Ayah..

Hari ini hari pertama aku resmi jadi siswa SMA..

Jadwal mata pelajaran belum disusun dengan rapi sehingga kepala sekolah meminta wali kelas masuk ke kelas selama beberapa jam sebelum kakak kelas mempromosikan ekstrakurikuler.

Satu jam pertama, beliau bercerita tentang sekolah ini serta memperkenalkan diri. Beliau juga meminta kami untuk memperkenalkan diri, seperti nama lengkap, nama panggilan, tempat dan tanggal lahir, asal sekolah, hobi, alamat, motto hidup, hal yang disukai dan tidak disukai, pelajaran favorit, dan lainnya. 

Mungkin karena ini kali pertama aku jadi siswa SMA dan tidak punya kenalan di kelas, aku mendengarkan cerita teman-temanku dengan serius. 

Banyak anak yang suka membaca buku, menonton drama Korea, olahraga dan menyanyi. 

Pelajaran yang diminati yaitu pelajaran Olahraga, bahasa Indonesia, Matematika, Biologi dan Sejarah.

Sambil mendengarkan, aku juga mencatat beberapa kesanku pada mereka.

Setelah perkenalan selesai, beliau tiba-tiba berkata, “Sekarang, saya beri kalian waktu 10 menit untuk memikirkan tentang orang tua kalian. Khususnya kelebihan ayah dan ibu kalian. Apa yang paling kalian banggakan dari mereka. Nanti, saya akan minta beberapa orang untuk menceritakannya dari bangkunya.”

Kelas tiba-tiba menjadi riuh. Beberapa orang tampak protes, yang lainnya mengeluh. Aku sendiri merasa bingung.

Gimana kalo aku ditunjuk oleh ibu itu?

Apa yang mau kuceritakan?

Apa yang kubanggakan dari ayah dan ibu?

Ayah, ibu, maafkan aku. Bukannya aku nggak bangga pada kalian. 

Aku bahkan akan langsung berkata kalian adalah orang tua terbaik di dunia ini. 

Namun, saat ibu guru memintaku untuk menceritakan tentang “hal apa” yang paling membanggakan dari kalian, aku justru merasa bingung.

Ternyata, aku nggak pernah benar-benar memikirkan kalian. Aku jarang mengamati dan menghargai yang kalian lakukan. 

Aku hanya merasa apa yang terjadi di rumah memang sudah seharusnya terjadi.

Aku bahkan nggak menyadari kebiasaan-kebiasaan kita.

Sebenarnya, selama ini aku ngapain sih?

Aku merasa malu pada diriku sendiri. Aku menatap jam di dinding, tinggal 5 menit lagi. 

Aku harus menemukan sesuatu. Aku berusaha mengingat keadaan di rumah. Sikap orang tuaku. Aku juga mulai mengingat saat-saat aku berkumpul dengan keluargaku yang lain. Mengingat perbedaan di rumahku dengan rumah orang lain. Mengingat percakapanku dengan teman-temanku. 

Hingga aku menemukannya.

Tepat saat aku menyadarinya, mataku bersitatap dengan bu guru dan beliau langsung menunjukku, “Ya kamu, silakan ceritakan.”

Semua mata tertuju padaku. Aku merasa gugup namun lega karena sudah menemukan sesuatu yang bisa diceritakan. 

Ayah, ingin tahu apa yang kukatakan di hadapan semua orang di kelas? 

Baiklah, akan kuceritakan.

Aku berdiri, menarik nafas. Setelah tenang, aku mulai bicara..

“Sejujurnya, saya bingung sekali harus bercerita apa tentang orang tua saya. Saya bangga memiliki mereka. Saya bahkan nggak pernah berpikir untuk menukar mereka dengan ayah atau ibu yang lain.

Saat hari raya atau saat kami menginap di rumah sodara, saya sering mendengar bahwa ayah saya orangnya sangat disiplin. 10 menit sebelum azan, beliau sudah ribut menyuruh kami ambil wudu. Setelahnya, sajadah harus dibentangkan. Saat azan mulai berkumandang, TV harus dimatikan atau dikecilkan suaranya. Keadaan rumah itu menjadi hening. Ibu dan saya harus sudah memakai mukenah.

Setelah azan, beliau ikamah lalu melakukan takbir. 

Asalkan sudah masuk waktu salat dan sudah ada makmum, beliau langsung mulai salat. 

Sikap ayah dan ibu yang hampir tidak pernah melalaikan salat membuat keadaan agak berbeda di rumah sodara saya. 

Jika kami menginap di rumah mereka, mereka sudah tahu harus menyiapkan banyak sajadah dan mukenah karena sodara saya yang lain juga ikut salat. Saat azanpun, suara-suara lain dikecilkan. 

Kalau ada ayah dan ibu, salat berjamaah sering dilakukan. 

Jika saya menginap di rumah sodara tanpa orang tua ikut menginap, saya hanya salat sendirian. Saat azan berkumandang, tidak ada yang bergerak dari tempatnya. Sekitar 15 menit setelah azan, sms masuk ke hp, dari ayah, beliau bertanya, “Udah salat nak?”

Saya buru-buru ke kamar mandi untuk ambil wudu lalu salat. Setelahnya saya baru membalas sms ayah, “Udah yah.”

Saya rasa, itulah hal yang paling saya banggakan dan paling saya syukuri dari sikap orang tua saya. Saya menyadarinya hari ini. Sekian dari saya.”

Keadaan kelas tetap hening untuk beberapa saat hingga suara bu guru bertepuk tangan membuat teman yang lain juga bertepuk tangan. Kemudian, teman-teman yang lain mulai bercerita. 

Ada yang bangga karena ayahnya sering mengantarnya ke sekolah dan ibunya bisa dijadikan teman curhat.

Ada yang bangga karena ayah dan ibunya menemaninya belajar.

Ada yang bangga karena ayah dan ibunya nggak pernah bicara kasar. 

Ada yang bangga karena ayah dan ibunya nggak memaksanya untuk bisa semua pelajaran.

Ada yang bangga karena ayahnya jago olahraga dan ibunya jago masak.

Ada yang bangga karena orang tuanya nggak pernah membatasinya beli buku.

Saat mendengarkannya, aku juga ikut mengangguk bila ternyata ayah dan ibu juga melakukannya.

Ayah, ibu..

Hari ini, saat pulang sekolah, aku merasakan sesuatu yang lain saat menyalam kedua tangan kalian. 

Aku merasa bersyukur. Lebih bersyukur daripada biasanya. 

Ayah, ibu, aku sayang kalian. 

Iklan