Hai my readers!

Aku lagi baca buku Personality Plus, Kepribadian Plus: Bagaimana Memahami Orang Lain Dengan Memahami Diri Anda Sendiri yang ditulis oleh Florence Littauer.

Saat membacanya, aku teringat sama guru BP/BK, jadi aku putuskan untuk menulis posting-an tentang mereka.

Aku mengenal sosok guru BP/BK itu saat duduk di kelas 1 SMA. Aku baru tahu ada yang namanya guru BP (saat SMP sepertinya nggak ada) karena pelajaran Bimbingan Konseling (BK) yang diajarkan guru BP punya porsi satu jam dalam seminggu.

Banyak temanku yang nggak tertarik untuk belajar BK (sama seperti pelajaran lain, pelajar emang kurang suka belajar, ya kan?)

Namun, aku yang berpikir bahwa kelas BK adalah caraku untuk bisa belajar tentang Psikologi (aku punya ketertarikan besar mengenai dunia Psikologi sejak dulu), merasa senang sekali ada mata pelajaran itu, bahkan aku merasa satu jam itu sangat kurang.

Aku nggak sabar pengen belajar sesuatu yang menyegarkan! Memahami diri dan orang lain. Berkenalan dengan fakta-fakta yang tidak kuketahui sebelumnya (Fyi, masa SMA-ku dulu, akses internet masih terbilang sulit dan kesadaran belajar lewat internet masih nihil).

Aku yang muak dengan pelajaran eksakta, berharap bisa belajar hal menyenangkan dari mata pelajaran ini.

Namanya Bimbingan Konseling, gurunya tentu ngerti ilmu Psikologi, pastinya memahami kebutuhan sekaligus kesenangan siswa, ya kan?

Namun kenyataan tak seindah itu, bre!

Saat beliau masuk, beliau mencari kesalahan kami satu per satu. Menegur di depan umum. Mendikte kesalahan masing-masing orang. Ntah itu baju yang kurang rapi, tas yang terlalu kecil dan ringan, buku tulis yang nggak bersampul. Aku sendiri nggak ada dikomentari sih namun aku ngerasa beliau membangun jarak yang cukup jauh.

Ah, mungkin karena pertemuan pertama, guru harus tegas supaya nggak disepelekan.

Namun hingga beberapa minggu ke depan, yang kami lakukan hanya membaca buku.

Sesekali beliau meminta pendapat pada kami, namun kami nggak memahami pertanyaannya jadi kami susah untuk menjawab dan sepertinya beliau berpikir kami nggak belajar (dan itu benar, haha).

 Tiap pertemuan selalu ada PR. Kami sering kompakan nggak ngerjain tugas karena nggak ngerti atau terlalu malas nulis jawaban panjang-panjang (karena hanya menyalin sesuai dengan penjelasan di buku) dan dihukum satu kelas.

Pelan-pelan aku mendengar ucapan beberapa temanku (terutama laki-laki).

“Males kali ya belajar BK ini, nggak menarik.”

“Jangan bandel kali kita, ikutin aja maunya daripada masuk BP, dipanggil orang tua.”

Ternyata, citra guru BK itu nggak begitu bagus di mata siswa.

Ada kesepakatan dalam pikiran kami masing-masing bahwa siapapun yang berurusan dengan guru BP pasti bermasalah. Siswa begajulan. Siswa yang tingkat kenakalannya parah. Kalo sampe dibawa ke ruang BP artinya, “Dia sudah parah sekali. Sulit ditolong kalo nggak beneran tobat.”

Efek pemikiran seperti itu, membuatku menghindari guru BP. Walaupun aku termasuk siswi yang taat aturan, aku tetap merasa was-was bahkan untuk sekedar lewat ruang BP, jangan sampe papasan sama sang guru.

Aku hanya perlu bertemu dengannya saat pelajaran di kelas berlangsung. 

Pelajaran BK kelas satu pun berakhir membosankan.

