Warning: posting-an ini bener-bener gaje.

Astagfirullah..

Judulnya itu lho..

TRIK MODUSIN COWOK! 

HAHAHA.

Di posting-an kali ini aku bakal beberin beberapa trik untuk modusin seseorang. 

Berasa expert nih (kibas-kibas rambut).

Kenapa nulis tentang trik modusin cowok, Wa?

Yah, mau gimana lagi. Aku nulis ini karena aku harus nyelesain tantangan #Blogger’sChallenges topik kedua puluh enam yang diberikan Amru. 

Trik modus yang kalian lakukan saat PDKT.

Itulah kira-kira tantangan yang Amru katakan di grup #BC Line.

Kenapa dirimu mengajukan topik ini Am? Kenapaaaa? Kenapa dirimu tega membuka lukaku? 

(Nangis di pojok kamar)

Ah, sudahlah, tantangan #Blogger’sChallenges emang unik-unik, ya kan? 

Bicara tentang modus, artinya aku bakal membicarakan tentang Matematika. Dalam pelajaran Matematika, kita pasti pernah mendengarkan istilah Mean, Median dan Modus, ya kan? 

Karena aku nggak pintar Matematika, tadi malam aku nanya mamak.

Aku: Mak, modus dalam Matematika itu apa?

Mamak: Nilai yang sering muncul.

Aku: Jadi, kalo ada 80, 81, 81, 90, 82, modusnya 81?

Mamak: Iya. Kenapa nanya?

Aku: Nggak apa-apa. Mau tahu aja.

Mamak: Modus itu sifatnya cari perhatian. Karena dia yang sering muncul dari yang lain.

JLEBBBB. Kenapa emak gue kayaknya nyinggung gue ea??

(Oke, salah fokus)

Hihihi.

Gaje banget ya pengantar posting-an kali ini? Wkwkwkk.

Oke, aku bakal fokus.

Jadiiiiiiii.. judulku ini akan merangkum tiga hal penting. 

Pertama, trik. Trik ini berkaitan dengan usaha, strategi, muslihat, taktik dsb. Usaha, strategi bisa dikatakan positif, tapi muslihat dan taktik agak-agak nggak enak dengernya ya. 

Kedua, modus. Modus berkaitan dengan cara melakukan interaksi pada seseorang/sesuatu serta frekuensinya.

Ketiga, cowok. Yah, karena aku cewek, artinya aku ngemodusin cowok kan? Ya kan? Aku kan normal.

Ummm.. 

Sebagai cewek, bicarain tentang trik ngemodusin cowok itu susah banget. 

Kenapa? 

Karena sejujurnya aku (sebagai salah satu cewek di muka bumi ini) ngerasa malu sih jika ada orang yang menganggap tindakanku sebagai modus. 

Karena, aku melakukan sesuatu tanpa berniat aneh-aneh.

 Beneran spontan.

Misalnya, ada temen cowok yang belum makan walaupun udah jam 2 siang. Terus, pas ngobrol sama dia, terjadilah percakapan seperti ini.

Aku: Udah makan?

Dia: Belum.

Aku: Kok belum makan? Nanti sakitmu kumat lho. Sana beli makanan dulu sebelum dosen masuk.

Dia: Males ah.

Aku: Yaudah, ini aku ada roti, makan ini aja dulu.

Terus temen-temenku bilang aku modusin dia. -,-

Padahal, nggak hanya dia sih yang aku tanyain gitu, Hera, Eli, Nisa, Shely juga kutanyain.. dan kalo kebetulan ada makanan, bakal kutawarin juga.

Tapi yaa, itu tadi. Sekali, dua, kali, tiga kali aku ngelakuin itu, dikirain aku modus beneran. Padahal dalam hati aku seriusan peduli, bukan sok sok peduli biar bisa makin dekat. 

Namun, aku juga nggak munafik, ada beberapa momen yang emang aku pengen lebih deket sama seseorang.

Pertama-tamanya, aku sering sakit hati, kalo dibilang modus. Tapi karena banyak orang yang bilang gitu ke aku, akunya jadi biasa aja. Malah sekarang, modus nggak modus udah sama aja sikapku. Hahahaha. 

(Yaa, beberapa orang nganggap aku jago ngemodusin orang)

Tapi seriusan, aku nggak suka kalo apa yang kulakukan itu dianggap sebagai modus. Karena, dalam pikiranku, modus itu kesannya pura-pura. 

(Yaa, tapi kalo orang lagi becanda, akunya ngerti kok)

Dan memang, kata ‘modus’ itu selalu bermakna negatif. Bahkan banyak orang bilang ‘modus’ itu MODAL DUSTA! 

Pantes aja aku nggak suka dibilang modus. Hahahhaa. 

Nah, tadi kan aku udah nyinggung mengenai momen di mana aku pengen dekat dengan seseorang, ya kan? 

Supaya nggak bingung antara judul dan konten, aku putuskan untuk membatasi pengertian modus menurut pendapat pribadiku. 

