My passion in writing is back. 

Sepertinya.

Yah, akhir-akhir ini aku cuma buka aplikasi WordPress untuk cek Statistik. Ngelihat berapa pembaca blog tanpa melakukan promosi sedikitpun.. dan yeaaah, karena blog ini alamatnya juga nggak ngehits, tahu deh pengunjung hariannya berapa, seuprit.

Tapi nggak apa-apa, itu semua karena akunya yang masih begini, tulisanku masih banyakan ocehan nggak jelas daripada yang jelas. 

Sebenarnya, selain cek Statistik, aku juga selalu buka Post Blog, niatnya pengen nulis, setidaknya nyelesain utang #Bloggers’Challenges, tapi pas mau nulis, stuck di judul. Mau abaikan judul dan langsung nulis, eh, bingung nentuin kalimat pertama. Kalo kalimat pembuka udah ketemu, ehh, bingung tentang “alur” tulisannya.

Nasib yang galau revisi. Upssss. Keceplosan. Wkwkwkwk.

Jadi, dua hari yang lalu, aku lagi sarapan buah, terus tiba-tiba keinget sama momen-momen yang berkaitan dengan makan. Daripada disimpan di dalam hati, aku nulis postingan berjudul Pada Suatu Pagi, Saat Makan Buah. 

Inti dari postingan itu:

1. Sarapan itu bagusnya cuma buah aja dan makan buah jangan dicampur makanan lain.

2. Biasakan cuma minum air putih dan kurangi konsumsi minuman lain seperti teh.

3. Makan itu pelan-pelan dan kunyah makanan dengan baik agar tercampur dengan air liur.

4. Jangan banyak gerak setelah makan, istirahat sebentar.

5. Cuci buah dengan bersih di air yang mengalir.

Nggak nyangka, baru ngepost, mas Arif nge-like gitu, terus ngomen juga. 

“Eh, ternyata ada yang baca.” Rasanya senang seperti ityuuuu.

Walaupun tulisannya pendek dan agak kaku, nggak apa-apalah. Jadi agak semangat. Baru sadar the power of someone’s reading, liking and commenting (apaan sih ini bahasanya, -,-) bisa bikin semangat naik. 

Panjang ya, pembukaannya. Haha.

Sengaja sih, karena isi tulisannya agak pribadi jadi akunya pengen yang baca emang orang yang penasaran sama ceritaku (kalo baca prolognya aja udah bosan, nggak dibaca kelanjutannya juga nggak apa-apa). 

#

Well, back to the topic.

Sesuai judul, pagi ini aku teringat percakapan antara aku dan wakku beberapa bulan lalu mengenai istri idaman, esssehh.. 

Awalnya aku nggak pengen nulis tentang ini, tapi ternyata aku hampir lupa dan rasanya sayang aja kalo ingatan tentang percakapan ini hilang dari pikiran. 

Warning: Tulisan ini bakal panjang banget.

#

Suatu hari, wakku datang bersama temannya ke rumah. Ntah kenapa, sepertinya itu adalah momen pertama kalinya aku bisa ngerasa akrab sama temennya wakku itu (sebut saja wak A) padahal aku lumayan sering ketemu wak A kalo lagi main ke rumah wakku di Medan.

Selesai makan, kami semua ngumpul di ruang TV dan ngobrol. Aku dengerin cerita-cerita mereka (mami, papi, wakku dan wak A), sesekali aku ikut kasih komentar supaya nggak dianggap pasif. Wkwkwkkwk.

Tiba-tiba aku nanya, “Wak, sebagai seorang laki-laki, kalo ngelihat perempuan yang kayaknya cocok jadi calon istri itu gimana?”

Aku sengaja bilang “calon istri”, bukannya cewek yang pengen dijadikan pacar. 

Pertanyaan itu muncul dari rasa penasaranku, “Apa sih kualitas atau bibit-bibit yang bikin cowok kepikiran untuk nikahin cewek?” 

Reaksi pertama mereka adalah melihatku dengan serius. 

Wak A: Kenapa pengen tahu tentang itu?

Aku: Yaa, pengen tahu aja wak. Penasaran, kira-kira apa sih yang dilakukan cewek dan bikin cowok jadi pengen nikahin dia. 

Mami: Kenapa? Wahidah udah pengen nikah ya?

