Buku La Tahzan karya DR. ‘Aidh al-Qarni merupakan salah satu buku favorit mamakku. Aku sendiri sudah mengetahuinya sejak SD. Mamak sering menyuruhku membacanya namun lucunya aku susah sekali membalik lembar buku ini. 

Aku tahu buku ini bagus (sekali) dan seharusnya aku membacanya. Namun, kenyataannya, ntah kenapa, berat sekali untuk berkonsentrasi membacanya.

Aku masih ingat beberapa tahun lalu, aku pernah membaca beberapa halaman awal, mulai dari Pengantar Penerbit, Pengantar Penerjemah, Pengantar Penulis, Daftar Isi, (yaa, aku suka membaca dari halaman awal tanpa melewatkan apapun) lalu tiga artikel pertama di buku tersebut yaitu Ya Allah!, Pikirkan dan Syukurilah!, Yang Lalu Biar Berlalu dan efeknya sangat luar biasa. Aku menangis sampe sesak nafas karena perasaan yang bercampur aduk. Malu. Sedih. Senang. Lega. Aku merasa ditampar sekaligus dipeluk. 

Mungkin menurut kalian, itu reaksi lebay. Aku sendiri terkejut dengan diriku. 

Mungkin karena reaksi seperti itu, aku jadi merasa ‘agak berat’ membacanya. Aku seperti mensugesti diriku untuk membacanya saat aku sudah siap, saat aku benar-benar berkonsentrasi. Alasan yang cukup memalukan, ya kan?

Tapi, aku tahu dan percaya bahwa ada masanya aku mulai membaca buku ini dengan serius. 

Yang ingin kuceritakan pada kalian dalam tulisan ini berkaitan dengan dua hal di atas, buku La Tahzan dan percakapan dengan mamak. 

Jadi, sepulang ngajar kemarin siang, mamak membaca buku ini sambil menonton TV (lebih tepatnya TV yang menonton mamak). Aku duduk di dekatnya sambil memainkan hp. 

“Nak, dengarkan ini ya.” Mamak menungguku sampai aku meletakkan hp lalu mulai membacakan kalimat yang baru saja ia baca dari buku tersebut. 

Dalam bukunya Shaydul Khathir, Ibnul Jawzi, mengatakan, “Jika kamu melihat sahabatmu marah dan mulai bicara tidak jelas, maka apa yang dikatakannya jangan pernah diambil hati, dan jangan pernah memberi sanksi. Saat itu, dia sedang tidak waras, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bersabarlah sebentar dan jangan terpancing. Saat itu dia sedang dikalahkan setan, emosinya sedang tidak terkendalikan, dan pikirannya sedang terkungkung. Jika Anda mengambil hati itu atau membalasnya dengan cara yang sama, maka Anda seperti menghadapi yang tidak waras. Atau, orang yang sadar menghardik orang yang mabuk, karena itu berarti dosa bagi Anda. Tataplah dengan pandangan yang penuh kasih, pahamilah sebagai qadar-nya bahwa saat itu ia harus marah, dan berusahalah untuk bersandiwara dengannya. 

Perlu Anda ketahui, bahwa jika nanti dia sadar, maka ia akan menyesali apa yang telah terjadi dan mengakui betapa faedah bersabar itu. Paling tidak, Anda bisa menyelamatkan orang itu dari tindakan marahnya dan membawa kepada ketenangan. 

Kesadaran seperti ini harus benar-benar dipahami oleh seorang anak ketika orang tuanya sedang marah, atau seorang istri ketika suaminya sedang marah. Biarkanlah dia marah sampai berhenti dengan sendirinya, dan jangan meresponnya. Setelah itu dia akan menyesal dan minta maaf atas apa yang telah dilakukannya. 

Sebaliknya, jika ucapan dan perbuatannya itu dilawan dengan cara yang sama, maka akan muncul permusuhan yang semakin berlarut. Tapi balaslah dengan kebaikan atas apa yang telah dilakukannya pada waktu tidak waras itu.

