Topik Kenangan Tak Terlupakan di #Bloggers’Challenges kedua puluh sembilan diberikan oleh Hera.  

Topik ini aku ketahui dari mas Boy yang ngabarin aku via sms karena hpku saat itu hilang dan nggak bisa aktif line tempat grup #BC kami ngobrol.  

Kenangan tak terlupakan.  Apapun itu. 

Kenangan?  

Sejujurnya aku bingung kira-kira kenangan apa yang ingin kuceritakan pada ABC.  

Saat mendengar kata ‘kenangan’, aku nggak langsung bisa ingat sesuatu.  Aku butuh trigger lainnya. Permasalahannya untukku secara pribadi terletak pada 3 kata dari topik tersebut. 

Kenangan Tak Terlupakan memiliki makna yang sangat dalam. 

Kenangan= ingatan akan sesuatu yang telah terjadi. 

Tak terlupakan= sesuatu yang selalu diingat dan memiliki kesan teramat dalam hingga tak bisa dilupakan.  

Ketika memikirkan kenangan lebih dalam lagi, secara otomatis aku ingat beberapa memori yang sayangnya memiliki label ‘menyakitkan’.  

Sangat disayangkan bahwa bisa dikatakan aku memiliki sedikit sekali kenangan sepanjang hidup ini. Aku hanya ingat sedikit saja pengalaman hidupku,  ntah itu ketika TK,  SD,  SMP,  SMA bahkan kuliah. Dan agak menyedihkan saat menyadari bahwa hal yang diingat lebih banyak yang nggak enak ketimbang enaknya. 

Selain itu,  nggak ingat bukan berarti semua pengalaman itu nggak penting, hanya saja ingatanku mengenai kejadian-kejadian di masa lalu memang kurang detail. Banyak kenangan yang samar-samar. Aku baru menyadari hal ini ketika aku bertemu dengan teman-temanku semasa kecil atau mendengarkan kisah-kisahku dari mamak. 

Kadang aku merasa kesal jika aku nggak bisa mengingat apa yang orang lain ingat, namun terkadang aku merasa bersyukur karena dengan tidak mengingatnya, aku pulih lebih cepat. 

Situasi tidak mengingat kejadian dengan detail juga merupakan salah satu alasan kuat untuk menulis. 

Menulis menjaga kesadaranku. 

Ya,  lewat tulisan-tulisanku,  aku bisa recall memories.  Aku bisa kembali merasakan sensasi saat mengalaminya. Tulisanku di blog wawhacuza. blogspot. co. id, di tumblr dearlangit. tumblr. com,  di status fb,  semua itu mengingatkanku tentang banyak hal. 

Aku tulis apapun yang kurasakan saat itu dan aku banyak malu saat membacanya ulang. Haha.  

Oke, aku balik ke topik postingan ini. 

Topik ini membuatku berpikir keras, “kira-kira momen apa yang paling ingin kuceritakan dan belum pernah kutuliskan sebelumnya? ”

Pikiran itu datang karena aku menyadari, hampir semua isi blogku berisi kenangan dan pengalaman pribadiku. Jadi, memutuskan kisah apa yang perlu diceritakan sekaligus belum diceritakan terasa cukup sulit.  

Beberapa hari yang lalu, aku telponan sama Hera. Setelah bicara ngalur ngidul, kami membahas tentang topik ini dan akhirnya aku menemukan sesuatu yang ingin kuceritakan.  

Sesuatu yang membuatku sedih dan senang di saat yang bersamaan.  

MIHUN 

Aku masih ingat, dulu,  saat masih kecil, tiap ditanya makanan kesukaanku, aku selalu jawab mihun goreng. 

Aku juga heran kenapa aku menjawab mihun karena teman-temanku biasanya menjawab nasi goreng, bakso dan mi ayam sebagai makanan kesukaannya. 

Aku suka banyak makanan namun kenapa aku menjawab mihun?  

Selain itu, jika aku beli makanan di luar, penjual sering bertanya ulang tiap aku jawab mihun goreng. 

“Mihun goreng nggak pedas ya.”

“Mihun goreng?  Bukan mi goreng kan?”

“Iyaa,  mihun goreng.”

Aku perlu menjelaskan mihun goreng dan mi goreng itu berbeda. Yang kumaksud memang mi putih (jika membeli bakso kuah) dan bukan mi lainnya.  

Hingga saat ini, saat aku sudah di Medan dan menemukan banyak variasi makanan lain yang dulunya nggak kutemukan di kotaku, aku masih teringat mihun walaupun aku sangat jarang memesannya sekarang. 

Setelah aku memikirkannya dengan jujur, aku menemukan alasan kenapa mihun punya kesan yang amat kuat ketika aku mengingat tentang makanan.

Aku merindukan momen saat aku bisa menikmati mihun saat masih kecil. 

Mamakku jarang masak. Dulu, mamakku ngajar cukup jauh, sekitar pukul 6 pagi beliau sudah pergi dan pulangnya sore. Sarapanku dibuat oleh atok.  Lauk untuk siang dan malam dimasak oleh asisten rumah tangga atau atok. Jadi, aku jarang sekali bisa merasakan masakan mamakku.  

Salah satu momen aku bisa merasakan masakannya adalah saat aku ulang tahun atau saat aku mengundang teman-teman makan di rumah.  

Aku selalu minta mihun goreng buatan mamak jadi salah satu menunya. 

Dulu, mihun jagung belum populer. Mamak bakal beli mihun biasa dan belanja bahan lainnya di sore hari lalu keesokan pagi merendam mihun dengan air hangat hingga beberapa jam sebelum memasaknya.  

