Hai guys!

Topik ke-41 diberikan oleh Rian.

Pengalaman kompetisi

Saat mencetuskan topik ini, Rian emang lagi ikutan seleksi gituu, supaya bisa keluar negeri, semoga dia bisa terpilih.

Pas dia minta doa dan dukungan di grup Line, aku ngerasa, “Wahh.. Rian keren bangetsss.”

Aku mah gitu, suka kagum sama orang-orang hebat yang melakukan aksi dalam hidupnya. 

Berani bermimpi dan mewujudkannya.

Kalo aku? Hmmmm..

Nahhh, balik ke topik ya.

Bicara tentang kompetisi, aku ngerasa kompetisi itu W.O.W banget. Kesannya elit, hebat, kece badai ulalaaaa, cetar membahana. 

Padahal saat aku cari kata itu di kamus, artinya nggak berat-berat amat.

Nih, screenshot dari Merriam-Webstern Dictionary

Dan ini dari KBBI V:

Artinya nggak jauh beda kan? 

Intinya kompetisi itu pada dasarnya usaha untuk mendapatkan sesuatu. Biasanya timbul persaingan karena sesuatu yang diinginkan memiliki jumlah yang terbatas. 

Jadiiiiiiiii, hampir semua yang kita lakukan selama ini bisa dikatakan termasuk kategori kompetisi. 

Sejak di dalam perut, kita udah kompetisi, ya kan? 

Sebelumnya aku nggak pernah mikirin tentang kompetisi, tapi karena Rian udah membuka kotak Pandora (hahahha, gaya banget istilahnya padahal nggak cocok), aku bakal cerita tentang beberapa momen yang agak nggak biasa yang pernah kualami dab bisa dianggap sebagai ‘kompetisi’.

Mumpung ingat.

Dan sepertinya, posting-an ini bakal panjaaaaang banget. So, khusus buat Rian, kamu wajib baca sampe habis yaaaa, soalnya ini aku nulis ini untukmu. 

Kalo nggak, ya nggak apa-apa juga. Hahahhahhahahahhaha.

1. Lomba baca puisi dan karangan saat SD

Jadiii, dulu aku suka puisi. Pas kecil aku suka puisi daripada yang lain. Dulu aku ngerasa ngerti puisi. Sekarang? Baca kalimat yang belibet penuh kata puitis aja, pening, hahahhaaha. 

Pas SD, aku pernah mewakili sekolah untuk baca puisi di sekolah lain, haha. Saat latihan, aku ekspresif sekali, bagus, memuaskan. Kata guruku sih, gitu, wkwkkw.

Tapi bencana terjadi.

Pas maju ke panggung, tanganku dingin dan berkeringat. Jantungku berdegup kencang. Bingung. Canggung. Malu. 

Saat baca puisi, entah apa yang kubilang dan ntah kayak mana intonasiku. Ekspresiku nggak keluar. Tanganku gemetaran. 

Ya ampyuuun. Maluuuu banget. Malu tingkat dewa!

Hasilnya? Ya jelaslah nggak menaaaang (memangnya novel, walaupun acak kadut, tapi di mata orang itu udah bagus banget, haha). LOL! 

Aku jadi kehilangan arah dalam puisi. Baik memaknainya maupun membacakannya. 

Kalo disuruh ngelakuinnya lagi? OH, IT’S A BIG NOOOOOOO! 

Tapi kalo dikasi uang satu juta, bisa dipertimbangkanlah. Hahahhaha.

Walaupun memalukan, tapi hal ini nggak pernah diungkit siapapun. Guruku maklum aja karena aku kan masih kecil. Dia cuma bilang, “Kok beda dari latihan ya?” 

Aku diem aja, haha. Nahan diri biar nggak pingsan.

Kemudian, nggak beberapa lama, ada lomba nulis karangan tentang Ki Hajar Dewantara.

Di sekolah yang sama dengan yang lomba baca puisi tadi, kayaknya.

Nah, kebetulan di dekat rumah ada perpustakaan, jadi aku coba riset ke sana (gayanya riset bah, anak SD riset? Wkwkkwk).

Aku nemu beberapa buku tentang Ki Hajar Dewantara dan membacanya dengan semangat (sumpah ini baru ingat lhooo, saat ngetikkannya). 

