Welcome February! 

Muaacchhh.. Muaaachhh.. 

Yayaya, aku emang paling suka bulan Februari dari 12 bulan yang ada. 

Alasannya sederhana, karena aku lahir bulan Februari dan ntah kenapa bulan Februari itu membuatku merasa dicintai. Cihuuuuyyy. 

Lebay kan?  

Iyaa emang lebay, tapi nggak apa-apalah, sekali-sekali. 

Seminggu lagi usiaku 22 tahun. 

Cerita tentang ulang tahun, aku juga nggak begitu paham kenapa aku antusias banget sama yang namanya ulang tahun. Tapi, sejak aku menyadari aku hidup di dunia ini, ulang tahun selalu jadi momen yang spesial. 

Aku merasa aku dicintai. Bahkan aku dulu sempat berpikir, ulang tahun itu adalah satu momen di mana aku merasa begitu dicintai dan diperhatikan. 

Contoh kecilnya seperti ini: aku punya banyak teman, tapi kami jarang komunikasi. Saat ulang tahunku, dia tiba-tiba nge-chat, sms, atau nelpon aku dan ngucapin selamat ulang tahun sekaligus berdoa untukku. 

Rasanya, senang kan? Diingat, didoakan, disayangi. Ahhhhhh.. Senangnya. 

Walaupun sebenarnya dalam agama Islam nggak ada istilah ulang tahun atau perayaan semacam itu apalagi tanggal ulang tahunku salah satu tanggal kontroversial: 14 februari (yang dianggap banyak orang sebagai hari kasih sayang padahal kasih mengasihi itu harusnya dilakukan tiap hari).

Aku sendiri berpikiran bahwa momen ulang tahunku itu spesial bukan karena bertepatan dengan hari valentine. Aku cuma ngerasa, momen ulang tahun itu sebagai apresiasi kehidupan kita dan saat kita merefleksikan kehidupan kita selama ini. Kehidupan yang kita jalani saat ini adalah anugerah dari Tuhan dan cinta dari kedua orang tua kita. Di hari ulang tahun, aku juga biasanya berpikir, bagaimana selama ini aku menjalani hidup, apakah aku bahagia, apakah aku membahagiakan orang lain, apakah hidupku bermanfaat? Aku juga introspeksi diriku dan bertekad untuk memperbaiki diri. 

Jadi,  momen ulang tahun itu penting. Makanya, sejak SD, aku termasuk orang yang rajin nyatat ulang tahun seseorang dan berusaha untuk mengucapkannya pada hari H. 

Setelah aku ngobrol sama beberapa orang mengenai makna ulang tahun, sebagian merasa ulang tahun itu adalah hari yang nggak spesial, sama seperti hari lainnya namun sebagian lagi merasa bahwa ulang tahun itu momen yang istimewa (apapun motifnya). 

Nah, kalo aku pribadi sih udah jelas ya, aku sangat menghargai ulang tahun tersebut. Dulu, aku bahkan sampe nyatat orang-orang yang ngucapin selamat dan doa ke aku. Hahahhaha. 

Supaya apa coba dicatat? 

Umm, supaya aku lebih mengusahakan untuk mengucapkan selamat dan doa saat ulang tahunnya juga. Wkwkwk. Yah, itu semua terjadi karena aku kehilangan hp yang berisi tanggal ulang tahun semua teman-temanku sehingga aku yang sering lupa hari dan tanggal ini jadi makin kurang perhatian sama ulang tahun orang lain. Jadi, walaupun intensitasku dalam mengucapkan ulang tahun orang lain sekarang ini menurun drastis, aku tetap selalu mengusahakan untuk ngucapin ke orang-orang yang ngucapin ke aku (kalo aku tahu ulang tahunnya). 

Momen ulang tahun bagiku bukan berarti perayaan yang WOW. Diingat, diucapkan selamat dan didoakan udah cukup bagiku. Yaaa, kalo dikasi kado senangnya dobel-dobel. Hahahhahaha. 

Siapa yang nggak suka dikasi kado apalagi dari orang-orang yang disayang? 

Tapi kalo kado, aku nggak begitu berharap karena itu biasanya melibatkan unsur materi dan aku yang masih minta uang sama orang tua plus berstatus mahasiswa sangat memahami materi tidak didapat dengan mudah. 

Terus kenapa aku bikin posting-an tentang kado?  

Hahaha. Ya lagi pengen aja. Posting-an ini kutulis gara-gara adekku barusan nelpon aku. 

Sekitar sejam yang lalu dia nelpon. Setelah kami saling menyapa, dia langsung membombardirku dengan pertanyaan. 

Adekku: Kak, mau kado apa? 

Ehh, akunya speechless saat ditanya tentang hal itu. Hahaha. Padahal aku lagi lupa kalo ini bulan Februari.

Karena pertanyaannya aku jadi ngecek tanggal, ternyata emang bentar lagi. 

Aku: Umm, adek sanggupnya beliin apa aja?  (Nada sok nantang).

Adekku: Apa yang kakak maulaaa. Makanya kakak mau apa?  

Aku: Apa yaaa, aduh, sakit perut pula. Dek,  ntar yaaa,  perut kakak mules telpon 10 menit lagi, kakak nggak ada pulsa untuk nge-call balek. 

Adekku: Nggak dimatiin kok telponnya. 

Aku: Oh okelah.

Eittsss, ngapain aku ceritain semuanya ya? Wkwkwk.

Intinya selama beberapa menit itu aku merenung kira-kira aku bakal minta kado apa. Aku mengingat apa yang lagi aku inginkan atau aku butuhkan saat ini. 