Yang kuingat adalah, “anak yang nggak beres hidupnya, pasti ada masalah di pengetahuan agamanya, atau bermasalah dalam keluarganya.”

Kelas 2 SMA aku ditempatkan di kelas IPA, aku nggak mengharapkan belajar BK lagi. Kapok. Kayak percuma. Nggak beda sama pelajaran lainnya. Namun, ternyata, pelajaran BK masih punya porsi satu jam pelajaran. Dan gurunya berbeda.

Aku pikir mungkin saja kali ini berbeda, lebih seru, banyak ilmu yang bisa kudapatkan.

Namun ternyata……

Kami disuruh mencatat berdasarkan apa yang beliau diktekan atau dituliskan sekretaris di papan tulis lalu kami disuruh menghapal.

Seperti kebiasaan siswa pada umumnya, kami baru menghapal di malam hari sebelum pelajaran itu atau malah baru pagi dihapalkan.

“Untuk apa sih dihapal?” 

Aku merasa keberatan karena aku merupakan salah satu siswa yang sangat sulit menghapal sesuatu. Aku lebih suka membaca sesuatu, memahaminya lalu menjelaskan dengan bahasaku sendiri.

Setelah aku mencoba beberapa kali menghapal (dan selalu nggak lengkap), aku ngerasa nggak enak sama temanku yang mendengarkan hafalanku, karena dia juga perlu waktu untuk menguatkan hafalannya. Akupun berlatih sendiri. Tetap saja kurang lengkap.

Aku memperhatikan teman-temanku menghapal satu per satu ke depan. Persis seperti yang ditulis di catatan kami dan ibu itu tersenyum puas. Di tangannya ada absensi berisi nama kami, sepertinya dia memberi nilai di situ juga. Beliau juga memegang buku cetaknya yang berisi kata-kata yang kami hafal itu.

Saat mendengar hafalan mereka, aku merasa muak. Hafalan yang kaku. Kata-kata yang mereka ucapkan nggak sesuai dengan ekspresinya yang datar. Aku kembali menghapal dan akhirnya namaku dipanggil.

Aku khawatir tidak bisa menghapalnya persis, namun aku bertekad untuk menggunakan kata-kataku sendiri yang tentunya sesuai dengan maksud hafalan tadi seandainya hafalanku tersendat.

Dan memang benar. Aku ingat intinya namun lupa kalimat lengkapnya. Alhasil aku menggunakan bahasaku sendiri. Dan tahukah kalian apa yang dilakukannya? Dia mengoreksi kata per kata yang tidak sesuai dengan kata yang ada di buku!

Hafalanku terasa sangat lama dan terdengar begitu payah.

Aku menatapnya, dalam hati aku berkata, “Apa bedanyaaaa? Aku yakin apa yang kukatakan sesuai dengan maksud dari hafalan tersebut! Aku hanya menggunakan kata-kataku sendiri yang lebih sederhana dan nggak kaku.”

Setelah semua selesai menghapal, beliau mengumumkan nama-nama dengan nilai yang kurang memuaskan dan salah satunya adalah namaku!

Dengan enteng dia berkata, “Akan saya kasi kesempatan sekali lagi untuk memperbaikinya, minggu depan harus dihafal dengan baik.”

Kesempatan????? 

Tidak memuaskan???

Kalian bisa merasakan amarahku?

Kenapa beliau nggak bisa melihat prosesku dalam memahami materi yang disampaikannya? Aku nggak salah, aku hanya berbeda dalam menyampaikan idenya! Ini toh bukan pelajaran eksakta di mana semuanya harus sesuai prosedur! Bahkan, ada momen di mana temanku menggunakan rumusnya sendiri yang lebih sederhana dibandingkan yang diajarkan guru, dan sang guru menerimanya dengan berkata, “Kamu perlu buktikan jalanmu itu dalam beberapa soal supaya kamu tahu itu benar atau sekedar kebetulan saja.”