Aku nulis ulang dengan bahasaku sendiri. Berlembar-lembar. Terus aku ulangi di rumah. 

Aku pikir, itu tulisannya di tulis on the spot (di tempat nanti). Jadi, aku berusaha menghapal poin-poin penting dari karanganku.

Pas di TKP, aku mulai nulis di kertas folio yang dikasi panitia. 

Panjanglaaa karangannya, kayak iya iya kali. Dateng dari hati. Penuh ketulusan dan kesungguhan. Aku nggak begitu ingat situasi saat di dalam kelas itu karena aku fokus nulis.

Aku yakin sih, kayaknya bisa menang walaupun cuma urutan terakhir.

Karena aku ngerasa udah total. Anak SD mana yang nulis berdasarkan buku cerita? Aku nggak yakin yang lain banyak baca tentang Ki Hajar Dewantara itu, karena aku sendiri nggak sengaja nemu di perpus bukunya. Dan aku kan yang pake buku itu berhari-hari. Selain itu, pas aku nanya sama guru ataupun orang tua, nggak ada banyak yang bisa mereka jelasin. Dulu, juga nggak ada anak SD yang kenal internet, kayaknya. Hahaha.

Makanya, aku yakin banget, tulisanku ada bagusnya.

Tapi ternyata, nggak menang bre!

Rasanya atiiiit. Atiiit banettt. 

Hal yang pengen kulakukan saat aku tahu aku nggak menang adalah: aku mau baca tulisan yang menang! 

Apa yang dia tulis? 

Gimana cara dia nuliskannya?

Dan kenapa aku nggak menang?

Gimana cara menilainya dan siapa yang menilai? 

Yaa, yaaa, dulu, aku nggak gampang nerima kekalahan. 

Tapi, kertasku nggak dikembalikan. Aku juga nggak bisa baca tulisan yang menang. Aku juga nggak tahu sistem penilaiannya. Yang terburuk, aku nggak tahu kesalahanku dimana. Padahal aku pengen tahu supaya bisa memperbaikinya.

Akhirnya, aku pulang dengan rasa kecewa. Orang-orang juga nggak begitu nanyain hasilnya gimana. Kayaknya kekecewaan itu cuma mendekam di hatiku aja. Aku pun menjalani hidup seperti biasa, kayak nggak ada kejadian.

Tapiiii, efek dari kejadian itu, aku sering ngerasa nggak pede sama tulisanku sendiri. Yah, walaupun semua orang yang kenal sama aku nganggap aku bisa nulis dan suka nulis.

Syukurnya, aku masih nulis sampe saat ini, walaupun nggak wooooow, tapi nggak apa-apa. Yang penting masih nulis.

2. Ikut olimpiade Biologi di kabupaten

Dulu, aku suka pelajaran Geografi karena gurunya asyik ngajar. Kalo kami bosan mencatat, beliau nyuruh kami buka buku atlas, lalu nyari negara atau kota-kota gitu. Kami bakal berebut ke depan nunjukin kota tersebut di atlas masing-masing kemudian dapet nilai. Tiap hari aku bacain atlas supaya gampang nemukan negara yang disebutkan sang guru. 

Pas ada pengumuman olimpiade, aku pengen ikut Geografi. Sayangnya, nggak ada olimpiade itu, adanya astronomi (kalo nggak salah).

Rupanya, teman baikku, Rini ngajak aku ikut Biologi. Yaudah, boleh juga. Aku ingat di rumah ada banyak buku Biologi punya ayah (ayah guru Biologi di SMA, jadi buku-buku SMA ada banyak). 

Akupun ikut bimbingan seminggu sekali pas pulang sekolah. Awalnya rame banget, sampe satu kelas penuh. 

Lama-lama, you know lah, anak SMP, mana betah sama yang namanya belajar, dan nggak sabar mau pulang juga. 

Hingga akhirnya, yang ikut bimbingan cuma aku doang, hahahhahaha. 

Kami pun pindah ke ruang guru. Di situ aku ngerasa belajar privat. Aku kenal guru Biologi lain yang nggak masuk ke kelas. 

