Hi my lovely readers!

Aku nggak maksud untuk posting lagu Taylor Swift yang judulnya Bad Blood kok.

Aku juga nggak pengen cerita tentang hubunganku sama mantan kayak Tay cerita hubungannya sama mantan kesekiannya yang nggak bagus setelah mereka putus.

Kenapa nggak cerita mantan, Wa?

Ya karena dia udah jadi mantan. Ngapain diceritain, hihi. Mending ceritain si doi, ya kan? Wkwkkw.

(Becanda)

Ya karena hubungan kami baik-baik sajaaaaaaaa. Syalalala.

Hubungan kami nggak bad blood, wkwkwk.

(Ngawur! Oke, bakal serius, aku mulai cerita nih yaaaaa)

*

Pada bagian pertama penutup buku Terapi Berpikir Positif, Biarkan Mukjizat dalam Diri Anda Melesat agar Hidup lebih Sukses dan lebih Bahagia karya Dr. Ibrahim Elfiky, beliau membuka tulisannya dengan narasi yang sangat kusukai.

Mari berpikir sejenak. Jika para dokter bedah melakukan operasi dan mengeluarkan semua pikiran Anda, apakah Anda masih akan menghadapi masalah? Tentu tidak. Sebab, masalah hanya ada dalam pikiran.(Hal 142)

Sangkin sukanya, aku memasukkan kalimat-kalimat ini dalam cerpenku yang berjudul Tentang Kehilangan (baca yaah, #kedip-kedipmata)

Nah, jika mau jujur, apa yang dikatakan beliau memang benar. Masalah itu muncul hanya di pikiran kita. Ia menggerogoti kepercayaan kita terhadap sesuatu. Pikiran membuat kita mencari-cari semua bukti pendukung yang sesuai dengan persepsi kita.

Di postingan ini aku ingin berbicara satu poin yang diutarakan Dr. Ibrahim dengan lebih serius. Tentang pertemanan.

Teman yang tidak Anda tegur sejak bertahun-tahun hanya ada dalam pikiran Anda. (Hal 142)

Aku sering sekali dilema ketika harus berkomunikasi dengan teman lama. Pasalnya sederhana, kami sudah tidak bertegur sapa sejak lama dan tidak pernah ngobrol baik di dunia nyata maupun maya. Awalnya dekat, lama-lama jadi ngerasa jauh dan ntah kenapa nggak ada usaha untuk saling menyapa.

Permasalahan ini bahkan pernah sangat serius melukaiku saat masih SMP.

Saat SD, aku merasa punya posisi kuat di kehidupan teman-temanku. Lantas, saat SMP kami pencar. Masih satu sekolah, namun beda kelas. Ntah bagaimana, mereka terlihat asyik dengan pertemanan baru hingga aku ngerasa jauh sama mereka. Walau sudah berusaha negur, sok akrab, tapi emang situasinya udah beda.

Mungkin karena saat itu masih SMP, aku jadi tenggelam dengan masalah yang kubuat sendiri. Akhirnya, akupun lebih suka sendiri dan membaca buku juga menulis cerita.

Aku bersyukur karena kejadian itu mendorongku untuk melakukan hal positif lainnya.

Tapi, yang ingin aku koreksi di sini adalah kesalahanku dalam berpikir saat itu (dan mungkin masih terjadi juga hingga saat ini).

Aku berpikir kalau sudah jauh fisik, ya sudah, susah berhubungan lagi. Tidak ada jalan kecuali dua-duanya sama-sama saling mengingat.

Namun, ingat seseorang belum tentu harus selalu berteleponan atau smsan kan?

Karena satu kesalahan dalam berpikir tadi, hal-hal yang terjadi selanjutnya mengikuti premis itu.

Contoh lainnya:

Aku masuk organisasi, lalu bikin ulah. Dalam organisasi itu banyak sekali teman dekatku namun karena aku jarang datang dan berpartisipasi, aku mulai berpikir ada jarak di antara kami.

Karena aku berpikir seperti itu, hal selanjutnya yang terjadi adalah, aku agak nggak nyaman kalau bertemu mereka. Dan mereka pun mungkin kesal atas sikapku. Kami mulai berjalan semakin jauh. Yang dulunya selalu bertegur sapa bahkan sampai curhat hal-hal sensitif dan pribadi, sekarang, nomor hp pun sudah tak disimpan lagi.

Masalahnya apa?

Ya sebenarnya nggak bisa dianggap masalah jika aku emang ngerasa nggak bakal perlu lagi dengan mereka. Mereka toh juga nggak butuh aku.

Tapi, jauh di sudut hati ini, tersimpan keinginan untuk sesekali menyapa mereka walaupun aku tidak membutuhkan bantuan.

Aku rindu juga pada mereka.

