Untuk suamiku di masa depan

Mas, aku posting ini untuk nyelesain tantangan #Blogger’sChallenges yang aku ajuin sendiri. Haha, lucu yaa.

Topiknya udah masuk ke halaman dua puluh empat. 

Istri: kerja atau jadi ibu rumah tangga?

Mungkin kamu bingung mas, jadi aku kasih gambar di bawah ini untuk menjelaskannya.

​Nah, setelah mas paham, aku pengen nanya, mas pengennya aku gimana? 

Kerja atau jadi ibu rumah tangga?

Eh ya, sekarang aku kan belum tahu mas siapa, hehe. Jadinya aku jawab sendiri aja ya. ​

Sebenarnya mas, aku sebagai istrimu oke oke aja sih. Kalo dikasi kerja oke, diminta jadi ibu rumah tangga pun oke. 

Karena aku udah punya planning untuk dua-duanya. Hihihi. 

KERJA DAN BERKARIR

Alasan utamaku kerja, ya untuk dapetin uang. Kemudian, kesenangan. 

Seperti yang mas tahu, program studi kuliahku pendidikan. Nah, kalo berkarir pun aku pasti nggak jauh-jauh dari dunia pendidikan. Misalnya ngajar. Selain itu aku juga pengen kerja sosial sesekali, ngasi penyuluhan dan bimbingan pada masyarakat. Aku juga pengen punya lembaga pendidikan sendiri di mana aku dan teman-teman desain kurikulumnya bersama-sama (seperti kursus bahasa Inggris). 

IBU RUMAH TANGGA

Nah, mengenai ini aku udah coba latihan mas, pas PPL. Dan sepertinya aku suka. 

Aku ceritain ya.

Saat PPL 3 bulan, aku challenge diriku sendiri untuk hidup sehat, bermanfaat dan teratur. Jadi, sekitar jam 5 aku udah bangun, terus mandi, salat Subuh, bangunin temen-temen, masak sarapan kami, terus sarapan bareng mereka, siap-siap berangkat ke sekolah. Ngajar beberapa jam sehari. Pulang jam 12 siang terus ambil rantangan (sesekali masak juga), makan siang, salat Zuhur, beresin posko terus tidur siang. Sorenya nyuci baju, jalan-jalan, belanja keperluan masak, ngejus buah atau sekedar ngobrol. Kadang siswa-siswa datang ke posko untuk les dari siang sampe sore (hampir setiap hari selama dua bulan sih). Malamnya, kami makan malam bersama. Setelahnya aku belajar, ngecek tugas-tugas siswa, baca buku atau diskusi sama teman yang lain. 

Nah, dari pengalaman ini aku ngerasa aku cocok aja jadi ibu rumah tangga yang banyak menghabiskan waktu di rumah. Jadi, aku pengennya fokus jadi ibu rumah tangga setelah anak kita lahir (kalo di rumah masih kita berdua, aku pengen kerja di luar dulu).

Bisa dibayanginlah aku di rumah bakal ngapain aja. 

Sebelum Subuh udah bangun, mandi, terus bangunin kamu dan anak-anak. Kita salat bareng, kamu jadi imamnya. Setelah itu aku masak di dapur (boleh kamu temenin kok, hihi). Selesai masak, kamu dan anak-anak bisa sarapan terus siap-siap berangkat. Kamu kerja, anak-anak sekolah.   (Kalo hari libur kita olahraga bareng sekeluarga)

Kamu pasti mikir aku bakal bosan, ya kan? 

Tapi kayaknya nggak deh. 

Saat kalian pergi, aku mulai belanja terus beresin rumah. Oh ya, kira-kira kita punya asisten rumah tangga nggak?

Jam 9 sampe jam 11, aku bakal istirahat (baca buku atau ngeblog) di satu spot di rumah kita yang cukup terbuka dan ada aquarium ikannya (karena aku suka dengerin suara air yang ngalir atau gemericik air). Atau aku bakal nonton Anime, drama Korea/film terbaru di ruang keluarga sekaligus nyeleksi apa yang bisa ditonton anak kita nanti pas pulang. Setelah itu, aku masak untuk makan siang kita. Oh ya, makan siang anak-anak, soalnya kamu kan kerja sampe sore (dan pagi tadi udah kubuatkan bekal makan siang). 

Siangnya anak-anak pulang, terus mereka salat dan makan siang bareng sama aku. Kami diskusi tentang kegiatannya hari itu. Belajar apa? Ada masalah kah? Ada tugas? Setelah itu aku biarin mereka istirahat. 

Sekitar jam 3 sampe jam 5 sore, aku mulai ngurus perpustakaan kita. Kan di rumah kita ada satu ruangan yang dialihfungsikan menjadi perpustakaan dan tempat belajar anak-anak di sekitar rumah kita. Mereka biasanya udah nongol di depan pagar rumah sekitar jam 3 siang. Ada yang mau baca buku, ada yang mau belajar sama aku. 

Sorenya, kamu pulang ke rumah. Aku nyambut kamu yang capek dengan senyuman manis karena kamu bilang senyuman aku bisa bikin lelahmu hilang, hihi. Kamu bisa istirahat atau mandi. 

Sebelum magrib, kita makan sore. Setelah itu kamu pergi ke mesjid bareng anak laki-laki kita untuk salat magrib. Aku sama anak perempuan kita salat bersama di rumah. 

Setelah kalian pulang, kita ngumpul di ruang belajar untuk ngobrol-ngobrol sebentar. Kemudian, aku bakal nemenin anak kita belajar sedangkan kamu ngerjain pekerjaan kamu, baca buku, nonton tv atau ikut gabung sama aku untuk ngajarin anak-anak kita. 