Aku suka sih, soalnya aku bebas nanya. Jadi, di rumah aku baca buku, di sekolah aku nanya-nanya dan ngerjain soal. Tapi, yang kupelajari terbatas, cuma soal-soal di buku cetak sekolah. Dulu kan aku nggak tahu buku pelajaran lain selain buku sekolah. Nggak tahu kalo yang nulis buku ada banyak, penerbit juga bervariasi. Sangat polos.

Pas hari H, aku dan Rini yang jadi wakil dari sekolah. Kami lomba di SMP Stabat. Setelah beberapa lama, pengumumannya ditempel di mading sekolah. Seingatku, aku juara 4, tapi nggak bisa ikut ke Medan karena nggak masuk 3 besar.

Yaudah nggak apa-apa, setidaknya aku dapet peringkat yang lumayan. Tapi, ada juga omongan dari teman-teman dari mata pelajaran lain (nggak ada yang masuk 10 besar) dan mereka bilang, “Iya lah, itu kan Biologi, cuma dihafal aja. Coba kalo Matematika, musti ngitung, wajar aja nggak menang.”

Sedih sih, tapi emang bener juga yang mereka bilang. Kalo aku disuruh ngerjain soal yang ada angka-angkanya, maaciiiiww eaaaaaa.

3. Ikut olimpiade Biologi di kabupaten dan provinsi

Suatu hari, saat belajar Kimia di kelas, ada pengumuman untuk nyari siswa yang bisa ikut olimpiade ke kabupaten. 

Kalo nggak salah, saat diumumkan, beberapa hari kemudian langsung dibawa ke Stabat, jadiii, nggak ada seleksi. 

Karena aku di kelas X-1 yang dianggap lebih unggul dari kelas lain, pengumuman itu cuma dikasi di kelas kami aja. 

Guru Kimia mulai nanya ke kami, “Siapa yang mau ikut olimpiade?”

Beberapa anak nyalonin temannya (nggak ada yang nyalonin diri sendiri, haha).

Tiba di mata pelajaran Biologi, ada satu nama yang disebutkan hampir semua orang di kelas.

Yak, bukan namaku. Wkwkkwkwkw

Tapi nama seorang cowok yang ternyata pas SMP juara satu untuk kabupaten kami. 

Wooooow.. Aku juga baru tahu saat itu. Kagum sih. Kereeeeen ya, juara satu. Aku mah apaaaa.

Aku ikhlas aja, karena aku juga nggak kepikiran untuk ikut. 

Tapiiiii, ternyata guru Kimia kecantol sama dia dan mutusin si kawan untuk ikut olimpiade Kimia secara sepihak. 

Otomatis, nggak ada calon lagi kan?

Nah, saat seperti itu, teman-temanku yang satu SMP, siswa SMP kami minoritas dibanding SMP yang juara 1 tadi. 

Mereka bilang, “Si Wahidah aja pak. Dia juga pernah ikut olimpiade Biologi pas SMP.”

Yaaa, karena nggak ada yang lain, aku pun dipilih.

Sepulang sekolah, kami ngumpul di satu ruangan. Aku bertemu dengan abang kelas berkaca mata yang pintar, anak XI IPA 1. Denger-denger sih dia selalu masuk 3 besar. Dari SD udah pintar. Mungkin juga dia menang pas SMP. 

Akunya minder. Minder banget, apalagi dia kayaknya nggak suka sama aku. Dia memperlakukanku seperti makhluk invisible. Hiks. 

Dia (sebut bang M) malah ngobrol seru sama temen sekelasku yang juara Biologi itu.

Aku curi dengar obrolan mereka yang nyeritain gimana nyamannya hotel di Medan pas ikut olimpiade provinsi serta uang yang mereka dapat dari situ. 

Mindeeeeer kuadrat. 

Ditambah lagi, ada anak kelas lain yang tiba-tiba ngomong gini ke aku, “Kau ya yang ikut olimpiade Biologi? Kok bisa kau yang terpilih, apa karena kau anak X-1? Kenapa kelas lain nggak boleh daftar, harusnya kan diseleksi. Nggak adil, mentang-mentang aku nggak kelas itu.”

JLEB.

Beberapa hari kemudian, saat kami ke Stabat, rupanya olimpiadenya ditunda selama seminggu. Kayaknya ya. Lupa sih detailnya.

Jadi, kami punya waktu untuk belajar.

Mulailah aku dan bang M belajar sepulang sekolah. 

