Anyeong! 

Waaahhh..  Sudah beberapa minggu ini aku nggak update tulisan di blogku tercinta ini. Mungkin di antara kalian ada yang bertanya-tanya,  si Wawa kemana ya, kok nggak update blog alaynya? Biasanya dia rajin kali buat postingan gaje. 

Nah,  di postingan kali ini aku pengen curhat tentang alasan di balik menghilangnya diriku ini,  wkwkwkkwk. 

Seperti yang kalian tahu, terakhir aku update blog itu saat aku cerita tentang resminya aku jadi anggota BBI. Postingan itu aku tulis tengah malam antara tanggal 7 dan 8 Januari, tapi di blog ini ternyata di post tanggal 8 nya (nggak apa-apalah,  bedain hari,  wkwkwk) .  

Di tanggal 8 Januari 2017 itu,  aku balek ke Medan.  Sepanjang perjalanan dari Berandan ke Medan,  aku dengerin musik pake headset dari hp Vivoku tercinta. Aku nggak nyangka bahwa itu adalah momen terakhir kalinya aku bisa dengerin lagu dari hpku itu.  Hiks. 

Setelah sampe Medan,  aku naik angkot 63 KPUM yang rutenya melewati lapangan Merdeka.  Hari itu ada kopdar BC yang ketiga.  Akupun bertemu sama mereka,  seru-seruan,  foto-foto sampe sore.  

Selepas magrib kamipun pulang.  Hera nemenin aku sampe dapet angkot 42. Di angkot itu ada 3 orang.  Seorang bapak-bapak, seorang cewek seusiaku dan aku. Lalu, kalo nggak salah,  di Aksara naiklah seorang bapak-bapak pake kaos putih. Dia duduk sederetan denganku. 

Awalnya dia duduk paling ujung sedangkan aku di dekat pintu masuk, lama-lama dia agak ke tengah.  Aku mengawasi pergerakannya dan mengukur jarak kami,  ada serentang tangan.  

Saat melewati simpang Unimed, perlahan aku rogoh kantung tasku untuk memastikan letak hpku.  Hpku tersimpan di sudut paling bawah kantung depan tasku.  Aku menutupnya lalu meletakkan tangan kananku untuk menutupi kancingnya.  

Kembali aku lihat ketiga orang yang ada di angkot itu lalu aku menatap jalan sambil berpikir sebaiknya turun di mana. Kulihat cewek di depanku membuang muka (sebelumnya dia duduk dan pandangan wajahnya ke arahku,  namun ntah kenapa dia tiba-tiba fokus lihat jendela luar) posisi duduknya pun berubah. Aku kembali melihat jalan, karena gangku sudah dekat. 

Tiba-tiba,  bapak berkaos putih ini minta turun dan dengan tergesa-gesa membayar uang kos.  Dia turun di alfamart setelah gang Durung.  Aku pun juga ikut turun karena sudah dekat Belat. Setelah bayar uang kos,  aku langsung buka tas untuk sms mamak, ngabarin kalo aku udah sampe. 

Eh..  Hpku nggak ada. 

Aku terdiam.  Aku tarik nafas lalu coba buka tasku sekali lagi. 

Sumpah,  beneran nggak ada. 

Aku langsung berjalan menuju Alfamart tadi,  mencari seorang bapak yang memakai kaos putih.  Nggak ada. Kuperhatikan toko-toko baju pinggiran jalan, mana tahu dia sembunyi di situ, tapi nggak ada juga.  

Suasana di situ sangat terang.  Ada beberapa toko baju dan penjaga duduk di luar tokonya. Tapi,  sosok bapak tadi nggak kelihatan.  

Wihhhh..  Beneran ilang hpku. 

Aku pun langsung ke kos Shely.

“Hpku ilang. ”

“Ah masa?  Coba cari lagi. ” kata Shely.

Aku berikan tasku padanya supaya diperiksa. 

“Seriuslaa Wa. Masalahnya kau bukan orang yang teledor. ”

“Iyaa,  nggak tahu aku. Kejadiannya cepat kali. Sini pinjam hpmu, biar kutelpon dulu. ” Aku menerima hp Shely lalu menelepon ke nomorku, “Tuh kan, udah dimatikan hpnya. Aku telpon mamakku dulu laa ya dari nomormu. ” 

“Ya,  telponlaa. ”

Aku menelepon  mamakku,  syukurlah langsung diangkatnya. 

“Halo mak.  Assalamualaikum,  ini Wahidah. ”

“Oh,  Wahidah. Mamak pikir siapa. ”

“Mak, hp Wahidah ilang. ”

“Ha?  Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. ”

Aku terdiam.  Ngerasa kosong. 

“Wahidah di mana ini?  Jadi ini nomor siapa? ”

“Di kos Shely.  Ini nomor Shely. ”

Setelah itu baru mamakku bertanya cerita lengkapnya. 

“Sabar ya nak.” 

Setelah selesai nelepon mamak,  kami langsung buka laptop dan mengamankan emailku.  Hahhahahha. 

Ganti password email dan blog.  Selain itu kami juga melacak hpku namun karena hpnya dimatikan,  lokasinya nggak ditemukan lagi.  

Perasaanku terasa kosong. Dalam hati aku berkata,  “Ini rasanya kehilangan itu ya.  Selama ini aku selalu jaga barangku baik-baik. Jarang kali aku kehilangn sesuatu. Mungkin udah habis masa hp itu samaku.”

Hpku itu memang bukan hp yang WOW. Hpku terbilang biasa yaitu VIVO Y15 dengan sarung berwarna navi. Aku membelinya saat pertama kali merek itu diperkenalkan.  Vivo dengan spek paling rendah namun aku paling suka bodinya. Aku masih ingat saat membelinya setelah menggadai hp lamaku.

Dua tahun aku bersamanya.  Walaupun banyak kekurangannya (terutama ramnya 512 MB),  namun banyak juga yang kusukai dari hpku itu.  

Sejak itu,  aku jadi agak paranoid kalo lagi di angkot.  Haha. Dan setiap ada yang nanya, “Gimana ceritanya kok bisa ilang Wa? ”

Aku sempat ngerasa agak defensif saat dengar pertanyaan itu. 

Dalam hati aku menjawab,  “Sebelum naik angkot,  aku ingat berdoa kok.  Aku juga perhatiin penumpangnya. Jaga jarak sama mereka.  Tanganku melintang di kancing tas.  Aku nggak ada ngeluarin hp. Aku nggak melamun.” 

Tapi, apapun alasanku,  setengah dari kejadian itu emang kesalahanku. Aku ngerasa bersalah karena kurang hati-hati saat itu.  

Um,  tapi, setiap kejadian emang selalu ada hikmahnya. Lewat kejadian ini aku lebih waspada terutama saat di angkot. 

Tas harus selalu dipeluk dalam pangkuan. 

Amati penumpang angkot. 

Jaga jarak. 

Berdoa banyak-banyak,  minta perlindungan dari Allah selalu.  

Dan kalo bisa,  jangan naik angkot sendiri. 

Walaupun berat melepaskannya, sekarang waktunya aku move on. Hihihi. Kali ini aku harus menjaga hp baruku sebaik-baiknya. 

Iklan