Namun, karena aku mikirnya udah ‘bad blood’, persepsi ini membuatku mundur untuk sekedar menyapa.

Nggak enak.

Nggak tahu harus ngapain.

Nggak tahu mau bicara apa.

Pengennya disapa duluan.

(Kementelan)

Terkadang aku tenggelam dalam pikiran seperti itu, namun terkadang ada kenyataan-kenyataan yang membuaku harus berpikir ulang atas pikiran negatif tersebut.

Misalnya saja, ada satu waktu di mana aku tidak sengaja bertemu mereka. Lantas mereka menyapaku, bertanya tentang kegiatanku bahkan mengajakku makan.

Awalnya aku ngerasa canggung, tapi lama-lama lumayan enjoy. Kami pun kembali saling bercerita tanpa mengungkit masalah sebelumnya.

Ternyata, kenyataannya tidak seperti itu.

Ternyata, hubungan kami baik-baik saja.

Walau memang kami pernah saling nggak enak bahkan mungkin saling kesal satu sama lain.

But, it was past! Time will heal the pains.

Setelah kejadian itu, persepsiku berubah.

Aku justru mentertawai sikap kekanak-kanakanku. Bisa-bisanya aku berpikir sepicik itu?

Namun, ada kalanya aku bertemu dengan teman yang lain. Aku membawa pikiran positif bahwa kami bisa kembali akrab tapi nyatanya tidak. Ada gap di antara kami. Dan sulit di seberangi.

Nah, pikiran negatif tadi merasuk lagi. Dan mempengaruhi caraku berpikir pada kesempatan selanjutnya.

Aku akui, pikiran negatif umumnya lebih bertahan lama dibanding pikiran positif.

Ia akan terus mengendap dan membesar hingga suatu hari, taraaaaa… kesan positif dari teman membuatku kembali positif.

Up and down.

Siklus itu terus terjadi di setiap pertemanan dan pertemuan.

Ngerasa bingung, lucu, tolol dan benar di saat yang bersamaan.

Dan itu semua terjadi karena aku belum bisa mengendalikan pikiranku seutuhnya.

Tapi, buku ini bener-bener membuatku berpikir ulang atas semuanya (kuakui aku sudah sering memikirkannya, namun isi buku ini menegaskannya).

Mengingat permasalahan-permasalahan lalu, menertawakan keputusanku yang lucu dan bersyukur saat aku mulai membuka diri.

Dalam hidup selalu ada penerimaan dan penolakan. Namun, kita sering ingat hanya saat ditolak saja.

Nah, ini yang harus di kendalikan.

Pikiran manusia selalu membangun kenyataan hidupnya yang terakhir . (Hal 137)

Itu memang fakta. Kita cenderung mengingat sesuatu yang baru saja kita alami dan berpikir serta bertindak sesuai dengan kejadian itu.

Karena satu kenyataan yang tidak pas dengan keinginan kita, lantas kita langsung berasumsi negatif. Menyedihkan.

Hal ini mengingatkanku dengan nasehat seorang dosen yang pernah mengajar mata kuliah Psikologi Pendidikan (beliau hanya masuk di hari pertama, kemudian digantikan oleh dosen lain).

Jangan terlalu percaya dengan pikiranmu sendiri. Jangan percayai semua kebenaran yang ada dalam pikiranmu. Terkadang, apa yang menurutmu benar belum tentu kebenaran yang sebenar-benarnya. Kita perlu cross-check apakah itu memang benar, atau hanya pandai-pandaian kita saja. Kita perlu bicara dengan orang lain (banyak orang). Kita perlu melihat dalam gambaran yang lebih besar.

Pada akhirnya, apapun yang kita percayai akan menuntun langkah kita selanjutnya. Semua terserah pada kita, apakah kita masih mau tenggelam dalam persepsi yang salah atau mau berusaha membuka diri atas kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik.

Aku pribadi berharap pikiran negatif bisa tercerabut hingga akarnya dari pikiranku. Aku sudah pernah merasakan tidak enaknya hidup akibat masalah yang ditimbulkan pikiran sendiri. Cukup. Dan aku menulis ini supaya bisa jadi catatan pribadiku nantinya.

Aku juga ingin menyemangati diriku dan pembaca blogku tersayang untuk berani melakukan aksi walaupun pikiran negatif menghalangi.

Coba dulu, baru tahu.

Buktikan dulu, jika hasilnya mengecewakan, ulangi lagi, lagi dan lagi. Hingga negatif itu memudar dan pikiran kita lebih terbuka akan hal-hal positif.

Dan jangan lupa untuk banyak membacaaaaa (buku-buku bagus dan berkualitas) karena apa yang kita baca merepresentasikan pengetahuan kita.

We are what we read. Remember?

Gimana denganmu? Setujukah dengan tulisan ini?

Iklan