Bang M: Kita belajar masing-masing. Ketemunya untuk bahas soal aja ya.

Aku sebagai remah-remah ngangguk aja. Padahal aku berharap ada guru yang ngajarin kami atau dia mau ngajarin aku. Tapi yaudahlah, belajar sendiri pun nggak apa-apa.

Pas belajar, bang M ini super resek. Jadi, kami duduk hadap-hadapan. Dia sama sekali nggak mau nunjukin kertasnya tapi aku harus nunjukin kertasku. 

Ya deh, yang takut dicontek.

Lalu, dia malah nyuruh aku jawab soal.

Aku: kayaknya jawabannya A.

Bang M: kenapa gitu?

Aku: yaaaa, karena blablabla.. Kalo abang jawab apa?

Bang M: ya, jawabannya kayaknya itu. 

Akupun ngerasa senang, ternyata jawaban kami sama.

Dan, semua soal selalu kami kerjakan begitu.

Aku jawab pertanyaannya aku juga ngasi tahu alasanku milih jawaban itu. Kadang aku perlu nunjukin halaman buku yang ngedukung argumenku.

Kadang dia setuju, kadang dia diam aja. 

Kalo aku udah ngeluarin buku, baru dia setuju.
Saat itu, aku mikirnya, “Ya ampun bang, iya akunya bodoh jadinya diuji terus.”

Bego kan? 

Aku ngerasa dibego-begoin gitu. Apalagi kami nggak punya guru untuk ngasi tahu jawaban yang benar. Jadi, diskusi (yang berjalan satu arah) itu cuma diisi dengan jawabanku, prasangkaku dan kata, “kayaknyaaa.. kayaknyaaaaaa..”

Kami pun ke Stabat lagi. Ujian di ruangan yang sama, beda meja. Sebelah sebelahan meja. 

Sepanjang ujian, dia sama sekali nggak mau noleh ke aku, padahal siswa sekolah lain saling ngasi tahu jawaban karena pengawasannya nggak terlalu ketat.

Zebeeeeel. 

Pas keluar kelas pun aku ditinggal sama dia sampe harus ngejar-ngejar dia supaya nggak ketinggalan.

Doaku cuma satu: berapapun peringkatku, yang penting peringkat bang M nggak terlalu jauh di atasku. Misalnya dia 100, aku 110 juga nggak apa-apa. Pokoknya jangan sampe kejauhan. 

Sakit banget digituiiin bree!

Beberapa minggu kemudian, di upacara sekolah diumumkan pemenang.

Kepsek: M juara tiga Biologi (kayaknya tiga atau dua, lupa).

Dalam hati aku sedih bangettss. Yaa Allah, kalo dia juara segitu, aku nggak ada harapan dong.

Rupanya setelah itu dia umumin lagi.

Kepsek: Nurwahidah Ramadhani Waruwu, juara satu Biologi.

Jedaaaaaarrrrr! 

Aku terkejut. Nggak percaya. Pak kepsek bohongnya nggak kira-kira.

Tapi setelah nunggu cukup lama dan si bapak nggak meralat ucapannya, semua anak tepuk tangan. Terus kepalaku dipukul-pukul sama kawan-kawanku. Mereka ngucapin selamat.

Bagi temanku itu hebat. Juara satu, ngalahin kakak kelas. Bahkan mata pelajaran lain nggak ada yang juara satu. 

Bagiku sendiri, itu seperti hadiah, penghiburan atas semua perasaan hina yang kurasakan. 

Bener-bener hadiah. Karena aku sendiri ngerjain soalnya banyak ragu. Nebak-nebak aja (tapi ada dasarnya juga sih walaupun nggak pasti).

Karena masuk 3 besar. Aku dan bang M bakal ke Medan. Dan, sejak saat itu, dia jadi agak lumayan baik samaku. Nggak terlalu jutek kayak biasanya tapi tetap menganggapku invisible.

Aku sampe mikir, “apa ya salahku sama dia? Kok dari awal dia udah begitu.”

Aku juga nggak tahu apa perasaanku aja atau gimana. Aku juga dengar kalo dia nggak suka sama cewek yang heboh dan alay (yang aku banget, heboh dan alay) tapi kan pas awal-awal jumpa, aku sama sekali nggak nunjukin itu. Aku kan junior yang takut sama senior, mana bisa banyak tingkah. 