Sayangnya, kesadaran semacam ini jarang dilakukan. Umumnya, ketika seseorang melihat orang lain marah-marah, dia akan melayaninya. Padahal, tindakan seperti itu sama sekali bukan tindakan yang bijaksana. Tapi hal ini hanya bisa dicerna oleh orang-orang yang tahu. 

Saat mendengarkan mamak membacanya, aku jadi teringat dengan beberapa pertengkaranku dengan orang lain. 

Ya, aku lebih sering menanggapi kemarahan seseorang dengan marah juga dan mamak tahu hal itu.

Dulu, aku mudah sekali marah karena aku sering mendengar orang marah-marah dan aku berpikir marah itu hal yang wajar.

Sebenarnya bukan marah, namun meninggikan suara. Jika aku tidak menyukai sesuatu, tanpa kusadari suaraku menjadi tinggi dan terdengar tajam. 

Tapi, meninggikan suara memang ciri-ciri seseorang yang terpancing emosinya, ya kan?

Perlu bertahun-tahun untuk mengendalikannya. 

Sulit sekali. 

Apalagi aku jarang berada di lingkungan yang banyak orangnya. Aku jarang berinteraksi dengan orang lain kecuali sedang di sekolah atau bertemu teman. Terkadang, aku nggak menyadari bahwa suaraku sudah berlebihan dan membuat orang lain nggak senang. Karena nada suaraku meninggi, si pendengar jadi ikut meninggikan suara dan kami beradu argumen. 

Mamak membacakannya supaya aku kembali mengingat hal itu.

Memberitahuku bahwa kalau bisa jangan sampai marah atau terpancing karena kemarahan orang lain. 

Apa yang Ibnul Jawzi 100% benar-benar pernah kurasakan.

Saat seseorang marah, ia tak bisa mengontrol amarahnya dan sering membuat orang lain ikut marah. 

Saat marah, kita mengucapkan kata-kata yang tak seharusnya kita katakan karena itu bisa menyakiti orang lain.

Bahkan, saat marah kita mungkin berpikir, “Lakukan apapun untuk melukainya!”

Benar-benar sedang tidak waras. Haha.

“Dengarkan nak?” Mamak menegurku saat aku terlihat melamun.

“Iya mak.”

“Jadi, kalo misalnya nanti mamak marah, jangan diladeni ya. Anggap aja mamak lagi kurang waras saat itu.”

Aku tertawa, “Memangnya mamak pernah marah?”

“Nggak tahu sih. Mana tahu ya kan. Pokoknya kalo mamak marah, ngertilah ya.”

“Iya mak, mamak juga ya.”

Karena kemungkinan aku marah lebih besar daripada mamak marah, jika dilihat dari sumbu kesabaran kami. Wkwkwkk.

Aku juga jadi ingat sama percakapanku dengan mamak saat aku bertanya tentang diriku dari sudut pandangnya (pernah aku tulis di #BC tentang Kebiasaan Baik).

“Mak, apa kelebihan Wahidah?”

“Umm, apa ya? Mamak nggak tahu itu bisa dibilang kelebihan atau nggak.. Tapii, kalo abis marah, Wahidah cepat nyesal dan langsung minta maaf. Pokoknya Wahidah nggak bisa lama-lama marah.”

Aku tertawa, agak miris memang tapi sepertinya hal itu perlu disyukuri juga. Daripada sudah marah terus gengsi dan nggak mau minta maaf sehingga buat hubungan makin retak. Masih lebih baik menyesal dan meminta maaf bukan?

Ya, walaupun yang paling baik adalah jangan sampai marah dan melukai orang lain. 

Namun, untuk berubah kita perlu waktu dan kesungguhan hati serta dukungan dari orang-orang terdekat. 

Kesimpulan dari postingan ini adalah.. Aku harus memaksakan diri membaca buku La Tahzan. Semoga bisa cepat selesai, Wa!

Iklan