Hai my lovely readers!

Saat aku lagi baca potongan jurnal C Nuttall tahun 2005 yang bahas tentang Teaching Reading Skills in a Foreign Language tiba-tiba aku ingat momen saat aku ngajar PPL tahun lalu. 

​Momen berharga. Momen pertama kali aku ngajar mata pelajaran bahasa Inggris secara formal di dalam kelas. 24 jam seminggu. Berasa PNS. HAHAHA.

Pasalnya, Nuttall membahas tentang masalah yang dihadapi siswa saat membaca.

Problem: students do not have a big enough vocabulary. 

(Moderat L1 readers = 50.000 words)

Salah satu masalah siswa dalam memahami bacaan yaitu siswa nggak punya banyak kosa kata. Harusnya, agar bisa jadi pembaca yang oke, kita harus tahu sekitar 50.000 kata.

Gila nggak breeh? 

50.000 kata lhoo!

Ya kalo orang Indonesia baca tulisan bahasa Indonesia, 50.000 kata bisalah ya. Itupun belum tentu ngerti semuanya. Tapi karena kita punya prior knowledge/previous knowlegde (pengetahuan awal, pengetahuan di luar teks) dan ngerti konteks bacaan, satu dua kata sulit mah nggak masalah. Dianggap ngerti aja. 

Sejujurnya, aku setuju sama pernyataan Nuttall ini. Bagi orang Indonesia, tahu 50.000 kata bahasa Indonesia itu sama konteksnya dengan yang Nuttall jelaskan di atas. Soalnya dia nyinggung L1 (yang artinya bahasa pertama, bahasa ibu dari seseorang tersebut).

Nah, kalo orang Indonesia yang first language-nya (L1) bahasa Indonesia, harus punya modal 50.000 kata bahasa Inggris supaya dianggap mapan dalam membaca teks-teks bahasa Inggris, rasanya agak amazing ya. 

Lantas, apa sih efek dari kurangnya kosa kata si pembaca (khususnya siswa) terhadap kemampuan memahami bacaan?

Um, Nuttall bilang, “Too much dependence on dictionary, it caused slow down reading, interrupt thinking.”

Terlalu sering buka kamus bisa bikin kecepatan membaca siswa berkurang, belum lagi dia harus ngulang bacaannya untuk disinkronkan dengan kata yang baru didapatnya dari kamus tadi.  

Waaah.. makin banyak dong alasan orang untuk nggak baca terutama bacaan bahasa Inggris. Wkwkkwkwk.

Tapi tenang aja, Nuttall kasih diskon di kalimat selanjutnya. 

How many words do students need to have?

5.000 words: to start independent reading.

2.000 words: preparation for independent reading with carefullu chosen texts. 

Dibutuhkan sekitar 5.000 kata untuk siswa mulai membaca dengan tenang (tanpa harus selalu bolak balik buka kamus) atau 2.000 kata untuk mempersiapkan mereka membaca, itupun dengan bacaan yang sudah dipilih (sesuai dengan kemampuan membaca mereka). 

Aku sih setuju dengan perkiraan Nuttall ini. Apalagi kalo untuk pelajar menengah (SMP dan SMA) yang teks dan strukturnya masih terbilang sederhana.

Nah, itu kan fakta yang diceritakan Nuttall di luar negeri sana. Aku juga punya fakta yang aku rasa perlu aku ceritakan pada kalian, pembacaku. 

Fakta ini cukup miris dan bikin aku terkejut, sedih, prihatin di waktu yang bersamaan. 

(Hm, menghela nafas)

Aku cerita dikit ya, biar nggak kaku banget pembahasannya. 

Sekitar seminggu setelah aku masuk ke kelas, akupun harus menyesuaikan cara pembelajaran yang bisa dibilang sangat konvensional. Guru cukup nerangin materi dikit lalu nyuruh siswa ngerjain soal di buku teks. 

Tapi lama-lama aku ngerasa nggak pas. Karena, jangankan ngerjain soal (yang umumnya text lalu siswa diminta jawab sesuai text), bahkan ngartikan I go to school aja nggak bisa. 

Gimana mereka bisa memahami teks kalo satu kalimat aja butuh waktu lamaaa banget ngartikannya. Semua kata dicari di kamus dan diartikan secara literal. 

