Sabtu pagi, sekitar pukul 8, pintu kamar Laila diketuk oleh Luna.

“Laaa, udah bangun? Sarapan bareng yuk di teras.”

“Ntar lagi lah. Masih ngantuk banget ini.”

“Yaudah, 10 menit lagi ya. Buahnya apel lho. Ntar kami habiskan kalo kamu nggak bangun juga.”

“Ya bawel.”

“Yuk Fid, bantuin aku potong-potong apelnya.” Luna mengajakku ke kamarnya untuk mengambil apel yang kemarin sore kami beli bersama.

Setelah mencuci apel dan memotongnya dalam ukuran kecil, kami membaginya menjadi 3 mangkuk dan membawanya ke teras kos. 

“Tuh kan, apaan 10 menit, udah 20 menit pun belum dateng juga dia. Fid, aku ambil minum dulu ya sekalian ke kamar Lela lagi.”

“Ok.”

Beberapa menit kemudian Laila dan Luna muncul bersamaan.

“Ih.. Luna ini emang rese banget deh. Hari Sabtu lho ini, ngapain bangun cepat-cepat.” Laila mengomel.

“Sarapan itu jangan terlalu lama.”

Kamipun mulai menyantap apel tersebut. Laila memasukkan dua potong apel sekaligus ke dalam mulutnya. 

“Pelan-pelan aja makannya Laa.” ucap Luna sambil memasukkan satu potongan kecil ke mulutnya.

“Apaan sih, ini kan jatahku sendiri, suka-suka aku dong mau makannya gimana.”

Luna diam saja, dia fokus mengunyah makanannya. Setelah selesai, dia mulai berbicara.

“Kalo makan itu pelan-pelan. Apalagi makan buah. Buah itu mengandung fruktosa, pas di mulut harus dikunyah dengan baik dan harus tercampur air liur.Lagian kalo kamu terlalu cepat makan buah, hasilnya jadi nggak maksimal.”

“Ya deh.. Ya deh.. Anak Biologi. Aku mah apa atuh.”

Sebenarnya, perdebatan ini bukan pertama kalinya. Aku, Laila dan Luna cukup akrab karena kami berasal dari kota yang sama. Kami memang sering sarapan bersama terutama di hari Sabtu karena tidak ada perkuliahan. Dulu kami sarapan lontong atau nasi gurih, tapi sejak dua bulan ini, Luna mulai mengkampanyekan sarapan buah dan yah, setelah berulang kali dia membahas itu, akhirnya aku dan Laila setuju.

Laila dan Luna sering adu mulut. Laila itu cenderung sanguinis, nggak mau ribet, ngomongnya blak-blakan, susah mendengarkan orang lain tapi orang lain mudah memaafkannya. Sedangkan Luna lebih melankolis, suka keteraturan dan idealis, untung saja dia nggak gampang tersinggung. Sedangkan aku sendiri? Ah, nggak perlu lah aku jelaskan pada kalian. 

Babak pertama pertengkaran Laila dan Luna sudah selesai. Kini babak kedua akan dimulai.

Karena Laila nggak mau mendengarkan ucapan Luna (mengunyah makan pelan-pelan agar tercampur air liur), buah di mangkuk Laila lebih cepat habis. 

“Aku ke kamar dulu ya, mau buat teh.” Laila hendak berdiri namun ditahan oleh Luna.

“Jangan. Selesai makan harus duduk tenang, kasian lambungnya.”

“Yaelah, cuma makan buah seuprit doang. Nggak terasa apa-apa pun ini.”

“Itu karena nggak dikunyah bagus-bagus. Kalo bagus, pasti sekarang udah ngerasa kenyang lho. Ini juga, kenapa kulitnya dibuangin, sengaja nggak aku kupas kulitnya karena banyak seratnya.”

“Nggak enak kalo dimakan sekalian kulitnya. Lagian, aku menghindari pestisida yang nempel di kulitnya.”

“Tadi aku udah cuci bersih di air ngalir lho.”

“Yakin bebas pestisida?”

Luna diam saja. 

“Yaudah, aku mau ke kamar dulu, buat teh.”

“Jangan. Minum air putih aja, ini aku udah bawain untuk kita.” Luna menuangkan air ke dalam gelas dan menyodorkannya pada Laila.

“Nggak mau, aku mau minum teh manis.”

“Teh manis itu nggak bagus diminum sering-sering apalagi ini baru aja makan buah lho. Buah nggak boleh dicampur yang lain, minum air putih aja.”

“Tapi aku udah biasa minum teh pagi-pagi.”

“Aduh, berapa kali sih aku harus jelasin. Pertama, buah itu nggak baik dikonsumsi dengan campuran lainnya, minum air putih udah cukup. Kedua, minum teh manis setelah makan buah itu buat ledakan gula di tubuh secara mendadak. Ketiga, teh itu sifatnya diuretik, jadi kalo sering minum teh, lebih cepat dehidrasi.”

“Bla..bla..bla..” Laila menutup telinganya dan bersenandung sendiri supaya Luna berhenti bicara.

Yaa, dua bulan ini, setiap Sabtu pagi, mereka selalu berdebat hal yang sama. Aku sendiri tak mau terlibat. Aku pura-pura membaca novel supaya mereka nggak meminta pembelaan padaku. 

Iklan