Aku: Bukan gitu, pengen tahu aja, mumpung bisa nanya ini.

Saat itu aku mikirnya, kapan lagi bisa nanya hal seperti ini dari seseorang yang kehidupannya “beda” dengan orang-orang yang kukenal (aku kurang dekat sama orang-orang tua). Kapan lagi bisa nanya sama pria dewasa. Wak A ini umurnya udah 50-an. Kayaknya dulu kuliah Teknik. Tinggalnya di Medan. Udah punya menantu dan cucu.

Kalo dipikirkan lebih lanjut, pertanyaanku ini adalah tipe pertanyaan yang punya makna lebih dari satu. 

Bahkan maknanya bisa sampe sespesifik “Hal apa sih yang bisa bikin cowok klepek-klepek, tiba-tiba jatuh cinta, atau bikin kadar cintanya meningkat pesat sampe bikin seorang cowok kepikiran, mungkin dia bisa jadi istriku dan ibu bagi anakku?”

Wak A menatap mataku beberapa detik.

Wak A: Yaaa, sebenarnya ini nggak boleh dikasih tahu. 

Aku: Kenapa gitu?

Wak A: Karena ini rahasia. Kalo diceritain, ntar cewek jadinya pura-pura. Nggak jadi dirinya sendiri.

Aku: Eh, bukan gitu maksudnya wak. Masa jadi pura-pura sih, ya nggak lah. Pengen introspeksi diri aja wak, mana tahu yang dilakukan itu udah bagus atau perlu diperbaiki.

Mami: Iya bang. Bukan maksudnya supaya bisa pura-pura bagus di depan laki-laki. 

Mami belain aku, haha. 

Tapi emang bener kan? Aku nanyain ini karena aku sadar bahwa ada jurang pemisah antara pola pikir cewek dan cowok. Dan, karena cowok itu jarang ngutarain perasaannya (ngerasa nggak perlu dipikirkan atau dibahas), jadinya cewek sering tenggelam dalam asumsinya sendiri.

Bukannya lebih bagus kita nyari data yang akurat? Kalo pengen tahu tentang pikiran cowok, ya tanya langsung sama cowok, jangan menduga-duga. 

Aku sebenarnya pengen nanya sama temen-temen cowokku tentang hal ini, tapi kalo aku nanyain ini, biasanya mereka diem dan ngerasa topik ini agak berat. 

Reaksinya sering seperti ini:

“What? Calon istri? Mikirin nikah juga belum Wa.”

“Aku sih nggak pernah mikirin kayak gitu, let it flow aja.”

“Boro-boro calon istri, Wa. Punya pacar aja kagak. Masih mencoba move on nih.”

Paling bagus reaksinya seperti ini:

“Hm, cantik, baik, bisa masak, mau nerima aku apa adanya.” 

Nah, yang jadi pertanyaanku itu lebih spesifik lagi. Lebih ke “moment”-nya. 

Misalnya nih ya, kalo aku secara pribadi, ngerasa “melting” itu saat waktu azan berkumandang, terus ada cowok yang bilang, “Aku salat dulu ya.”

Lebih meleleh lagi kalo dia bilang, “Udah azan nih, yuk kita salat.”

Dan lebih meleleh lagi kalo dia bilang, “Salat bareng yuk, aku jadi imam.”

Kalo ketemu cowok model begitu, rasanya pengen bilang, “Nikah yokk.”

Hehehehhehee.

Saat waktu salat udah tiba dan aku kebetulan bareng cowok yang seperti itu, sedikit banyak aku pasti mikirin dia bisa jadi salah satu cowok yang perlu diperhatikan lebih lanjut. 

Beda lagi feel-nya kalo ketemu cowok yang nggak peduli untuk salat.

Cewek: Eh, udah azan, salat yuk.

Cowok A: Iya bentar lagi. Luan aja. Nggak beberapa lama salat. (poin 0)

Cowok B: Nanti. Luan aja. Nggak beneran salat, cuma alasan aja. (poin -1)

Cowok C: Udah pernah. (poin -2)

Cowok D: Kapan-kapan ya. (poin -3).

Poinnya nggak beneran kok, cuma contoh aja supaya kalian bisa lebih paham dengan ilustrasi di atas. 

Tapi itu sifatnya personal ya. Dan terlepas dari “gimana kualitas salatnya” (karena kita nggak bisa nilai hal tersebut, hanya malaikat dan Allah yang tahu) setidaknya tampilannya (appearance) gitu. 

