Jangan kalian kira aku akan meresensi novel Miss Pesimis karya AliaZalea di tulisan ini. Sama sekali nggak ada kaitannya. 

Hari ini aku akan melanjutkan cerita tentang Luna yang sebelumnya sudah kuceritakan dalam kisah Tentang Dicintai. 

Aku dan Luna baru-baru ini menjadi sangat dekat karena kami menyukai satu hal yang sama, yaitu buku. 

Aku pikir kami hanya dekat-dekat begitu saja, namun sepertinya Luna menghargaiku lebih dari sekedar teman satu organisasi. Mungkin hubungan kami saat ini bisa dikatakan menuju proses teman akrab. 

Aku bukan terlalu percaya diri, namun saat Luna menceritakan kesedihan hatinya, yang katanya tidak pernah ia bicarakan pada siapapun sebelumnya, aku merasa agak spesial. 

Curhatannya waktu itu hanya pembuka saja. Dalam beberapa hari setelah kejadian dia-menghampiriku-lalu-menangis, dia pelan-pelan bercerita tentang rahasia lainnya. 

“Sepertinya, aku suka Rendra.” 

“Ha?” Mataku membulat maksimal. 

Rendra? 

“Iya, aku juga baru-baru ini nyadarinnya. Sumpah, bingung kali.”

Oke, oke, bisa dibilang reaksiku berlebihan saat itu padahal aku udah sering denger mereka diejekin temen dan senior.

“Kok bisa suka? Jadi, setiap ada yang ngejekin dan jodoh-jodohin kalian, kenapa kamu ekspresinya biasa aja?” 

“Nah, itu dia. Aku juga nggak tahu kenapa perasaan ini tiba-tiba muncul. Dulu, pas kalian heboh banget, akunya biasa aja sih. Aduh, rumit banget jelasinnya ya.. dengerin dari awal ya?”

“Okeeeee.”

Aku, Rendra dan Luna seangkatan baik dalam tingkat kuliah maupun tingkat organisasi. Seperti yang udah aku bilang di cerita kemarin, sejak awal Luna ini emang udah cerah banget auranya. 

Dia luwes, asyik diajak ngobrol, jago kasih pendapat (yang bisa dikatakan modal penting dalam berorganisasi). Nah, Luna dan Rendra ini sejak awal udah satu kelompok, jadi mereka terlihat kompak banget.

Seperti organisasi pada umumnya, selain rapat dan kerja keras, ada momen becandaan, jodoh-jodohin sesama anggota. Luna dan Rendra salah satu pasangan paling hits dan paling sering kena ejek. 

Lucunya, mereka ini malah saling flirting-an. Maksudnya, Rendra jelas-jelas selalu nolak Luna kalo Luna mulai godain dia, namun caranya membalas godaan Luna itu nggak membuat sosok Luna dipojokkan dan terkadang dia juga balas godain Luna. Kalo kamu lihat sendiri, kamu pasti bingung, mereka ini beneran suka, atau sekedar bawa happy saat diejek aja. 

Di antara semua momen mereka, aku paling ingat kejadian ini. 

Suatu waktu seorang senior bosan selepas rapat, lalu dia mulai bahas tentang perkembangan hubungan Luna dan Rendra.

“Jadi Lun, kapanlah kita diajak makan gratis, pajak jadian gitu?”

“Lah bang, kok tanya Luna sih, tanya Rendra dong, kapan dia nembak Luna.” Jawab Luna enteng.

“Jadi Ren, kapan kamu tembak Luna?” 

“Ya nggak bakalanlah bang. Abis dong duitku bayarin makanan kalian.” Jawab Rendra sambil setengah tertawa.

“Hahhahaha.”

“Tuh kan bang. Jangan diungkit-ungkit, kan Luna jadi sedih.” Luna pura-pura memasang wajah sedih.

“Tuh kan Ren, sedih anak orang. Cepat gih tembak dianya.”

“Nggaklah bang. Males, ntar dianya susah sama aku. Belum jadian aja aku udah buat dia sedih.”

“Tuh kan, gitu jawabannya. Bukannya dia malah berusaha bikin aku senang. Ih, lelah kali lah menunggu kayak gini.”

“Kan nggak aku nggak minta ditungguin?” 

“Hehehhe.  Iya juga yaa.”

Lalu topik pembicaraan pun berganti. 

Sejujurnya, aku ngerasa setuju melihat mereka berdua. Rendra ini terkenal sebagai cowok baik tapi jutek bin cuek. Nah, Luna yang lucu bisa membuatnya menjadi lebih ekspresif. Pas awal-awal organisasi, Rendra nggak bisa diajakin becanda, tapi semenjak dekat dengan Luna, dia lebih fleksibel. 

“Kalian pikir kami ini kompak banget sejak awal kan? Padahal sebenarnya nggak. Dari awal kenal, aku ngerasa selalu aku yang datengin dia, ngajakin dia, negur dia. Dia itu cuek banget. Tapi mungkin karena dipikirnya kami satu tim, lama-lama dia terbuka juga.”

“Saat itu kamu udah suka sama dia?”

“Nggak! Ihh, kamu nggak dengarin aku ya? Kan udah kubilang, aku baru-baru ini ngerasa something sama dia.”

“Kok bisa?”

“Umm.. aduhhh.. aku jadi malu. Hihihi.”

