Sekitar pukul sembilan malam, aku, Fida dan Luna kembali ke kamar masing-masing. 

Aku langsung menghidupkan dispenser untuk membuat air panas. Sambil menunggu, aku membuka Instagram, melihat Story orang-orang yang ku-follow. 

Tak lama, lampu kecil berwarna merah berganti warna kuning menandakan air sudah matang. 

Aku sedang menyendok susu ke dalam gelas kecil ketika suara notifikasi Line berbunyi.

Luna: Kalian udah mau tidur?

Luna mengirim foto. Tutup. Lihat. 

Begitulah yang tertulis di layar hpku. Aku mengaktifkan notifikasi Line dengan pratinjau chat sehingga aku bisa melihat isi chat yang dikirim oleh seseorang saat notif berbunyi sebelum tombol kunci lagi. 

Aku mencampurkan air suhu normal dan air suhu panas ke dalam gelas lain sehingga suhunya menjadi hangat, lalu menuangkannya ke dalam gelas berisi bubuk susu tadi. 

Ugghhh.. Ini karena Luna selalu ngomel tiap aku minum susu dengan air yang terlalu panas atau air es. 

“Coba lihat saran penyajian di kemasan susu itu!” Luna menyodorkan kotak susu kepadaku dan menungguku membaca aturan penyajian, “Yang dianjurkan air hangat kan? Bukan air panas atau air es. Susu itu mengandung protein. Protein kalo dipanaskan bakal hancur dan kalo suhu dingin protein non-aktif. Jadi, buat apa minum susu kalo nggak ada manfaatnya? Sayang dibeli mahal-mahal tau.”

Awalnya, aku selalu membalasnya dengan sengit.

“Suka-suka aku dong.”

“Cuma mau minum susu aja kok, nggak usah heboh gitu deh.”

“Yang buang-buang uang siapa? Bukan kamu kan?”

Lama-lama, aku hanya diam saja tiap Luna mengulangi penjelasannya.

Sebenarnya penjelasan itu masuk akal, tapi yang namanya kebiasaan itu susah banget dibuang kan? 

Sejak dulu aku biasa minum susu dengan air panas atau campur es yang banyak. Jadi, saat mau buat susu, kadang tangan suka refleks nambahin air panas gitu aja. Kadang setelah masukin air panas setengah gelas, aku tambahkan es supaya dingin. 

Setelah agak tobat, aku menuang air panas ke dalam susu lalu air suhu normal langsung ke dalam susu dan masih juga kena omel sama Luna.

“Supaya airnya hangat, kamu bisa nunggu air panasnya jadi hangat. Atau kamu bisa campur air panas dan air suhu normal di gelas lain, setelah nyampur, baru ditaruh di gelas yang ada susunya. Ini aku contohin.” Luna mengambil dua gelas, memasukkan susu ke dalam gelas pertama, lalu mencampur air panas dan air suhu normal di gelas satunya lagi, setelah itu baru menuangkan air hangat tersebut ke gelas yang berisi susu.

“Ribet banget sih mau minum susu aja!”

“Kan gelas yang satunya nggak kotor, bisa disimpan lagi.”

Butuh beberapa minggu baru aku terbiasa membuat susu dengan air hangat seperti yang Luna praktekkan. 

Sejak kecil, aku dibiasakan oleh orang tua untuk minum susu. Biasanya kalo nggak pagi saat sarapan, ya malam sekitar sejam sebelum tidur. 

Di antara kami bertiga, aku, Luna dan Fida, hanya aku yang paling rajin minum susu, itupun sering lupa juga karena nggak ada yang ingetin lagi. Jadi, tiap awal bulan saat kami belanja bulanan, Fida dan Luna selalu geleng kepala lihat aku beli stok susu beberapa kotak.

“Anak kos elit ya begini.” Ledek Fida.

Awalnya Luna nggak ngasi tahu aku tentang air hangat untuk minum susu tapi karena aku rutin minum susu, akhirnya dia mulai bicara. Kalian pasti tahu gimana rewelnya Luna, ya kan? 