Aku selalu suka momen saat aku bisa makan bareng teman-teman. Menyantap masakan mamak. Dan mungkin, itulah alasan kenapa aku suka mihun goreng. 

Setiap aku memesan mihun goreng, aku selalu mencari perasaan yang kurasakan saat dulu. Saat atokku masih hidup. Saat aku makan bersama teman-temanku (yang bahkan sekarang aku udah nggak ingat lagi nama dan wajahnya). Saat aku membantu mamak membersihkan dan merendam mihun tersebut dalam air hangat sementara beliau menyiapkan bumbu buatannya. 

Yaaa,  aku merindukan semua hal itu.  Sesederhana itu.  

Saat aku menuliskan ini, bisa dikatakan mamak hampir nggak pernah masakin aku mihun goreng lagi dan aku juga hampir nggak pernah beli mihun goreng.

Dan walaupun mamakku jarang masak, mamakku kadang mau masak lauk saat aku pulang ke rumah. Salah satu hal yang kutunggu-tunggu setiap pulang.

MARTABAK TELUR

Salah satu hal yang membedakan martabak telur dengan telur dadar buatan rumah terletak pada kulit dan campuran sayur-sayuran serta bumbu rahasianya.  

Sejak aku tahu rasa martabak telur lebih enak dari telur dadar, aku suka sekali minta dibelikan martabak telur pada ayah. 

Kalo ayah keluar rumah, aku biasanya minta dibelikan martabak telur.

“Yah,  beliin martabak telur ya.”

“Martabak telur? Untuk apa? Mahal. Itu masak aja, di kulkas ada banyak telur.” jawab ayahku.  

“Bedaaa.. Enakan martabak telur.”

“Apanya yang beda, sama aja mamak rasa. Sayang uangnya, kalo buat sendiri lebih murah dan dapat banyak, ” mamakku mendukung ayahku.  

“Beda. Wahidah udah coba buat sendiri tapi nggak seenak kalo beli.”

Dan walaupun aku sering minta dibelikan martabak telur, jarang dikabulkan.

Dulu, beli makanan di luar merupakan hal mewah di keluargaku.  Biasanya ayah akan nyisihkan uang untuk kami beli satu porsi makanan tiap awal bulan saat beliau gajian. Biasanya kami beli mi lidi goreng atau makanan sejenisnya.  Jadi, saat aku minta martabak telur rasanya agak konyol.  

Kesempatan ngerasain makanan beli kok dipake cuma untuk makan martabak telur?  

Lucu kali memang saat itu.  Aku sendiri juga tahu bahwa martabak telur itu nggak ada spesial-spesialnya.  Untuk apa beli makanan yang bahan utamanya telur?  Tapi ntah kenapa, saat itu martabak telur adalah salah satu makanan favoritku. 

Hingga saat aku kuliah di Medan, ketika pulang ke Berandan aku sering beli martabak telur (karena udah pegang uang sendiri, haha). Alasannya sederhana, karena aku bingung mau beli makanan apa. Kalo martabak telur bisa dijadikan lauk juga. 

Mungkin karena aku sering makan martabak telur, ayahku mulai terhasut. Dia pun kadang minta dibelikan apalagi sejak sakit, ayah kurang selera makan walaupun makannya tetap tepat waktu. Karena porsi martabak telur itu terbilang sedikit, ayahku bisa menghabiskannya dengan cepat tanpa menyisakannya. Jadi, aku sering makan martabak telur bersama ayahku saat aku pulang ke Berandan. 

Suatu hari, saat aku di Medan, ayah meneleponku selepas magrib. 

“Wahidah lagi di mana?”

“Lagi di luar yah,  cari lauk.”

“Beli apa? Kok lama kali beli lauknya.”

“Beli martabak telur yah. Iya,  ini baru pulang kuliah, abis salat langsung cari makanan.”

“Oooh..  Beli berapa porsi?”

“Beli satu ajalah yah,  cuma untuk jadi lauk aja kok.”

“Kok cuma satu?  Ayah nggak dipesankan?  Ayah pesan satu ya.”

Aku terdiam.  Mencerna ucapan ayah. Rupanya beliau rindu padaku. Kami biasa makan martabak telur bersama. 

“Hehe.  Ayah ini lah bisa aja.”

“Hehe. Yaudah,  nanti jangan lama kali makannya ya. Jaga kesehatannya.”

“Iya.  Ayah juga ya,  walaupun nggak selera makan tapi tetap harus makan.”

Sejak saat itu, martabak telur/martabak mesir punya arti yang lebih dalam terhadapku. 

Saat aku mengingat martabak telur, aku jadi ingat almarhum ayah. Ayahku mulai suka martabak telur karenaku. Saat aku membeli martabak mesir (berisi telur, sayur,  daging ayam/sapi dan bahan-bahan lainnya lalu dibungkus kulit), yang rasanya lebiiiih enak dan harganya lebih mahal, mau tak mau aku ingat beliau.  

Ahh, ayah belum pernah makan martabak mesir di Medan kan? Rasanya lebih enak daripada martabak telur yang biasa kita makan. Kapan kita makan bareng lagi ya?  Hehehe. 

Okehh..  Itulah dua kenanganku yang ingin kuceritakan pada kalian di postingan kali ini. Aku banyak nangis saat nuliskannya.  

Ternyata, kenangan tak sesederhana itu. Saat mengenang, kita diminta untuk merasakan kembali perasaan saat mengalaminya. Ntah itu sedih ataupun senang, semuanya teramat berharga. 

Iklan