Lanjut yaaaah.

Wak A: Yaudah, ini wak bocorin dikit ya. Pertama, kalo makan, usahakan nggak bersisa. Jangan mubazir. Ambil makanan sesuai dengan kapasitas diri. Kalo kurang, bisa nambah, asalkan jangan terbuang.

Aku: Alhamdulillah yaa, bisa. Tapi wak, kalo misalnya makanan yang di piring kita itu nggak kita sukai dan bukan kita yang kasi porsinya gimana?

Wak A: Hm, lebih ke nasinya sih. Dan lauk utama. Ya, pokoknya usahakan supaya nggak bersisa apa yang ada di piring itu. Tahu kenapa nggak boleh mubazir?

Aku: Karena mubazir temennya setan.

Wak A: Bukan. Eh, iya juga, tapi, nyisain makanan itu membuat cowok berpikir, “Ah, belum nikah aja udah kayak gini.” Itu kan bisa nunjukkin seseorang itu boros atau nggak. Biasanya, kalo ngebuang makanan dengan gampang, bisa aja dia juga susah ngatur keuangan kan?

Aku: Iya juga ya. 

Wak A: Tapi itu perlu dibuktikan lagi ya. Pokoknya intinya kira-kira seperti itu.

Oke, poin pertama bisa dipahami. 

Aku juga setuju dengan hal yang satu ini. Dan beberapa cowok yang kukenal juga pernah menunjukkan ketidaksimpatian mereka saat cewek nggak menghabiskan makanannya saat makan bareng.

Btw, sejak kecil aku sering ditegur kalo makan itu nggak sampe habis apalagi kalo makanan itu aku sendiri yang ambil (bukan dijatah orang lain). Dulu, aku masih sering nggak bisa ngukur porsi sendiri, tapi kalo sekarang, hampir nggak pernah lah nggak ngehabiskan makanan yang kupilih sendiri, kecuali kalo rasa makanan tersebut bener-bener salah kuprediksi. 

Aku juga lebih suka prinsip, “Ambil sedikit, kalo kurang bisa ditambah, asal nggak dibuang.” 

Baik itu dalam makan maupun minum.

Tapi, demi menghindari “menyisakan makanan/minuman” aku sering dianggap agak pemilih.

Makanya, tukang jualan sering heran sama aku bahkan salah paham.

Contohnya:

Aku: Jusnya nggak usah pake gula dan nggak pake es juga ya, bang.

Abang jus: Nggak pake gelas juga ya dek?

Orang lain di sekitar situ: Ngehindari gula ya dek, supaya nggak sakit gula?

Aku: Hehe, gitu deh.

Padahal sebenarnya aku punya banyak alasan atas pilihanku tersebut, seperti:

1.Daripada repot-repot bilang “gulanya dikit aja atau gulanya satu sendok kecil” lalu si tukang jus lupa dan ngasi takaran gula yang cetar membahana ulala bikin rasanya enek dan efeknya bisa bikin aku nggak ngehabiskan jus tersebut. Aku juga nggak begitu suka sesuatu yang terlalu manis dan karena aku udah terbiasa minum jus tanpa gula, yaa santai aja. 

2. Aku emang kurang suka minuman dingin karena sejak kecil nggak dibiasain minum es. Lagian, minum es itu enaknya cuma di leher, nggak enak di perut. Minum es juga membebani kerja tubuh. Aku lebih suka temperatur normal dan hangat. 

3. Jus buah itu sebaiknya dikonsumsi saat buah masih segar dan tanpa campuran apapun. Penambahan gula hanya merusak manfaat jus dan aku nggak mau nyia-nyiain manfaat tersebut hanya karena perbedaan kenikmatan yang sedikit (antara nggak pake gula dengan sedikit tambahan gula).

Tapi, aku nggak bisa jelaskan argumen ini ke tukang jus tersebut kan? Panjang banget dan takutnya mereka ngerasa nggak enak buat ngajak aku ngobrol lagi. 

Contoh lainnya:

Aku: Bu, nasinya dikit aja ya, sambalnya juga dikit aja, umm, nggak usah pake sayur.

Tukang jualan: Diet ya dek? Nggak suka sambal ya? Nggak suka sayur juga?