Modus dalam posting-an ini bisa diartikan sebagai usaha seorang cewek untuk bisa dekat dengan seseorang yang disukainya. 

Jadi, saat baca tulisan ini, kalian perlu mengganti persepsi mengenai modus sesuai dengan yang aku bicarakan di sini ya.

Nggak ada lagi istilah modus=modal dusta!

Sebagai cewek, salah satu kodrat (norma/kebiasaan/aturan secara tak tertulis) kita adalah menunggu.
Menunggu dihampiri, didekati dan dicintai. 

Tapi, di zaman yang udah canggih dan (katanya) emansipasi merajalela, cewek deketin cowok itu biasa. 

Nggak harus cowok yang deketin cewek. Cewek juga bisa deketin cowok duluan. 

Apalagi sejak Cinta ngejar Rangga di bandara (film Ada Apa Dengan Cinta 1 tahun 2002) dan saat Cinta ngejar Rangga sampe ke New York supaya mereka bisa bersama lagi (film Ada Apa Dengan Cinta 2 tajun 2016).

Makin kuat aja alasan cewek untuk deketin cowok. 

Namun, sejujur dan sebenar-benarnya, jauh di lubuk hati cewek, mereka selalu nunggu cowok duluan yang aksi. 

Cewek itu yaa, kalo suka sama cowok, dia bakal mendam perasaannya. Jika perasaannya itu udah nggak teredam lagi, dia bakal cerita sama orang terdekatnya. Itupun cuma orang yang bener-bener dia percayai. 

Setelah dia cerita ke sahabatnya, sesekali dia bakal bahas tentang cowok itu, cerita apapun yang dia rasakan terhadap si cowok.

Kebanyakan cewek bakal kekeuh untuk mencintai dalam diam. Bertahan dalam cinta sepihak. Tapi ada juga yang berani untuk mendekatkan diri ke cowok tersebut. 

Dulu, saat SMP dan SMA, kalo aku suka sama cowok, biasanya aku bakal nyimpan namanya rapat-rapat di dalam hati.

Aku hanya memperhatikannya. Tertawa lihat ulahnya. Tersenyum saat melihatnya tersenyum. Sedih saat dia sedih atau saat dia deket cewek lain.

Aku nggak berani bilang sama orang-orang kalo aku suka sama si doi, karena, ketika aku mulai buka suara, aku harus merelakannya. Bukan hanya aku saja yang mengamatinya. Banyak cewek akan memperbincangkannya. 

Namun, setelah kuliah ini, pola pikirku sedikit berubah mengenai hal itu. 

Aku belajar dari banyak novel dan pengalaman orang-orang di sekitarku yang kehilangan cintanya atau harus merasakan sesak karena cintanya tidak pernah berkembang. 

Menurutku, kehilangan seseorang hanya karena kita membatasi diri di saat kita memiliki kesempatan adalah hal bodoh. 

Perasaan suka itu emang nggak bisa dibendung. Dia tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan lalu bertahan di dalam hati kita. Kita nggak pernah tahu kapan perasaan itu pergi. 

Seandainya perasaan itu nggak pergi-pergi, apakah kita harus memendamnya saja sampe mati? 

Menahan rasa sesak dan perih itu hingga waktu yang tak dapat ditentukan?

Aku benci penyesalan. 

Aku lebih memilih memperjuangkan jika ada jalannya.

Dan jalan itu selalu ada, hanya saja kita perlu untuk memberanikan diri. 

Kita hanya perlu jujur pada diri sendiri. 

Kita hanya perlu usaha sedikit supaya kita tahu harus berbuat apa selanjutnya. 

Jadi, ketika aku benar-benar merasa suka sama seseorang. Aku akan melihat adakah satu jalan untuk melangkah lebih dekat dengannya.

Aku membutuhkan satu jalan saja. 

Ketika kita menginginkan sesuatu, semesta akan membantu.

Dan jika jalan itu terbuka, aku nggak akan menyia-nyiakannya.

Nah, ini dia beberapa trik yang pernah aku lakukan. HAHAHHAHA

1. Mencari cara agar dia kenal diriku

Tak kenal maka tak sayang

Yuhuuu, sebelum deketin seseorang, aku perlu kenalan dulu sama dirinya. Ya kan? Mengenai ini, sebenarnya ada aja sih cara buat kenalan sama doi. Bisa kenalan lewat teman atau nyapa dia terus langsung ajak kenalan. Pokoknya dia harus tahu namaku!

2. Selalu nyapa terlebih dahulu

Kalo udah kenal, aku bisa ‘say hi’ sama dia kalo jumpa di mana aja.

Biasanya, sebelum nyapa, aku bakal nguat-nguatin hati. Jaga-jaga mana tahu dia nya nggak respon dengan baik. Tapi, aku juga tipe orang yang nggak cepat drop kalo dicuekin. Hahaha. Oh ya, nyapa ini nggak perlu lama-lama, misalnya, “Eh hai, mau ke mana? Hati-hati ya. Semoga sukses!”

