Aku buru-buru masuk ke dalam kamar, membanting tubuh di atas tempat tidur lalu menangis. Dua jam menahan air mata dan mendengarkan debat di rapat membuat kepalaku pening. Aku sengaja tidak menghidupkan lampu. Aku ingin sejenak tenggelam dalam gelap. Kenapa aku menceritakan semuanya pada Fida? Tentang semua luka itu. Kegagalanku dalam mempertahankan cinta. Kehilangan cinta dari orang yang kucintai. Tentang diriku yang kehilangan kepercayaan diri dan keinginanku untuk merasakan indahnya dicintai.

Aku masih ingat raut terkejut yang berusaha Fida tutup-tutupi saat mendengar kisahku. Kenapa orang menganggapku sempurna dan penuh kebahagiaan? Yah, aku akui aku memang bahagia. Namun, setiap orang pasti pernah merasakan luka, ya kan?

“Naa.. jujur aku juga nggak tahu harus bilang apa. Aku ngerasa apapun yang kamu lakukan selama ini, yaa, setidaknya selama setahun ini di organisasi ini, adalah dirimu yang sebenarnya. Mungkin memang kamu yang sekarang bukan dirimu yang dulu, tapi aku pribadi suka sama sikap kamu. Menurutku, kamu nggak berpura-pura kok,” dia berhenti sejenak, “Dan mengenai masalah laki-laki.. aku rasa kamu belum menemukan yang terbaik. Kamu harus yakin bahwa nantinya, akan ada laki-laki yang benar-benar cinta sama kamu dan nggak akan bosan denganmu. Yang akan selalu menganggap kamu unik dan luar biasa. Yang nggak akan nyia-nyiain kamu.”

Aku tersenyum mengingat ucapan Fida tadi. Dia pasti bingung melihatku menangis saat menghampirinya, apalagi dia harus mendengarkan rahasiaku padahal kami tidak begitu akrab sebelumnya. Namun ntah mengapa, aku ngerasa nyaman bicara dengannya dan kalau dipikir-pikir, jawabannya lumayan bagus. Sepertinya aku harus mempertahankan hubungan pertemanan kami ini.

Aku menghela nafas, perasaanku sudah jauh lebih baik. Menangis memang bisa diandalkan untuk mengeluarkan hormon stres yang menumpuk. Kuhidupkan lampu kamar lalu kembali berbaring di atas kasur. Kenapa luka ini terbuka lagi? Aku heran, kupikir aku hampir lupa semuanya. Ah yaa, ini pasti karena diskusi tentang rindu dan kehilangan beberapa hari lalu. Saat ada yang bertanya mengenai dua rasa itu, aku sama sekali tidak merasakan apapun. Aku bahkan sempat berpikir aku tidak punya rasa rindu atau pernah kehilangan sebelumnya. Namun, ternyata, pertanyaan itu memicu berbagai ingatan. Kenangan pelan-pelan datang tanpa suara dan menusukku sambil tersenyum. Hal ini diperparah dengan bacaanku yang mendadak menye-menye dan lagu-lagu sedih yang sering terdengar di sekitarku.

Aku mengamati rak buku, aku perlu membaca sesuatu. Sesuatu yang bersifat positif. Tatapanku jatuh pada sebuah buku, yang kubeli dengan rasa bahagia namun sulit untuk dibaca hingga selesai. Terapi Berpikir Positif oleh Dr. Ibrahim Elfiky.

“Masalah hanya ada dalam pikiran. Pemimpin yang tidak Anda sukai hanya ada dalam pikiran Anda. Teman yang tidak Anda tegur sejak bertahun-tahun hanya ada dalam pikiran Anda. Masalah yang Anda hadapi pada waktu kecil dalam keluarga, hanya ada dalam pikiran Anda. Sejatinya, segala sesuatu tetap ada dalam pikiran meski sudah terjadi sekian lama atau akan terjadi di masa akan datang. Pikiran adalah awal dari segala sesuatu. Agar dapat makan, Anda harus berpikir, konsentrasi, kemudian merasa lapar. Agar dapat minum, Anda harus berpikir haus…… Agar dapat menangis, Anda harus memikirkan sesuatu yang Anda dengar, Anda baca atau kenangan yang ada dalam ingatan Anda. Agar dapat bahagia, toleran, dengki, cinta, berbuat sesuatu, dan lain-lain, maka yang pertama kali harus anda lakukan adalah berpikir.” (Hal: 142-143)

Halaman ini sudah kubaca sebelumnya, bahkan sudah kutandai dengan highlighter. Namun, pemahaman ini terasa seperti pertama kali menamparku.

Aku berjalan menuju cermin, menatap diriku sendiri, “Aku hanya perlu berpikir aku bahagia, dicintai, dan memiliki segalanya. Aku seharusnya selalu bersyukur.”


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendi (link blog Jia)


P.s: Aku tahu lomba ini saat baca tulisan salah satu peserta lomba di twitter. Hadiahnya satu paket buku (Blue Valley series) yang sangat keceeeeeeeeh. Semoga aku menang, :D.

blue-valley.png

Fyi, sebelumnya aku udah cerita tentang Luna di postingan Tentang Dicintai.

Iklan