Tantangan nulis #Bloggers’Challenges ke-38 diberikan oleh Amru.

Cara Melupakan Mantan.

Topiknya sederhana. 3 kata doang. Singkat. Padat. Dan efeknya refleks bikin teriak, “Sial!”.

Beneran, saat baca pengumuman di grup Line, mulut ini langsung bereaksi seperti itu. 

Bukan karena akunya sensi atau sebal. Cuma nggak ketebak aja dan yaaah.. You know lah, membahas sesuatu yang berkaitan dengan mantan itu, sensasinya kayak digelitikin. Geli-geli sampe pengen nangis gitu. Wkwkkwkwkkwk.

Dan sejujurnya, aku sedang dalam mode: LUPA PADA MANTAN. 

Sehingga, saat baca topik ini, jadinya kepikiran dia lagi. Wkwkwkkwk.

Aku pikir, hutangku bakal bertambah karena topik ini, tapi tadi pagi buka WordPress Readers dan ternyata mas Boy ngelunasin hutang-hutangnya, bahkan nyelesain topik minggu ini, rasanya terpacu gityuuuuu.

Daripada lama-lama ingat si mantan, bagusan diselesaikan sekarang. 

Nah, karena topik ini agak populer, kalian bisa searching di Google untuk jawaban-jawaban paling bagus, dan karena aku juga nggak yakin atau benar-benar mikirin hal-hal semacam “Strategi Jitu Melupakan Mantan”, aku akan fokus membahas tentang pengalaman pribadi yang berkaitan dengan topik ini. 

Yaa, karena, selain tips melupakan mantan, Amru juga bilang, “Boleh cerita pengalaman pribadi.”

Jadi, di postingan ini aku mau nostalgia dikit tentang aku dan mantan-mantan. Wkwkwkkwkwkwk.

Sebagai cewek biasa yang pernah labil dan sepertinya masih belum begitu stabil, aku pernah pacaran beberapa kali. 

Model pendekatannya sms, telpon, ketemuan. Frekuensi sms: sangat sering, telpon: jarang, ketemuan: jarang banget.

Jadiiii, aku mengenal mantanku dari caranya berkomunikasi lewat tulisan. 

SMS. Modal sedikit, smsan sampe muak. Wkwkkwkwkwk.

Namanya juga cinta di masa muda. Masih sekolah. Dapat uang jajan aja udah hebat, jadi pacarannya musti hemat. Yang penting saling sayang, peduli dan perhatian. 

Pas pacaran, aku  tipe cewek yang ngikutin gaya pendekatan dari sang cowok. Kalo dari awal dia manis, baik, perhatian, aku juga gitu. Kalo dianya cuek, aku juga nggak begitu heboh ke dia (tapi curhat di medsos, uggh, malu ngingatnya).

Aku menghindari adanya konflik, jadi aku nggak suka marah-marah, kalo ngambek juga nggak lama-lama, beberapa menit aja. Hahaha. 

Duh, jadi ingat sama ucapan mantan terakhir, “Kamu mana bisa marah sama aku, ya kan?”

Haha. Aku emang nggak bisa marah sama orang lama-lama, apalagi sama mereka yang kusayangi. 

Lagian, ngambek di sms mana seru, haha.

Mungkin karena aku seperti itu, cowok jadi jenuh. 

Dari hubungan yang sebiasa itu aja, aku tetap merasa terluka tiap kali putus. 

Terluka karena pake hati. 

Pasti sedih kehilangan cinta dari orang yang kita sayang, ya kan?

Sejujurnya, aku juga tipe cewek yang lebih suka diputusin daripada mutusin hubungan. Dan kenyataannya, aku selalu diputusin dengan alasan yang klise: kamu terlalu baik untuk aku, aku nggak mau nyakitin kamu lebih dari ini. Semoga kamu jumpa laki-laki yang lebih baik dari aku tapiiiii kita tetap temenan ya. 

Lucu ya? Lebih masuk akal kalo dia bilangnya gini, “Aku udah nggak cinta sama kamu lagi. Aku udah nggak tertarik sama kamu. Aku bosan.”

Karena, aku sebagai seorang cewek, justru merasa beruntung kalo ketemu sama cowok yang bener-bener baik, aku nggak mau nyakitin dia dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik supaya cocok sama dia. 

Tapi yaudahlah, tiap orang punya pola pikir masing-masing. 

Then, kenapa aku lebih milih nunggu diputusin? 

Alasannya sederhana: nggak mau nyesal nantinya dan pengen mempertahankan hubungan karena, kalo sekali putus, ya putus. Nggak pake istilah putus-nyambung. 