Aku nggak suka cara seperti ini! Aku benci kejadian itu namun aku tetap menghapalnya. Setelah aku menghapal sesuai keinginannya, dia berkata, “Bagus, harus seperti itu.”

Antisipasiku pada guru BK makin tinggi. Aku bahkan berpikir, guru BK harus dihindari selamanya! Mereka tidak memahamiku.

Hingga saat pendaftaran jalur undangan di kelas tiga (kelas 3 nggak ada pelajaran BK lagi), aku nggak berniat sedikitpun untuk konsultasi dengan mereka. Aku tanya temanku yang berkonsultasi dengan guru BP, apa yang disampaikan beliau?

Dan temanku menunjukkan raut tidak puas, “Ya gitulah. Ntahlah, masih bingung aku cocoknya di mana.”

See? Aku jadi ngerasa nggak ada dorongan untuk mendatangi mereka, toh, hasilnya sama aja.

#

Time heals the pains (waktu mampu menyembuhkan luka).

Mungkin ada benarnya ungkapan di atas, karena ketika aku berkunjung ke sekolah saat aku sudah kuliah di prodi pendidikan, aku bertemu dengan guru-guru BK tersebut dan aku menyapa mereka dengan riang. Mereka menanyakan kabarku, perkuliahanku dan menyemangatiku. Kami akrab sekali, membahas tentang siswa yang makin tahun makin nggak sopan dsb. Seperti bertemu teman lama. Namun, aku masih mengingat momen-momen di mana aku tidak menyukai mereka. Dan saat aku bertanya pada adik kelas yang pernah bersinggungan dengan si guru, cara mengajarnya masih sama seperti dulu, tidak banyak berubah. Aku hanya tersenyum.

#

Suatu hari saat aku liburan semester, aku bertanya pada mamakku saat aku menemaninya ke sekolah untuk mengerjakan raport siswa.

Aku: Mak, guru BP itu apa kerjanya? Apa di kurikulum 2013 ini mereka masih ada jam masuk ke kelas? Kalo nggak masuk kelas, kok bisa ada gajinya? Bisa sertifikasi juga?”

Mamak: Nggak tahu mamak, hehe. Nggak mamak perhatikan apa mereka masih masuk kelas atau nggak. Kayaknya nggak. Tapi mereka dianggap sama seperti guru lainnya karena mereka punya tanggung jawab untuk memperhatikan siswa-siswa, kalo ada yang bermasalah, mereka yang nanganinnya.”

Aku: Jadi, sementara guru lain harus nyari 24 jam supaya bisa sertifikasi, mereka nggak perlu kayak gitu?

Mamak: Aduh, mamak kurang tahu, jadi nggak bisa jelasin, takut salah nak.

Aku: Wahidah pun males nyari tahunya. Kan nggak mungkin Wahidah tanya sama guru BP, ntar tersinggung pula. Nantilah Wahidah cari di Google kalo rajin.

Mamak: Ya, bagus gitu.

Aku: Tapi ya mak, kalo Wahidah tahu gitu, bagusan dulu Wahidah ambil jurusan BK aja kemarin. Ya kalo ngajar di sekolah bagus, anak-anaknya kan nggak banyak yang bandel. Kalo ada yang bandel, diingatkan, dikasi peringatan, kalo nggak bisa juga panggil orang tua. Kalo masih ngulah dan nggak bisa dipertahankan juga, si siswa bakal dipecat. Itupun kasusnya jarang kali ya kan.

Mamak: Hussh, ngomongnya.

Aku: Lha, kan kenyataan. Padahal pelajaran BK itu penting banget lho mak. Coba bayangin, anak SMA kelas 3 masih nggak tahu mau ambil kuliah apa. Banyak siswa yang ngerasa salah masuk jurusan. Itu semua kan butuh peran guru BP. Walaupun guru BP punya ruangan tersendiri, murid mana sih yang mau datenginnya? Kan yang masuk BP itu selalu bermasalah. Mana mau siswa ke sana.