Mau kulanjutin saat ke provinsi?

Yaa, di provinsi aku dan bang M duduk sebelahan dan kami diskusi jawaban. Tapi, nggak menang, hahaha. 

Setelah keluar dari ruang ujian, dia jutek lagi. Aku ditinggalnya, bahkan pas pulang dia ngomong begini (kami nunggu jemputan dari dinas, dan datangnya lama bangeeet).

Bang M: Kalo nggak mikirin anak ini (nunjuk aku), aku bisa aja ke rumah sodaraku. 

Aku: Ih, janganlah bang, aku takut. Nggak tahu apa-apa di sini.

Juara 2 seorang cowok: aku heran sama kalian berdua. Kalian kan satu sekolah, seharusnya kalian akrab, seharusnya aku yang takut kalian tinggalin.

Bang M: Yaudah, siap-siap aja sana, nanti kalo dipanggil langsung keluar, jangan lama-lama. Kalo lama, nanti kutinggal kau.

Terus aku masuk ke kamar, siswa lainnya yabg sekamar denganku udah dijemput semua. Aku nangis sendirian sambil beresin barang. Sepanjang jalan pulang dia nggak ajak aku ngobrol. 

Aduh, aku jadi sedih lagi nih nuliskannya. Btw, kok jadi curhat ya? Nggak mungkin juga dia baca kan?

Fyi, dia kuliah kedokteran dan sekarang kayaknya lagi koas. 

Dan pernah pas jumpa dia, aku rasanya pengen nonjok mukanya. Tapi, yang kulakukan justru senyum dan nyapa, “Eh, abang. Apa kabar?”

Terus dia jawab, “Sehat.” 

Nggak pake senyum. Tapi dia senyum ke mamakku (karena kami jumpanya pas beli bukaan).

Bangkeeeee! Bangke kooo bang! Nggak boleh sukses sebelum jadi orang baik! Tapi, kutukanku nggak berlaku. Hahahha. 

Astagfirullah. Ampuni hamba, yaa Allah. 

Lanjut ya, tahun depannya, pas kelas 2, aku ikut olimpiade lagi di kabupaten.. Dan alhamdulillah terpilih lagi untuk ke Medan, jadiii.. Berbekal pengalaman pahit, akupun membulatkan tekad untuk berteman dengan siswa sekolah lain (bukannya bertekad menang, hahahaha).

Lalu aku ketemu Rizki dan Tyo. Kami bertiga ngegosip tentang sekolah masing-masing malam-malam, nggak belajar. Terus, pas pulang, aku ketemu sama si doi (yang aku ceritain di postingan Cinta Pertama). 

Yayayaya, begitulah pengalamanku ikut olimpiade. 

4. Ikut lomba cerdas cermat yang diadakan MPR di Asrama Haji

Ntah bagaimana, aku ditawari ikut LCC ke Medan. Ada 10 orang. Kami disuruh hapal beberapa buku yang berkaitan dengan PPKN. Ada UUD, TAP MPR, dsb.

Padahal, pas kelas satu, betisku langganan dirotan sama guru PPKN karena nilai ujiannya nggak pernah tuntas KKM. HAHAHHAHAHHAA. 

Jadiii, selama beberapa hari kami nggak masuk kelas, belajar bersepuluh (sebenarnya main-main aja, wkwkkwkw). Sesekali ngasi pertanyaan dan nyuruh yang lain jawab. Pokoknya belajar sambil mainlah.

Pas lomba, kami kalah. Hahahhaha.

Padahal aku banyak menghafal lhooo.. Tapi pas di panggung, ilang semua. Apalagi sekolah lain jawabnya cepat banget. Jadi, kami ketinggalan skor. 

5. Lomba Mading 3D

Pas SMA aku pernah ikut lomba mading sama anak OSIS bagian mading. Kami buat mading 3D. Idenya sih dari adek kelas. Kami buat bunga matahari. Kami nyari bahan di internet, ngegunting kardus, origami dsb. Pas hari H kami tinggal nempel-nempelin yang udah kami kerjain. Alhamdulillah juara. Yang ngangenin itu momen kebersamaannya. Setiap orang ngerjain job desc masing-masing. Karena aku nggak ngerti seni, aku bantu nyiapin barang, belanja dan ngegunting-gunting, wkwkkwkw.

