Topik #Blogger’s Challenges ke-39 diberikan oleh Betha.

Manage uang ala kamu

Kebetulan Betha ngasi tahu topik itu ke aku lebih dulu lewat chat sebelum ke grup. Pas bacanya, aku meringis, “Aduh, aku lemah banget ini.”

Iyaa, topik ini bener-bener nunjukin kelemahanku sebagai cewek.

Aku ngerti kenapa Betha ngajuin topik ini. Mungkin dia sedang mengalami hal ini, sama seperti kemarin dia ngasi topik kerjaan: terima atau tolak? 

Umur segini, kita biasanya udah mulai kerja, jadi, udah ngerasain susahnya dapet uang dan lebih perhitungan. Kalo udah kerja, otomatis kita makin segan kalo bahas keuangan ke keluarga. Nggak mau minta, pengen mandiri atau justru emang wajib mandiri. 

Pokoknya, harus pintar-pintar ngurus keuanganlah. 

Ngatur keuangan itu ada seninya. Kalo kata Robert T. Kiyosaki, penulis buku Rich Dad Poor Dad, hal yang paling penting dalam hal finansial bukan seberapa banyak uang tapi melek atau tidak ya seseorang dalam hal finansial.

Pas baca buku itu, aku langsung mikir, “Ohhhhh.. Yaa ampuuun, ternyata begituuuu.. Pantesaaaan…”

Penasaran? Beli bukunya ya, aku sih minjem dari teman, hahahahahha.

Oke, melek finansial!

Itu pelajaran yang hampir nggak pernah diajarkan orang tua ataupun guru di sekolah, padahal penting banget untuk masa depan seseorang.

Orang yang nggak melek finansial menggantungkan harapannya dengan kalimat semacam ini, “Masalah keuangan bisa diatasi asal jumlah uangnya bertambah.” 

Padahal, saat ada banyak uang, dia justru makin terjerat. Dulu beli yang murah karena uang sedikit, pas banyak uang, dia beli barang yang lebih mahal. Yaa, intinya pengeluaran selalu lebih besar dari pemasukan. 

Oke, balik ke pembahasan tentang aku dan manajemen uang.

Jujur, aku orangnya belum bisa manage uang. Aku selama ini hampir nggak pernah nabung. 

Kenapa?

Dulu saat kecil, aku mengalami kegalauan. 

Ayahku itu orangnya teratur dan disiplin banget. Dia sering nabung dan nyuruh aku nabung. Tapi, aku sendiri jarang dikasi uang jajan, jangankan uang jajan, dibeliin sesuatu aja jarang banget, nunggu keajaiban dunia, hahahaha. 

Hal itu yang bikin aku jarang ngemil, bagus juga sih, walaupun pas kecil agak sedih gityuuu. 

Tapi, untuk kebutuhan sekolah, beliau emang selalu siap sedia. 

Beda dengan mamakku, ya berprinsip, uang itu jangan ditahan-tahan kalo emang harus keluar. Kenapa harus perhitungan banget, belum tentu semenit kemudian masih hidup? Kalo uang bisa bermanfaat untuk diri dan orang lain, kenapa ditahan?

Mamakku suka bantu orang. Lebih spontan terhadap sesuatu. 

Nah, nah, nah. Kan akunya galau? 

Dua-duanya benar. 

Dan karena aku juga nggak pegang uang, ya bisa ngapain?

Haha.

Momen aku pegang uang sendiri dan harus ngatur keuangan itu datang pas aku kuliah.

For the first time, punya atm dan ada saldonya. 

For the first time, bisa pegang berlembar-lembar uang Rp. 100.000.

Tapiiiiii.. Untuk sebulan, hahahhaha.

Di situ uang kos, biaya sehari-hari kuliah, makanan, belanja bulanan. Pening, pening adek, bang. 

Aku masih belum bisa nabung, tapi dalam upaya mempertahankan hidup bulan ini ke bulan depan, aku menerapkan tiga strategi:

1. Buat daftar pengeluaran

Isinya, uang masuk lalu, pengeluaran yang selalu dikeluarkan dalam satu bulan. Misalnya, uang kos, uang makan, uang buku, uang ongkos dsb. 

Setelah aku nge-list yang wajib, baru aku buat daftar kemungkinan lainnya, misalnya uang beli buku, dan uang untuk makan dimsum, hahahhahaha.

2. Menghindari pengeluaran uang sebisa mungkin

Ini agak bohong sih, tapi nggak bener-bener bohong. Maksudnya, aku beli yang aku rasa penting dan bisa bertahan lama. Aku juga nggak jajan, kecuali benar-benar kelaparan (yang jarang terjadi, karena aku teratur makan jadi nggak perlu makan yang laing. 

Selain itu, aku juga membatasi keluar bareng teman atau keluar pas emang jam makan siang atau makan malam, jadi makannya nggak dobel-dobel. 

Aku juga jarang beli baju karena aku nunggu dibeliin mamak, haha. 

3. Nggak mau hutang

Maksudnya hutang untuk senang-senang, misalnya hutang demi nonton atau makan dimsum. Kalo pake uang kawan dulu, pernahlah. Biasanya kalo jalan berdua sama Hera, terus karena uangnya sama-sama besar, jadinya pake uang dia dulu. Tapi aku selalu tahu alokasi hutang itu bakal dipotong ke mana dan aku nggak mau bayarnya lama-lama. 

Kalo nggak ada uang, yaa nggak kemana-mana. Baca buku aja, haha. 

Itulah tiga hal yang kulakukan berkaitan dengan memanajemen keuangan hingga saat ini.

Tapi, bukan artinya aku nggak bisa nabung dan selamanya bakal gini. 

Aku juga belajar kok, baca-baca buku tentang mengatur keuangan. 

Dan yaaah, sejujurnya, aku juga tergantung dengan orang yang hidup bersamaku. Sekarang ini kan aku masih ditanggung mamak, jadi aku ikutin caranya.

Ntar, pas udah nikah, ya beda lagi.

Aku sih mau ngajak diskusi si doi. Dia maunya gimana, kami harusnya gimana, penghasilan kami berapa, yaaa, pokoknya diperhitungkan dan didiskusikanlah. 

Oke, kenapa bahas tentang pernikahan? 

Ya syudaaaah, postingannya sampe sini aja.

Terima kasih udah baca tulisanku ini ya. Semoga ada gunanya, haha. 

Iklan