Ayah.. 

Hari ini aku pergi ke rumah saudara bersama mamak dan kakak..

Katanya ayah mau nyusul, tapi sampe sore ayah nggak datang.. 

Di sana aku ketemu om..

Saat aku datang dia langsung menyambutku dengan tangan terentang dan memanggil namaku..

Ntah kenapa aku langsung tersenyum dan berlari menuju pelukannya..

Aku peluk om dan ternyata om wangi sekali! 

Setelah itu aku memegang tangan om ke mana-mana.. 

Om tertawa.. 

Kemudian kami disuruh makan, om juga ikutan..

Dia bertanya padaku, “Nasinya cukup?” Sambil meletakkan nasi di dalam piring.

Aku nggak tahu apakah nasi itu bisa kuhabiskan atau nggak.. lalu om berkata, “Segini aja dulu ya, nanti kalo kurang, kamu bisa tambah nasinya. Jangan sampai mubazir.”

“Mubazir itu apa om?” 

“Mubazir itu misalnya kita ambil makanan tapi nggak kita habiskan. Itu nggak bagus.”

Aku mengangguk. 

Aku pun makan semua makanan di piringku sampai habis supaya nggak mubazir. Aku lihat piring kakak, mamak dan om juga bersih. Mereka nggak mubazir. 

Ayah juga nggak suka kalo aku nggak menghabiskan makananku.

Tapi aku ingat ayah sering nggak menghabiskan makanan, apa ayah mubazir? 

Suara azan mulai terdengar, om bangkit dari duduknya. 

“Om mau ke mana?” 

“Mau ambil air wudu, kan udah azan, om mau salat.”

Om pun pergi dan aku duduk sambil berpikir. Aku salat nggak ya? Tapi aku nggak begitu pande. 

Setelah om datang , om pun membentang sajadah lalu mengangkat tangannya ke atas, lalu meletakkannya di dada. 

Aku amati gerakan-gerakan om. Aku ingat mamak biasa salat di rumah. Aku pun udah diajarkan salat di TK. Aku juga pernah lihat ayah salat. Tapi, aku nggak begitu ingat caranya gimana. Kalo di sekolah kami harus praktek, aku sering ikutin gerakan-gerakan kawan aja. 

Selesai om salat, aku mendatanginya. 

“Om ajarin aku wudu.”

“Kamu belum bisa wudu?”

Lalu kulihat om, tante dan mamak membahas tentang itu. 

“Udah pernah dia belajar ambil wudu, tapi kadang awak malas kalo bajunya basah-basah.” Kata mamak.

“Yaudah sini yok kita ambil wudu.” Om memegang tanganku dan membawaku ke kamar mandi.

Dimintanya aku menggulung lengan baju. Diberikannya aku satu gayung berisi sedikit air. Lalu dia memintaku meniru gerakannya dalam mengambil air wudu.

Kami kumur-kumur. 

Lalu membasahi wajah.

“Pelan-pelan aja ya. Jangan sampe basah bajunya.”

Lalu membasahi tangan sebelah kanan, lalu tangan sebelah kiri. 

Om lalu mencelupkan tangannya ke gayung dan membawa tangannya ke kepala, mengusap kepalanya. 

Aku mengikuti gerakan om. Lalu kami membersihkan telinga. Dan terakhir membasahi kaki kanan dan kiri.

“Nah, bagus kan nggak basah bajunya.”

“Hehe.. iyaa.”

Ayaah..

Aku pengen ayah nemenin aku wudu di rumah. Terus kita salat sama-sama. 

Aku pengen ayah dengerin hafalan salatku. 

Aku juga pengen kita sering-sering makan bersama. 

Aku jadi rindu ayah. Kenapa ayah nggak datang ke sini? Tadi kan ayah bilang mau nyusul?

#

Hai guys!

Anggap aja aku lagi nulis curahan hati seorang bocah cowok yang berusia sekitar 5 tahun. 

Iseng, tapi ntah kenapa sejak kemarin aku pengen nuliskan tentang hal ini. Mungkin (calon) ayah-ayah di luar sana membaca tulisan ini dan bisa mendapatkan inti yang ingin kusampaikan. 

Aku buat judulnya: Surat Untuk Ayah (1), artinya, aku akan nulis beberapa kisah seorang anak untuk ayahnya. 

Terima kasih sudah mampir dan membaca.

Ada kritik dan saran silakan isi kolom komentarnya yaaa. 

Iklan