Hai my sweet readers!

Kalo baca judulnya, kayak orang lagi hopeless gitu ya. 

Nggak, aku nggak bermaksud seperti itu. 

Seperti yang kamu lihat di judulnya ada embel-embel #BC yang artinya tulisan ini ditujukan untuk proyek #Blogger’s Challenges dan angka 23 yang artinya topik kedua puluh tiga.

Topik kali ini diberikan oleh mas Boy. 

Alasan untuk tetap hidup.

Beraaaaaaaat. Beraaaaaaat.

Serasa masuk mata kuliah Filsafat dan dapet tugas buat esai mengenai eksistensi kehidupan manusia. 

Kalo dipikir-pikir, kenapa dosen kalo ngasih tugas kuliah nggak pernah minta kita nulis apa yang ada di pikiran kita? Kemudian saat dikumpulkan, didiskusikan bersama? Kenapa kita hanya disuruh cari di internet? Padahal sesuatu yang berasal dari buah pikiran dan pengalaman, akan lebih lengket di otak. 

(Apasih, Wa!)

Oke oke, kembali ke pembahasan. Topik kali ini emang mengingatkanku pada pertanyaan-pertanyaan mendasar seputar filsafat seperti: siapakah aku? Kenapa aku ada? Kenapa aku hidup? Untuk apa? 

Menuliskan topik seperti ini aku merasa harus benar-benar berpikir keras. Aku takut salah berpikir.

(Readers, nanti tolong koreksi ya!)

Kenapa aku hidup? Untuk apa aku hidup? Apa alasan aku ingin tetap hidup?

Kalo bicara sederhananya (tanpa berpikir panjang) aku hidup karena udah ditakdirkan hidup. Dan alasanku ingin tetap hidup ya karena aku masih hidup. 

Piuuh, kalo aku jawabnya seperti itu, kelihatannya aku nggak peduli mau hidup atau nggak. Seems like, hidup tanpa arah dan tujuan. 

Hidup tidak seremeh itu, bung!

Akupun mulai merenung. Dan hasilnya, aku berpikir seperti ini.

Pertama, hidup ini sangat berharga. Sejak sebelum lahir aku sudah menjadi pejuang. Aku adalah satu dari sejuta sperma yang berhasil bersatu dengan sel telur dan berkembang menjadi zigot lalu embrio. Dan sekarang, menjadi manusia utuh yang semakin dewasa. Setiap harinya, aku diberikan rezeki yang melimpah sehingga aku bisa hidup dalam keadaan yang baik. Hidup itu sangat berharga. Hidupku adalah pemberian dari Tuhan dan perjuangan dari orang tuaku dan diriku sendiri. 

Kedua, hidup itu adalah pengabdian. Kata-kata ini selalu kudengar dari mamakku sejak kecil. Manusia diciptakan Allah hanya untuk mengabdi pada-Nya. Mengabdi di sini bisa diartikan beribadah hanya pada-Nya. Selain itu, aku hidup di dunia ini untuk melakukan kebaikan. Tidak ada yang lebih indah selain hidup dan membawa manfaat bagi manusia dan alam sekitar. Sejak diberi nama Nurwahidah Ramadhani, aku diharapkan menjadi cahaya dan pribadi yang berlomba-lomba menjadi yang pertama dan utama dalam membawa keberkahan pada orang lain. Dan aku akan terus berusaha melakukan yang terbaik.

Ketiga, hidup di dunia ini adalah bekal untuk kehidupan akhirat. Hm, semua makhluk yang hidup akan merasakan kematian. Kemana kita setelah mati? Sejak kecil aku percaya bahwa nantinya manusia akan dihisab semua amal dan perbuatannya. Kita hidup saat ini untuk mempersiapkan kehidupan kita di akhirat nanti. Hidup di dunia ini hanya sementara, sedangkan hidup di akhirat nanti kekal selamanya. Jadi, aku ingin hidup saat ini untuk menabung kebaikan. 

Keempat, aku ingin hidup untuk membahagiakan dan mendoakan orang tuaku. Yaa, nggak ada yang lebih berharga di dunia ini selain orang tua. Aku selalu berharap dan berdoa agar mereka selalu bahagia. 

Kelima, aku ingin hidup untuk bersama orang-orang yang menyayangiku dan kusayangi (termasuk orang tua, suami dan anak nantinya, sahabat dll).

Keenam, aku ingin mengejar keinginan-keinginanku dalam hal keduniawian (bisa kalian baca di posting-an rencana hidup 5 tahun ke depan).

Hm.. inilah yang bisa kutulis untuk #Blogger’s Challenges kali ini. Terima kasih mas Boy karena memberi topik ini. 

Readers, gimana denganmu? Apa alasanmu ingin tetap hidup?

Iklan