Mamak: Nah itu persepsi yang salah nak. Mamak juga dulu pernah kok jadi guru BP, tapi murid sering diskusi sama mamak. Tergantung gurunya sih.

Aku: Yaa, pokoknya secara general, hampir nggak ada siswa yang mau ke BP dengan sukarela. Dan kalo emang pelajarannya nggak asik, lebih bagus nggak ada kelas.

#

Sejujurnya, aku sering memikirkan hal ini. Peran guru (terutama guru BK/BP) terhadap siswa. Apalagi saat aku membaca buku, baik itu fiksi dan non-fiksi. Terkadang aku berpikir, kenapa mereka nggak seperti ini? Kenapa mereka nggak ngelakuin itu? Kenapa mereka hanya berkutat di masalah kedisiplinan? Kenapa jarak guru dan siswa jauh sekali?

Menurutku, guru itu harus terlihat tegas namun menyenangkan.

Aku bertanya-tanya, “Gimana guru BK yang lainnya? Guru BK di sekolah lain, di daerah lain?”

Apakah ada guru BK/BP yang membahas dan mengamati kepribadian siswa dan benar-benar memahami kebutuhan siswanya?

Dan jika mau jujur, banyak sekali hal yang bisa dipelajari di kelas BK, ya kan?

#

INTROVERT DAN EKSTROVERT

Carl Jung membagi sikap dan orientasi utama kepribadian menjadi dua yaitu introvert dan ekstrovert.

Bayangkan jika seorang guru masuk ke kelas, menyapa siswa, lalu melempar suatu topik.

Guru: Hari ini kita akan membicarakan dua hal menarik dalam psikologi. Introvert dan ekstrovert. Ada yang pernah dengar?

Siswa: Nggak bu.

Guru: Ih, nggak gaul banget sih kalian. Ntar kalo kalian udah kuliah atau kerja, dua hal ini sering diperhatikan lho, dan mempengaruhi kesuksesan kalian juga. Oke, oke, saya kasih contoh ya, siapa di sini yang ngerasa dirinya mudah berteman dengan orang lain? Coba angkat tangannya? Lalu, siapa yang kalo pengen bicara itu perlu memikirkan banyak hal, menyusun kalimat, males ngomong kalo nggak benar-benar tahu sesuatu? Nah, yang mudah berteman tadi itu ciri-ciri orang ekstrovert, sedangkan yang lebih banyak diam itu introvert. Namun, banyak lagi contoh lainnya, untuk itu kita perlu ada kan tes kecil-kecilan, sediakan pulpen dan kertasnya ya.

Seandainya guru masuk ke kelas lalu bercerita tentang sikap introvert dan ekstrovert, lalu memberi tes kecil-kecilan untuk melihat kecendrungan siswa. Setelah itu, beliau bisa menjelaskan bahwa tidak ada yang bagus dan tidak bagus di antara keduanya, hanya perbedaan sikap saja. Bukan hanya ekstrovert yang harus diperhatikan namun introvert juga punya keunikannya tersendiri.

Jika ada anak yang terlalu introvert, mungkin mereka bisa mendiskusikan faktor apa saja yang membuat mereka menjadi seperti itu, misalnya kehilangan sahabat, tidak diperhatikan keluarga, tidak suka keributan dsb. Lalu guru juga bisa membongkar sikap-sikap ekstrovert. Kenapa seorang anak berani membuka dirinya dan berteman dengan banyak orang serta berani berbicara di depan umum?

Lalu kelas bisa mendiskusikan tips dan trik agar mereka bisa menyeimbangkan keduanya sekaligus menerima perbedaan satu sama lain. Selain itu, guru juga bisa merancang games di mana introvert dan ekstrovert harus melakukan satu hal secara tim. Bisa dibayangkan keseruan kelas.