Jam 10 anak harus masuk ke kamar. 

Sebelum tidur, aku siapin dulu pakaian dan perlengkapan kalian untuk besok harinya. 

Terus, aku masuk kamar, kita curhat/diskusi tentang beberapa hal yang kita rasa perlu dibicarakan terus mesra-mesraan. Hahahhahaha. 

Seru kan? 

Jadi mas, seandainya aku disuruh milih, aku ngerasa lebih nyaman kalo jadi ibu rumah tangga. Bukan karena males ya, tapi kamu bisa lihat sendiri, aku pengen fokus ngurus rumah tangga kita. Toh, aku juga masih bisa ngajar anak-anak yang les dan sesekali ketemuan bareng teman. Aku juga ngeblog dan baca supaya pengetahuanku terus update. 

Kenapa aku mikirnya seperti itu? 

Ada beberapa hal sih yang jadi pertimbanganku untuk lebih memilih fokus di rumah.

Pertama, aku ingin memperhatikan rumahku sendiri. Banyak kasus di mana seorang istri bahkan nggak tahu tentang rumahnya sendiri. Aku nggak mau hal itu terjadi pada rumah tangga kita. Aku bener-bener pengen ngerasain rumahku surgaku. 

Kedua, aku ingin bersama anak-anakku. Ini berdasarkan pegalaman pribadi sih mas. Aku nggak mau terlalu sibuk ngurusin anak orang tapi anak sendiri dibiarkan. Aku ngerasa sejak kecil hingga minimal SMP pendidikan anak-anak harus diperhatikan dengan serius. Karena ini modal mereka untuk disiplin di masa depan. Mereka harus ditemani belajar, nggak hanya sekedar bayar orang untuk ngajarin mereka privat atau nyuruh les beberapa mata pelajaran. Aku juga pengen neliti langsung perkembangan belajar mereka. Aku pengen tahu language acquisition and language learning-nya. Aku pengen tahu perkembangan matematika mereka. Aku ingin tahu perkembangan kepribadian mereka, apakah introvert atau extrovert, apakah mereka koleris, sanguin, plegmatis atau melankolis, kecerdasannya condong ke mana, apakah spasial, matematis, bahasa, interpersonal, intrapersonal, dsb, gaya belajarnya audio, visual atau kinestetik. Mereka juga harus belajar agama sedini mungkin. Dan semua itu bisa dimaksimalkan jika aku (kita berdua) bisa sering dekat-dekat dengan mereka. 

Aku ingin menjadi sahabat mereka. Jadi, mereka juga bisa berkeluh kesah denganku, nggak hanya dengan teman-temannya saja. Bukan berarti aku bakal jadi ibu over-protective ya. 

Ketiga, aku ingin punya me-time. Dengan jadi ibu rumah tangga, banyak hal yang bisa kulakukan lebih serius. Aku bisa belajar dan mengeksplor sesuatu (misalnya coba resep-resep makanan terbaru) dsb. Kalo aku kerja seharian di luar, pulangnya aku bakal capek dan males ngapa-ngapain. 

Keempat, walaupun di rumah, aku juga tetap bisa menghasilkan uang. Niatnya sih ngeblog, terus jadi editor freelance gitu. Haha. Jualan kecil-kecilan atau investasi gitulah, misalnya buka usaha (orang yang jalankan). 

Kelima, aku juga bakal tetap ngabdi untuk masyarakat dengan cara buka les kecil untuk anak di sekitar rumah karena aku percaya, mendidik anak-anak akan lebih berpengaruh untuk kehidupan masyarakat di masa mendatang. Selain itu, tulisan-tulisanku nantinya aku jadikan sarana pembelajaran bagi pembacaku. Toh, tag line-nya aja Let’s Learn Together.

Intinya sih, aku pengen jadi ibu rumah tangga tapi tetap berpenghasilan. Wkwkwkkwk.

Gimana menurutmu mas? Setujukan? Kira-kira nanti bisa nggak ya itu semua terwujud? 

Yuk kita wujudkan bersama mas. Pernikahan itu sekali dan sampai akhir hayat, masa kita nggak mau bahagia sih? 

Kalo menurutku, semua itu bisa diwujudkan asalkan kita satu visi. Gimana caranya bisa satu visi? Yaa, kita harus sering diskusi dan bersepakat. Enak nggak enak harus disampaikan agar kita saling mengerti, ya kan? 

Pada akhirnya aku bakal nurutin kamu, tapi please, dengerin keinginanku juga. πŸ™‚

Wokeeeeh.. tantangannya selesai ya. Aku sendiri heran kok jadi gini angle-nya. Macam buat surat cinta, bah! Haha. 

Kayaknya ini semua efek dari baca tulisan mas Arif dan Betha. Akunya jadi mikir pengen nyampein dengan gaya yang berbeda. Wkwkkwkwkk. 

Nggak tahu deh gimana respon kalian. Aku aja shock.

Niat awal aku mau buat tulisan serius semacam discussion atau argumentative text. Eh, jadinya malah begini. 

Aku ngerjain ini tengah malam, saat lampu kamar udah dimatikan. Mau tidur, tapi kok kepikiran. Daripada nggak enak tidurnya, yaudah aku tulis aja. 

Sip, tantangan #BC 24 selesai! Yey!

Gimana pendapat kamu? Kalo kamu punya istri, pengennya dia kerja atau di rumah aja? 

Kalo kamu seorang wanita, kamu pilih mana? Kerja atau jadi ibu rumah tangga?

Atau kamu punya pertanyaan seputar hal di atas? 

Yuk, sharing di kolom komentar. 

Iklan