Oktober 2016, aku memutuskan untuk membuat satu blog baru yaitu nurwahidahramadhani.wordpress.com.

Blog ini khusus kubuat untuk menulis segala hal tentang buku (spesifiknya sih resensi). 

Niatnya, aku pengen daftar jadi anggota BBI (blogger buku Indonesia), tapi yah.. nggak tahu deh bakal PD atau nggak.

Dari hasil blogwalking, syarat jadi anggota BBI itu harus punya blog khusus membahas tentang buku (nggak boleh post-ingan lain), minimal post-ingannya ada 5 dan umurnya 3 bulan. Namun, pas komen-komenan sama kak Hana (salah satu blogger yang kupikir anggota BBI tapi ternyata belum juga), syaratnya meningkat jadi 25 posting-an. 

Beraaaat.. beraaaat.. 

Bukan berarti nggak bisa, tapi emang terasa sulit. 

Jadi, saat ini blog bukuku itu isinya masih 4 posting-an. Aku ngerasa buat resensi buku itu nggak segampang yang dipikirkan. Perlu banyak pertimbangannya, apalagi aku nggak punya pengalaman buat tulisan resensi.

Dulu, kukira, buat resensi itu paling gampang di antara non fiksi lainnya.

Gampang di sini bukan sepele ya. Maksudnya, nulis resensi itu kan berasal dari satu buku, kesan apa yang kita rasakan saat membacanya. Kita hanya perlu fokus pada bacaan tersebut. Sumber utama tulisan kita ya berasal dari buku yang dibaca (beda dengan esai dkk di mana kita harus banyak membaca dan cari data lainnya).

 Tapi ternyata, nulis apapun itu nggak pernah gampang kalo kita punya standar dalam menuliskannya. Jadi, sekarang, tiap baca tulisan apapun, aku bener-bener lebih menghargai penulisnya.

Nah, balik lagi ke pembahasan awal, buku dan blog.

Saat ini aku sering ngerasa bersalah tiap baca buku. Pertama, aku ngerasa bersalah pada skripsiku. Kok bisa-bisanya baca sesuatu yang nggak berkaitan dengan materi skripsi? Kenapa baca novel enak banget, fokus banget sedangkan baca satu paragraf jurnal langsung ketiduran? 

Kedua, aku ngerasa bersalah karena sehabis membaca, aku kok susah banget nuliskan resensinya. Kenapa? Dalam dua bulan ini aja, aku udah baca Ally All These Lives-nya Arleen A, Persuasion-nya Jane Austen, Holy Mother-nya Akiyo, Dilan 1990 Pidi Baiq dan Ninevelove-nya J.S Khairen, tapi satupun belum kutulis resensinya. 

Memang sih baru 5 novel dalam dua bulan (hiks, tingkat membacaku makin rendah sekarang), tapi yaa, aku numpuk-numpuk daftar tulisan yang mau kubuat, ya kan? 

Ntar makin lama, basi dong tulisannya. 

Ntar makin lama, pudar dong kesannya. 

Ahhh, aku pengen proposalku selesai dulu, biar agak tenang hati ini. 

Iklan