Satu per satu. 

Jadi, aku terkadang iseng, ngasih 10 kalimat sederhana dalam bahasa Indonesia terus minta mereka buat dalam bahasa Inggris. 

Kalimatnya kubuat sesederhana mungkin supaya mereka nggak ribet mengenai strukturnya. Dan kalimat-kalimatnya langsung ngena ke kehidupan mereka sehari-hari, seperti:

Aku makan nasi

Aku punya tas

Aku menulis di buku

Kebetulan, siswa di situ diwajibkan punya kamus. Jadi, aku pikir mereka bisa mengerjakannya. 

Lalu, akupun pelan-pelan berjalan ke masing-masing meja, memperhatikan mereka menulis soal.

Butuh waktu yang lama bagi mereka menyalin soal padahal pake bahasa Indonesia. 

Aku jadi mikir, kalo nulis bahasa Indonesia aja selama ini, gimana ngerjainnya?

Aku berhenti di satu meja. Seorang anak perempuan sudah selesai mencatat soal namun tangannya hanya memegang kamus tanpa membukanya.

Aku: Kok nggak dikerjain sayang? 

Siswi: Iya miss, bentar lagi.

Akupun kembali melihat meja lainnya. Beberapa menit kemudian aku kembali melewati mejanya.Saat melihat nggak ada progress di buku tulisnya, aku bertanya.

Aku: Lho? Kok masih belum dikerjain?

Dia menatapku.

Siswi: Miss, gimana caranya pake kamus ini? 

Nah, lho? Aku terkejut sekali. 

Kulihat dirinya lalu kamus yang dipegangnya. Seingatku, aku masuk di sekolah itu sekitar sebulan pembelajaran. 

Aku: Kamu nggak bisa pake kamus? (Berusaha memastikan).

Siswi: Iya miss.

Aku agak speechless gitu. Tapi aku nggak mau membuatnya down.

Aku: Jadi, selama ini kalo ngerjain tugas yang dikasi bapak (pamongku) gimana?

Siswi: Ya gitu deh miss.

Aku: Oh yaudah sini miss ajarin ya. Coba, kita mau cari kata apa?

Siswi: Saya miss. 

Omaigat. Nyari kata ‘saya’ di kamus? 

Aku: Oke, nah coba perhatikan baik-baik ya. Di kamus ini ada dua warna. Warna ini untuk abjad bahasa Indonesia. Warna itu untuk abjad bahasa Inggris. (Aku lupa warnanya, hehe.. kalo nggak salah merah dan biru). Jadi, yang mau dicari itu kan bahasa Inggrisnya ‘saya’, saya itu bahasa Indonesia. Jadi, kamu harus cari di sebelah mana?

Diapun menunjuk deretan abjad bahasa Indonesia.

Aku: Nah, pinter. Sekarang kamu perhatikan, kata ‘saya’ itu awalannya apa?

Siswi: S miss.

Aku: Nah, coba cari kata saya di abjad S. 

Diapun memegang kamusnya, membaca satu per satu kata yang ada. Cukup lama hingga akhirnya dia mendapatkan kata yang dicarinya.

Siswi: Miss, di sini kok banyak kali bahasa Inggrisnya saya?

Omaigaat. Gimana ya cara jelasinnya. Gimana aku jelasin masalah jenis-jenis pronoun? 

Aku: Oke, biasanya, kata pertama yang sering digunakan. Coba lihat, kata pertamanya apa?

Siswi: I miss (pengucapannya benar-benar ‘i’ dalam bahasa Indonesia).

Aku: Itu bacanya ‘ai’ ya sayang. Bener, bahasa Inggrisnya saya itu I. Sekarang tulis di bukunya. Coba sekarang cari kata ‘makan’. Tahu bahasa Inggris makan?

Siswi: Nggak miss.

Aku: Nah, coba cari kata makan.

Siswi: Huruf ‘m’ kan miss?

Aku: Cari dulu.

Diapun mencari lagi. Lama aku menunggu hingga dia dapat kata itu.

Siswi: Eat ya miss?

Aku: Yaa. Pinter. Nah, sekarang tulis ya. Cari yang lainnya. Oke?

