Hai pembacaku tercinta, aku kembali menulis di rubrik celoteh!

Siang ini, saat aku memasukkan makanan ke dalam mulut, tiba-tiba aku merasa ingin menulis tentang hal-hal yang terjadi saat aku makan dari dulu hingga saat ini.

Sejak tantangan menulis tentang hidup sehat di #Bloggers’Challenges, ntah kenapa aku merasa disadarkan dan makin sering mempertanyakan pertanyaan ini, “Sehatkah aku?”, “Apa yang harus kulakukan agar lebih sehat?”, “Apa yang perlu kuhindari?”

We are, what we eat.

Aku percaya dengan kata-kata itu. Kita adalah apa yang kita makan. Artinya, apapun yang masuk dalam mulut (makanan) akan menjadi bagian dari diri ini. Dan seperti konsep yang sering guru Sejarahku tekankan tiap kali mengajar di kelas yaitu belajarlah dari masa lalu, lakukan di masa sekarang untuk mendapatkan masa depan yang baik, aku percaya, jika ingin sehat di masa depan, aku harus mulai membenahi diri dari sekarang. 

Dengan kesadaran itu, aku akan mencatat kebiasaan makanku di sini, sebagai bahan introspeksi diri. 

#

Saat bayi

Kata mamak, saat bayi (usia sudah bisa mengunyah makanan) aku cukup mudah diberi makanan. Aku makan dengan lahap dan tidak menolak diberi sayur saat disuapi. 

Mamak: Dulu Wahidah termasuk anak yang suka sayur lho. Tapi kenapa udah besarnya, kok jarang makan sayur?

Saat TK dan SD

Saat aku mulai agak besar, aku mulai sulit makan dan makan dengan porsi yang tidak banyak. Lebih suka ngemil atau makan jajanan. Aku juga mulai nggak suka dengan sayuran hingga almarhumah atok (ibu dari mamakku) sering membuat cemilan seperti bakwan dengan banyak sayuran di dalamnya agar aku mau makan sayuran lewat bakwan tersebut. 

Masa kanak-kanak, aku suka makanan yang bukan nasi dan lauk namun, jika keluargaku mengundang teman-teman main untuk makan bersama di rumah, aku semangat makan. 

Sikap makanku juga cukup buruk, jika ada makanan, harus habis saat itu juga. Jadi, jajanan nggak pernah bertahan lama karena aku menerapkan mode: habiskan saat itu juga.

Saat SMP

Aku mulai suka buah-buahan karena manfaatnya yang baik untuk tubuh. Aku mengetahuinya ketika membaca di majalah Trubus milik ayah. Majalah itu sering memuat mengenai buah-buahan dengan gambar yang sangat menggiurkan. Namun, buah termasuk makanan elit di rumahku saat itu. Kami hanya makan buah pepaya dan bengkoang, itu pun sesekali.

Masa SMP, aku mulai jarang jajan karena jarang mendapatkan uang saku. Bagi almarhum ayah, jajan itu nggak perlu dan hanya membuang uang.

Ayah: Untuk apa jajan? Pulang sekolah kan sebelum jam makan siang. Kalo lapar, ya makan di rumah. Nggak bagus jajan di luar dan buang-buang uang itu.

Almarhum ayah hampir nggak pernah ngasi aku uang jajan, hanya mamak adan atok yang sesekali ngasi uang untukku dengan jumlah yang nggak pasti dan itupun jika aku memintanya. Jadi, saat SMP, aku rajin makan permen dan sialnya, karena itu aku punya masalah gigi. Wkwkwkkwk. 

Kami punya kesempatan makan makanan selain makanan rumah saat hari besar ataupun saat tamu datang. Selain itu, sekali tiap awal bulan, ayah menyisihkan sedikit uang untuk kami agar bisa membeli makanan luar, namun makannya harus di rumah. 

Saat SMA

Aku gila-gilaan ikut organisasi. Walaupun rumahku hanya berjarak beberapa rumah dari sekolah, aku malas pulang untuk makan. Sebenarnya, alasan utama aku benar-benar bosan dengan lauk yang ada. Aku muak lihat nasi, ikan, sambal dan sayur. Aku bosan dengan menunya yang itu-itu saja. 

Hal ini sebenarnya tidak boleh kulakukan karena sejak kecil aku memiliki gejala maag. 

Almarhum ayah selalu menyuruh kami untuk sarapan sebelum pergi ke sekolah.

Ayah: Kalo nggak makan, nggak usah sekolah. Untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalo penyakitan.

Dan kami biasa sarapan bersama, jadi aku sama sekali nggak bisa menghindari sarapan. 