Sejenak Luna menutup wajahnya sambil ketawa sok imut, ih, apaan sih anak ini, tapi aku lucu juga ngeliat ekspresinya, apalagi pipinya bersemu merah. Dia bener-bener serius ngerasain perasaan itu.

“Jadi.. beberapa minggu lalu, kami pernah jalan bareng. Eh, rame sih sama yang lain. Makan malam gitu. Terus, pas nyari tempat duduk, tiba-tiba aku tatapan gitu sama dia. Aku lagi lihat dia, terus dia juga lagi lihat aku. Aku ngerasain sesuatu yang aneh. Tiba-tiba aja jantungku berdebar-debar. Aku coba untuk tatap mata dia lebih lama, sedetik, dua detik, tiga detik, terus dia senyum,” Luna menceritakannya secara perlahan, membuatku bisa membayangkan kejadian aslinya, “dan duaaaar.. aku nggak sanggup ngelihat dia lagi. Aku langsung alihkan pandanganku. Perasaanku nggak karuan. Aku ngerasa saat itu dia maniiiiiiiiis banget. Ihhh, nyeritainnya aja bikin aku ingat perasaan waktu itu lagi.”

“Setelah itu, aku curi-curi pandang ke arah dia. Ngelihatin dia ngomong, ngelihatin cara dia makan, ngelihatin dia ketawa.. dan, sialnya dia ngelihat aku lagi. Aku terkejut, tapi langsung kukedipkan mataku dan senyum, kayak biasa aku godain dia. Dia juga senyum. Aduuh, ya ampun, manis banget. Aku meleleh.”

Luna masih tersenyum-senyum ngebayangi momen itu. Kelihatan banget binar bahagia di matanya. 

“Sejak saat itu, aku jadi sering bingung kalo jumpa sama dia. Emang sih kami jarang ketemu kecuali di sini, dan ngobrol juga nggak begitu sering. Tapi yaaa, tiap ketemu dia, bawaannya aku seneng aja. Kayak moodbooster gitu. Aku juga jadi nunggu-nunggu saat kami bisa ngobrol. Aku mikir keras kira-kira apa yang bisa kujadikan alasan untuk ngajak dia bicara.” 

Namun, perlahan binar di matanya hilang. Luna lalu bercerita bahwa belakangan ini, dia justru dihantui perasaan galau. 

Dia mulai bertanya-tanya perasaan Rendra padanya. Apa memang Rendra sama sekali nggak ada perasaan apa-apa padanya? Padahal mereka kan sering diejekin, masa sih dia sekeras itu? Apalagi sekarang dia lebih enjoy kalo mereka lagi diejek, nggak defensif kayak dulu. 

Di satu sisi, Luna berharap Rendra suka padanya. Ia bahkan pernah agak yakin karena perlakuan Rendra baik padanya. Namun, setelah dia pikir-pikir lagi, Rendra memang selalu seperti itu padanya. 

Dia butuh clue. Nggak! Dia butuh Rendra bicara sama dia. Tapi, itu semua nggak mungkin. 

Luna pengen nanya serius, tapi dia takut ditolak. Dia ngerasa nggak ada spesial-spesialnya di hati Rendra. Bahkan mungkin Rendra nggak pernah mikirin dia seperti dirinya yang akhir-akhir ini selalu kepikiran Rendra. 

“Sabar yaa. Lihat aja nanti gimana.” Hanya itu yang bisa kukatakan padanya. 

#

Setelah itu, Luna mulai rajin setor cerita padaku. Kadang dia cerita usahanya untuk kasih kode ke Rendra yang nggak digubris sedikitpun. Kadang Rendra tersenyum dan balas menggodanya sampe bikin jantungnya mau copot sangkin senangnya. Kadang dia bertekad untuk melupakan perasaannya. Kadang dia ngaku perasaannya udah biasa aja. Tapi, seminggu ini, dia sama sekali nggak ngebahas tentang Rendra. 

“Jadi, gimana perasaanmu sama dia?”

Kulihat dia tiba-tiba terdiam. 

“Makin mekar.”

“Tapi, menurutku dia kayaknya punya rasa samamu lah.”

Luna justru tertawa, “Dia punya rasa samaku? Hehe. Aku nggak berani untuk berharap.”

“Tapi kayaknyaa..”

“Aku takut berharap Fida. Dia bahkan nggak pernah ngehubungi aku duluan padahal aku sering bilang aku suka kalo dia hubungi. Dia nggak pernah mau tahu tentangku, hanya aku yang selalu merhatiin dan nanyain dia. Gimana aku bisa percaya diri?”

Aku mengerti maksud Luna, perasaannya pasti bingung, kalut, dilema saat memikirkan tentang perasaan terhadap Rendra. 

“Sabar ya Luna.”

“Hm, yaaaa Fida, makasi ya.”

Luna yang kulihat saat ini menjadi sosok yang agak pesimis. Pesimis bukan karena dia tidak melakukan apa-apa, namun pesimis karena dia sudah melakukan hal-hal yang dia bisa namun tidak mendapat reaksi apa-apa. 

Pada akhirnya, aku hanya bisa mendengarkan Luna saja tanpa memberinya solusi. 

Yang terbaik untukmu, Luna. Aku mendoakanmu. 

Iklan