Siswi tersebut mengangguk.

Karena pegal akibat kelamaan berdiri, akupun duduk di bangku guru. Kuperhatikan siswaku semua. Jangan-jangan mereka kesulitan memakai kamus semua? Gimana cara ngajarinnya (apalagi mereka sulit memperhatikan). 

Baru beberapa menit aku duduk, tiba-tiba siswi tadi datang ke mejaku.

Siswi: Miss, bahasa Inggrisnya nasi, ini ya miss? (Dia menunjukkan sebuah kata di kamus).

Aku: Iya.

Diapun kembali ke mejanya. Tak sampai semenit kemudian, dia kembali menghampiriku.

Siswi: Miss, untuk soal nomor dua. Aku nya tetap pake I tadi?

Haaa? Pertanyaan macam apa itu? 

Aku: Iyaa sayang. Kan hampir sama dengan kalimat pertama. 

Siswi: Oke miss.

Aku agak tersenyum. Antara geli dan kesal. Tiba-tiba dia muncul lagi. 

Siswi: Miss, bahasa inggris ‘punya’ yang ini ya? (Dia menunjuk kata punya: have)

Aku: Iyaaaaaa. Kerjain dulu semuanya ya sayang.

Kemudian dia datang lagi.

Aku: Apalagi sayang?

Siswi: Miss, bahasa Inggrisnya tas yang ini ya? (Dia menunjuk kata bag).

Aku: Iyaaaaaa. Sayang, tolong kerjain dulu ya semuanya. Coba kerjain sendiri, nanti miss periksa. Tenang aja. 

Diapun kembali ke bangkunya. Saat dia mau berdiri, aku langsung kasih isyarat untuk tetap duduk di bangkunya dan mengerjakan sisanya sendiri. 

Untuk beberapa pertemuan selanjutnya si siswi itu rajin banget datengin mejaku untuk memastikan kata-kata yang dicarinya. Walaupun udah kusuruh cari sendiri, tapi dia tetep kekeuh mendatangiku. Kemudian, setelah kurasa dia cukup mahir menggunakan kamus, akupun mengajarinya tips cepat mencari kata di kamus dengan memperhatikan kata di sudut atas kamus. Jadi dia nggak perlu cek satu per satu kata yang ada di kamus itu, dia cukup melihat urutan kata di pojok atas untuk melihat apakah kata yang dia cari sudah dekat atau belum. 

Aku sempat bersyukur nggak begitu sering menggunakan kata-kata  yang memiliki imbuhan seperti ‘memakan’ ‘memasak’ ‘mencintai’ karena aku yakin aku perlu mengajarkan mereka untuk cari kata dasar dari kata tersebut (tapi pada hari-hari berikutnya aku ajarin juga cara nyari kata yang menggunakan imbuhan dan aku nggak yakin mereka bisa mengingatnya). Di kamus kan nggak ada kata memakan dkk, yang ada makan lalu dalam penjelasannya baru disinggung mengenai bahasa Inggris memakan. 

Memang sih, kalo dipikir-pikir mereka masih kelas 7 (1 SMP). SD kan nggak ada UN bahasa Inggris dan memang bahasa Inggris itu asing banget bagi mereka. Tapi, setahuku, saat ini bahasa Inggris udah diajarkan setidaknya di kelas 5 dan 6 (waktu zamanku dulu, aku belajar bahasa Inggris di kelas 6). 

Nah, kalo pake kamus aja nggak bisa, terus mereka belajarnya apa aja selama ini?

Dari kejadian ini aku menemukan fakta bahwa masih sangat banyak anak Indonesia yang sangat-sangat asing dengan bahasa Inggris dan nggak bisa pake kamus!

Jadi, boro-boro 50.000 kata, atau didiskon hingga 2.000 kata. 100 kata aja udah hebaaaat banget (dalam kasusku tadi, bahkan bisa dikatakan kosa kata mereka di bawah 50 kata).

Awal aku menyadari fakta ini. Aku bener-bener nggak percaya. Tapi, setelah kupikir-pikir, iya juga sih. Soalnya, pas aku tamat SD (2006) aku juga tahunya bahasa Inggris itu cuma: I love you (aku cinta kamu) dan beautiful (cantik) serta beberapa kata sederhana termasuk angka 1-10. 