Masa SMA itu masa-masa pemberontakan. Terkadang, aku dan adikku sengaja makan lebih awal dari jadwal ayah makan (ayah makan pukul setengah 7), kami akan mulai sarapan lebih cepat dengan porsi yang sangat sedikit bahkan kadang kami hanya meletakkan sisa nasi supaya dikira udah makan. Jadi, saat ayah datang, kami seolah-olah sudah selesai makan. 

Bayangkan, pagi nggak sarapan, uang jajan hanya bisa beli roti dan sedikit cemilan, pulang sekolah ikut rapat dan nggak pulang ke rumah, akhirnya nggak perlu nunggu waktu lama, maagku kumat. Hahaha.

Dan saat aku sakit, ayah mulai merepet panjang dan aku dipaksa makan banyak walaupun muntah-muntah. Berbekal ingatan akan penyiksaan itu, aku jadi lebih rajin untuk makan dan nggak berani untuk membandel. Syukurnya, maagku nggak kambuh-kambuh lagi, jadi akupun teratur makan walaupun sebenarnya males. 

Saat kuliah

Aku selalu sarapan, makan siang dan makan sore/malam tanpa melewatkannya. Aku punya kesadaran diri untuk menjaga tubuhku supaya nggak sakit. Aku juga mulai sering beli jus buah, biasanya jambu merah tanpa gula dan es. 

Aku juga mulai mengurangi porsi makanku. Bukan untuk kurus ya! Aku mengurangi porsi makanku jadi setengah. Hal ini dikarenakan aku pernah baca buku tentang pola makan Rasulullah. Beliau makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. 

Aku pun sadar bahwa makan saat benar-benar lapar dan makan dengan porsi yang banyak akan membebani tubuh. Makanya, aku menjaga waktu makanku dan makan sebelum lapar dengan porsi yabg lebih sedikit. 

Aku lebih memilih makan sedikit namun berulang karena riwayat maagku yang membuatku lebih cepat lapar. Namun, seingatku, saat kuliah, jarang sekali aku makan di luar jam makan. Artinya, aku makan hanya saat jamnya saja dan aku jarang ngemil makanan lain. Aku hanya rajin beli rujak buah tanpa bumbu ataupun somboy atau jus buah di sela waktu makan. 

Aku hampir nggak pernah nyimpan makanan di kamar kos. Dan saat ngerjain tugaspun aku hampir nggak pernah ngemil, kecuali saat bareng-bareng teman. 

Coklat, roti, snack jarang kubeli kecuali saat aku bener-bener ngerasa pengen belinya (bisa dibilang setahun sekali).

Namun, sejak ngekos, aku selalu beli makanan di luar. Dan terkadang saat hang out dengan teman-teman, kami makan di tempat-tempat makan (pada jam makan siang). Dan makananku sangat jarang bersentuhan dengan sayuran. Jadi, aku lumayan sering terkena sariawan.

Aku cukup menderita karena sariawan ini sering muncul bahkan pernah jadi penyakit langganan padahal aku rajin beli jus buah (sehari atau dua hari sekali). Hingga akhirnya, beberapa minggu lalu, aku mulai meminum air perasan jeruk nipis hangat saat bangun tidur dan sarapan buah apel, alhamdulillah sariawan nggak pernah muncul lagi. 

Dua hal tersebut (minum jeruk nipis hangat dan sarapan buah) merupakan langkah awal untuk menerapkan pola makan ala food combining.

Food combining ini menurutku adalah pola makan terbaik yang pernah kuketahui. Pola makan yang dilakukan berdasarkan kebutuhan tubuh dan memperhatikan organ-organ pencernaan.

Pola makannya berkaitan dengan keserasian unsur-unsur makanan yang masuk ke tubuh. Jadi, zat makan dapat diolah dengan baik. 

Kendalanya, aku masih belum bisa mengontrol makan siang dan malamku karena aku hanya bisa beli makanan di luar. Tapi, aku yakin, pelan-pelan pasti bisa.

#

Setelah mengingat semuanya, aku merasa ada banyak hal yang bisa kuambil hikmahnya untuk ke depan. Saat mengenang momen-momen di atas, banyak hal yang kusesalkan terutama sikap makanku yang kurang baik, misalnya saat menghabiskan jajanan terlalu banyak saat kecil, nggak suka sayur, sering nunda makan dan makan permen. Namun, aku juga mensyukuri sikap ayah yang melarangku untuk jajan di luar walaupun saat itu aku kesal, memaksaku sarapan dan makan teratur.

Aku juga menyukai diriku yang senang mencari serta membaca buku yang berkaitan dengan kesehatan dan mulai mengendalikan diri terhadap apa yang dimasukkan dalam mulut.

Lewat tulisan ini aku belajar bahwa nantinya, aku bisa lebih memahami pola makan untuk keluargaku kelak. Aku jadi sadar bahwa anak butuh makanan yang bervariasi dan itu disediakan di rumah bukan lewat jajanan luar. 

Iklan