Jadi, saat putus, walaupun sedih (banget), aku berpikir bahwa, “Aku udah berusaha melakukan yang terbaik untuk hubungan ini. Dan dia mungkin bukan the right one.”

Setelah putus, aku mengalami fase kangen dan kehilangan. Fyi, itu rasanya nggak enak dan bener-bener nyesek lho. 

Dan bener kata mas Boy serta artikel-artikel tentang move on di Google: jangan pernah berusaha untuk melupakan dia. Semakin berusaha untuk dilupakan malah semakin ingat. 

Bener banget itu.

Lihat hp, ingat mantan nggak sms lagi.

Dengerin lagu, ingat mantan karena liriknya sesuai sama perasaan.

Baca buku, ingat mantan karena kisahnya bikin iri.

Nonton film, ingat mantan karena dia suka nonton juga.

Saat makan, ingat mantan yang sering ngingetin makan.

Mau tidur, ingat mantan nggak ngucapin met tidur lagi.

Pokoknya, hati dan otak sekongkol untuk mengenang dia. 

Fase selanjutnya, aku mulai mengumpulkan semua hal tentang dia yang masih tersisa dan bergelung dalam kenangan manis yang pernah ada. Misalnya, dia ngasih sesuatu, aku cari dan lihat sesekali. Smsnya yang manis masih disimpan di hp. 

Gimana bisa ngelupain dia coba? 

Tapiiii, lama kelamaan, aku mulai terbiasa tanpa dirinya. Walaupun rindu, aku berusaha nahan diri untuk nggak menghubunginya. Aku juga berhenti terlalu heboh di media sosial. Aku nggak begitu mau peduli update-an statusnya. 

Bahkan, aku mulai melupakan detail-detail tentangnya. 

Yaa, lupanya hanya sebatas itu. Tiba-tiba suatu saat ada “trigger” tentang mantan, ya keinget lagi. 

Contohnya, saat Amru minta kami nulis tentang cara ngelupain mantan ini. Otomatis memoriku tentang mereka kembali muncul.

Hanya saja, nggak berwarna seperti dulu.

Mana bisa lupa total.

Sama seperti kita melupakan hal lainnya yang pernah ada dan terjadi di hidup kita. Suatu saat mungkin kita bakal ingat hal itu lagi. 

Konsep lupa ada dua (ala Wawa):

1. Lupa untuk sementara.

2. Lupa untuk waktu yang sangat lama hingga kemungkinan nggak bisa diingat lagi.

Tapi, aku secara pribadi nggak begitu pengen ngelupain mantan sih. Soalnya, dia kan pernah ada di hati dan pernah menjadi orang yang begitu kusayangi. 

Aku hanya nggak mau memikirkan dia dengan sengaja. 

Yah, kesimpulan tulisan nggak jelas ini adalah: kita bisa melupakan mantan semudah mengingatnya. 

Kita bisa melupakannya saat kita membiarkan diri melakukan hal yang lain dan nggak perlu berusaha mati-matian untuk melupakannya. Dan saat kita mendapat pemicu (trigger), kita bisa dengan mudah ingat lagi. Namun, perlu diingat bahwa sifat kenangan itu umumnya memudar seiring berjalannya waktu. 

Jadi, gimana caranya bisa ngelupain mantan?

Tergantung seberapa akut perasaan yang tertinggal di hatimu. Tapi secara garis besar sih:

1. Jangan memaksa diri untuk melupakannya.

2. Isi pikiran dengan hal-hal lain yang lebih bermanfaat.

3. Paparkan diri dengan semua hal yang berkaitan dengan dia dan sugesti diri untuk bersikap biasa saja agar melemahkan fokus kita terhadap hal berbau dirinya.

4. Hentikan segala usaha untuk mencari tahu tentangnya kecuali dia yang menghubungi terlebih dahulu (dan kemungkinannya kecil kecuali lingkungan pertemanan kita dekat dengannya).

5. Kalo tiba-tiba ketemu, bersikap biasa aja. Anggap dirinya sama dengan yang lainnya. 

6. Jangan bertindak defensif dan mencari-cari keburukannya.

Oke, sekian curhat nggak jelas ini.

Setelah diingat-ingat kayaknya topik si Amru ini selalu berkaitan tentang “suka”, “cinta” dan “mantan”. 

Konsisten banget si Amru ini.. -,-

Wkwkkwkwkwkkwk. 

Tapi yang penting, tulisan ini selesai juga. 

Saatnya kembali ke mode: SEDANG LUPA PADA MANTAN. 

Iklan