6. Lulus PTN lewat SNMPTN Tulis

Awalnya aku ikut jalur Undangan, tapi nggak ada yang lulus. Pas pengumumannya keluar, aku nggak ikut bimbel dan udah keburu daftar SNMPTN Tulis dengan pilihan yang passing grade-nya cukup tinggi untuk USU dan Unimed. 

Dan aku nggak ikut bimbel karena nggak ada uang, wkwkwkkwk. Sebenarnya sih, kalo aku maksa, bakal diusahain orang tua, tapi akunya nggak mau. Karena aku ngerasa itu buang-buang uang.

Opppppp, bukannya sombong. Tapi justru nggak pede. 

Kebetulan saat aku kelas 3, bimbel GO baru buka di kotaku (sekarang udah nggak ada lagi, haha). 

Jadi, kakak tentor masuk ke kelas dan ngajarin kami sistem belajar di GO itu. 

Seruuu sih, beneran..

Tapi, karena aku lemah di semua mata pelajaran eksakta (kecuali Biologi), aku sama sekali nggak ngerti cara cepat yang diajarin si kakak, wkwkwk.

Jangankan cara cepat, nyelesain soal mudah aja otakku udah kepanasan. Jadi, berbekal kesadaran diri, aku nggak mau bimbel karena tohh, aku nggak bakal nyaman belajarnya. 

Menurutku, bimbel itu untuk anak-anak yang udah punya dasar, namun masih lambat di strategi ngerjain soal karen bimbelnya untuk intensif masuk kampus. 

Jadi, daripada aku nambah penderitaan (belajar eksak dobel) mending belajar sendiri. 

Aku beli satu buku yang berisi soal SNMPTN tahun-tahun sebelumnya. Dan mulai ngerjain soal sesuai dengan waktu yang ditentukan dari masing-masing mata pelajaran.

Setelah ngerjain soal, aku lihat kunci jawaban. Memahami jawabannya. Lalu lanjut ke soal lain. Besoknya, aku ngulang kerjain soal yang udah kukerjain kemarin.

Kalo kata kawanku, “Si Wawa bukannya nyari penyelesaian soal tapi menghapal jawaban.”

Tapi, yang namanya kepepet, ngapain aku ribet sendiri.

Pas tahu aku nggak lulus undangan, aku udah keburu daftar ujian IPC. Sedangkan kemampuan ngitung-ngitung (TPA dan IPA-ku) lemah. Jadi, aku fokus mengerjakan TPA yang nggak begitu banyak angka, memahami logikanya, kemudian belajar Biologi dan mata pelajaran IPS. 

Pokoknya, belajar dari soal dan memahami alasan dari kunci jawabannya. 

Aku berpikir, “makin banyak ngerjain soal makin terbiasa dan mungkin aja bakal keluar.”

Pas hasil SNMPTN keluar, alhamdulillah lulus. Ahh, nggak tahulah kalo nggak lulus mungkin nggak kuliah. Hahahhaha. 

7. Lomba Nulis Esai untuk Pers Kampus

Semester 5, kalo nggak salah, aku diajak kak Yossi untuk ikut lomba nulis esai bertema kebebasan pers di FEUI. Lupa nama persnya apa, wkkwkw.

Jadi, kami satu tim (aku, kak Yossi dan Lusty). Kami searching di internet, nyari buku di perpus dll. Sebenarnya mau nyerah, karena aku ngerasa nggak cocok sama pembahasannya tapi kak Yossi ngasi semangat. Akhirnya esai itu selesai dan kami kirim ke UI. 

Yah, nggak menang sih, tapi usahanya itu. Begadang sampe pagi pas hari deadline. Berkesanlah. 

Oke, itulah 7 momen yang pengen kubagi kepada kalian. 

Alasan aku menuliskannya supaya nggak lupa. Dan kenapa hanya 7? Karena kurasa itulah momen-momen yang mungkin nggak terulang kembali. 

Momen di mana aku benar-benar ngerasa belajar dan berusaha. 

Terima kasih sudah membaca.

Kalian punya pengalaman menarik lainnya? Yuk berbagi di kolom komentar. 

Iklan