Hal ini aku rasakan secara pribadi. Saat SD aku pribadi yang cukup terbuka, namun saat SMP aku menutup diri karena aku ngerasa sulit berteman dengan orang baru. Lalu, ketika SMA aku bertekad untuk ikut beberapa organisasi demi membuka diri lagi. 

Namun, itu kan diriku yang mencoba berubah, bagaimana dengan anak introvert lainnya yang semakin pendiam karena tidak berani keluar zona nyaman?

Dulu aku merasa sangat malu jadi anak introvert. Aku kira masa SMP itu masa cacat sosial. Setelah aku membaca beberapa artikel dan semakin membuka diri, aku baru memahami bahwa menjadi introvert itu nggak salah. Hanya saja perlu dikendalikan dan perlu membuka diri pada momen-momen tertentu.

Dan pengetahuanku tentang istilah introvert-ekstrovert ini kudapatkan saat aku awal kuliah. Seseorang menyebutkan istilah ini dan aku mencari beberapa artikel di internet. Sebelumnya, aku hanya merasa ada yang berbeda antara aku dan temanku dalam memandang sesuatu. 

Baca selengkapnya:

  1. http://shofihasna.blogspot.co.id/2014/06/introver-dan-ekstrovert-dua-tipe.html
  2. https://psikologiuhuy.wordpress.com/2010/04/05/teori-kepribadian-carl-gustav-jung/
  3. http://ishackkiswara.blogspot.co.id/2015/01/apa-itu-ambivert.html
  4. Tes online http://www.ipersonic.net/id/test.html 

#

SANGUINIS, KOLERIS, MELANKOLIS, PHLEGMATIS

Florence Littauer dalam bukunya Personality Plus menjelaskan 4 kepribadian yaitu:

Sanguinis si Populer (Ekstrovert, Pembicara, Optimis)

Koleris si Kuat (Ekstrovert, Pelaku, Optimis)

Melankolis si Sempurna (Intovert, Pemikir, Pesimis)

Phlegmatis (Introvert, Pengamat, Pesimis)

Kenapa guru BK/BP harus membahas masalah ini?

Karena siswa butuh tahu dirinya seperti apa dan mereka perlu seseorang yang lebih dewasa untuk memberitahunya.

Guru perlu membuka pikiran siswanya untuk tahu apa unsur paling banyak dalam dirinya, tahu kenapa bereaksi seperti yang dilakukannya dan berbeda dari temannya yang lain, tahu kekuatannya dan meningkatkannya serta tahu kelemahannya dan bisa mengatasinya.

Untuk membuat siswa mengerti, guru bisa mengadakan tes kecil-kecilan untuk melihat perkembangan kepribadian mereka. Semua itu akan dibutuhkan saat mereka beranjak dewasa. Mereka juga butuh memahami kepribadian yang lain, menghormati serta mampu bekerja sama. Bahkan mereka bisa mengembangkan kepribadian yang lain sesuai keadaan. 

Baca selengkapnya:

  1. Tes online http://www.quibblo.com/quiz/gT2G–d/Tes-Kepribadian-Sanguin-Koleris-Melankolis-atau-Plegmatis
  2. http://www.psychoshare.com/file-1927/psikologi-kepribadian/4-tipe-kepribadian-manusia-plegmatis-melankolis-sanguinis-koleris.html
  3. https://sriwahyufajarwati.wordpress.com/2012/05/21/4-tipe-kepribadian-menurut-florence-littauer-chapter-1/

#

GAYA BELAJAR: AUDIO, VISUAL DAN KINESTETIK

Audio menitikberatkan pada pendengaran.

Visual menitikberatkan pada penglihatan.

Kinestetik menitikberatkan pada praktek.

Ada begitu banyak tes yang bisa guru berikan untuk mendiagnosa gaya belajar siswa. Tes itu jangan dibuat beban, namun jadikan seperti games. Tentunya hal ini membuat siswa senang karena mereka bisa merasakan dampaknya pada diri sendiri. 