3. Kalo mood-nya lagi bagus, aku bakal usahain bisa small talk

Yuhuuu, kalo pas nyapa terus dia ngerespon baik dan kelihatan punya waktu luang, aku langsung putar otak supaya bisa ngobrol sama dia. Apa ajaa asalkan bisa mendengarkan ceritanya lebih banyak. Hahahhaha.

4. Cari tahu tentang dirinya

Ini penting banget! Kalo kita suka sama seseorang, masa kita mau bertahan dalam ketidaktahuan tentangnya? Tapi aku juga udah nggak hobi stalking seseorang. Biasanya aku nanya langsung sama orangnya lewat small talk kami. Aku pasang wajah biasa aja, tapi dalam hati aku catat apa yang dibilangnya. Hahahhaha. 

Kalo kita suka sama seseorang, kita pasti tahu sedikit banyak tentangnya. Kalo kita nggak tahu, ya cari tahu aja. Pasti ada jalan untuk tahu tentang dia. 

5. Sesekali perlu utarain apa yang aku rasakan

Cowok itu makhluk nggak peka! Kita ngomong aja dia belum tentu ngerti, apalagi kalo kita hanya pake kode-kodean. Wkwkkwkwk. 

Jadi, kalo aku suka sama sesuatu yang dia lakukan, aku bakal apresiasi dirinya. Kalo ada yang nggak aku setujui, aku bakal bilang sama dia. Kalo aku rindu, ya aku bilang juga. Ngapain coba dipendam-pendam, kalo bisa diutarakan. 

6. Cari alasan untuk nge-chat dia

Aduuh, aku malu mengakuinya. Wkkwkwkwk. Kalo aku punya kontak pribadinya, kadang aku mau juga chat dia duluan. Tapi yaaa, walaupun cari alasan, nggak semuanya dibuat-buat. Kadang emang ada beberapa yang aku tahu cuma dia yang tahu, jadi selain nyari informasi, modusin juga bisa. 

7. Sering nanya pendapatnya

Oke, sebenarnya aku selalu tertarik dengan pendapat orang tentang apapun itu. Aku sering nanya sama teman-temanku tentang beberapa pertanyaan. Nah, aku juga berusaha untuk nanya pendapat dia mengenai hal itu. Supaya tahu aja jalan pikirannya gimana. Menurutku, pendapat orang sangat berharga, apalagi pendapat dia. Hahahha.

Aku juga pernah nanya pendapatnya mengenai diriku, supaya aku tahu gimana dia dalam menilai sikapku selama ini. Ini penting karena dari jawabannya aku bisa tahu dia nyaman atau nggak sama sikapku. 

8. Jadi temannya

Emang kadang sedih sih kalo cuma jadi temen, tapi, daripada nggak sama sekali? Setidaknya, dengan jadi temannya, kita bisa tanya suasana hatinya, bisa tahu curhatannya, apa masalah yang dia hadapi, apa yang tidak dia sukai, dsb.

9. Baca tulisannya atau buku-buku yang disukainya

Yuhuuuuuu.. dari dua hal ini, kita bisa mengenalnya jauh lebih baik. Jika tulisan ataupun buku yang dia baca konsisten isinya, jenisnya, maka itu mencerminkan dirinya. Ckckkckckk.

Jadi, dari tulisan ini aku pengen bilang sama pembaca (terutama cewek) bahwa terkadang kita memang perlu melakukan modus (usaha agar lebih dekat dengan seseorang yang kita sukai). 

Ada beberapa alasannya.

Pertama, kita nggak pernah tahu seperti apa kita dalam pandangannya. Seandainya kita membuka diri namun dia tidak meresponnya, kita bakal sadar bahwa itu perasaan sepihak. Harus dibuktikan terlebih dahulu. Jangan hanya berkutat dalam pikiran.  

Kedua, jika kita dekat sama seseorang, kita bisa lebih mengenalnya dibandingkan hanya memandangnya dari jauh. Kita harus tahu realitas yang sebenarnya, bukan fatamorgana yang dihasilkan otak yang berkabut cinta. 

Ketiga, jika jalan menuju hatinya benar-benar tertutup walaupun kita sudah berusaha, setidaknya kita bisa merelakannya karena kita sudah berusaha. Kita nggak akan nyesal dan memikirkan hal-hal seperti, “Seandainya aja kemarin itu aku begini, mungkin aja dia….”, “Seandainya aja aku sedikit lebih berani, mungkin kami bisa tetap berkomunikasi. Mungkin aku bisa berteman dengannya. Mungkin.. mungkin..”

Okelah, sepertinya aku sudah bicara terlalu banyak tanpa arah dan tujuan, hahahahha.

Aku ngerasa udah bongkar rahasia hati terdalam pada pemirsa. Hiksss..

Aduh, kalo sampe dibaca orang bersangkutan, gimana ini. -,-

Amruuu, awas dikau ya!

(Tapi nggak tahu juga balasnya gimana, wkwkkwk)

Wokehlaa.. sampai jumpa di tantangan berikutnya. 

Silakan caci maki aku di kolom komentar. 😦

Iklan