Yang pertama kali terlintas itu yaaa.. Pengen dan butuh jodoh. 

Oke, abaikan saja pikiran tentang itu. Aku ulangi yaaa.. 

Yang pertama kali terlintas itu udah pasti buku. Ntah kenapa aku langsung ingat buku kalo ditanya mau apa. Tapi, anehnya, semalam aku baru ke Gramedia sama Hera dan walaupun aku doyan buku dan punya wishlist-nya, aku ragu apakah buku yang bakal aku minta sama adekku ini?  

Dua bulan lalu, aku baper lihat semua buku sastra klasik terjemahan semisal karya Jane Austen, Ernest Hemingway, Leo Tolstoy dkk di Gramedia. Aku juga pengen beli buku terjemahan Jepang. Aku juga pengen buku terbitan Haru dan Spring seperti The Death Returns-nya Akiyoshi Rikako (karena aku udah punya Holy Mother dan Girls in the Dark) atau The Girl on Paper dari penulis Perancis yang gagal kudapatkan dari giveaway. Aku juga sedang minat sama buku-buku parenting terutama cara mengasah kecerdasan anak (padahal calon suami aja belum punya).

Beberapa minggu ini, keinginanku untuk beli buku berbau kesehatan terutama seluk beluk Food Combining makin besar gara-gara topik #Bloggers’Challenges yang berkaitan dengan hidup sehat. Semalam, hampir dua jam aku berdiri hanya di rak buku kesehatan dan menganalisis beberapa buku yang membahas tentang kesehatan. Yang paling menarik minat itu buku Food Combining yang ditulis oleh Andang dan harganya lebih dari Rp. 100.000 atau buku-buku Hiromi Sinya. 

Aku bingung, buku mana yang mau kuminta? Minta satu, dua atau tiga. Hahahha. 

Yang kedua, sejak beberapa bulan yang lalu aku pengen beli Wardah Body Mist Shine karena aku muak sama parfumku yang gonta-ganti dan zaman dahulu kala aku pernah sekali beli itu dan seingatku aku suka harumnya. Aku juga pengen pake eyeliner supaya mataku terlihat lebih tegas dan aku emang udah kepincut sama Wardah EyeXpert Optimum Hi-Black Liner karena pas nyobain punya Nisa, rasanya mudah diaplikasikan ke bagian mataku, wkwkw. 

Yang ketiga, aku udah ada rencana mau minta beliin baju tidur katun sama mamak padahal kadoku udah dikasi dari akhir Januari kemarin, hahahhahahha.

Yang keempat, tas ransel kecil cantik untuk pergi-pergi.. Kelima, baju.. Keenam, jilbab.. 

Wah, kalo dipikirin jadinya banyak banget yang pengen dibeli padahal kalo nggak dipikirin, yaa masih bisa ditunda karena ada yang lebih penting untuk diprioritaskan semisal buah-buahan, kartu paket internetan dan makanan sehari-hari untuk anak kos yang galau skripsi sepertiku. 

Tuh kan, padahal di atas akunya bilang kalo aku nggak berharap kado, tapi emang dasar manusia dan berwujud perempuan, dirangsang pake satu pertanyaan aja mikirnya jadi banyak. 

Adekku: Jadi, kakak maunya apa? 

Aku: Adek sanggupnya belikan apa? Kakak mau banyak ni. 

Dalam hati aku terkekeh sendiri, dasar kakak menjajah. 

Adekku: Terserah kakak sih, soalnya adek males beliin sendiri, nanti kakak nggak suka. Tahulah selera kakak beda sama adek. 

Aku: Iya sih. Emangnya adek mau beliin apa? 

Adekku: Adek kepikiran mau beliin jam kayak yang adek kasih ke mamak. 

Aku: Jam? Bukannya nggak suka, tapi emang kakak rasa nggak kakak pake nanti. Soalnya kakak udah punya jam, kan tahun lalu adek ngasi kakak jam. 

Adekku: Tapi kemarin katanya jamnya udah mati. 

Aku: Iya, habis batrenya, pas kakak ganti batre udah bagus dia. Sampe sekarang masih hidup dan kakak pake kalo keluar. Jadi nggak usah jam, soalnya kakak nggak perlu.

Adekku: Jadi maunya apa? 

Aku: Banyak maunya kakak. Ada buku yang pengen kakak beli, judulnya Food Combining. Kakak juga kemarin ada niat pengen beli parfum tapi belum terlalu mendesak. 

Adekku: Yaa elah, mau buku. Yaudah kakak aja yang beli, adek kasi uangnya. 

Aku: Tapi bukunya mahal lhooo. 

Dan kamipun membahas tentang hal itu sekitar beberapa menit sampe akhirnya kami sepakat untuk ketemuan hari Jumat nanti untuk nyari kadoku. Hahahhahahhahaha. 

Jadiiiiii, pertanyaan “Mau kado apa?” itu punya pro dan kontra. 

Pro: saat kita ingin memberikan sesuatu pada orang lain, ada baiknya kita bertanya apa yang benar-benar diinginkannya agar pemberian kita tepat guna.

Kontra: orang yang ditanyain bisa malu-malu atau nggak tahu malu kayak aku ini, hahaha. Dan saat bertanya seperti itu, artinya kita harus siapin budget. 

Jadi, ntar kalo ada orang yang nanya aku mau kado apa, kayaknya aku mau buat tabel distribusi supaya semua yang kuinginkan dapat dimiliki dan aku nggak perlu beli lagi.  Hahahha. 

Perasaan ada yang nanyain -,-.

Okelah, sekian celoteh gajeku ini. 

Iklan