Topik #Bloggers’Challenges kali ini datang dari Betha. Topiknya berkaitan dengan dunia kerja, kejar impian atau kerja berdasarkan keadaan saat ini? Kalo Dwita jelasin topik ini dengan 3 kata: dilema dream job.

Topik ini seharusnya sudah kukerjakan dua minggu yang lalu, namun karena beberapa hal, aku baru bisa menuliskannya. 

Umm, kalo aku pura-pura sok tahu, aku ngerasa Betha sedang galau tentang pekerjaan yang akan dilakukannya selepas kuliah. Hal yang wajar karena dia sedang dalam proses naik berkas agar sah jadi alumni kampus dan pertanyaan seputar “Kerja apa?  Di mana?  Gaji berapa?” mulai menghantui. 

Sejujurnya pendapatku nggak jauh berbeda dengan pendapat ABC lainnya mengenai hal ini. Namun, supaya agak panjang, aku nggak mau langsung straight to the point.  Wkwkwk. 

Bicara tentang masa depan, aku menemukan fakta bahwa aku cenderung paradoks. Di satu sisi aku punya banyak keinginan dan rencana, namun di sisi lainnya aku suka hidupku mengalir seperti air. 

Sejak kecil aku ngerasa aku suka jadi guru padahal aku nggak pintar dan jarang ngajarin orang. Haha. 

Bicara tentang pekerjaan, aku nggak pernah benar-benar membayangkannya. 

Aku pernah pengen jadi presiden saat masih kecil (bahkan aku nggak tahu presiden itu apa). 

Aku pernah pengen jadi arsitek saat SMP namun harapan itu pupus seketika karena aku lemah hitung-hitungan.

Aku mulai nulis cerita sejak aku dibatasi kegiatan di luar rumah dan membaca buku-buku yang ada di rumah dan aku ingin jadi penulis karenanya. 

Aku ingin jadi psikolog dan memahami sikap dan masalah seseorang saat aku menjadi pribadi yang introvert saat SMP. 

Aku ingin kerja di dunia penerbitan sejak aku ikut pers kampus dan mendalami dunia editor.  

Terlalu banyak yang diinginkan namun aku akui usahaku masih nol. 

Jika dipikir-pikir, aku ingin jadi presiden karena aku punya ketertarikan dalam hal memimpin. Aku ingin jadi arsitek karena aku suka merancang sesuatu. Aku ingin jadi penulis karena aku ingin tulisanku dibaca dan aku bisa berbagi ideku pada orang lain. Aku ingin jadi psikolog karena aku suka mendengarkan cerita orang lain. Dan aku ingin jadi editor karena aku suka mengoreksi sesuatu dan mencari perbaikannya. Nah, semua itu bisa kulakukan dan kucapai ketika aku jadi guru. Dan syukurnya aku berkuliah di program studi pendidikan hingga bisa dikatakan pekerjaan impianku sejalan dengan studiku. 

Nah, untuk permasalahan tentang dilema pekerjaan yang tidak sesuai dengan yang diinginkan, aku mencoba realistis.  

Ada satu pekerjaan yang kuinginkan dan seberapa keras aku berusaha mendapatkannya saat ini, aku belum bisa mendapatkannya. Di saat yang bersamaan, aku iseng melamar kerjaan lain dan ternyata diterima, namun aku nggak begitu menyukainya dan gajinya lebih kecil. 

Apa yang harus aku lakukan? 

Mungkin, seandainya aku mengalami hal itu,  aku akan melakukan dialog dengan diriku sendiri. 

Aku akan mencoba bicara dengan hatiku, menanyakan apa yang diinginkannya. Aku harus memastikan bahwa seandainya aku tolak pekerjaan itu, aku nggak bakal nyesal dan harus terus berusaha mengejar impianku. Atau, aku mencoba menceburkan diri untuk melihat apakah aku benar-benar tidak cocok dengan pekerjaan itu atau hanya imajinasiku saja.  

Aku perlu jujur dengan diriku sendiri. Seandainya aku bisa menyembunyikan perasaanku pada orang lain, aku tetap harus jujur pada diriku sendiri.  

Selain itu, aku juga bakal diskusi sama orang tuaku mengenai hal itu. Aku perlu pandangan mamak, karena selama ini aku selalu percaya dengan pendapat mamakku. Biasanya, untuk memutuskan sesuatu, aku perlu curhat berkali-kali dengan mamak hingga aku yakin terhadap hal tersebut. 

Aku juga bakal cerita dengan sahabatku, meminta pertimbangan mereka terutama jika ada yang sudah merasakan pekerjaan itu. 

Dan secara pribadi kemungkinan besar aku akan menerima pekerjaan itu karena dengan keadaanku saat ini yang terbilang ‘newbie’, aku lebih fokus pada pengembangan diri dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya hingga aku menemukan “the right passion”. 

Aku percaya bahwa nggak semua yang kita inginkan langsung kita dapatkan. Namun, jika sesuatu itu benar-benar baik untuk kita dan kita punya rezeki untuk merasakannya, dia akan datang saat waktu yang tepat. 

Sekian postinganku tentang hal ini. Terima kasih sudah membaca. 

Iklan