band Dygta. 

Ini lagu kayaknya pertama kali kudengar pas SMA.

Awalnya aku ngerasa liriknya sedih banget dan terlalu lebay (mungkin karena suara lembut dan penghayatan sang vokalis dalam menyanyikannya). Kayaknya miris banget gitu hidup si tokoh dalam lagu itu. 

Tapi ternyata, pas udah ngalamin sendiri, lagu ini cocok banget buat soundtrack seseorang nangis di pojokan kamar. 

Kalo dengerin lagu ini dengan serius, aku jadi baper gitu. Wkwkkwkwk. 

Terus apa hubungannya sama posting-an kali ini?

Lirik di atas bakal aku hubungkan dengan topik #Blogger’s Challenges ke dua puluh dua yang diajukan oleh mas Arif. 

“Rindu”

Satu kata, berjuta makna. 

Yah, dalam hidup ini, kita pasti pernah merasa rindu pada seseorang atau sesuatu. 

Biasanya, kita merindukan sesuatu atau seseorang yang sedang tidak bersama kita.

Selain itu, kita merindukannya karena memiliki perasaan sayang padanya. 

Pada posting-an kali ini, aku akan curhat tentang perasaan rindu yang pernah kurasakan, haassseeekk.

Ingat ya. Yang pernah kurasakan. Bukan saat ini.

Aku rindu disayangi. 

Aku rindu dicintai.

Bukan maksudnya aku nggak dicintai atau disayangi ya! Tentunya aku punya keluarga dan sahabat yang sangat menyayangiku (dan aku menyayangi mereka), namun konteks sayang dan cinta ini mengarah pada seorang laki-laki. 

Makanya lirik lagu di atas ngena banget sama pengalamanku ini. 

Dulu, aku pernah memiliki seseorang yang kucintai dan dia juga mencintaiku (katanya). 

Dengan memilikinya, aku merasa hidupku terasa penuh. 

Aku punya keluarga, sahabat dan lingkungan yang baik. Lalu dia hadir dan menyempurnakan semuanya.

Kami terbiasa bercerita dan berdiskusi banyak hal. Kami suka bercanda dan sesekali berbeda pendapat. Kami saling merindukan. Kami menceritakan harapan dan impian di masa depan. 

(Ya, cowok yang kuceritakan di Let’s talk about first love). 

Aku masih ingat saat aku agak lama membalas pesannya, lantas dia mengirim beberapa sms lain memanggil namaku, “Waaaa..”

Pagi hari, saat melihat hp, aku melihat pesan, “Selamat pagi, sayang. Selamat belajar.” yang membuatku tersenyum. 

Sore hari dia akan menceritakan kegiatannya dan menanyakan kegiatanku.

Malam harinya, sebelum tidur ia mengucapkan, “Good night, have a nice dream.”

Dia mempengaruhiku seperti aku mempengaruhinya. 

Terlalu banyak kenangan walaupun kami hanya berkomunikasi lewat sms dan telpon (sesekali berjumpa).

Dan saat kehilangannya, aku merasa sangat rinduuuuu.

Saat rindu menggelegak, rasanya sangat menyiksa.

Aku ingin lari menemuinya, menatap matanya, memastikan bahwa dia juga merindukanku. Namun, semua itu hanya ada di kepalaku saja. 

Awalnya aku diam, menahan diri, melakukan hal lain untuk mengusir perasaan itu, namun rasa rindu itu kian membengkak. 

Akhirnya aku tidak tahan lagi. Aku mengetik sebuah pesan, bertanya kabarnya, berbasa-basi beberapa kali lalu tanpa tahu malu, aku mengatakan aku merindukannya. Dia hanya membalas dengan senyuman. 

Sebuah penolakan. Yang sebenarnya menyakitkan. 

Lega, namun sakit.

Umm.. rindu itu memang tidak tahu malu. Ia membuatku tersiksa dan harus menahan malu. Jika aku tidak mengatakannya, aku akan menderita lebih lama lagi.

Aku melakukan hal itu berulang kali, hingga suatu hari aku kebetulan bisa bertemu dengannya. 

Hubungan kami baik-baik saja. Kami berbincang dengan tenang. Diam-diam aku mengamatinya. Melihatnya baik-baik saja. Aku menatap matanya sejenak, lalu sebuah kesadaran datang padaku. 

“Aku tidak benar-benar merindukannya. Aku mungkin hanya merindukan kenangan kami. Kenangan manis yang tak kan kembali. Kenangan yang sudah tidak berarti apa-apa lagi baginya. Dan mungkin aku hanya rindu perasaan dicintai, disayangi, dihargai dan dibutuhkan. Aku mungkin merindukannya, namun aku merindukan dirinya yang dulu.”

Aku tersenyum. Pahit memang. Namun lebih baik menerima kenyataan daripada terlena dalam khayalan. 

Umm, pantas saja aku merasa sangat tersiksa, ternyata aku merindukan sesuatu yang tak bisa kembali. 

Yaaaa, jadi, kesimpulan dari tulisan ini ada tiga. 

Pertama, ternyata aku rindu pada kenangan dan yah, aku harus sadari bahwa past is past, nggak perlu lagi berharap pada sesuatu yang sudah hilang.

Kedua, aku masih merasa rindu, tapi rindu mendapatkan kasih sayang dari ‘seseorang’, bukan dirinya lagi. Hahahhahhahahhaha. Aku rindu pada dirinya yang nanti akan datang padaku. 

Ketiga, kalo kamu merindukan seseorang, sampaikan saja pada orangnya langsung. Kalo dia nya  rindu juga, berarti rindu kamu berbalas. Kalo dia biasa aja, yaudah mau digimanain lagi, terima takdir aja. Yang penting kamu nggak membohongi perasaanmu sendiri. Katakan saja selama kamu benar-benar merasakannya. Suatu saat, jika perasaan rindu itu terus menerus tak berbalas, ia akan hilang sendiri. Seperti bunga yang tak disiram, lama-lama ia akan layu dan mati.

Bagiku, jika ada yang bilang rindu padaku, aku senang sekali (biasanya mamak, adek, sodara, sahabat dan murid yang mengatakannya). Bahkan terkadang, setelah mereka mengatakan itu, aku jadi merasakan hal yang sama pada mereka. Atau jika aku memang sudah merindukan mereka, setelah mengetahui bahwa mereka juga merindukanku, rasa rinduku jadi berlipat-lipat.

Okelah, sepertinya posting-an ini nggak jelas alurnya ke mana aja, wkwkwk. Aku akhiri saja curhat gaje ini. 

Terima kasih sudah membaca. 

Iklan