Tapi yaa, dulu akses bahasa Inggris itu emang belum banyak di daerahku. Beda dengan sekarang. Tapi kok kejadiannya sama aja dengan masaku dulu? Ckckkck.

Nah, saat aku ingat itu akupun jadi tersenyum malu. 

Dulu juga aku nggak pande pake kamus. Tapi, seingatku nggak pernah juga diajarin guru. Paling aku merhatiin kawan yang udah bisa terus tanya-tanya dikit aja (karena emang aku jarang pake kamus, aku lebih sering memperhatikan penjelasan guru dan berusaha mengingatnya). 

Di hari-hari terakhir aku ngajar, siswi tadi memberiku sepucuk surat. Yang kira-kira begini isinya (karena aku belum niat membongkar kardus berisi file-file PPL -ku yang ada di bawah tempat tidur):

Untuk Miss Wawa tersayang. 

Terima kasih ya Miss sudah ngajarin saya. Maafin saya kalo saya sering bikin miss marah. Saya sayaaaang kali sama miss. 

Saya juga mau bilang terima kasih karena miss udah ngajarin saya pake kamus. 

Sebelumnya saya benci kali pas bapak maksa saya beli kamus. Saya pikir untuk apa beli kamus! Saya nggak bisa pakenya. Nggak perlu beli kamus. Tapi miss sabar kali mau ngajarin saya biar bisa pake kamus. Saya jadi senang punya kamus. Karena miss saya sekarang udah ngerti pake kamus. Nanti saya juga mau pintar kayak miss.

Oh ya, miss juga pernah marah sama saya dan ngasi saya hukuman tapi saya sadar itu karena kesalahan saya yang nggak ngerjain tugas. Jadi miss udah saya maafkan. Miss maafkan saya juga ya. Miss jangan lupa sama saya. Saya sayang miss.

Saat pertama kali aku membaca surat itu, aku menangis pelan. Ah, ya ampun, aku nggak nyangka hal seperti itu bisa berpengaruh besar pada seorang anak. 

Padahal aku cuma ngajarin dia pake kamus. Itupun aku ngerasa nggak bener-bener sabar ngajarinnya karena setelah hari itu aku selalu nyuruh dia cari kata-kata sendiri, jangan bentar-bentar nanya sama aku. Biar dia nggak ketergantungan. Namun baca suratnya, aku jadi ngerasa bersalah nggak lebih total ngajarinnya. Hiksss. 

(Kan aku jadi terharu lagi padahal cuma ngingat ini doang)

Sebelum mengalami kejadian ini, aku sama sekali nggak pernah berpikir untuk ngajarin siswa (apalagi SMP) gimana cara gunain kamus. Aku kira, itu hal yang nggak perlu diajarkan. Udah bisa (dianggap bisa). Namun, kenyataan ini membuatku berpikir ulang. 

Walaupun ada anak yang bisa menggunakan kamus tanpa diajarin, namun udah jadi tugas seorang guru bahasa (baik itu bahasa Indonesia atau bahasa Inggris) untuk memperkenalkan kegunaan kamus. 

Sepele memang. Namun ini salah satu hal mendasar yang perlu diingat oleh guru. 

Jangan sampe guru ngeremehin siswa yang nggak bisa pake kamus.

Jangan pernah bilang “Masa nggak bisa pake kamus sih udah setua ini?” 

Jamin, mereka bakal berpikir untuk mundur dan nggak belajar. 

Seandainya kita nggak sengaja melontarkan kata-kata seperti itu, kita harus buru-buru memperbaiki bahasa yang digunakan. Ubah kalimat tajam tadi menjadi candaan (karena agak sulit juga guru langsung minta maaf) dan tunjukkan bahwa kita serius ingin membantu mereka. 

A: Masa kamu nggak bisa pake kamus sih? Udah tua gini juga! (Terdiam) Eh, tapi wajar sih. Saya juga dulu nggak bisa pake kamus. Coba, mana yang mau dicari, kita cari sama-sama ya. 

Dan jangan lupa tersenyum. 

Kamu punya fakta mengajar lainnya yang perlu diperhatikan oleh guru? Silakan share di kolom komentar ya! 

Iklan