“Aku tahu itu pas dosenku cerita. Awalnya juga aku nggak peduli sama prosedur makanan. Tapi, kata dosenku, prosedur itu penting untuk diikuti, karena itu udah diuji di laboratorium. Aku ngasi tahu ini karena kalian teman-temanku.”

Walaupun dia bawel, sejujurnya aku senang juga dikasi tahu ini itu oleh Luna.

Aku duduk di atas karpet sambil meminum susu tersebut perlahan. Lagi-lagi aku ingat perkataan Luna.

“Kalo minum itu harus duduk, tenang. Minumnya juga pelan-pelan, seteguk demi seteguk. Ada hadist-nya lho. Rasul sendiri yang bilang.”

Aku masih belum terbiasa dengan rasa susunya yang agak hambar karena aku nggak pake tambahan gula (dulu aku biasa masukin satu sendok gula) dan yah, itu juga karena repetan Luna. 

“Nggak usah sering-sering pake gula lah. Dalam sehari kita bisa makan banyak banget yang mengandung gula, jangan ditambahin lagi. Lagian, nggak pake gula juga rasanya nggak beda jauh.”

Suara notifikasi Line bersahut-sahutan dari hpku.

Apa sih yang mereka obrolin?

Aku mengambil hp lalu membuka chat kami.

Silly chat, nama grup chat Line kami bertiga. 

Luna: Kalian udah mau tidur?

Fida: Belum Na. Ada apa?

Luna: Aku tadi lagi baca buku Shinya di iJak, terus nemu info penting.

Fida: Shinya? Siapa tu? Kayaknya bukan nama Indo.

Luna: Dokter Jepang. Kemarin aku nemu bukunya, bisa baca gratis. Kalo di Gramed, lumayan juga harganya.

Luna: Pas baca, tiba-tiba ingat kalian. Nih ya aku kirim screenshootnya.

Fida: Lelaaaaaaa.. Dimana dirimu? Baca nih, baca? 

Fida: Dia udah minum susu nggak ya malam ini? 

Fida: Susu bubuk itu susu sapi juga kan Na? 

Luna: Setauku sih gitu. 

Apa sih yang mereka bicarain? Emang itu screenshoot apa? Kok jadinya bahas aku dan susu? 

Aku mengklik foto yang Luna kirim.

Ha? Kok horor banget pembahasannya? Buru-buru aku geser layar ke samping dan menunggu gambar lain terbuka.

Aku terdiam, lalu menatap gelas susu yang sudah kosong.

“Kampretlah.” 

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku langsung beristigfar.

Aku: Kok baru bilang sih?

Luna: Aku juga baru baca. Sebenarnya sih udah tahu kalo minum susu itu nggak perlu sering-sering. Kan aku juga udah sering bilang supaya kurangi minum susu. Tapi kamu bilang udah biasa, susah dihilangin.

Aku: Iya sih..

Luna: Tapi, masalah konsumsi susu ini emang sering kontroversial. Aku karena nggak begitu tahu, jadinya nggak berani ngomong yang gimana-gimana. Lagian, karna aku nggak biasa minum susu jadinya nggak begitu nyari tahu. Baru ini aku baca bukunya. Jadi baru bisa ngasih tahu. 

Fida: Untung aku jarang minum susu. Hahaha. Aku juga lebih suka susu kedelai. 

Aku: Isss.. Susunya masih banyak lho ini. Ada sekotak lagi.

Luna: Yaudah, kurangi aja pelan-pelan. Jangan sering-sering kali lagi.

Aku: Ok lah. Makasi ya. Btw, kelen nggak ada yang mau minum susu? Bantuin dong.

Fida: Boleh sih.. Tapi kapan-kapan ya. 

Luna: Iyaa. Aku juga. Kapan-kapan ya. Lagian masa kadaluarsanya kan masih lama.  

Ah, baru aja aku membiasakan diri untuk minum susu sesuai prosedur penyajian tapi sekarang aku dikasi tahu bahwa sebaiknya aku mengurangi konsumsi susu. 

Kalo dipikir-pikir aku perlu bersyukur juga tahu info ini. Aku nggak perlu ngerasa berdosa kalo nggak minum susu lagi ya kan? Dan aku bisa menghemat uang yang dialokasikan untuk beli susu. Hahahhahahha. 

Iklan