Mungkin mereka tidak tahu kelebihan mereka selama ini, mungkin mereka menganggap dirinya nggak berguna karena nggak mengerti pelajaran yang diberikan. Namun bisa saja hal itu dikarenakan gaya belajar mereka terapkan kurang sesuai dengan dirinya.

Banyak siswa yang terselamatkan karena mereka menyadari kecenderungan gaya belajarnya, namun banyak siswa yang terpuruk dengan pemikiran bahwa dia tidak bisa belajar dan memahami pelajaran dengan baik. Bayangkan betapa pentingnya seorang guru membuka pikiran siswa untuk mengenali gaya belajarnya?

Baca selengkapnya:

  1. Tes online: http://www.proprofs.com/quiz-school/personality/quizshow.php?title=kepribadian-gaya-belajar&q=1
  2. https://id.theasianparent.com/mendeteksi-gaya-belajar-anak/

#

MOTIVASI BELAJAR

Edward Deci dalam Determination Theory menggagas beberapa level motivasi:

motivasi-zenius
Zenius.net

 

Nah, jika guru BK/BP menjelaskan hal ini dan meminta siswa untuk merefleksikan diri, siswa bisa menemukan alasan kenapa dia bersemangat atau tidak dalam belajar. Guru bisa meminta mereka membuat daftar ekspektasi yang mereka inginkan sebenarnya dalam belajar. Dan kemudian guru bisa mendiskusikan dengan guru mata pelajaran yang bersangkutan, ya kan?

Baca selengkapnya:

  1. https://www.zenius.net/blog/2166/apa-sih-yang-bikin-kita-termotivasi

#

Masih banyak keseruan lainnya yang bisa guru BP/BK rancang untuk siswa, mengenalkan siswa pada teori Multiple Intelligence Howard Gardner, Emotional Intelligence Daniel Goleman dsb. 

Belum lagi permasalahan jurusan, apakah seseorang lebih baik di IPA atau IPS, bagaimana minatnya, kemampuannya, stategi meningkatkannya. Pekerjaan yang diminati. Jurusan kuliah yang cocok dengan si siswa. Pelajaran-pelajaran apa yang harus siswa miliki sebagai modal untuk memilih jurusan kuliah.

Ahh, betapa menyenangkannya jika aku bisa merasakan hal itu bersama teman-teman sekelas dulu.

#

Kala aku membaca beberapa buku dan artikel, aku seperti ditarik kembali ke masa-masa sekolah. Aku sering mengabaikannya, namun sepertinya hari ini semuanya menumpuk. Aku perlu menuliskan ini (bukan untuk menjelekkan namun untuk pembelajaran), agar ada yang bisa membacanya.

Aku menuliskan ini bukan untuk dianggap sebagai seseorang yang sok benar. Aku hanya ingin berbagi pengalaman dan perasaanku saat belajar dulu. 

Aku berharap kalian bisa mengambil hal positif dari pengalaman ini. 

Tulisan ini sejujurnya merupakan ungkapan kerinduan seorang siswa untuk belajar banyak hal dari gurunya di masa lalu. 

Jika kebetulan kalian adalah guru (terutama guru BK/BP), anggaplah ini tulisan jujur dari seorang siswa yang punya banyak harapan pada gurunya. 

Terkadang kita banyak belajar, merasa tahu semuanya namun kita nyatanya kita lupa.

Saat menjadi siswa dulu, kita terkadang mencari kesalahan guru, namun saat mulai menjadi guru, kita lupa untuk belajar dari masa lalu kita.

Semua guru berawal dari pelajar. Jadi, cobalah ingat apa yang kita inginkan sebagai siswa lalu lihatlah bagaimana kita mengemasnya setelah jadi guru.

Tulisan ini bisa dijadikan reminder untuk kita semua.

Terima kasih sudah membaca. Ingin berdiskusi, silakan isi kolom komentar yaa.

 

Iklan