Padahal alasannya nggak seperti itu:

1. Nasi bungkus itu biasanya porsi kuli. Nasinya banyak banget sedangkan aku biasa makan sendirian, mana habis. Aku juga sekarang makan itu nggak begitu banyak karena mempertimbangkan kapasitas lambung. Aku lebih mikir makan beberapa kali dalam porsi sedikit ketimbang banyak dalam satu waktu. Sedangkan nasi bungkus itu formatnya lebih ke “makan dalam satu waktu saja”.

2. Cabe itu mahal dan kebetulan aku nggk begitu tahan pedas. Daripada aku kepedasan dan nggak bisa lanjut makan, lebih bagus porsinya aku kurangi, lagian kan kasian si tukang jualan bisa hemat sambal dan pembeli lain yang mungkin bisa menghabiskan sambal tersebut lebih baik daripada aku. 

3. Aku suka sayur tapi nggak semuanya. Aku kurang suka sayur bersantan sedangkan tempat makan biasanya didominasi sama sayuran tersebut.

Kadang aku sering bingung jawab pertanyaan kayak gini. Nggak dijawab, hati nggak tenang karena dianggap seperti itu, kalo dijawab, nggak cocok, malah dikira yang nggak-nggak.  

Lanjut lagi yah.

Wak A: Kedua, jangan buat laki-laki menunggu terlalu lama. Ini sih biasanya kalo janjian. Kadang perempuan sering tuh dandannya lama, jadi cowoknya nungguin lama. Nggak apa-apa sih buat cowok nunggu dikit, tapi ya itu tadi, jangan dibiasakan. 

Aku: Sip. 

Wak A: Tahu kenapa wak bilang seperti itu?

Aku: Karena kalo kita buat orang nunggu terlalu lama, artinya kita nggak begitu menghargai orangnya. Kalo kita menghargai seseorang, kita nggak mau membuatnya menunggu terlalu lama.

Wak A: Iya bener itu. 

Aku nggak bisa banyak berkomentar soalnya aku hampir nggak pernah janjian berdua sama cowok. Hahahha. 

Pernah sih, tapi bukan dalam konsep nge-date. Dan aku memang tipe orang yang kalo janjian berdua (dengan siapapun itu) berprinsip, lebih baik menunggu daripada ditunggu. 

Bicara tentang menunggu, aku jadinya keinget sama pengalaman teman-temanku (cewek) yang sering banget diphp-in cowoknya. 

Mereka itu sering banget bikin ceweknya nunggu, bahkan sampe berjam-jam. Seperti kawan dekatku, dia kalo janjian sama cowoknya perlu bilang satu jam sebelum waktu yang sebenarnya. Jadi, kalo ceweknya bilang jam 1, artinya si cewek udah tahu si cowok bakal datang jam 2 lewat. Dan walaupun mereka sering mempermasalahkan hal ini, tetep aja si cowok ngaret melulu bahkan saat si cowok yang nentukan waktu janjiannya. 

Kawanku pernah bilang, “Pas belum jadian, jemputnya cepat banget sampe terburu-buru. Eh, pas udah jadi, dibuatnya nunggu berjam-jam.”

Jadi, mengenai hal ini, aku ngerasa cowok juga perlu menghargai janji yang mereka sepakati. Jangan membuat saling menunggu. Karena terlalu lama menunggu mengundang resah dan masalah. (Ngomong apa sih -,-).

Oke, selanjutnya.

Wak A: Ketiga, kalo janjian keluar bareng, jangan dandan terlalu cantik, biasa aja. Boleh berbedak dan ber-lipstik tapi nggak usah berlebihan.

Wakku: Lho, bang? Bukannya dandan cantik karena jalannya sama dia?

Wak A: Logika gini, kalo pas jalan sama kita dia dandannya terlalu cantik. Dia dandan untuk siapa? Untuk dilihat orang-orang lain kan? Istri itu cantik untuk siapa? Suaminya kan? Artinya seharusnya dia lebih cantik di rumahnya. Tapi biasanya, cewek kalo di rumah gayanya berantakan tapi sekali keluar cantik luar biasa. Coba pikirin dari sudut pandang suaminya. 

Aku: Iya juga ya. Padahal kami ngiranya pas jalan harus dandan cantik supaya cowok senang. 

