Ceritakan satu negara asing yang ingin kamu kunjungi/menetap di sana.

Itulah topik #BC ke-34 yang diajukan oleh mas Boy.

Saat membaca pengumuman topiknya, aku langsung teringat beberapa negara yang cukup menarik minat.

Jepang (karena Anime dan penasaran dengan sistem pendidikannya).

Korea Selatan (karena drama Korea, oppa-oppa cakep, dan beberapa daerah wisata yang sering dipromosikan dalam drakor).

Saudi Arabia (karena pengen Haji/umrah serta keliling Saudi Arabia dan menyaksikan peradaban Islam di sana).

Turki (karena pengen menelusuri sejarah perkembangan Islam di sana).

Spanyol (karena banyak peradaban Islam di sana).

Australia (karena dekat dengan Indonesia dan penasaran sama dialek Autralian English-nya).

Kanada (karena novel Ranah 3 Warna dan drakor Goblin).

Inggris (karena Sherlock Holmes).

Finlandia (karena sistem pendidikannya).

Swiss (karenaaaaaa….)

Wah, wah.. Lumayan banyak ya? 

Nah, seharusnya dengan list negara sebanyak itu, aku nggak perlu bingung untuk mengerjakan topik kali ini.

Namun nyatanya, tidak semudah itu.

Karena, bukannya fokus pada satu negara, aku justru mulai berpikir, sebenarnya negara yang ideal untuk kutinggali itu seperti apa yaa? 

Selain itu, aku juga nggak tahu apa-apa tentang negara-negara yang menarik minatku tersebut. Cuma pernah kepikiran aja tapi nggak nyari tahu lebih lanjut, wkwk.

Tapi, karena tantangannya harus diselesaikan, aku pun menjatuhkan pilihan pada Swiss.

Kenapa aku tertarik dengan Swiss?

Ini semua bermula saat negara api menyerang. Oke, bukan itu yang awal mulanya.

Pertama kali aku jatuh cinta pada Swiss, saat aku baca bab kedua buku The Geography of Bliss karya Eric Weiner (kalo nggak salah, nggak bisa ngecek karena bukunya lagi dipinjam). 

Seperti judul, buku ini membahas tentang penelitian Eric kala berkunjung ke 10 negara demi mencari tahu tentang kebahagiaan dan hubungannya dengan negara yang dihuni (dihuni? Kayak nggak ada bahasa lain aja, wkwkk). 

Jadi, bab satunya itu bahas tentang Belanda, yang kalo diwakilkan dengan 3 kata: narkotika, prostitusi dan sepeda (aku udah buat tulisannya, cek label notes ya, nggak bisa kasih link karena nulisnya di hp, wkwkwk).

Sebenarnya banyak hal lain sih yang kudapat dari bab pertama itu, yaitu kebiasaan orang Eropa nongkrong di kafe, ada juga peneliti kebahagiaan terkenal serta perpus yang menyimpan database about happines research.

Bab kedua buku itu bahas tentang Swiss. 

Dari pendeskripsian si penulis, aku jadi tahu bahwa Swiss itu bersih, udaranya segar, airnya bersih dan bisa langsung diminum dari keran, orang-orangnya kaya tapi nggak sok kaya, disiplin, hidupnya teratur, dll.

Tetangga saling kenal namun nggak mencampuri urusan orang lain. Namun, jika satu orang/keluarga melakukan kesalahan, maka orang tak segan ngasi sticky notes di mobil atau depan pintu rumahnya supaya si pelaku menyadari kesalahannya. Dan, yaaa, orang yang diberi peringatan memperbaiki dirinya, nggak marah-marah karena sadar dirinya memang salah. 

Mungkin nggak hanya Swiss yang begini, ya kan?

Tapi, ngebayangi di Indonesia, aku bisa ngelakuin itu (ninggalin kritik di sticky note atau mengatakannya pada si pelaku), wah, wah, agak mustahil.

Aku pernah naik angkot dan ada segerombolan bapak-bapak merokok, saat ada penumpang yang bilang (mereka mau merokok untuk kedua kalinya) “Pak, tolong jangan merokok ya.”

Eh, dimaki-maki, katanya gini, “Kan aku juga bayar di sini, kok ngelarang-ngelarang orang merokok sih). Astagfirullah, rasanya pengen loncat dari jendela, keluar dari angkot itu saking sebelnya. 

Kalo di Swiss, mungkin aku bisa nulis di sticky notes, “Please, no smoking. It’s a public transportation.” Terus, aku tempelin ke jidat orang tersebut, mungkin dia bakal baca dan insyaf tanpa bicara apa-apa. 

Nggak nemplokin kertas di jidat orang juga kali, Wa.

Tapi, kira-kira intinya, aku mungkin bisa negur orang tanpa takut dia marah kalo emang salah. 

Dan seriusan, saat baca cerita Eric itu, aku seketika jatuh cinta bahkan rasanya pengen tinggal di sana (tapi nggak jadi, karena nggak ada uang, biaya hidup di sama mahal, nggak ada teman, dan aku nggak tahan cuaca dingin syekali, di ruangan ber-AC aja 15 menit hidungku udah tumpat dan susah nafas plus menggigil dingin, wkkwkwk).

Dari dulu tuh, aku kepengen tinggal di daerah yang lingkungannya asri. Banyak pohon tapi nggak seram kayak desa tapi modern. Akses pendidikan dan kesehatannya oke. Banyak taman. Bisa sepedaan tanpa takut ditabrak orang. Airnya bisa langsung minum dari keran. Nggak banyak polusi. Orang-orangnya saling kenal tapi nggak rese dan suka ngegosipin. Hidupnya teratur dan orang-orangnya saling menghargai. Orang-orang kaya berpenampilan sederhana. 

Nah.. Nah.. 

Kayaknya Swiss ini salah satu yang cocok kan? Kayaknya sih, karena nggak tahu juga, wkwkkwk.

Mungkin kalian bakal mikir, “Bosan dong, Wa kalo hidupnya begitu?”

Tapi yaa, aku emang suka gitu. Walaupun di Indonesia ini aku juga nyaman-nyaman aja. 

Mungkin juga bagi kalian, Swiss itu nggak hebat-hebat banget. Buktinya, di Swiss itu orang-orang boleh bunuh diri. Ada tempatnya dan itu legal. 

Bunuh diri kan diartikan sama dengan nggak bahagia, wkwkwkkwk.

Kalo di Indonesia, iya, orang bunuh diri karena stres hidupnya susah dan jadinya putus asa. Kalo di Swiss, bunuh diri itu dianggap keputusan dan hak untuk memilih mati, wkwkkwk.

Tapi, aku mau ke Swiss bukan untuk bunuh diri ya. Dosa. Dosa. Nauzubillahiminzalik. 

Aku suka aja, kepengen ngerasain tinggal di sana tapi, karena cuacanya yang nggak cocok dengan tubuhku, akhirnya aku nggak berharap lagi (kayak iya iya aja emang ditawari tinggal di sana, wkwk). 

Okelah, itu saja yang bisa kuceritain di postingan kali ini. Semoga suatu saat aku bisa ke sana (nggak tinggal sih, main-main aja pas musim semi atau musim panas, dan gratisan ongkos serta biaya hidup selama di sana *ngigo). 

Nah, kalo kamu mau berkunjung kemana dan kenapa? Kalo mau ke Swiss juga, ajak aku yaa, tapi bayarin akunyaaa.. Hihihi. 

Iklan