Wak A: Ya cowok senang aja kalo lihat cewek cantik. Tapi ya itu tadi, kalo bisa dandanannya jangan terlalu banting sama penampilan di rumah. Contohnya gini, misalnya cowok dateng ke rumah si cewek. Nah, si cewek ini keluar dengan baju piyama, muka kucel, rambut nggak diikat rapi, terus setelah ngobrol, cowoknya ngajak jalan. Lalu, si cewek siap-siap. Pas keluar, eh, si cewek berubah jadi cantik banget. Gimana perasaan si cowok saat si cewek dilihatin cowok lain? Jadi sebenarnya dia dandan untuk siapa?

Aku: Oh, jadi gitu ya. Lebih ke pandang cowok itu seandainya jadi suaminya nanti. 

Wak A: Iya, gitu maksudnya. Tapi bukan berarti pas keluar jadinya cuek sama penampilan ya.

Aku: Sip.

Aku jadi menyadari ternyata ucapan wak A ada benarnya. Selama ini, cewek terkadang dandan cantik karena mikir dia bakal jalan sama cowok yang disukainya, tapi ternyata, bisa juga membuat cowok berpikir seperti itu (tergantung situasi awalnya sih). Dan memang, kita kan nggak boleh terlalu berlebihan. Aku juga tahu bahwa kecantikan itu harusnya dipamerkan hanya pada suami saja. 

Ahh, aku jadi mikir, aku cantiknya di mana? Hikss. Wkwkkwkwkkwkk. 

Wak A: Terakhir ni ya. Kadang cowok kalo ngajak jalan cewek itu bervariasi. Awalnya mungkin diajak makan di kafe-kafe mahal, tapi terkadang mereka mau juga ngajak makan di pinggir jalan. Nah, jangan tunjukkan kalo kita nggak suka makan di tempat seperti itu kecuali kalo emang kita tahu makan di situ kurang enak rasanya. Kadang kalo jalan bareng, misalnya cowok mau ke tempat A, tapi si cewek nggak mau karena tempat A itu kurang elit dan maunya cuma di tempat kesukaan si cewek aja. Nah, kalo bisa dihindari karena itu nunjukin kalo ceweknya banyak gaya dan agak matrealistis.

Aku: Ok, ok, I got it. 

Ternyata seperti itu. Aku sendiri bisa dibilang hampir nggak pernah makan berduaan sama cowok, biasanya bareng-bareng temen kuliah (cowok-cewek) sehabis pulang kuliah. Tapi kok rata-rata temen cowokku selalu jawab terserah tiap diajak makan ya? Mereka kadang hampir nggak punya referensi tempat makan. Apa karena makan sama cewek-cewek jadinya mereka selalu nyerahkan semua sama kami? 

Wak A: Nah, itu aja ya yang wak kasih tahu. Nggak boleh banyak-banyak. Nggak surprise nanti.

Aku: Makasi ya wak. 

#

Saat aku ingat percakapan kami dan cara wak A menanggapi pertanyaanku, aku jadi agak lucu. 

Kok bisa sih mikirnya jadi nggak surprise lagi? Dan beliau seperti ngerasa “sudah membocorkan rahasia negara?”

Apa cowok emang mikirnya seperti itu? Kalo kami justru senang ngobrolin hal seperti ini. Nambah pengetahuan dan bisa introspeksi diri.

Masa iya, karena udah tahu hal-hal seperti ini, jadinya seperti mengatakan, nggak “Be yourself”lagi lah. 

Padahal tiap orang kan bisa berubah. Dan sebaiknya berubah ke arah positif. 

Mungkin wak A berpikir nantinya aku jadi “jaga image” di depan cowok karena udah tahu sedikit tentang hal ini. 

Wkwkkwkwkkwk.

Jadi, poin utama dari percakapan kami itu adalah:

1. Jangan menyisakan makanan.

2. Jangan membuat cowok menunggu terlalu lama.

3. Jangan dandan terlalu mewah/cantik.

4. Jangan gengsian dan matrealistis.

Nah, sekian postinganku kali ini. Aku menyadari bahwa cerita di atas hanya sepersekian dari penilaian cowok ke cewek. Tapi, walaupun sedikit, perlu diingat dan disadari, ya kan?

Gimana menurutmu? Apa ada hal lain yang kira-kira membuat seorang cowok pengen nikahin seorang cewek? Silakan share di kolom komentar ya. 

Iklan